
Flash back
"Will you marry me." Ucap Dika di tengah hiruk-pikuk yang terjadi di taman. Keduanya kini menjadi sorotan karena cara manis Dika untuk meminta Ayu menjadi Istrinya.
Para lelaki merasa iri dan menganggap Dika lelaki beruntung yang bisa memiliki kesempatan untuk meminang gadis secantik Ayu. Sementara para wanita sekitar merasa iri pada Ayu yang bisa merasakan kebahagiaan ketika pasangannya meminang dengan cara indah.
"Apa Mas sedang bercanda?" Tanya Ayu dengan wajah memerah.
Kedekatan keduanya berjalan dua tahun. Tidak dapat di pungkiri jika Ayu menantikan momen manis seperti cara Dika memperlakukan sekarang.
"Tidak Ayu. Aku ingin meresmikan hubungan kita." Jawab Dika tegas. Hal itu membuat Ayu semakin yakin dengan kedewasaan Dika yang terpaut 2 tahun darinya.
"Mas sudah tahu jawabannya apa kan." Tentu saja Ayu mengiyakan keinginan Dika untuk meminangnya.
"Jawab dulu."
"Iya Mas, aku mau." Dika tersenyum lalu memasangkan sebuah cincin sederhana pada jari manis Ayu.
"Terimakasih ya."
"Ini sudah sewajarnya terjadi Mas. Aku juga ingin segera memiliki keluarga." Sejak kedua orangtuanya meninggal, Ayu merasa kesepian berada di kontrakan. Tidak ada peninggalan atau warisan dari kedua orang tua Ayu selain hutang piutang yang setiap bulan harus di cicil.
"Tapi ya, aku masih begini sayang."
"Maksud Mas apa?"
"Perkerjaan. Bukankah kamu tahu aku masih belum mendapatkan jabatan yang bagus." Kedua tangan Ayu menggenggam erat jemari Dika.
"Astaga Mas. Aku juga bukan dari golongan orang kaya. Aku bersyukur ada lelaki baik seperti Mas Dika yang mau meminang ku."
"Kamu cantik sayang. Seharusnya kamu bisa mendapatkan lebih dariku."
"Cantik itu bisa pudar."
"Tidak bisa. Sekali cantik ya tetap cantik. Aku berjanji akan membahagiakan mu dan memberikan hidup yang layak untukmu. Doakan niat baik ku ya."
"Amin Mas. Niat baik pasti cepat di kabulkan."
Flash back off
Sontak Ayu tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara keras Mita memanggil dengan tepukan pada pundaknya.
"Aku mohon Mas Farel. Lihatlah Ayu, belum keluar saja sudah linglung seperti itu." Menunjuk ke arah Ayu yang sudah tersadar. Dia terlihat menghela nafas panjang untuk mengendalikan perasaannya yang hancur.
"Jangan libatkan masalah pribadi dengan perkerjaan. Pengunjung itu ingin Ayu yang melayani."
"Itu Suami nya Mas. Wanita itu sengaja ke sini untuk membuat Ayu sakit hati!" Mita tersulut emosi hingga membuat nada bicaranya terdengar kasar.
"Itu bukan urusanku! Layani atau kalian pulang saja dan tidak perlu kembali lagi!" Jawab Farel mengancam seraya menatap wajah dan leher Ayu yang berkeringat. Pasti kulitnya sangat lembut ketika di sentuh.
"Oke! Ayo Ay kita pulang!" Mita meraih pergelangan tangan Ayu dan berusaha mengajaknya pergi, namun Ayu tidak bergeming.
Bodohnya aku sudah percaya dengan ucapannya dulu!! Apa dia ingat pengorbanan yang ku lakukan ketika dia berada di masa yang sulit? Sekarang dia memperlakukan ku dan ingin membandingkan ku dengan wanita rendahan itu! Tidak akan ku biarkan itu terjadi Mas!
__ADS_1
"Tidak Mit." Ayu tersenyum tipis ketika perasaan sudah membaik dan siap untuk melihat pemandangan buruk di depan.
"Masih ada perkerjaan lain."
"Mencari perkerjaan itu susah. Aku tidak sedang mengejek. Aku yang sarjana saja kesulitan apalagi kamu yang hanya lulusan SMK." Mita menatap Ayu sendu. Dia mengerti jika apa yang di katakan Ayu tidak berniat menghina nya.
"Daripada kau sakit hati! Aku tidak masalah kehilangan perkerjaan."
"Itu akan menjadi masalah untuk ku." Ayu melepaskan celemek lalu meletakkannya. Dia berjalan ke depan sambil menyambar buku menu yang ada di meja.
Sam yang melihat itu, malah tersungging seakan tengah menyoraki Ayu dan memberikan semangat.
Sangat sesuai. Tidak lemah, tidak hanya memikirkan materi dan cantik.
Begitulah penilaian Samuel akan sosok Ayu. Dia merasa jika apa yang di cari selama ini melekat pada diri Ayu.
Hanya butuh satu penilaian. Apa pendapatmu tentangku yang memiliki banyak hutang?
Ingin rasanya Sam segera mengetahui bagaimana pendapat Ayu tentang dirinya. Apa Ayu akan pergi seperti kebanyakan wanita yang selama ini ada. Atau Ayu akan tetap tinggal dan melewati semuanya bersama?
"Keterlaluan sekali Dika!!" Dengus Mita kesal.
"Temanmu bukan wanita yang lemah."
"Cih!" Mita melirik malas ke arah Sam.
"Kamu kesal padaku?"
"Ya! Seharusnya Mas Sam bisa membantu Ayu. Kasihan dia." Sam hanya tersenyum seraya memperhatikan Ayu yang sudah berdiri di samping Tania.
"Kenapa kamu tidak mengenakan seragam." Tanya Tania di sela tawanya.
"Seragam saya belum selesai di jahit." Dika melirik ke arah Ayu yang tengah bersikap profesional. Entah kenapa dia merasa kasihan melihat pemandangan akibat kebodohannya.
"Kami hanya sekedar makan siang." Sahut Dika menjelaskan.
"Seharusnya kamu mengakui hubungan kita sayang." Nafas Ayu terbuang kasar. Sebisa mungkin dia ingin bersikap tenang mengingat ramainya Cafe hari itu.
Sayang? Ya Tuhan. Apa kau sedang memenuhi janjimu untuk membahagiakan ku Mas?
"Omong kosong! Jangan bicara macam-macam!"
"Kita memang memiliki hubungan khusus."
"Itu sepihak. Dia menganggap itu sementara aku tidak." Dika menunjuk ke arah Tania seraya menatap Ayu. Dia berusaha menyakinkan Ayu jika hubungan keduanya tidak sedekat kelihatannya.
"Saya tidak perduli. Cepat pesan atau saya akan pergi. Perkerjaan saya bukan hanya melayani kalian." Jawab Ayu merendahkan suaranya meski dia ingin berteriak nyaring ke telinga Tania.
"Tidak sopan sekali. Seharusnya kau menunggu sampai kami memutuskan. Apa kau tidak tahu cara menghormati tamu." Tania mengambil buku menu dengan gerakan kasar. Sikap yang di tunjukkan Tania semakin membuat Ayu geram." Sayang sekali owner-nya tidak ada. Jika dia ada di sini, akan ku adukan kau karena sikap tidak sopan mu pada pengunjung." Ayu tersenyum getir. Menatap lekat ke Tania seakan ingin menelan nya bulat-bulat.
Sabar Ayu, sabar. Tapi sabar ada batasnya.. Tidak! Kalau ada batasnya berarti tidak sabar. Berhentilah bicara atau kau sendiri yang akan ku permalukan!!
"Siapa owner nya?" Tanya Tania kasar.
__ADS_1
"Untuk apa?"
"Menyadarkan mu agar kau lebih menghormati pengunjung!" Nafas Ayu terbuang kasar. Dia sudah berusaha sabar namun Tania membuat otaknya mendidih.
"Saya akan hormat untuk orang yang pantas di hormati!!" Jawab Ayu menatap tajam Tania. Persetan dengan perkerjaan!!
"Oh astaga! Kau sadar jika kau hanya seorang pelayan." Tania berdiri lalu mendorong sedikit pundak kanan Ayu hingga tubuh Ayu terdorong sedikit.
"Saya rasa perkerjaan menjadi pelayan lebih terhormat daripada perkerjaan mu."
"Aku seorang sekertaris..."
"Yang merangkap menjadi selingkuhan Suami terhormat saya!!"
Pandangan sekitar langsung tertuju pada Dika dan Tania. Tentu saja rasa simpatik langsung Ayu dapatkan.
"Kita bicarakan ini di rumah." Dika berdiri lalu meraih pergelangan tangan Ayu. Dia bukan sedang membela, tapi Dika lebih takut kehilangan jabatannya. Dia takut jika mungkin ada seseorang yang mengenalnya lalu melaporkannya.
"Lepaskan!!!" Ayu menarik kasar tangannya lalu menunjuk tepat ke wajah Dika." Apa yang akan di bicarakan? Sudah tidak ada lagi yang perlu di bicarakan! Bawa pergi wanita sialan ini." Telunjuk Ayu beralih pada Tania.
"Aku mohon berhenti. Bagaimana jika ada rekan kerjaku di sini." Jawab Dika berbisik.
"Aku lebih baik masuk penjara daripada melihat wanita ini di sini." Ayu tidak mendengarkan perkataan Dika. Tangan kanannya meraih rambut Tania lalu menariknya kasar hingga tubuh Tania hampir terjungkal.
Suasana seketika riuh, sehingga Samuel terpaksa ikut turun tangan. Farel sendiri malah tersenyum seraya memberikan peringatan pada para pegawai untuk tidak mengadu pada Pak Ridwan.
Fakta yang manis. Dia terlihat acuh tapi aku merasa Ayu haus akan kasih sayang dan belaian..
"Lepaskan Ayu!" Teriak Dika mencengkram pergelangan tangan Ayu kasar tanpa memperdulikan jika perbuatannya bisa melukai.
"Sudah ku katakan! Aku lebih baik masuk penjara daripada melihatnya." Rasa sakit hati yang menghantam membuat Ayu tidak merasakan ketika tangan kekar Dika berusaha melepaskan cengkeramannya.
"Lepaskan dulu! Kita akan pergi!!"
"Tidak. Aku tidak mau pergi!! Kau harus sadar hei Ayu!! Suamimu sudah bosan padamu karena kau tidak bisa menjaga tubuhmu!!! Kau jangan menyalahkan aku atas ini!!" Bukankah seharusnya Tania menjerit kesakitan? Namun nyatanya perbuatan Ayu tidak membuatnya berhenti berceloteh. Dia bahkan terus saja mengucapkan semua keburukan Ayu.
Kericuhan terhenti ketika Samuel menyeret tubuh Dika. Faktanya, dia ikut tersakiti ketika melihat pergelangan tangan Ayu yang memerah.
"Bawa pergi wanita mu, lelaki sialan!!" Setelah memberikan peringatan pada Dika. Samuel menghampiri Ayu seraya memegang lengannya lembut." Lepaskan. Kamu hanya akan menjadi tontonan." Ayu mendengus seraya menatap Mita yang ikut merasa panik akibat ulahnya. Sebelum melepaskan rambut panjang Tania, dia menghempaskan kepala Tania hingga membuat tubuhnya membentur salah satu kursi.
Dengan gerakan kaku Samuel melepaskan lengan Ayu. Kepalanya menunduk dan menyadari kedua mata Ayu yang mulai berkaca-kaca.
"Aku menunggu gugatan cerai darimu!!!" Teriak Ayu menatap tajam ke arah Dika kemudian berlalu masuk ke dalam.
"Tidak Ayu! Dengarkan aku!!" Dika berusaha menyusul tapi Samuel mencegahnya.
"Pergi atau ku panggil keamanan!!" Ancam Samuel.
Dika sedikit mendongak, menatap Samuel yang lebih tinggi darinya. Terbesit rasa khawatir yang bersarang pada otaknya setelah menyadari kesempurnaan paras Samuel dari dekat.
Walaupun hanya perkerja Cafe! Dia tampan sekali. Bagaimana jika dia mengambil Ayu dariku? Semua ini gara-gara wanita sinting ini!!!
Terpaksa, Dika memutar tubuhnya lalu pergi keluar di ikuti oleh Tania. Dia sadar jika tidak memiliki kuasa untuk masuk ke dalam sehingga dia merencanakan akan membicarakan semuanya di rumah.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹