
Dokter menjelaskan kerusakan wajah yang di derita Vivian cukup serius. Banyak jaringan kulit yang rusak akibat cairkan tersebut.
Walaupun Farel mengetahui fakta soal itu, dia terlihat masih setia menunggu Vivian dengan duduk di sebuah kursi kayu tepat di samping ranjang.
"Apa kamu yakin tidak melihat orang yang melakukan itu?" Tanya Farel memastikan.
"Tidak. Gerakannya sangat cepat." Jawabnya dengan wajah berbalut perban.
"Pasti lelaki itu yang melakukan nya." Ucap Farel bergumam.
"Aku yakin bukan dia. Kami tidak memiliki masalah apapun." Farel mendengus ketika mendengar pembelaan untuk Dika.
"Katamu tidak tahu?"
"Tapi aku yakin bukan dia pelakunya."
"Seharusnya kamu mengatakannya pada penyidik agar dia bisa di tangkap."
"Bisa jadi kau yang melakukannya. Kau sakit hati karena ku putuskan lalu kau merusak wajahku!!"
"Kenapa kau malah menuduh ku?"
"Karena alasan itu cukup masuk akal daripada kau menuduhnya."
"Terserah." Farel berdiri cepat." Aku keluar sebentar untuk mencari makan siang." Imbuh Farel berpamitan.
Vivian hanya bisa menatap kepergian Farel sambil terus memikirkan bagaimana nasib hidupnya ke depan.
Selama ini memang kecantikannya sudah di salah gunakan. Vivian memakai kelebihannya sebagai perkerjaan dengan tarif tinggi.
Targetnya para pengusaha sukses dan lelaki kaya raya. Dia tidak perduli pada status yang mereka sandang. Singel atau beristri, asalkan mampu membayarnya mahal, Vivian dengan senang hati melayani.
Apa aku terkena karma?
🌹🌹🌹
Ayu melirik malas ke arah Samuel yang tengah berjalan di sampingnya. Meskipun Ayu menolak genggaman tangannya, Samuel tetap tidak berhenti melakukannya.
"Berhenti marah Babe. Aku hanya menginginkan hal sederhana."
"Katanya ingin bersikap lebih dewasa. Belum apa-apa saja perkataan mu tidak sesuai Mas. Kau memaksaku lagi dan lagi!"
"Apa salahnya meminta itu."
"Tidak salah. Aku yang salah." Samuel menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu menombol pintu lift.
"Bukan begitu Babe."
"Sudahlah Mas. Kalau kamu marah tidak apa-apa. Aku memang tidak nyaman mengucapkannya." Hehehehe. Dia masih saja tersenyum dan berkata lembut padahal dari tadi aku mengumpatnya.
"Aku ingin ada perbedaan Babe. Itu saja. Aku tidak akan marah. Kamu yang terlihat marah tapi aku mohon fikirkan permintaan ku yang ini."
Sejak tadi aku sudah memikirkan nya. Panggilan sayang malah mengingatkan ku pada Mas Dika. Sebaiknya aku mencari itu di internet saja.
Keduanya tiba di kamar. Ayu menyingkirkan tangan Samuel dari lengannya lalu berjalan menuju lemari untuk meletakkan tas.
"Aku sudah memesan delivery. Kamu belum makan tadi." Ucap Samuel masih tidak di respon.
Sejauh apa kesabarannya..
"Marah tidak apa. Asal jangan mendiamkan ku seperti itu."
"Aku tidak lapar. Aku lelah Mas." Setelah mengganti baju, Ayu berbaring dengan posisi memunggungi. Samuel tidak tahu jika saat ini Ayu tengah menertawakannya di dalam hati.
__ADS_1
"Jangan begitu. Sudah ku pesankan."
"Makan saja sendiri." Saat Samuel akan menjawab ucapan Ayu. Telepon apartemen berbunyi. Segera saja dia berdiri untuk menerima panggilan dari pihak apartemen.
📞📞📞
"Ya?
"Kami akan mengantarkan pakaian anda dalam waktu lima menit.
"Tunggu dulu. Saya memesan delivery yang juga akan tiba dalam waktu 10 menit. Daripada nanti bolak-balik, bajunya kamu antarkan sekalian dengan makanan yang saya pesan.
"Oh begitu Tuan.
"Hm ya.
"Siap Tuan.
📞📞📞
Samuel meletakkan gagang telepon lalu berjalan menuju ranjang. Dia melihat Ayu sudah memejamkan matanya sehingga dia memutuskan untuk berbaring di sampingnya.
Sedikit rasa kesal terbesit. Samuel merasa kalau permintaannya tidaklah sulit. Namun dia tidak mampu berbuat apapun selain menunggu sampai hati Ayu bisa luluh.
Apa aku terlalu bernaffsu? Ku rasa tidak. Hanya panggilan sayang. Apa salahnya..
Samuel melirik sebentar kemudian memiringkan tubuhnya sehingga posisi keduanya saling memunggungi. Tangan kekarnya meraih remote pendingin ruangan dan sengaja menambah suhu dingin ruangan agar nantinya Ayu memintanya untuk di hangatkan.
Aku hanya ingin di anggap spesial. Aku cemburu. Benar-benar cemburu..
.
.
.
Ayu tetap tidak bergerak padahal tadi Samuel sengaja berkata keras ketika ada pegawai apartemen mengantarkan pesanan dan baju bersih.
Seakan benar-benar tertidur, sesekali Ayu bergumam dan sesekali juga dia menyipitkan matanya untuk melihat bagaimana gelisah nya Samuel.
Selama ini dia selalu mengancam ku. Sekarang giliran ku untuk membalas..
Selain ingin menguji kesabaran. Ayu sengaja melakukan adegan pura-pura tidur karena ingin mengetahui respon Samuel. Apa dia akan bertahan dengan egonya atau dia akan merajuknya seperti yang sebelumnya terjadi.
Aku tahu dia pura-pura tidur...
Samuel kembali berbaring lalu berguling-guling. Berharap Ayu bangun lalu memanggilnya dengan sebutan berbeda dari lelaki lainnya. Tapi cara itu nihil, Ayu tidak bergerak bahkan terdengar suara dengkuran halus.
Egois!! Dia sudah mencoba menerima mu tapi kenapa kau berbuat kekanak-kanakan seperti ini! Batin Samuel menyesali perbuatannya.
Samuel berpindah tempat dan berbaring tepat di depan tubuh Ayu yang meringkuk. Dia mendekapnya lembut karena ego berhasil di turunkan walaupun rasa cemburu masih saja menjalar.
"Aku kalah Babe. Mari kita hentikan. Aku tahu kamu tidak tidur. Maafkan aku." Ucapnya seraya mengecupi sekitar wajah Ayu yang sudah membuka matanya." Panggilan itu tidak penting. Kamu jangan marah." Imbuhnya lagi. Sungguh Ayu semakin terenyuh merasakan sikap dan sifat yang Samuel perlihatkan.
"Aku tidak marah Bee. Aku sedang berfikir panggilannya yang cocok untuk mu. Sudah ku putuskan untuk memanggil mu Bee yang artinya lebah." Samuel tersenyum mengembang. Dia tidak menyangka kalau Ayu bisa membalas kejahilannya.
"Kenapa tidak sayang atau honey?"
"Aku berharap agar kamu bisa memberikan sesuatu yang manis setiap harinya seperti madu yang di hasilkan dari lebah."
"Sudah ku lakukan."
"Hm ya. Ini masih di.."
__ADS_1
"Di awal maksud mu? Aku berjanji sikapku tidak akan berubah dari awal sampai akhir. Kita akan menua bersama. Bee mu akan memberikan madu yang sangat manis setiap harinya sampai maut memisahkan."
"Aku mencoba percaya."
"Aku senang sekali." Ayu tersenyum seraya merapatkan tubuhnya." Sekarang, kamu harus makan dulu." Ayu tidak bergeming dan malah memposisikan kepalanya." Nanti kamu sakit." Imbuh Samuel mendekap lembut kepala Ayu seraya membelai rambut panjangnya.
"Ini sudah sangat nyaman Bee. Aku akan tidur sebentar. Bukankah tadi belum sempat beristirahat."
"Ya sudah oke. Aku hanya takut Ayam bakarnya dingin." Sontak Ayu beranjak duduk lalu mengikat rambutnya sembarangan.
"Kita makannya di samping kolam Bee, ayo."
"Lalu tidurnya?"
"Setelah mandi. Bajunya sudah datang kan." Samuel mengangguk seraya tersenyum menatap tangan kanannya di genggam lalu di tarik lembut oleh Ayu agar dirinya bangun.
Aku yakin dia lebih tertarik dengan Ayam bakar daripada perhiasan. Aku bisa merasakan bagaimana tersiksa nya dia ketika lelaki itu menyuruhnya diet ketat. Padahal semua itu tidak merubah apapun. Tubuhnya masih ideal bahkan perfect. Sangat pas untuk di sentuh..
Samuel memutuskan untuk berenang saja setelah mencicipi sedikit ayam bakar yang kini di kuasai Ayu. Sesekali dia tersenyum menatap Ayu yang tengah fokus makan.
Samuel merasa Ayu sudah bisa menikmati hidupnya sekarang. Dia sudah jarang mendengar eluhan meskipun ada beberapa momen yang masih membuatnya mengingat keburukan Dika.
"Tinggal ini? Apa kamu serius tidak memintanya lagi Bee?" Ayu mengangkat bagian paha ayam.
"Makan saja. Aku sudah kenyang."
Ayu melahap sisa potongan ayam bakar. Dia membereskan kotak makan ke dalam bak sampah lalu mencuci tangan. Seusai itu, Ayu kembali menuju ke kolam renang untuk meminum sisa es.
Namun pandangan langsung tertuju pada tubuh Samuel yang mengambang. Sontak Ayu terkejut juga panik. Berlari di tepian kolam renang karena mengira telah terjadi sesuatu pada Samuel.
"Bee kamu baik-baik saja." Teriaknya memastikan. Ingin terjun ke kolam tapi dirinya tidak bisa berenang." Jangan bercanda Bee. Ini tidak lucu! Jawab aku." Ayu semakin gelisah. Berkali-kali dia berniat turun tapi gerakkan tertahan sebab dirinya tidak bisa berenang.
Bagaimana ini?
Kedua tangannya saling meremas, menatap tubuh Samuel yang belum juga bergerak.
Kalau terjadi sesuatu dan Mas Sam meninggal? Lalu bagaimana dengan hidupku? Aku tidak mau! Aku harus menolong nya walaupun nantinya aku juga akan tenggelam.
Dengan sedikit kebodohan yang di bumbui kekhawatiran, Ayu menerjunkan tubuhnya ke dalam kolam setinggi dua meter.
Ketakutan seketika menjalar. Tentu saja tubuh Ayu tenggelam meski dia mencoba menggerak-gerakkan kakinya. Dia menahan nafas sebisanya sambil terus berusaha tapi tubuhnya terus saja jatuh ke dasar kolam.
Tepat di saat Ayu mulai kehabisan nafas. Samuel muncul dengan nafas buatan yang di berikan lewat ciuman. Tubuhnya di dekap erat lalu di giring menuju ke atas.
"Hah.. Hah.. Hah.." Ayu menarik nafas dalam-dalam dengan mata membulat menatap Samuel." Kamu mengerjai ku lagi! Tega kamu Bee!!" Teriak Ayu memukul-mukul pundak tegap Samuel.
"Itu balasan untuk orang yang pura-pura tidur."
"Bagaimana kamu melakukan itu Bee? Kamu seperti tidak bernafas." Kedua tangan Ayu bertumpu pada pundak Samuel yang mulai mengiringinya menuju pinggiran kolam.
"Itu tidak penting. Yang paling penting adalah. Kenapa kamu memutuskan terjun padahal kamu tidak bisa berenang?" Samuel menaikkan tubuh Ayu dan mendudukkannya di pinggiran kolam.
"Apalagi kalau bukan khawatir." Samuel naik lalu duduk di samping Ayu.
"Kalau kejadian tadi benar? Bukankah kamu dan aku akan mati bersama nantinya." Syukurlah dia sudah memiliki perasaan itu. Dia rela terjun dan tidak memikirkan keselamatannya karena mengkhawatirkan ku.
"Hm ya Bee."
"Kamu tidak takut mati."
"Itu lebih baik daripada hidup sendiri." Samuel berdiri lalu mengangkat tubuh Ayu.
"Percayalah. Bee mu tidak akan membiarkan mu sendiri. Kita mandi. Ini sudah menjelang malam."
__ADS_1
Dengan tubuh basah, Samuel membawa Ayu masuk ke dalam untuk melakukan ritual mandi bersama.
🌹🌹🌹