Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Berpuasa selama tujuh hari


__ADS_3

Ayu langsung menoleh ketika mendengar suara ketukan yang berasal dari pintu. Dia bergegas berdiri lalu memutar kenop pintu dengan perlahan.


"Aku tidak tahu produk mana yang biasa kamu pakai." Ujar Samuel menjelaskan.


"Iya Bee." Ayu meraih kantung kresek dari tangan Samuel." Em satu lagi Bee." Imbuhnya pelan.


"Apa itu?"


"Aku lupa membawa celana." Jawabnya dengan wajah memerah.


"Sebentar." Tanpa pikir panjang Samuel beranjak dari tempatnya untuk mengambil celana dallam milik Ayu.


Sambil menunggu Ayu selesai, Samuel membersihkan sedikit noda darah lalu memasang sprei baru pada tempat tidur. Tepat di saat dirinya selesai melakukannya, Ayu keluar kamar dengan mengenakan handuk kimono.


"Sekali lagi maaf Bee." Ucapnya merasa sungkan karena harus menggangu waktu istirahat Samuel.


"Maaf lagi? Aku tidak apa-apa tapi lain kali bicara jujur saja agar tidak membuat panik." Samuel menghampiri Ayu dan menggiringnya ke arah sofa." Aku tadi membeli martabak manis." Ayu tersenyum tipis seraya menatap bungkusan di hadapannya.


"Kamu beli di mana tadi Bee?"


"Apa itu penting?"


"Aku hanya sekedar bertanya."


"Aku sedikit lama karena membeli ini." Samuel tidak ingin menceritakan kesulitannya. Dia tidak ingin Ayu merasa tidak enak dan sengaja membeli martabak untuk di jadikan alasan.


"Oh. Aku fikir kamu berkeliling untuk menemukan mini market yang buka." Ayu mengambil potongan martabak dari tangan Samuel.


Memang iya. Untung saja toko kecil itu menyediakan nya.


"Tidak. Itu perkerjaan yang mudah. Habiskan martabaknya lalu tidur." Pinta Samuel seraya mengunyah.


"Pembalutnya terlalu banyak Bee."


"Untuk stok."


"Ada beberapa merk yang tidak biasa ku pakai."


"Buang saja kalau tidak cocok."


"Hm kita juga harus berpuasa untuk tidak melakukan itu dalam satu Minggu ke depan." Sontak Samuel memelankan kunyahannya ketika sadar jika Ayu tidak bisa di masuki olehnya.


Padahal aku sedang bersemangat. Kenapa harus berpuasa?


"Iya aku tahu." Jawab Samuel pelan.


"Syukurlah kalau kamu tahu Bee. Ada beberapa hal yang harus kamu ketahui."


"Apa itu?"


"Terkadang perutku terasa nyeri ketika hari pertama." Semoga dia peka.


Ayu menginginkan Samuel bisa memanjakannya dengan sebuah usapan lembut pada perut dan punggung bawahnya agar nyeri yang di alami sedikit berkurang.


"Apa tidak ada obatnya?"


"Aku tidak pernah mengkonsumsinya obat untuk itu Bee."


Tiba-tiba saja tangan Samuel sudah beralih pada tali pengikat handuk kimono yang Ayu pakai. Dia menarik tali tersebut lalu menyentuh area perut Ayu dengan tangan kekarnya.


Tentu saja dia peka.


Secara spontan Ayu memajukan tubuhnya dengan posisi sedikit miring. Tangan kiri Samuel merengkuh pinggangnya sementara tangan kanannya masih sibuk mengusap.


"Terimakasih untuk bantuannya Bee." Ayu bersandar pada pundak depan Samuel setelah memberikan kecupan singkat pada pipi.

__ADS_1


"Itu tugasku."


"Meski begitu, terimakasih."


"Sama-sama."


"Bolehkan aku merepotkan mu lagi?" Samuel tersenyum simpul.


"Katakan saja."


"Jangan berhenti sampai aku tidur."


"Apa rasanya nyaman?"


"Iya."


"Hm oke. Habiskan dulu martabak nya."


"Besok saja."


"Kalau dingin tidak akan enak, apalagi besok."


"Ayolah Bee. Perutku sangat tidak nyaman."


Kini suara rengekan itu menjadi jurus ampuh bagi Ayu untuk meminta agar Samuel mau menuruti permintaannya.


Berpuasa selama tujuh hari ketika perasaan sedang membara seperti sekarang. Kenyataan yang sangat menyakitkan.


Samuel menundukkan kepalanya. Salivanya tertelan kasar saat matanya menangkap dua benda kenyal milik Ayu terpampang jelas.


Menggiurkan sekali baginya. Ingin menyentuh namun tapi takut membuat si pemilik marah. Apalagi dengkuran halus lirih terdengar sehingga mati-matian Samuel harus menahan hasrat yang sedang menggebu-gebu.


Setelah memastikan benar-benar tidur, Samuel beranjak bangun bersama tubuh Ayu. Dia meletakkannya dengan sangat hati-hati lalu ikut berbaring di sampingnya.


"Maaf apalagi? Aku yang seharusnya minta maaf. Aku berhenti karena ku fikir kamu sudah tidur."


"Kamu berhenti, jadi aku bangun."


"Iya maaf." Ayu tersenyum sambil memposisikan kepalanya senyaman mungkin.


"Akan ku berikan jatah lebih nanti." Ayu seakan bisa menebak tentang apa yang bersarang pada fikiran Samuel.


Bagaimana tidak dia memikirkan hal itu. Ayu memahami bagaimana gilanya kebutuhan biologis Samuel yang terkadang berhasil membuat tenaganya terkuras.


Lalu sekarang Samuel harus menahan diri selama satu Minggu untuk tidak melakukan percintaan. Tentu terbesit rasa khawatir jika mungkin Samuel akan melampiaskan hasratnya dengan wanita lain.


"Kenapa berkata begitu. Aku tahu semua wanita mengalaminya."


"Nyatanya kamu memikirkan itu."


"Jangan asal menebak Babe. Sekarang tidurlah. Bukankah perut mu sakit. Akan ku lakukan sepanjang malam kalau kamu memang ingin."


"Apa yang bisa ku lakukan untuk menghilangkan kegelisahan mu Bee." Ayu membaca raut wajah gelisah Samuel. Dari mimik wajah, detak jantung tidak beraturan, dia sangat mengingat itu sebab Samuel kerapkali memperlihatkannya ketika dia menginginkan sebuah percintaan panas." Dengan mulut?" Tawar nya menunjuk bibir.


"No Babe. Itu tidak baik untuk kesehatan. Aku juga tidak tega melakukannya."


"Aku juga tidak pernah melakukan. Lalu bagaimana Bee." Samuel menghembuskan nafas berat. Dia tidak ingin membebani Ayu atas sikapnya yang memang sedang ingin sentuhan panas.


"Sedikit dessahan saja." Pinta Samuel pelan.


"Baik Bee. Kamu boleh menyentuh area atas tapi tidak untuk bawah." Walaupun perutnya terasa nyeri. Tapi Ayu tetap berusaha untuk tidak mengecewakan keinginan Samuel.


"Lalu perutmu?"


"Sudah sedikit membaik." Ayu mengalungkan kedua tangannya seraya memberi isyarat Samuel untuk membuka pengait bra miliknya.

__ADS_1


"A apa kamu tidak apa-apa Babe."


"Tidak Bee. Dapatkan sedikit dessahan lalu kita tidur."


Perlahan tapi pasti, Samuel membuka pengait bra. Dia menyentuh bagian atas tubuh Ayu sesuai aturan. Namun semua tidak sesuai rencana. Banyak dessahan berhasil Samuel dapatkan meski miliknya cukup tersiksa. Entah kenapa bibirnya kini tersungging seakan merasa ikut puas ketika melihat wajah lelah yang Ayu perlihatkan.


Rasanya lengket dan tidak nyaman.


Ayu duduk di tepian ranjang sambil membetulkan handuk kimono yang belum sempat di ganti dengan baju tidur.


"Mau kemana?"


"Mengganti pembalut Bee. Sebentar ya."


"Tunggu." Jawab Samuel cepat. Dia bergegas berdiri untuk membantu Ayu berjalan ke arah kamar mandi.


"Aku bisa sendiri."


"Kamu kelihatan lelah. Kamu bisa mengandalkan ku."


Rasanya kakiku semakin terasa nyeri. Tapi aku senang bisa melihatnya tersenyum.


🌹🌹🌹


Dika hanya melirik malas ke arah Tania lalu berjalan melewatinya. Dia merasa geram ketika melihat Tania makan dengan lahapnya padahal waktu sudah sangat larut.


"Dari mana saja?" Tanya Tania sudah berjalan di belakang Dika.


"Jangan berpura-pura. Bukankah kamu tahu aku datang darimana."


"Itu ku lakukan agar kau tidak berkhianat."


"Kalau kau seburuk itu, mana betah aku di rumah!!"


"Hanya saat aku hamil."


"Ya terserah." Dika tidak masuk ke dalam kamar, melainkan pergi ke ruang keluarga dan duduk lemah di sofa." Aku ingin menanyakan sesuatu." Ucapnya pelan.


"Apa itu Dik?" Tanpa rasa bersalah, Tania duduk di samping Dika yang langsung menggeser tubuhnya menjauh.


"Apa kau mengambil uang yang ku berikan pada Mama?"


"Bukan uang tapi ATM." Sontak Dika menoleh ketika mendengar penjelasan dari Tania yang melambangkan sikap tenang seakan dirinya tidak bersalah.


"Mau mu apa?!! Bukankah ATM milikku sudah kau rebut? Lantas, untuk apa kamu mengambil ATM Mama?"


"Itu uangku dan itu hak ku. Mama mu sudah tidak memiliki hak."


"Kau benar-benar tidak waras Niah! Kau tahu kalau Mama itu sudah tua."


"Aku tidak perduli Dik. Uangmu harus kau berikan padaku semuanya."


Dika sudah lelah berdebat dengan Tania yang seakan tidak mau mendengarkan keinginannya sedikitpun. Dia akan beranjak namun Tania mencegah dengan duduk di paha kirinya.


"Aku menunggumu sejak tadi Dik."


"Besok aku harus berkerja pagi."


"Tidak bisa. Aku ingin itu sekarang."


"Aku saja jijik melihatmu. Bagaimana bisa aku melakukan itu?" Dengan gerakan kasar, Dika menyingkirkan tubuh Tania dari pahanya lalu berdiri." Kalau wajahmu masih buruk. Jangan berharap kau mendapatkan sentuhan dariku." Setelah mengucapkan perkataan itu, Dika berjalan pergi masuk ke dalam kamar dan menguncinya rapat.


"Ish! Sialan." Umpat Tania kesal. Sebelum Dika memintanya untuk menghilangkan ruam. Tania sudah lebih dulu mencari cara untuk memperhalus kulit wajahnya lagi." Sebaiknya besok aku pergi ke salon yang lebih mahal. Aku tidak ingin Dika meninggalkan ku dan pergi dengan wanita lain." Gumamnya berbaring di sofa sambil menyalakan televisi.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2