
Setelah berhasil membeli brownies pesanan Tania. Dika keluar melewati sisi belakang toko. Dia tahu jika mungkin anak buah Tania sedang mengawasi sehingga dia memilih jalur belakang untuk mengalihkan perhatian.
Dika masuk ke dalam taksi pesanannya. Mobilnya sengaja di tinggal dan akan di ambil setelah urusannya selesai.
💌Aku mampir sebentar Della.
💌Aku tunggu di depan pagar Mas.
Lima menit kemudian, mobil taksi berhenti tepat di depan Della yang tengah menunggu kedatangan Dika.
Setelah membayar, segera saja Della mengiring Dika masuk ke dalam kostan yang memang tidak memiliki aturan ketat.
Para penghuninya bisa bebas membawa teman lelakinya. Kost-kostan itu sudah di kenal sebagai surganya para pemuda dan pemudi yang sedang di mabuk asmara.
Keamanannya sudah di jamin karena para penghuni kebanyakan wanita penghibur yang selalu menerima open boking.
"Aku tidak bisa lama Dell. Dia menyuruhku beli ini dan aku mengunakan kesempatan ini untuk menemui mu."
"Tidak apa Mas. Lumayan buat obat rindu. Sekarang Mas Dika kerja di mana?"
"Masih menganggur tapi besok aku sudah mendapatkan perkerjaan bagus."
"Wah cepat juga ya Mas. Aku jadi tidak semangat berkerja setelah Mas Dika pergi. Sekarang posisi Mas Dika di gantikan dengan lelaki tua yang cerewetnya minta ampun."
"Bertahan saja dulu. Nanti kalau aku sudah cukup lama berkerja, aku akan memintamu menjadi sekertaris." Della tersenyum mengembang. Penawaran itu begitu menggiurkan untuknya.
"Aku hanya lulusan SMK Mas."
"Biar ku urus."
"Terimakasih ya Mas. Em sekarang Mas Dika mau apa dariku. Itung-itung untuk balas budi."
"Balas budi apa?"
"Sudah berniat menjadikan Della sekertaris."
"Memangnya kamu mau memberi imbalan apa?"
"Bebas Mas. Em saya itu janda anak satu. Anak saya di kampung dan di sini saya berkerja sambil mencari calon Suami." Dika berdecak kagum sebab tubuh Della tidak berubah meskipun sudah menyandang status janda.
Ini dia yang ku cari. Masih tetap cantik seperti gadis meski sudah melahirkan anak.
"Aku akan bercerai setelah dia melahirkan." Langsung saja Dika mengutarakan keinginannya untuk memiliki seorang Istri sempurna seperti Della.
"Kok bilangnya begitu Mas?"
"Rasanya kamu wanita yang tepat untuk ku jadikan Istri. Sayangnya dia sedang mengandung sekarang."
"Mas Dika bisa saja."
"Kamu seperti masih gadis."
"Dari dulu tubuhku memang kurus Mas."
"Hm ya." Dika mengambil beberapa lembar uang lalu memberikannya pada Della sebagai tanda keseriusannya." Ini untuk jajan. Aku harus pulang. Lain kali aku akan datang lagi." Ucapnya seraya tersenyum. Kulit yang di miliki Della hampir mirip seperti Ayu, halus putih alami.
__ADS_1
"Terimakasih ya Mas."
"Tapi aku minta bekal." Dika menunjuk bibirnya. Segera saja Della mendekatkan bibirnya lalu keduanya saling mellumat sebentar." Manis sekali Della." Lenguh Dika membersihkan sisa saliva.
"Aku bisa memberikan yang lebih dari itu."
"Akan ku usahakan datang." Della bisa saja terancam nyawanya kalau aku tidak cepat-cepat pulang. "Aku pergi ya. Sampai jumpa lain hari." Dika berdiri di ikuti oleh Della. Dia bergegas masuk mobil taksi yang sengaja di suruh menunggu.
🌹🌹🌹
Ayu dan Samuel saling melihat lalu tersenyum sambil menatap ke arah nugget ayam yang tersaji di hadapannya. Warnanya tidak lagi kuning tapi coklat tua sebab Ayu telat untuk mengangkatnya. Di samping nugget hanya ada saus sambal juga mayonaise tanpa ada sayur atau pelengkap lainnya.
"Masih lanjut untuk tidak memesan?" Ujar Samuel menawarkan.
Ayu yang memutuskan memasak sendiri untuk makan malam mereka. Samuel menghidupkan kompor, lalu Ayu yang menggoreng dengan tanpa adanya skill.
Memang lebih seru, tapi hasilnya sungguh meruntuhkan selera. Sayur sempat di masak atas resep di internet. Tapi karena rasanya tidak sesuai. Ayu membuang itu dan menggantikan dengan saus.
Itu racun Bee bukan sayur. Jangan di makan.
Belum sempat Samuel mencegah, Ayu sudah lebih dulu menuang sayur buatan ke dalam bak cucian piring.
"Kalau kamu mau pesan tidak apa Bee." Jawab Ayu membalikkan piringnya dan mengambil satu centong nasi.
"Seharusnya sayurnya jangan di buang. Ini sajian kedua setelah sandwich kemarin." Samuel ikut membalikkan piring lalu cepat-cepat Ayu mengambilkan satu centong nasi untuknya.
"Rasanya sangat buruk Bee. Asinnya sampai pahit dan getir."
"Bisa di ambil sayurnya saja."
"Ya sudah makan yang ada saja. Bukankah ini kemauan mu. Kalau tidak di turuti nanti katanya aku tidak mau makan masakan mu." Samuel meletakkan beberapa potong nugget dan mulai memakan sajian sederhana namun spesial. Sebab makan malam kali ini, di hidangkan dari tangan Istrinya.
"Kalau tidak tega memakannya. Kamu pesan tidak apa-apa Bee."
"Ini cukup enak." Jawab Samuel seraya mengunyah.
"Iya Bee. Untung saja nasinya hangat."
"Memang seharusnya kamu melipat tangan saja. Aku bisa mencari pembantu pengganti untuk sementara."
"Katanya mau menikmati satu bulan hidup mandiri tanpa pembantu."
"Asal kamu tidak keberatan dan tidak kesulitan."
"Tidak. Aku senang tapi ya maaf kalau sajiannya tidak membuat kamu berselera."
"Kata siapa? Ini sajian terenak. Apapun asal dari tangan mu akan ku makan." Puji Samuel menambahkan satu centong nasi ke dalam piringnya.
Dia sangat pintar menghargai. Merajuk sesuai keinginan ku walaupun sikapku sangat memalukan..
Ayu mengingat kejadian tadi sore, ketika dia menangis terisak di tengah keramaian hanya karena kesalahpahaman. Samuel tidak menunjukkan sikap kesal apalagi marah. Dia malah menyuruhnya bersikap sesuai dengan isi hati agar perasaannya bisa terbebas dari beban.
"Aku sih asal ada nasi Bee." Jawaban Ayu sangat tidak sesuai sebab dia sulit menelan makanan tanpa adanya bumbu.
"Kenapa tidak nambah?" Samuel melirik nasi Ayu yang masih termakan separuh.
__ADS_1
"Em itu, tidak ada bumbu rasanya kurang lengkap."
Samuel melirik ke arah layar ponsel lalu beranjak dari tempatnya menuju ke arah depan. Ayu hanya melihat karena dia fikir Samuel tengah menerima panggilan.
"Makanlah." Sontak Ayu mendongak ketika Samuel meletakkan kotak makan berisi ayam bakar. Dia bahkan membuka kotak tersebut lalu duduk ke tempatnya semula.
"Kok pesan Bee?"
"Makan yang itu, biar nugget nya ku makan." Samuel menggeser piring berisi nugget.
"Ini tidak adil Bee. Ayamnya kita makan bersama."
"Tidak Babe. Jangan merasa seperti itu. Makan cepat, nasi ku juga hampir habis." Samuel mempercepat kunyahannya agar Ayu tidak memiliki alasan untuk membagi ayam bakar yang di pesan untuknya.
"Ya sudah besok kita pesan saja. Aku tidak perlu memasak."
"Kalau mau belajar tidak apa memasak saja."
"Tapi..."
"Akan ku habiskan kalau kamu tidak mau." Ayu menahan kotak berisi ayam bakar yang akan Samuel rebut.
"Mau, tapi.."
"Nah apalagi?" Samuel menarik sedikit kasar kotak makanan.
"Iya ku makan." Jawab Ayu cepat." Terimakasih Bee." Imbuhnya mulai makan.
"Tugasku memberikan yang terbaik."
Sebaiknya besok aku tidak memasak saja. Kasihan Mas Sam kalau harus memakan sajian aneh ku. Tapi bahan makanan sudah terlanjur di beli. Sok sekali sih. Padahal menyalakan kompor saja tidak bisa!!
"Kamu ingin berakhir pekan di mana?" Tanya Samuel mengalihkan pembicaraan.
"Di rumah saja."
"Tidak. Kita harus pergi paling tidak menginap di luar untuk mencari suasana baru."
"Aku tidak berselera Bee." Banyak destinasi yang indah di sini. Tapi aku takut nantinya akan mengingatkan ku pada Mas Dika.
"Ke pantai atau ke tempat wisata terdekat."
"Aku malas."
"Alasan lain?" Tanya Samuel merasa tergelitik mengetahui alasan Ayu menolak ajakannya.
"Tidak ada."
"Katanya berjanji untuk terbuka."
"Aku tidak ingin mengingat sesuatu yang ingin ku buang." Samuel mengangguk-angguk seraya tersenyum meski hatinya sedikit terasa nyeri.
"Itu kenapa kita harus pergi agar kenangan itu bergeser. Ada air terjun yang indah di sini. Weekend kita ke sana dan tidak boleh ada penolakan." Ayu mengangguk patuh daripada harus membuat Samuel merasa tersingkir dengan kekhawatirannya.
🌹🌹🌹
__ADS_1