
Setelah resmi menikah, para warga membubarkan diri untuk pulang ke rumah masing-masing. Hanya Bu Broto yang tertinggal bersama Bu Erna sementara Pak Wira sudah pergi lima menit yang lalu.
"Saya pamit ya Bu. Semoga pernikahan Dika kali ini langgeng dan segera mendapatkan momongan." Ucap Bu Broto tidak sepenuh hati. Itu terlihat dari mimik wajahnya.
"Iya pasti. Saya juga tidak sabar mendapatkan cucu."
"Hm." Bu Broto tersenyum sebentar kemudian melangkah pergi dengan tas kecilnya.
"Dasar tetangga kurang kerjaan!" Umpat Bu Erna kembali masuk. Dia ingin memberikan sapaan untuk Tania, menantu idamannya." Ibu berharap kamu bisa lebih baik dari Ayu." Ujarnya tersenyum ke arah Tiara.
"Kenapa Ibu tidak ikut pulang?" Tanya Tania ketus. Kegilaannya membuat hatinya merasa tidak nyaman ketika melihat Dika duduk berdekatan dengan Bu Erna.
"Sebentar dulu Nak."
"Pindah tempat duduk sayang. Aku cemburu." Pinta Tania berdiri sementara Dika mendongak dengan wajah penuh tanya.
"Cemburu dengan siapa?"
"Ibu mu. Dia juga wanita kan." Tangan Tania meraih pundak Dika kasar sehingga Dika terpaksa berdiri.
"Dia Ibuku. Orang yang melahirkan aku."
"Aku tidak mau tahu sayang. Kamu hanya boleh dekat denganku."
Dika cukup bergidik ngeri melihat ekspresi tidak suka yang di tujukan Tania pada Bu Erna.
Kenapa Tania kasar sekali..
Baru beberapa jam berlalu tapi Tania sudah menunjukkan sikap buruknya pada Bu Erna yang seharusnya di hormati.
"Ibu sebaiknya pulang." Mata Bu Erna melebar, tentu saja dia tidak menerima permintaan Tania.
"Kenapa kamu seperti ini?"
"Seperti apa Bu. Ini rumah kami dan acara sudah selesai. Aku tidak ingin melihat Ibu berdekatan dengan Dika."
"Tiara! Jaga sopan santun mu!"
"Diam kamu!!" Jawab Tiara tidak kalah lantang. Tubuhnya memutar seraya menunjuk kasar ke wajah Dika." Sudah ku katakan bukan begitu aturannya. Apalagi sekarang kau sudah syah menjadi Suami ku! Aku tidak ingin kau berdekatan dengan wanita lain tidak terkecuali Ibu mu!!" Tatapan Tania beralih pada Bu Erna.
"Tidak seharusnya kau berkata kasar pada Suami mu." Protes Bu Erna geram. Dia baru tahu kegilaan Tania yang menurutnya mengerikan. Wajah Tania bahkan berubah seakan wanita yang di sebut menantu idaman memiliki dua kepribadian.
"Terserah! Ini hidup kami. Pulang cepat!!"
"Kau tidak bisa mengusir ku! Ini rumah anakku." Tiara terkekeh nyaring seraya menatap rendah Bu Erna.
"Gubuk ini? Kau membanggakan gubuk ini?"
"Dika. Jaga sopan santun Istri mu!"
"Pergi atau ku seret paksa." Pinta Tiara seraya berdiri lalu menarik kasar lengan baju Bu Erna.
"Lepaskan tanganmu!!" Dika menampis kasar tangan Tania.
"Suruh dia pergi! Aku muak melihatnya!!" Teriak Tania semakin terlihat tidak waras. Warna wajahnya berubah merah dengan bola mata hampir keluar.
"Sebaiknya Mama pergi." Terpaksa Dika mengucapkannya. Dia tidak ingin membuat Tiara semakin menggila.
"Tega kamu Dik!"
"Pergi atau ku seret paksa!!" Bu Erna meraih tas miliknya lalu berjalan keluar dengan raut wajah masam." Sekarang kita tinggal berdua." Tiara tersenyum lalu mengalungkan kedua tangannya ke leher Dika.
"Gila kamu Nia. Kamu mengusir Ibuku sendiri."
"Em ya. Semua bisa gila karena cinta, termasuk aku sayang." Tania menarik kancing kemeja Dika lalu mencumbui dada bidangnya padahal keduanya masih berada di ruang tamu.
__ADS_1
"Aku tidak berselera."
"Jangan menolak! Kita saling memuaskan agar aku bisa cepat hamil." Cumbuan Tiara kian turun hingga bibirnya tiba di senjata Dika yang masih tertutup celana.
"Kita mengadopsi anak saja. Yah Nia.. Kamu pintar sekali." Milik Dika seketika meronta ketika Tania mulai memainkannya.
"Kita harus punya anak laki-laki sayang."
"Tidak. Aku tidak ingin tubuhmu rusak."
"Aku tidak mau mengadopsi anak." Sontak Dika menjauhkan diri lalu merapikan kancing kemejanya.
"Lalu kau ingin hamil? Bukankah kau tahu aku benci wanita hamil?"
"Ya aku harus hamil demi keturunan kita! Ayah juga menginginkan cucu!!"
"Kau ingin ku perlakukan seperti Ayu!!"
"Tidak semudah itu sayang. Aku bukan wanita bodoh seperti dia! Ayah sudah merestui hubungan kita dan itu berarti kau harus memberikannya cucu!"
"Aku tidak mau! Lebih baik hubungan kita berakhir!"
"Lakukan! Maka kau akan ku miskin kan." Tunjuk Tania kasar." Kau lupa jika hidupmu berada di genggaman ku sekarang. Bukan kau yang berhak mengancam tapi aku." Menunjuk ke dadanya seraya berjalan menuju dapur." Bibik buatkan aku minum." Teriak Tania kasar.
Dika duduk lemah seraya menatap foto pernikahan bersama Ayu yang masih terpampang di sudut ruangan.
Semarah apapun Ayu. Dia tidak pernah berkata sekasar itu padaku. Kenapa aku merasa ini keputusan yang salah?
Sesal yang tidak berguna sebab Dika sudah memutuskan pilihan hidupnya sendiri. Dia baru menyadari tentang keraguan yang beberapa kali melintas walaupun tidak pernah di hiraukan hanya karena naffsu sesaat.
Kini perbuatan menjadi bumerang yang siap mengikat hidupnya. Tania bukan wanita sembarangan yang mudah di lepaskan. Pak Wira sendiri merasa kerepotan mengurus kegilaan Tania yang terkadang sampai merugikan orang lain. Dan kini tanggung jawab tersebut resmi di berikan pada Dika.
Aku menyesal Tuhan..
🌹🌹🌹
Sesuai arahan, dia memeriksa setiap sudut ruangan untuk menyakinkan hatinya akan kebenaran tentang sosok Samuel.
"Aku tidak percaya ini." Gumamnya seraya menddesah lembut. Ayu semakin merasa tidak pantas ketika melihat banyak piagam penghargaan berhasil Samuel kumpulkan." Semua tidak akan mengira jika barista yang berkerja di Cafe adalah seorang lelaki hebat." Imbuhnya terus berkeliling seraya tersenyum.
Bagaimana takdir membawaku ke tempat yang bahkan tidak pernah terlintas di fikirkan ku.
Ayu berjalan keluar ruangan kerja Samuel lalu menutup pintunya kembali. Kini langkah membawanya ke arah teras kamar yang terlihat sangat luas.
Dari sana Ayu bisa melihat Samuel yang tengah berbincang dengan Dimas di teras lantai satu. Ada rasa ingin tahu tentang apa yang sedang mereka bicarakan meski rasanya itu tidak berguna. Ayu merasa sudah pasrah atas hidupnya, apalagi Samuel bukan sekedar akan menjeratnya, melainkan menikahinya dengan cara terhormat.
"Aku hanya takut kamu lebih buruk dari Mas Dika. Dengan kekayaan ini, tentu hal mudah bagimu untuk melakukan sesuatu sesuai keinginan mu."
Ayu menddesah lembut. Merasakan keanehan yang terjadi begitu cepat melewati hidupnya. Tadi pagi dia baru saja mengantarkan surat perceraian dan sekarang ada seorang lelaki asing yang menawarkan pernikahan sempurna untuknya.
"Kemana dia." Baru saja Ayu berpaling sebentar. Sosok Samuel sudah tidak ada di teras. Hanya ada Dimas yang sudah masuk ke dalam bagasi yang terletak di samping rumah.
Sontak Ayu menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka. Dia berjalan masuk dan mendapati Samuel berada di balik pintu tersebut.
"Sudah lebih baik?" Tanya Samuel tersenyum.
"Apa yang lebih baik?"
"Menerima kenyataan ini."
"Aku tidak bisa mundur. Hidupku sudah berada di genggaman mu kan?"
"Paksaan itu akan berubah setelah kita saling memahami. Mendekat lah, aku ingin menunjukkan sesuatu." Ayu berjalan perlahan lalu duduk tepat di samping Samuel." Kita tidak punya banyak waktu. Aku ingin kamu memilih undangan yang sesuai dengan selera mu." Samuel membuka laptopnya lalu menunjukkan beberapa gambar contoh undangan.
"Astaga. Surat resmi perceraian ku saja belum keluar."
__ADS_1
"Besok akan keluar." Ayu menoleh cepat.
"Besok?"
"Hm ya. Aku memiliki banyak kenalan untuk mempercepat proses nya. Pilihlah." Ayu kembali menatap layar laptop.
"Aku sih terserah Mas. Bukankah kamu tahu aku tidak menginginkan ini."
"Aku ingin pesta pernikahan kita berkesan."
"Semuanya bagus." Gumam Ayu mengangguk-angguk sementara Samuel tersenyum seraya memperhatikannya dari samping." Aku tidak ingin mengudang temanku apalagi tetangga lamaku." Imbuhnya pelan.
"Malu?"
"Iya Mas. Undangan ini untuk siapa sih?"
"Rekan kerjaku juga orang yang akan kamu undang."
"Aku tidak ingin mengudang siapapun."
"Aku berjanji kalau pesta pernikahan ini tidak akan membuatmu malu."
"Aku percaya Mas. Tapi apa kata mereka soal aku?"
"Kamu hanya membutuhkan ku begitupun sebaliknya. Jangan fikirkan pendapat mereka. Pilihlah, aku menunggu."
Ayu menegakkan posisi duduknya ketika tanpa aba-aba Samuel tidur di pangkuannya. Ayu menghela nafas panjang dengan kepala tertunduk dan memandangi Samuel yang tengah menutup mata.
Sudah ku katakan jika dia terlalu sempurna..
Pujian kembali terlontar seiring dengan detak jantung Ayu yang berpacu cepat.
"Berat Mas." Ayu mencoba menyingkirkan kepala Samuel dari pahanya namun dia tidak berani menyentuh wajahnya.
"Iya maaf. Cepatlah memilih." Jawab Samuel pelan.
"Maaf apa?"
"Membuat paha mu sedikit nyeri."
Bukan nyeri yang jadi masalah tapi... Sebaiknya aku cepat memberikan pilihan.
"Aku suka undangan nomer lima." Samuel membuka matanya untuk melihat. Dia mengangkat kepalanya dari paha Ayu dan mengirimkan foto undangan pilihan Ayu melalui email.
"Sudah selesai." Samuel menutup laptopnya." Mau mandi dulu atau langsung keluar?" Tanyanya menawarkan.
"Keluar kemana?"
"Memenuhi kulkas dengan makanan kesukaan mu."
"Tidak perlu Mas. Aku sudah tidak pernah menyemil."
"Kamu harus melakukannya kalau memang suka."
"Aku sudah melupakan keinginan ku."
Segera saja Samuel meraih pergelangan tangan Ayu dan memaksanya berdiri.
"Kalau aku tahu makanan yang kamu sukai. Mungkin aku akan berangkat sendiri untuk membeli." Ucapnya seraya merangkul erat pundak Ayu." Menawari mu terlalu banyak alasan." Protesnya tersenyum.
Aku memang sudah melupakan kebiasaan lamaku. Ini sudah jauh berbelok. Aku sudah melupakan bagaimana sensasi menyemil ketika Ayah membelikan ku beberapa snack dan makanan ringan sepulang berkerja. Kini lelaki asing ini menawariku melakukan kebiasaan lamaku. Sungguh aku merindukan saat itu..
🌹🌹🌹
__ADS_1