Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Tragedi di tengah malam


__ADS_3

Beberapa kali jari lentik Mita berniat menghubungi kontak milik Ayu namun niat itu tertahan. Dia ingin meminta bantuan tapi terlalu malu untuk mengawali.


Ponselnya kembali di letakkan. Mita menatap lekat ke pantulan cermin lemari yang terlihat usang. Dia menyadari perubahan pada tubuhnya paska perawatan. Lebih cerah dan terasa halus sehingga bibirnya tersungging begitu saja.


Harusnya aku menerima takdir. Mungkin saja Mas Alan memang jodohku. Kalau dia menginginkan aku merawat diri. Baiklah, akan ku lakukan agar nantinya Mas Alan bisa menyukaiku.


Meski merasa bimbang, tapi tidak ada pilihan lain kecuali Mita harus menerima jalan hidup yang sudah di pilihnya. Dia bertekad akan menuruti semua permintaan Alan meski dengan keterpaksaan.


Mungkin saja nanti aku bisa secantik Ayu.


Tiba-tiba senyuman Mita berubah aneh. Dia membayangkan bisa memiliki kulit sehalus Ayu. Tentu sangat banyak lelaki yang akan mengaguminya di tambah dengan bentuk postur tubuhnya sangat sempurna.


Seharusnya aku memikirkan ini sejak dulu. Kalau aku cantik, mungkin saja waktu itu Mas Sam menyukai ku bukan Ayu.


Rasa dengki dan iri yang tidak sepenuhnya menghilang. Membuat fikiran Mita melayang entah sejauh apa. Dia kembali mengingat saat pertama pertemuannya dengan Samuel yang langsung membuatnya menyukai sosok tersebut.


Jika saja aku tidak perduli dengan gosip itu. Mas Sam akan menjadi milikku sekarang.


Mita tersenyum lalu berbaring di atas ranjang. Dengan gilanya dia mulai membayangkan berada di posisi Ayu. Hidup di rumah selayaknya istana dan di temani lelaki berparas tampan seperti Samuel.


Ketampanan Mas Sam memang tidak ada obatnya. Apa setelah aku cantik, dia bisa tertarik padaku?


Mita menghembuskan nafas berat ketika bayangan Alan melintas. Dia sudah kehilangan selera sejak Alan mulai bersikap kasar padanya.


Kalau nanti aku bercerai dari Mas Alan. Mungkin aku bisa memiliki kesempatan untuk merebut hati Mas Sam. Untuk sementara, biarkan dia mengeluarkan uang untuk merawat tubuhku dan setelah aku cantik, giliran ku untuk bisa membalas semua perbuat mu dulu.


🌹🌹🌹


Tepat tengah malam, Samuel merasa tidak nyaman merasakan sesuatu yang ganjil tersentuh oleh jemarinya.


Awalnya dia menyangka jika itu hanyalah mimpi saat tangannya terasa basah karena sebuah cairan. Namun ketika suara rintihan lirih terdengar. Samuel membuka kedua matanya dan mendapati Ayu tengah menyeringai dengan mata terpejam.


Ini bukan mimpi?


Samuel menarik tangannya dari selimut. Dia panik ketika melihat darah menempel pada telapak tangannya.


"Da darah?" Ucapnya terbata. Cepat-cepat tangannya berusaha menyikap selimut untuk memeriksa tapi Ayu menahannya.


"Maaf Bee." Ujar Ayu lirih. Rasa malu dan panik bercampur aduk pada mimik wajahnya. Dia menyadari tentang darah yang terus keluar tanpa bisa di kendalikan.


"Kamu sakit? Kenapa berdarah?" Tidak terlintas sedikitpun tebakan bersarang pada otak Samuel jika apa yang sedang terjadi pada Ayu sangatlah wajar." Biar ku periksa." Pintanya kembali berusaha menyikap selimut tapi Ayu malah memegangnya erat.


"Tidak. Aku baik-baik saja. Tapi aku.... Tolong panggilkan Bibik." Ayu sangat berharap Bik Ijah menyimpan pembalut yang bisa dia kenakan untuk sementara.


"Kenapa harus Bibik? Kita langsung ke dokter saja."


"Tidak Bee."

__ADS_1


"Ku antarkan sekarang."


"Ku bilang tidak. Panggilkan Bibik saja." Pintanya memohon sambil sesekali menyeringai karena menahan perih pada pangkal perutnya.


"Sebutkan alasannya?"


"Karena Bibik satu-satunya wanita. Cepat panggilkan."


Samuel masih saja bingung namun dia bergegas berdiri setelah mendengar nada bicara Ayu yang meninggi.


Segera saja dia memanggil Bibik lalu menyuruhnya untuk menemui Ayu sementara dirinya memilih menunggu di luar.


"Ada apa Non?" Tanya Bik Ijah dengan mata menyipit karena sebenarnya dia sudah tidur.


"Maaf Bibik menganggu. Em.. Apa Bibik punya pembalut?"


"Maaf Non. Sudah lama Bibik tidak datang bulan. Bibik tidak punya Non."


"Aduh Bik bagaimana ini. Saya butuh sekali." Eluh Ayu lirih.


"Biar Bibik belikan, mungkin saja ada mini market yang buka." Ayu melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul setengah satu. Terbesit rasa tidak tega karena Bik Ijah memang sudah lanjut usia.


"Terimakasih Bik. Biar saya suruh Tuan saja." Apa bisa dia mengusahakan untuk mendapatkan itu? Kalau dia menolak dan malu bagaimana? Ah.. Biarkan saja. Aku harus memaksanya. Darahnya terus saja mengalir.


"Kasihan Tuan Non. Dia tidak akan tahu hal seperti itu."


"Bibik selalu siap 24 jam. Sebentar ya Non."


Setelah tersenyum sejenak, Bik Ijah berjalan keluar dan menemui Samuel yang tengah memasang wajah cemas dan panik.


"Apa yang terjadi Bik?" Tanya Samuel berbisik.


"Non Ayu sedang datang bulan Tuan. Dia butuh pembalut tapi saya tidak punya."


"Astaga. Kenapa aku tidak memikirkannya." Jawab Samuel menddesah lembut.


"Apa perlu Bibik yang membeli Tuan?"


"Tidak perlu. Bibik Istirahat saja. Maaf ya Bik." Samuel berjalan masuk dan menatap Ayu yang masih berada pada posisi yang sama." Apa benda itu yang akan kamu beli besok pagi?" Tanya Samuel seraya mengambil dompet serta kunci mobil.


"Ini datang lebih awal dan sedikit terasa aneh karena tidak biasanya langsung mengalir banyak seperti sekarang." Jawab Ayu lirih. Dia merasa sungkan namun mencoba untuk membunuh itu daripada harus menahan semalaman.


"Tunggu sebentar akan ku belikan."


"Kamu tidak keberatan?" Jawaban Ayu menahan langkah Samuel yang akan berjalan keluar." Maksudku? Kamu tidak malu membeli benda itu?" Imbuhnya tersenyum tipis ketika melihat Samuel berjalan menghampirinya.


"Aku tidak malu." Samuel mengecup kening Ayu sejenak." Apa kamu ingin makan sesuatu?" Imbuhnya malah melontarkan penawaran.

__ADS_1


"Tidak Bee. Membeli itu saja mungkin akan sulit. Ini sudah tengah malam. Apa ada mini market 24 jam dekat sini?"


"Itu urusanku. Aku akan membawakan benda itu untukmu. Sebentar ya."


Setelah memastikan Samuel pergi. Ayu beranjak dari tempatnya seraya membereskan selimut juga sprei yang terkena noda darah. Dia membawa semuanya masuk ke dalam kamar mandi dan memutuskan untuk menunggu Samuel di sana.


Sementara Samuel sudah mendatangi beberapa mini market terdekat namun hasil yang di dapatkan nihil. Dia tidak menyangka jika sangat sulit mencari mini market 24 jam yang gawatnya memang tidak ada di daerah sana.


Aku juga lupa membawa ponsel.


Tapi bukan Samuel jika sampai menyerah. Sambil melajukan mobilnya, dia memikirkan ide untuk bisa mendapatkannya.


Tiba-tiba saja mobilnya berbelok ke kiri jalan saat dirinya melihat lapak martabak yang masih buka. Itu terlihat aneh namun rupanya Samuel punya tujuan.


"Saya pesan satu porsi martabak manis ya Pak." Pinta Samuel melirik ke toko kecil yang terdapat di belakang lapak tersebut.


"Mau rasa apa Aden?"


"Coklat, keju dan kacang. Em saya boleh bertanya Pak?"


"Tanya apa Aden?" Jawab si penjual seraya menyiapkan pesanan.


"Bapak asli orang sini?"


"Iya Aden. Itu rumah saya." Menunjuk ke sebuah rumah yang terletak tepat di sebelah rumah bertoko.


"Saya sudah muter-muter untuk mencari mini market yang buka tapi tidak ada Pak."


"Memangnya mau beli apa Aden?"


"Pembalut." Si pedagang tersenyum simpul.


"Buat Istri nya."


"Iya lah Pak. Em.. Apa tetangga Bapak menjual itu?" Menunjuk ke arah toko kelontong yang tertutup.


"Sepertinya ada Aden. Biar Bapak bangunkan orangnya. Biasanya Suaminya belum tidur kok."


"Terimakasih Pak. Maaf merepotkan."


"Sama-sama Aden. Sebentar."


Samuel mengikuti langkah si pedagang dan beruntung sebab si pemilik toko belum tidur. Dengan senang hati dia mengambil semua stok pembalut di toko karena Samuel akan membeli semuanya.


Setelah menyelesaikan transaksi dan memberikan sedikit uang lebih untuk bantuannya, Samuel meninggalkan tempat untuk bergegas pulang.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2