Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Cemburu bercampur dendam


__ADS_3

๐ŸŒนMinggu๐ŸŒน


Dika menatap malas ke Tania yang lebih dulu berjalan masuk. Hampir seharian penuh di habiskan dengan duduk dan membaca majalah lama di salon.


Tania tidak ingin mempermalukan Dika dan ingin tampil sempurna di pesta. Dia yakin, akan banyak orang-orang penting namun itu bukanlah tujuan utama melakukan perawatan.


Tania ingin akrab dengan sosok pemilik perusahaan. Mungkin dia bisa mengenalnya akrab, agar Dika mendapatkan promosi untuk menggantikan posisi Pak Wira sebagai direktur utama.


Niat yang terdengar busuk. Seharusnya dia berbakti pada Pak Wira karena beliau sudah merawatnya dan membiayai sekolah sampai dia bisa hidup layak. Tapi nyatanya Tania bukanlah wanita yang pintar membalas budi.


Untuk salon saja habis puluhan juta. Bisa-bisa uang gaji ku habis untuk perawatannya.


Runtuk Dika berjalan masuk dan langsung menuju kamar. Dika menatap Tania yang tengah bersolek di depan meja rias. Memang hasilnya sangat cantik, namun uang gajinya tidak akan cukup untuk membiayai nya.


"Bagaimana sayang." Tanya Tania menuntut pendapat.


"Cantik tapi, apa tidak ada perawatan yang lebih murah lagi?" Jawabnya berprotes.


"Itu salon langganan ku. Aku tidak mau berganti tempat. Aku sudah cocok dengan perawatan mereka."


"Fikirkan soal uang yang harus di keluarkan Niah."


"Hanya 80 juta saja! Gaji mu kan 130 juta. Itu masih cukup! Jangan itung-itungan dong sama aku."


Aku hanya memberikan uang lima juta untuk Ayu dulu. Dia menyimpan uang itu sampai terkumpul banyak. Sedangkan wanita ini dengan mudahnya menghamburkan uang ku!!


"Di tabungan juga masih banyak." Imbuhnya kembali bersolek.


"Itu untuk uang simpanan kalau suatu saat nanti kita membutuhkannya. Hidup itu tidak hanya butuh bersolek."


"Hah serius! Bukankah kau bosan pada wanita itu? Lalu kau memujaku dan kita berhubungan sampai sekarang. Kamu fikir kecantikan ini tidak butuh biaya!! Cantik itu mahal Dika! Kalau kau ingin Istrimu cantik, kau juga harus mengeluarkan biaya banyak!!"


Dika terduduk lemah. Sangat terlambat menyadari itu semua. Sekalipun Ayu tidak pernah menuntutnya untuk melakukan perawatan karena kulit milik Ayu sudah sangat putih dan halus. Wajahnya juga cantik meskipun hanya di poles dengan kosmetik murah.


Kekurangan Ayu terlihat semakin kecil. Dia hanya memiliki tubuh lebih berisi namun Dika sudah menyebutnya tidak menarik, membosankan bahkan tega berkata jijik.


Aku masih sangat mencintai nya..


"Ya terserah. Tapi kalau nanti uangku habis, kau jangan mengeluh!!" Umpat Dika berjalan ke arah jas yang tergantung.


"Itu kenapa kita harus tampil perfect. Kita harus tampil berkesan di mata pemilik perusahaan." Tania membayangkan jika pemilik perusahaan sudah berumur lanjut. Dia juga memperkirakan kalau pernikahan yang di gelar bukanlah pernikahan pertamanya.


"Untuk apa?"


"Menggeser posisi Pak Wira. Gajinya sudah mencapai 300 juta sebab pemilik perusahaan sangat percaya padanya."


"Mana mungkin Niah. Pak Wira sudah lebih dulu di percaya daripada aku."


"Itu kenapa kita harus bisa merebut simpatik si pemilik perusahaan."


Dika hanya diam seraya mengenakan jas mahalnya. Dia tidak sanggup berkomentar karena tidak merasa yakin dengan rencana Tania. Namun tidak dapat di pungkiri, kalau Dika sangat menginginkan posisi Pak Wira.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


Kebersamaan yang terasa singkat sudah bisa membuat Ayu memahami sifat dari Samuel, Suaminya. Setiap kejadian yang menghampiri seakan bertujuan untuk membuka satu persatu sifat masing-masing.


Samuel kerapkali memberikan ancaman berujung manis ketika Ayu melontarkan penolakan. Dia tahu kalau Ayu tidak kuasa menolak apalagi Samuel menyuguhkan kehidupan yang sangat menyenangkan.


Memang benar kalau rumah besar itu kini menjadi penjara untuk Ayu. Tapi sekalipun Samuel tidak pernah melarangnya mengenakan baju sesuai keinginannya. Melakukan kegiatan yang di sukai. Sehingga perlahan, Ayu kembali bisa merasakan kesenangan yang dulu di berikan secara sederhana dari kedua orang tuanya.


Ajaibnya, tubuh Ayu terlihat lebih kurus tanpa diet ketat. Samuel hanya mengajaknya berolahraga setiap pagi dengan berlari kecil di taman yang mengelilingi rumah. Tujuannya juga tidak untuk membentuk tubuh. Samuel hanya ingin menerapkan hidup sehat, seperti apa yang di lakukannya. Di tambah dengan perawatan tubuh yang Ayu lakukan setiap hari. Membuatnya tampil sangat fresh sesuai dengan keinginan Samuel di hari pesta pernikahan mereka.


"Aku ketinggalan info?" Celoteh Mita duduk memperhatikan Ayu yang sedang di poles.


"Dia memaksaku." Saat itu Ayu berkata pada Mita kalau sebenarnya akad sudah di ambil lima hari yang lalu.


"Paksaan yang manis. Sekarang aku takut kita tidak bisa sering bertemu seperti dulu."


"Aku tidak akan melakukannya lagi. Kita akan sering bertemu walaupun mungkin aku tidak bisa sendirian."


"Hahaha. Siapa sangka Mas Samuel memiliki rumah sebesar ini." Mita mengedarkan pandangannya menatap sekeliling kamar.


"Jangan menyesal. Aku sudah menawarkan nya padamu tapi kamu tidak mau." Sontak Mita menoleh cepat.


"Menawarkan apa?"


"Mas Sam."


"Kau gila?"


"Itu dulu Mit. Kalau sekarang dia sudah menjadi Suami ku."


"Lantas. Mana tunangan mu?"


"Dia tidak bisa datang. Lain kali saja ku kenalkan." Mita beranjak dari tempat duduknya dengan tatapan fokus ke arah Ayu." Bodoh sekali si Dika menceraikan mu. Kamu cantik sekali Ay." Puji Mita berdiri di belakang Ayu.


"Jangan menyebut nya apalagi kalau Mas Sam ada bersama kita."


"Iya aku tahu. Emm.. Kenapa pestanya tidak di pekarangan rumah saja?"


"Bertanya saja pada Mas Sam. Aku juga baru tahu kalau pestanya bukan di sini."


"Selesai Nona." Ujar perias tersenyum ramah.


"Rambutnya di urai saja?" Protes Mita menyentuh ujung rambut Ayu yang sudah berubah lurus.


"Nona menginginkan itu." Tatapan Mita beralih pada Ayu.


"Kamar Bibik Lena ada di samping." Ayu menginginkan si perias pergi agar dia bisa menjelaskan alasannya.


"Baik Nona, permisi."


Setelah memastikan kepergian si perias, Ayu meminggirkan rambutnya ke sisi kanan. Seketika wajah Mita berubah aneh ketika dia melihat beberapa tanda merah berada di sana.


"Ganas sekali. Kenapa warnanya sampai seperti itu?"


"Dia menambahkan gigitan setiap harinya." Tujuan Ayu menunjukkan tanda merah, agar Mita segera melangsungkan pernikahan bersama tunangannya.

__ADS_1


"Aku jadi malu sendiri Ay."


"Kamu harus menikah dan merasakannya sendiri."


"Huft! Doakan ya."


"Iya." Ayu kembali membenarkan posisi rambutnya.


"Seharusnya bisa di tutupi make up."


"Aku tidak mau."


"Kenapa?"


"Tidak ada alasan Mit." Aku ingin segera bisa menyukai Mas Samuel sepenuhnya...


"Sudah." Sapa Samuel sudah berdiri di ambang pintu dengan jas mahalnya.



Mita melongok tanpa berkedip. Seakan merasa tidak percaya jika dirinya pernah berteman bahkan mengobrol akrab dengan sosok di hadapannya.


"Astaga tampannya." Pujinya lirih.


"Kau merasa menyesal Mit?" Tanya Ayu cepat.


"Aku beruntung bisa mengenalnya."


"Hm. Kau memuji-muji Suamiku?" Mita menoleh lalu terkekeh bersamaan dengan Samuel yang berjalan mendekat.


"Bisa kamu tinggalkan kami sebentar Mit?" Pinta Samuel merasa terkesan dengan penampilan Ayu.


"Tentu saja Mas Sam. Aku tunggu di bawah ya." Setelah menepuk pundak Ayu, Mita berjalan keluar.


Samuel mengikuti langkahnya untuk menutup pintu kamarnya bahkan kembali menyalakan kunci sensor sidik jari.


"Kenapa malah di tutup Mas?" Tanya Ayu cukup di buat binggung.


"Aku rindu Babe. Sambil menunggu Bibik Lena." Ujarnya berjalan mendekat dan langsung menyikap rambut panjang Ayu.


"Mas mau apa?" Hatinya bergetar hanya karena sentuhan ujung telunjuk Samuel yang tengah menyapu lembut tanda merahnya.


"Kamu benar-benar tidak menutupi ini?" Samuel tersenyum sebab keinginannya kembali Ayu turuti.


"Kenapa rambut ini harus di gerai kalau Mas ingin tanda ini terlihat."


"Aku tidak ingin benar-benar terlihat." Aku berharap lelaki itu bisa melihatnya saat dia berada di dekatmu. Dia harus tahu tanda kepemilikan ini. Aku menyebutnya sebagai ledekan halus. Kamu sudah jadi milikku bukan lagi miliknya..


Walaupun Ayu tidak menginginkan sebuah pembalasan dendam. Tapi Samuel ingin membuat Dika menyesali keputusannya untuk mengembalikan rasa percaya diri Ayu.


Sebelum kau bersujud di kakinya dan menyesali perbuatan mu dulu. Aku tidak akan berhenti menunjukkan betapa sempurnanya wanita yang sudah kau buang selayaknya sampah.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2