
Sungguh kejam Samuel. Sebab ucapannya bukanlah sekedar gertakan. Pagi ini Ayu bahkan tidak sanggup menurunkan kakinya ke bawah. Samuel benar-benar melakukannya sepanjang malam meski itu di lakukan atas dasar cinta.
Ayu juga mengizinkan bahkan menginginkannya. Walaupun lelah, tidak dapat di pungkiri jika Ayu sangat puas dengan cara Samuel memanjakan batinnya. Sakit tapi Ayu enggan menyuruh Samuel berhenti sebab kenikmatan yang di rasakan mengalahkan rasa sakitnya.
"Pagi Babe. Love you." Sapa Samuel keluar dari pintu kamar. Di tangannya sudah ada nampan berisi nasi goreng dan juga susu hangat.
"Pagi Bee. Love you to. Ah sakit sekali. Tubuhku rasanya remuk." Eluhnya berusaha bangun tapi dengan cepat Samuel membantunya.
"Aku menawarkan untuk berhenti tapi kamu malah menginginkannya." Ayu tersenyum di balik wajah pucat nya. Kepalanya bersandar lemah pada pundak Samuel." Minum susu dulu lalu sarapan dengan nasi goreng." Imbuhnya menyodorkannya segelas susu.
"Kamu membeli nasi goreng?"
"Beli di mana sepagi ini? Aku membuatnya."
"Kamu bisa?"
"Hanya nasi yang di beri bumbu. Apa susahnya." Jawab Samuel menggampangkan meski dia hanya bisa membuat dua menu masakan. Nasi goreng dan sandwich.
"Cih. Kamu meledekku. Aku bahkan tidak bisa menyalakan kompor. Maaf Bee. Belum bisa menjadi Istri yang baik." Samuel tersenyum lalu meraih gelas susu yang sudah terminum separuh.
"Semalam sudah pelayanan yang paling baik. Untung saja kamu tidak pingsan. Maaf juga karena aku sedikit khilaf. Milikmu menantang ku untuk terus masuk."
"Tidak apa Bee. Selama aku masih kuat, kamu bisa mendapatkannya." Sungguh Ayu tidak merasa keberatan melayani kegilaan Samuel ketika sedang berada di ranjang. Sebab Samuel mengimbangi itu dengan perlakukan hangat di pagi hari seperti sekarang.
Setiap hubungan menginginkan timbal balik. Jangan berharap bisa di hargai jika tidak mampu menghargai. Jangan berharap di hormati kalau tidak mau menghormati. Dan jangan berharap sebuah kebahagiaan kalau kita hanya memikirkan kebahagiaan pribadi.
"Bagaimana?" Tanya Samuel menuntut pendapat.
"Hmmmm cukup enak tapi masih enak buatan Bibik."
"Bibik sudah lama berkerja di sini saat kedua orang tuaku masih ada. Masakannya sudah terjamin sedap."
"Sejak kamu kecil Bee."
"Hm ya. Itu kenapa aku menghormati nya. Dia sudah ku anggap sebagai nenek. Berkerja sebisanya, sekuatnya sebab umurnya sudah lanjut ." Ayu mengangguk-angguk seraya mengunyah.
"Aku jadi rindu pembantuku yang ada di rumah Mas Dika. Dia juga sangat baik padaku. Bagaimana kabarnya sekarang? Apa dia masih berkerja di sana atau... Mungkin tidak jika dia di perkerjakan di sini Bee?"
"Kalau dia masih berkerja di sana. Mana mungkin itu bisa terjadi."
"Iya juga. Tapi beliau orang yang baik."
"Jika mungkin dia sedang menganggur. Berkerja di sini saja, untuk membantu perkerjaan Bik Ijah. Almarhum Mama ku tidak memperbolehkan ku memecatnya."
"Bagaimana aku tahu kabarnya sekarang." Ucap Ayu bergumam.
"Dimas akan mendapatkan informasi tersebut untuk kita."
"Kasihan Dimas. Bukankah dia sudah banyak perkerjaan."
"Anak buahnya sangat banyak."
"Padahal bosnya bermalas-malasan." Samuel terkekeh kecil seraya mengusap puncak kepala Ayu.
"Perkerjaan ku adalah mengurus mu. Kalau ada hal genting, bosnya akan turun tangan."
__ADS_1
"Bagaimana caramu membangun perusahaan sebanyak itu Bee."
"Tentu saja dengan kerja keras. Tanpa kerja keras, perusahaan tidak akan bisa berkembang."
"Kamu sangat pintar. Prestasi mu sangat banyak." Puji Ayu tidak sepenuhnya menyebut Samuel pemalas. Dia tahu jika kemudahan yang di raih Samuel membutuhkan kerja teras dan ketekunan.
"Mungkin karena Mama memberikanku makanan bergizi setiap hari dengan cinta dan kasih sayang."
"Hm keluargaku juga melakukan walaupun makanannya tidak terlalu bergizi. Tapi aku merasakan kalau mereka sangat menyayangi ku."
"Masakan apapun yang di berikan seorang Ibu pasti bergizi. Tidak ada seorang Ibu yang rela anaknya sakit."
"Hehehehe iya juga."
"Hm sekarang aku yang akan menyanyangi mu."
"Terimakasih Bee. Ada lagi." Ayu menyodorkan piring kosong.
"Astaga. Kapan kamu melahapnya?" Samuel baru sadar jika piring yang Ayu bawa sudah kosong.
"Bilang saja ingin mengatakan rakus."
"Tidak. Biar ku buatkan lagi." Jawab Samuel tanpa berprotes. Dia tidak keberatan kalau memang Ayu menginginkan satu porsi nasi goreng lagi.
"Eits tidak! Kalau tidak ada lagi ya sudah." Ayu menggenggam lengan Samuel dengan jemarinya.
"Katanya kurang?"
"Iya tapi pijat kaki saja. Sakit sekali. Tulang kakiku rasanya remuk." Pintanya menunjuk kaki.
"Hm oke." Samuel berpindah posisi setelah meletakkan piring kosongnya di atas nakas.
"Och jangan lagi Babe."
"Aku hanya sedang membicarakan sesuatu yang ku fikirkan sekarang."
"Aku malah memikirkan kejadian tadi malam."
"Itu karena fikiran mu terlalu keruh Bee."
"Bagaimana tidak keruh jika di hidangkan dengan kulit selembut ini."
"Karena kamu merawatnya dengan baik."
"Dan sekarang aku menikmatinya."
"Hm oke. Sekarang aku mengantuk padahal baru saja bangun. Aku jadi pemalas karena kamu terlalu memanjakan ku."
"Nikmati prosesnya. Tidurlah Babe. Aku juga akan memeriksa laporan Dimas tentang perusahaan yang baru saja di dapatkan." Perusahaan yang Samuel maksud adalah milik Alan. Dia sengaja memantaunya setiap hari untuk melihat perkembangannya.
"Apa itu berarti kamu akan punya perusahaan baru?"
"Tidak. Ini hanya sekedar menanam saham."
"Apa bedanya Bee?"
__ADS_1
"Walaupun perusahaannya bukan milikku tapi aku bisa menggenggamnya dengan tangan. Saham yang ku tanam kapan saja bisa ku ambil sesukaku semauku seperti sebuah permainan." Samuel tidak sengaja tersungging. Membayangkan bagaimana perasaan Alan jika tahu kalau dirinya sudah berhasil menguasai perusahaannya.
"Berapa banyak kamu menanam saham pada perusahaan."
"Tidak terhitung, hampir semua perusahaan menengah ke atas." Ayu mengangguk-angguk seakan dia paham meski sesungguhnya dia asal bertanya." Mengerti?" Tanya Samuel memastikan.
"Tidak Bee. Aku mandi nanti saja ya. Kakiku masih sulit ku gerakkannya."
"Iya tidurlah."
"Maaf Bee." Ucap Ayu untuk kesekian kalinya. Dia memeluk guling di sampingnya erat seraya memejamkan mata.
"Tidak bisa menjadi Istri yang baik."
"Hm tapi aku akan setia."
"Katanya mau tidur. Kenapa mengomel terus."
"Jangan terlalu keras memijatnya. Berhentilah ketika aku sudah tidur."
"Bagaimana kamu bisa tidur kalau terus berbicara."
"Iya Bee maaf." Samuel menghela nafas panjang tanpa menjawab ucapan dari Ayu. Sesekali dia melirik ke arah Ayu yang sepertinya memang masih sangat mengantuk.
Dan benar, sepuluh menit kemudian dengkuran cukup keras terdengar keluar dari bibir Ayu yang setengah terbuka. Perlahan, Samuel turun dari ranjang lalu membetulkan posisi selimut. Tidak lupa dia memberikan kecupan singkat pada dahi sebelum akhirnya berjalan ke arah sofa dengan laptop di tangannya.
"Bodohnya. Kelihatan sekali kalau kau masih baru di dunia bisnis. Seharusnya kau membaca dulu surat kontrak perjanjian. Sekarang lihatlah. Perusahaan mu berkembang hanya dalam hitungan hari. Kau fikir itu bisa terjadi begitu saja tanpa ada namaku di belakang. Lalu fikirkan, apa kau pantas mengagumi Istri seseorang yang sudah memberi makan dirimu dan kemewahan itu?" Samuel tersenyum simpul melihat perkembangan laju penjualan perusahaan Alan yang meningkat 97 derajat.
Sementara seseorang yang di tolong. Kini menegakkan pandangannya karena merasa hebat. Alan ingin merayakan keberhasilannya dengan mengundang Dika dan Tania untuk makan siang di restoran mewah. Tidak lupa, Bu Erna juga turut hadir walaupun dia masih merasa takut dengan ancaman Tania.
"Kenapa harus mengundangnya." Gerutu Bu Erna ketus.
"Dia kan Istri nya Dika Ma."
"Mama masih takut."
"Sekarang aku lebih kaya. Untuk apa takut padanya Ma. Mama juga sudah tidak pernah meminta jatah bulanan."
"Iya juga. Dasar wanita sialan. Terus, kenapa Mita tidak kamu ajak." Alan menddesah lembut seraya duduk lemah di kursi restoran.
"Malas. Aku tidak yakin akan menikah dengannya."
"Kenapa kamu plin plan Alan. Mita sepertinya baik."
"Aku ingin mencari Istri seperti Ayu. Dia sangat cocok berada di samping ku."
"Ayu sudah punya Suami. Jangan menganggu hidupnya lagi." Bu Erna masih menyimpan perasaan bersalah pada Ayu sehingga dia melontarkan pembelaan tersebut.
"Apa selera bisa di rubah Ma?"
"Daripada menganggu kehidupan Ayu. Bukankah lebih baik kamu kembali dengan Elis. Mama rindu Mila. Sebesar apa dia Alan."
"Aku sudah tidak mendengar kabarnya lagi. Ku dengar dia sudah berbahagia bersama lelaki kaya." Bu Erna tidak sadar dengan didikan yang sudah di tanamkan kini mulai menjadi bumerang untuknya.
Anak yang seharusnya di arahkan, di biarkan memilih jalan hidupnya masing-masing asalkan tidak merepotkan atau mempermalukannya. Hanya demi sebuah nama baik Bu Erna tidak sadar sudah menciptakan sebuah generasi orang tua yang tidak memiliki adab. Mereka hanya memikirkan kesenangan sendiri tanpa melihat orang sekitar yang tersakiti akibat ulahnya.
__ADS_1
🌹🌹🌹
Minta dukungan dengan cara like dan vote sebanyak-banyaknya. Terimakasih 🥰