Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Jagung bakar


__ADS_3

Ayu tidak banyak bertanya ke mana Samuel akan membawanya. Janji suci yang sudah terucap membuat perasaan Ayu tenang dan tidak lagi akan melarang jika mungkin Samuel ingin melakukan sentuhan fisik.


Di puncak. Pasti di vila..


Tebak Ayu memperhatikan pemandangan di luar. Dia tersenyum ketika terlihat beberapa penjual jagung bakar berjajar di pinggir jalan.


Tidak terasa salivanya tertelan kasar. Ingin merasakan manisnya jagung bakar tapi enggan untuk mengutarakan keinginannya. Ayu masih malu, juga tidak biasa meski hari ini Samuel sudah menjadi Suaminya.


"Kamu suka jagung bakar Babe?" Sontak Ayu memutar tubuhnya menghadap Samuel.


"Apa boleh Mas? Baju dan riasan ku bagaimana?" Segera saja Samuel meminggirkan mobilnya lalu mematikan mesin.


"Biar ku belikan." Samuel turun dari mobil sementara Ayu menunggu di dalam.


Butuh waktu sebentar saja, Samuel sudah membawa tiga buah jagung bakar dan air mineral.


"Ini makanlah. Tinggal setengah jam lagi, kita akan sampai." Dengan sedikit sungkan Ayu menerima jagung tersebut lalu memakannya.


"Jauh sekali Mas." Jawab Ayu bergumam menikmati setiap gigitan.


"Di sana vila ku yang paling indah." Samuel menoleh lalu tersenyum ketika melihat sekitar bibir Ayu berubah warna hitam." Hati-hati kalau makan." Samuel meraih tisu lalu memberikan pada Ayu.


"Iya Mas. Hampir lupa kalau memakan ini akan membuat wajah berantakan. Biar ku simpan untuk nanti."


"Tidak enak kalau sudah dingin. Makan sekarang saja."


"Dingin tidak apa Mas daripada seperti ini." Ayu membersihkan pinggiran bibirnya tanpa kaca sehingga noda hitamnya semakin menyebar. Samuel sesekali menoleh seraya terkekeh. Itu konyol menurutnya. Namun dari sisi polos itulah Samuel semakin mengagumi wanita di sampingnya.


"Pakai ini, astaga." Samuel memutar spion mobil ke arah Ayu.


"Iya Mas. Jadi seperti ini make up nya. Aduh bagaimana ini." Di tengah tawanya, Samuel meraih paper bag kecil lalu meletakkannya ke pangkuan Ayu." Apa ini Mas?" Tanyanya seraya mengeluarkan sebuah botol dari dalamnya.


"Para perias memberikan itu untuk mu."


"Terus ini apa?"


"Itu penghapus make up Babe. Pakai saja."


"Sayang sekali riasannya Mas. Nanti wajahku akan kembali seperti semula." Jawab Ayu polos.


"Terus kenapa? Acara sudah selesai."


"Mas tidak apa?" Tanya Ayu lirih.


"Aku tidak paham dengan pertanyaan mu Babe." Samuel kembali tersenyum saat melihat kekonyolan wajah Ayu.


"Aku tidak bisa mengembalikan make up nya."


"Aku suka yang natural. Hapus cepat daripada kamu seperti badut." Ayu mendengus kemudian mengeluarkan cairan dari botol ke telapak tangannya. Dia mengusapkannya pada wajah tanpa kapas sehingga wajahnya semakin berantakan.


Samuel terkekeh sejadi-jadinya. Dia tidak bisa menahan kekonyolan yang terjadi di hadapannya. Akhirnya, Samuel memutuskan meminggirkan mobilnya untuk membantu.

__ADS_1


"Aku memang tidak tahu! Kenapa jadi seperti ini Mas!" Umpat Ayu membolak-balikkan botol produk bertuliskan bahasa Inggris yang sulit Ayu mengerti." Kamu mengerjai ku? Tega sekali kamu Mas." Runtuk Ayu lagi dan lagi.


Aku sering melihat mantan Istriku melakukan ini.


"Cara pemakaiannya salah." Samuel mengambil paper bag dan mengeluarkan kapas dari sana. Dia mengambilnya selembar dan membasahinya. Tubuhnya memutar ke arah Ayu lalu mengusapkannya pada wajahnya." Kamu tidak tahu ini?" Tanya Samuel seraya fokus membersihkan.


"Tidak Mas."


"Semua wanita membawa ini kecuali kamu."


"Mungkin wanita yang pintar memakai make up."


"Hm iya. Nah sudah bersih kan." Samuel memasukkan kapas kotor ke dalam paper bag lalu meletakkannya pada jog belakang.


"Terimakasih Mas."


"Sama-sama Babe. Lanjutkan makannya." Pintanya tersenyum.


"Nanti saja Mas."


"Lanjutkan saja."


"Nanti kotor dan kamu tertawa."


"Hehe maaf. Terimakasih sudah memberikan sedikit hiburan." Ayu menddesah lembut. Dia kesal dan merasa malu dengan kejadian barusan.


"Ya Mas. Tapi nanti saja ku makan." Ayu memiringkan tubuhnya untuk meletakkan jagung bakar di belakang tapi Samuel malah mengambilnya.


"Nanti berantakan lagi Mas."


"Bersihkan lagi. Kalau dingin tidak enak." Ayu mengangguk dan memakan jagung bakar seraya sesekali melirik ke arah Samuel." Biasanya kalau di taman kota, jagungnya di serut dahulu baru di sajikan pada cup." Imbuhnya tersenyum.


"Mungkin ini termasuk desa Mas."


"Sudah terlihat jelas kalau ini kawasan pedesaan Babe. Padahal jagungnya manis sekali." Ayu tertawa kecil ketika menyadari bibir Samuel tidak kalah berantakan." Nah sudah impas kan." Samuel sengaja memakan jagung bakar agar Ayu tidak merasa di permainkan dengan candaannya tadi. Dia tidak ingin menyinggung perasaan Ayu sedikitpun.


"Apa sih Mas, sekitar bibirmu kotor sekali hehehehe."


"Tadi aku menertawakan mu dan sekarang kamu yang menertawakan ku. Jadi impas kan." Ayu menunduk seraya menahan tawa lalu menyodorkan tisu.


"Iya kita impas, bersihkan dulu." Samuel mengambil selembar tisu lalu membersihkan sekitar bibirnya.


"Jangan merasa ku permainkan. Aku menertawakan mu karena memang kamu kelihatan sangat lucu dan menggemaskan."


"Aku tahu. Untuk apa menjelaskannya."


"Agar kamu tidak tersinggung."


"Aku tidak mudah tersinggung apalagi ada bukti yang akurat." Samuel menghela nafas panjang. Dia memutuskan untuk kembali menyetir daripada harus merespon ucapan Ayu yang di rasa akan menjurus ke masa lalunya.


Aku kembali terbawa perasaan. Seharusnya aku sudah tidak pantas membahas masa lalu? Tapi. Ini memang terlalu singkat. Hanya selang beberapa Minggu. Suamiku sudah di ganti oleh Tuhan. Aku sungguh takut ini hanya kesalahan yang akan membuatku menyesal nantinya.

__ADS_1


"Masih ragu?" Tanya Samuel menebak. Dia membaca raut wajah Ayu yang berubah risau.


"Kamu baik Mas. Tapi mungkin aku butuh waktu untuk penyesuaian. Maaf atas sikapku yang mungkin akan menyakiti hatimu nantinya." Apa Mas Sam menginginkan malam pertamanya?


"Aku tahu Babe. Aku sudah mempersiapkan mental untuk itu."


Ayu menatap lurus ke depan dengan ingatan yang kembali membawanya pada momen di mana Dika menjanjikan sesuatu yang hingga sekarang belum di bayar.


Setelah jabatan ku naik. Kita akan membeli sebuah vila. Kita bisa menghabiskan akhir pekan di sana.


Kenapa aku masih mengingat janji itu padahal dia tidak pernah mengingatnya.


Ayu menghela nafas panjang tanpa memperdulikan Samuel yang sejak tadi menatapnya. Akhirnya Samuel turun lalu membuka pintu mobil untuk Ayu sebab keduanya sudah tiba di lokasi.


Samuel duduk di pijakan kaki mobil, menunggu berapa lama kesadaran Ayu akan kembali. Dia benar-benar ingin memahami dan menelan bulat-bulat resiko menikahi wanita yang baru saja bercerai.


"Kenapa berhenti Mas." Tanya Ayu terbata, menatap Samuel duduk di bawahnya.


"Sudah selesai?" Tanya Samuel balik.


"Selesai apa?"


"Aku tidak tahu kamu sedang melakukan apa." Samuel berdiri lalu mengulurkan tangannya. Ayu menyambut uluran tangan dan berdiri di sisinya." Jangan membuatku cemburu. Kamu hanya boleh memikirkan ku." Ayu tersenyum tipis dan berinisiatif memegang erat lengan Samuel agar tidak marah padanya.


"Maaf Mas."


"Ku maafkan." Samuel mengecup pipi Ayu sejenak." Kita masuk." Tangan kanannya merangkul pundak Ayu erat lalu keduanya masuk.


🌹🌹🌹🌹


Pak Wira mengangkat tangannya ketika menyadari kedatangan Dika di restoran.


Sengaja, dia menyuruh Dika meluangkan sedikit waktu untuk membicarakan perihal Tania.


"Silahkan duduk Pak." Ucapnya sopan. Berusaha menghormati Dika sebagai rekan kerjanya.


"Ada apa Bapak panggil saya ke sini?" Tanya Dika seraya membuang muka.


"Saya ingin mengatakan kekurangan Tania." Dika tidak menjawab dan terus pada posisinya." Dia tidak seperti wanita pada umumnya. Jika Bapak sudah memulai untuk menjalin hubungan. Sebaiknya Bapak fikirkan 100 kali lagi jika ingin berpisah."


Bukan tanpa alasan Pak Wira memberikan peringatan tersebut. Sebab Tania memiliki gangguan mental yang tidak terlihat.


Pak Wira beberapa kali membawanya ke psikolog tapi hasil di dapatkan sama. Tania masih normal dan tidak mengalami gangguan apapun. Namun sikap keseharian menunjukkan bukti tentang ketidakwarasannya.


"Di sini saya merasa tertipu Pak. Dia mengancam saya dan akhirnya saya harus menikah dengan cara tidak terhormat." Pak Wira tersenyum lalu meneguk minuman di hadapannya.


"Bukankah anda sudah menikmatinya? Kenapa anda bilang itu terpaksa. Sangat tidak mungkin jika para warga itu berbohong ketika melihat ada bersetubuh dengan anak saya."


Awalnya Pak Wira memang merasa malu. Tapi ada kelegaan hati ketika para warga memaksa keduanya menikah. Dia sudah sangat lelah, hartanya bahkan terkuras habis hanya untuk menutupi kegilaan Tania.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2