
Dimas menunggu kedatangan Alan malam itu di sebuah Cafe. Pertemuan kali ini atas permintaan Alan yang tidak sanggup menerima keputusan Dimas.
Penjualan langsung menurun drastis dalam hitungan jam. Banyak barang di kembalikan dengan alasan tidak masuk akal sebab orang yang sedang Alan hadapi merupakan penguasa dari dunia bisnis.
Wajar saja ketika nama Samuel tidak lagi ada di belakangnya. Para konsumen yang juga sebuah perusahaan langsung tidak percaya dengan kualitas barang yang di hasilkan dari perusahaan Alan. Mereka membatalkan orderan bahkan rela mengganti rugi daripada harus berkerja sama dengan orang yang kurang di percaya.
"Tidak bisa begini Pak. Apa karena masalah tadi sampai-sampai Samuel mencabut semua sahamnya?"
"Tidak sopan sekali cara anda menyebut Tuan saya. Sebenarnya saya merasa kasihan pada anda karena kesuksesan hanya anda bisa rasakan seumur jagung. Tapi melihat tidak adanya penyesalan, membuat saya membenarkan titah dari Nona Ayu agar tidak memberikan bantuan pada seseorang yang tidak memiliki rasa terimakasih."
"Jadi Ayu yang menyuruh!!"
"Hm dia tidak ingin berurusan lagi dengan anda."
"Saya akan menemuinya besok. Saya akan berusaha merajuk agar saham tidak di cabut." Dimas tersenyum tipis lebih tepatnya tengah menertawakan niat tidak tulus dari Alan.
"Silahkan datang ke rumah agar saya bisa memidanakan kasus ini ke meja hijau. Selain bisa terjerat kasus pelecehan, anda juga bisa di jerat karena sudah menganggu kehidupan orang lain dengan cara yang tidak baik." Jawab Dimas mengancam.
"Uang bisa membeli semuanya! Samuel tidak ayal seperti manusia yang tidak punya hati."
"Maaf Pak. Tuan saya tidak seburuk itu. Dia lelaki yang paling rendah hati bahkan tidak keberatan mengeluarkan uang untuk menolong seseorang yang pantas di tolong."
"Terlalu banyak alasan! Dia memang sengaja memanfaaatkan kekuasaannya untuk menjerat hidup ku hanya karena dendam pribadi!"
"Kekuasaan Tuan Samuel tidak di dapatkan dengan cara instan. Ucapan anda seperti debu yang bertebaran di sekitar kita. Tidak berbobot, tidak terlihat karena anda tidak akan mengerti kalau sebuah kekuasaan tidak bisa di genggam dengan bermalas-malasan." Dimas berdiri lalu mengantongi ponsel mahalnya." Sangat wajar jika Tuan saya sekarang sedang menikmati kerja kerasnya. Dia bisa menjatuhkan tanpa menyentuh bahkan memiskinkan anda dalam hitungan detik. Saya tidak ingin banyak bicara. Uang ganti rugi sudah saya transfer ke rekening anda. Kalau anda ingin memperpanjang sewa gudang. Hubungi kontak saya. Permisi Pak." Dengan wajah datar Dimas melangkah pergi dan masuk ke dalam mobil mewahnya.
"Bagaimana ini!!" Alan meraih ponselnya. Mendengus memperhatikan layar ponsel yang menunjukkan banyaknya chat dari para relasi yang mengabarkan akan memutuskan kerja sama secara sepihak.
Padahal masih berjalan satu Minggu. Tapi ranjau yang sengaja di pasang Samuel sudah berhasil memporak-porandakan kehidupan Alan.
🌹🌹🌹
Pukul 12 tengah malam. Ayu merasakan nyeri hebat pada lengannya. Dia mengigit bibir bawahnya untuk menahan desisan agar Samuel tidak ikut terbangun.
Perlahan, Ayu melepaskan diri dari dekapan Samuel lalu duduk di sisi ranjang. Dia berdiri lalu berjalan perlahan ke arah kamar mandi karena ruangan kamar hanya memakai lampu redup ketika malam hari.
Dengan tangan bergetar, Ayu menyikap ujung lengan bajunya dan melihat luka lebam yang tadinya samar menjadi lebih gelap. Tangannya bahkan membengkak dan rasanya luar biasa nyeri sampai-sampai kedua maniknya terlihat berkaca-kaca.
"Tuhan.. Bagaimana ini." Eluhnya duduk di atas toilet. Memijat lengannya sambil berharap rasa nyerinya bisa berkurang." Sakit sekali.. Mas Sam tidak boleh tahu. Nanti dia akan marah." Imbuhnya seraya mendesis. Air matanya mengalir begitu saja ketika rasa nyeri semakin terasa menghantam lengannya.
Tok.. Tok... Tok..
"Babe.." Cepat-cepat Ayu menurunkan lengannya lalu memutar keran untuk membasuh wajahnya agar tangisnya tersamarkan.
__ADS_1
"Sebentar Bee. Perutku sakit." Teriaknya sambil membasuh wajahnya.
Cklek..
Samuel menyerbu Ayu dengan tatapan penuh selidik. Apalagi melihat wajah Ayu yang tertunduk seakan tengah menyembunyikan sesuatu.
"Perutku sakit." Ucapnya lirih lalu menegakkan pandangannya dengan senyuman palsu.
"Kamu membohongiku hah?" Samuel melihat mata Ayu memerah meski sudah di tutupi dengan air keran.
"Bohong apa. Ayo tidur lagi."
"Tidak. Kenapa kamu menangis." Tanya Samuel tidak serta-merta percaya.
"Siapa yang menangis." Ayu menghela nafas panjang. Tidak bisa menahan desisan sehingga dia berjalan melewati Samuel begitu saja.
Samuel berbalik badan, menatap tangan kanan Ayu terlihat kaku terayun. Maniknya memicing, melihat dengan jelas jika jemari Ayu bergetar saat mencoba meraih selimut.
Segera saja Samuel berjalan menghampirinya lalu membalikkan tubuh Ayu agar menghadap ke arahnya. Dia meraih lembut lengan Ayu dan memeriksa untuk menjawab rasa penasarannya.
"Ya Tuhan. Apa kamu menangis karena ini." Ayu masih berusaha menyembunyikan semuanya meski rasa nyeri terasa semakin menyiksa.
"Hanya nyeri sedikit Bee. Mungkin aku tidak tahan sakit jadi tidak terasa menangis."
"Tidak membela Bee. Aku hanya tidak ingin lagi berurusan dengan mereka. Membalas perbuatan mereka tidak akan ada habisnya."
"Lihatlah lenganmu Babe."
"Terus saja begitu. Aku tidak mau pergi ke rumah sakit." Jawab Ayu mengancam.
"Kamu membela mereka."
"Tidak. Aku menyayangimu. Aku tidak ingin merubah mu menjadi makhluk buruk tidak berhati."
"Sekarang kamu merayu ku?"
"Aku mencintaimu Bee." Samuel menghembus nafas berat untuk mengubur egonya. Dia merangkul pundak Ayu lembut.
"Aku juga sangat mencintai mu. Ayo ke rumah sakit, aku berjanji tidak akan melibatkan mereka. Kamu harus di obati."
"Hm kalau sampai aku tahu kamu melibatkan mereka. Aku tidak mau lagi berbicara dengan mu."
"Oke Babe. Janji Samuel bisa kamu pegang."
__ADS_1
"Hm ayo." Keduanya berjalan beriringan keluar kamar." Pasti sakit?" Imbuh Samuel menekan pintu lift.
"Mungkin aku terlalu cengeng. Setiap hari kamu memanggilku bayi padahal ucapan itu doa." Cengkraman tangan Ayu yang erat menandakan jika dirinya menahan nyeri hebat yang semakin terasa menyiksa." Tapi serius Bee. Ini sakit." Imbuhnya menenggelamkan wajahnya pada pundak Samuel.
"Menangis saja. Kamu memang bayi ku." Hati Samuel ikut tercabik ketika mendengar desisan Ayu berubah menjadi isakan bahkan ketika berada di mobil Ayu menangis sampai sesegukan.
.
.
Setibanya di rumah sakit, tangan Ayu segera di periksa. Sebenarnya harus melalui prosedur yang ada. Tapi karena Samuel tidak sabar menunggu besok sehingga mau tidak mau, ingin tidak ingin Dimas harus mengabulkan itu semua.
Dimas sampai harus menjemput dokter spesialis tulang sehingga pemeriksaan bisa langsung di lakukan mendadak malam itu juga.
Dengan hati was-was Samuel menunggu hasil scan yang sudah di lakukan. Sementara Ayu terlihat berbaring sambil menahan rasa nyeri yang semakin terasa.
"Tulangnya mengalami keretakan Tuan." Ucapnya seraya menunjuk bagian tulang yang terlihat terbelah.
"Separah itu?"
"Ini masih bisa pulih, hanya retak ringan tapi tetap harus di gips agar pemulihannya maksimal." Ujar dokter menerangkan. Mata si dokter terlihat menyipit sebab seharusnya dia masih tidur nyenyak di rumah.
"Apa perlu rawat inap Dok."
"Aku mau rawat jalan saja Bee." Sahut Ayu tidak menyukai suasana rumah sakit.
"Setelah pemasangan gips. Mungkin saudari Ayu bisa melakukan rawat jalan tapi harus menunggu persetujuan pihak rumah sakit dan melewati prosedur yang ada." Si dokter memastikan jika pasiennya kali ini bukan orang biasa. Sehingga dia ingin memberikan kemudahan daripada harus terlibat sesuatu yang berbelit.
Samuel memberikan isyarat pada Dimas yang langsung berjalan keluar ruangan untuk mengurus semuanya. Sementara Samuel berjalan menghampiri Ayu dengan raut wajah penuh penyesalan.
"Kenapa tidak bilang kalau sakitnya tidak biasa." Protes Samuel lirih. Dia tidak kuasa marah karena janjinya pada Ayu sebelum mereka berangkat.
"Aku fikir hanya memar biasa Bee."
"Retak berarti hampir patah. Maafkan aku."
"Ini musibah. Tidak perlu minta maaf."
"Kalau dia tidak menarik mu. Tidak mungkin ini terjadi." Nada bicara Samuel menandakan jika dirinya tengah menahan amarah.
"Mungkin Tuhan sedang ingin memberikan perkerjaan untuk mu. Bibik pulang kampung, tanganku sakit, itu berarti kamu harus mengurus rumah sendiri. Ingat Bee. Jangan menyewa pembantu sementara. Bukankah kamu sudah berjanji untuk hidup tanpa pembantu selama satu bulan." Ayu memperlihatkan senyuman di tengah rasa nyeri yang masih terasa. Tujuannya hanya satu, tidak ingin membuat Samuel marah apalagi sampai membuat perhitungan dengan Alan. Ayu sudah tidak ingin lagi mendengar tentang kehidupan Alan ataupun Dika. Dia ingin hidup tenang dan berharap jika kemarin adalah pertemuan terakhir mereka.
🌹🌹🌹
__ADS_1