
Seperti yang sudah pernah terjadi. Dika tentu tidak langsung mengajak Vivian pulang dan berdalih ingin mengajaknya makan malam.
Vivian yang kala itu baru saja putus. Mengiyakan permintaan Dika apalagi setelah melihat jabatan Dika yang cukup bagus. Dia sudah berandai-andai bisa menguras habis harta Dika serta mendapatkan kepuasan dari hubungan mereka.
Sayang sekali ATM ku di bawa Tania! Kalau ada di tanganku, mungkin aku bisa membelikan beberapa barang untuk ines agar dia semakin simpatik padaku. Ini saja uangku langsung habis.
Hanya tersisa uang 100 ribu di dalam dompet. Uang yang di berikan Tania sudah habis untuk makan malam tadi.
"Maaf Vian. Aku tidak membawa ATM jadi tidak bisa membelikan oleh-oleh." Vivian tersenyum manis seraya memegang lembut jemari Dika.
"Tidak apa-apa Mas." Masih di awal saja, dia ingin membelikan barang. Bagaimana jika kita sudah lama saling mengenal. "Apa Mas sudah beristri." Tiba-tiba saja Vivian menanyakan hal tersebut walaupun sebenarnya dia tidak ingin tahu.
"Hm iya sudah. Tapi aku sedang ada masalah besar. Kita bahkan sudah tidak lagi tidur satu kamar."
"Kenapa?"
"Istri ku hamil. Aku membenci itu." Vivian tertawa kecil sambil menutup mulut. Pemikiran Dika sesuai dengan pola fikirnya yang tidak menyukai hubungan serius.
"Sepertinya Mas Dika tidak suka hubungan yang serius."
"Bukan tidak suka. Wanita yang hamil akan terlihat jelek."
"Hm begitu." Vivian manggut-manggut seraya mengedarkan pandangannya." Aku tidak suka hubungan serius dan senang berpetualang seperti sekarang. Itu lebih baik daripada menetap dengan satu nama." Imbuhnya tersenyum simpul.
"Kau mau menjadi..." Kata-kata Dika tertahan ketika dia melihat Ayu. Sontak saja wajahnya berubah pucat sebab perasaannya untuk Ayu masih ada.
Dika tidak ingin Ayu semakin mengetahui soal keburukannya meskipun seharusnya dia tidak memikirkan hal itu. Ayu bukan lagi Istrinya. Alasan yang sudah jelas terlihat.
Perlahan, Dika melepaskan pegangan tangan Vivian dari lengannya. Sorot matanya menatap fokus ke arah Ayu yang mencoba untuk tidak perduli.
Sementara Ayu, sudah merencanakan untuk berpura-pura tidak melihat. Dia mengiring Samuel berjalan lurus dan mengabaikan keberadaan Dika.
Akan ku tunjukkan kalau aku bisa mendapatkan seseorang yang lebih darimu.
Rasa cemburu langsung menjalar tatkala Dika menyadari betapa mesranya tangan Ayu ketika memegang lengan Samuel. Tubuh keduanya bahkan begitu dekat, menempel seakan tidak ingin berjauhan.
"Kalau mereka bertanya. Bilang saja kita berpacaran." Pinta Dika meraih jemari Vivian lalu menggenggamnya erat. Dia sengaja berjalan menghampiri Ayu untuk menunjukkan kehebatannya." Astaga, dunia sempit sekali. Kita bertemu lagi di sini." Sapa Dika tidak di respon. Ayu bahkan tidak melihat dan terus berjalan sehingga membuat Dika terpaksa mengekor.
Wah.. Lelaki milik wanita itu lebih bagus tubuhnya. Batin Vivian memperhatikan tubuh tinggi tegap Samuel.
"Apa hatimu sakit melihatku? Sampai-sampai kau tidak menjawab sapaan ku. Walaupun kita mantan, tapi seharusnya kita menjalin hubungan baik. Itu tidak masalah." Ujar Dika berceloteh. Dia menghadang langkah hingga terpaksa Samuel dan Ayu berhenti.
"Aku tidak bisa menjalin hubungan dengan seseorang yang sudah ku buang. Apa yang ingin kau pamerkan Mas. Wanita ini?" Jawabnya tersenyum simpul. Tapi dia memang cantik.
"Tidak aku hanya ingin menyapamu."
"Aku mau pulang. Sebaiknya Mas minggir saja."
__ADS_1
"Aku akan terus menganggu mu dan melakukan perselingkuhan kalau kamu tidak mau kembali padaku." Vivian mendengus sebab menurut pandangannya, penampilan Ayu payah walaupun dia mengakui kecantikan Ayu yang natural.
"Terserah. Aku tidak perduli. Kau boleh memacari semua wanita yang ada di muka bumi ini sebab kau bukan lagi orang yang wajib ku patuhi." Wajah Dika berubah garang, tatapannya beralih pada Samuel yang tengah tersenyum tipis.
"Bukankah sebaiknya kau memecat ku saja." Dika kembali menggila sampai berani melontarkan permintaan tersebut.
"Aku bukanlah orang yang suka mencampuradukkan masalah pribadi dengan perkerjaan. Selama kinerja mu baik. Silahkan berkerja di sana. Tapi kau harus ingat pada kejadian kemarin." Jawab Samuel memang tidak berniat memecat Dika, apalagi perusahaan tempat Dika berkerja hampir tidak pernah dia kunjungi." Fikirkan masa depan. Jika kau tidak berkerja di tempatku, apa bisa kau makan? Prestasimu bahkan tidak seberapa bagus." Vivian merenggangkan genggaman tangannya. Dia lebih tertarik dengan Samuel.
"Jadi? Anda pemilik perusahaan itu?" Tanya Vivian tersenyum manis berharap Samuel bisa tergoda dengan pesonanya yang memang memiliki kecantikan hampir sempurna.
"Kau mengancam!!" Sahut Dika menekan kata-katanya.
"Not. Aku hanya ingin menyadarkan mu. Silahkan berhubungan dengan wanita-wanita itu. Tapi jangan pernah kau berharap kembali padanya." Mengangkat tangan kanannya yang tengah menggenggam erat jemari Ayu." Walaupun wanita yang kau anggap menjijikan ini ingin kembali padamu, tidak akan ku biarkan itu terjadi." Samuel mendorong kasar pundak Dika lalu berjalan pergi.
Vivian menarik nafas panjang. Dia merasa kesal karena pertanyannya di abaikan. Begitupun Dika yang kini hatinya terasa terbakar akibat rasa cemburu meledak-ledak di otaknya.
"Serius Mas? Dia pemilik perusahaan itu?" Tanya Vivian memastikan.
"Aku tidak tahu. Sebaiknya kita pulang." Jawab Dika melanjutkan langkahnya di ikuti oleh Vivian. Kenapa aku masih saja sakit hati? Dia memang cinta pertama ku. Aku tidak rela melihatnya bersentuhan dengan lelaki lain.
"Siapa wanita tadi Mas."
"Mantan Istri ku."
"Oh berarti kamu sudah tidak beristri?"
"Daripada cerai nikah cerai nikah bukankah lebih baik berpetualang seperti ku. Bisa bebas berhubungan tanpa ikatan dan em... Mendapatkan kepuasan tanpa di repot kan dengan problem rumah tangga." Dika menoleh ke arah Vivian. Dia menganggap jawaban Vivian sebagai undangan untuk mencari kepuasan.
"Kamu mau memberikan itu kalau ku minta sekarang. Hatiku sedang tidak baik." Pinta Dika mulai merapatkan tubuhnya. Tangan kanannya merangkul pundak Vivian lembut.
"Tapi tidak gratis. Tarifnya sangat malah."
"Memakai tarif? Apa kau.."
"Hm ya. Hidup ini keras. Gaji di perusahaan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan ku." Dika tersenyum simpul. Vivian adalah tipe wanita yang di cari. Bisa bercinta tanpa di repot kan dengan kehamilan.
"Berapa tarifnya?" Tanya Dika berbisik.
"50 juta untuk satu malam. Cukup murah kan dengan kesempurnaan fisikku."
"Mahal sekali."
"Itu sudah murah Mas."
"Tapi aku tidak membawa ATM."
"Khusus malam ini ku berikan free tapi untuk malam selanjutnya, kamu harus membayar kalau mau ku temani." Dika menundukkan kepalanya dan mencumbu pundak Vivian sejenak.
__ADS_1
"Terimakasih sayang. Buat aku ketagihan agar nanti aku bisa bersemangat untuk membayar."
"Aku akan membuatmu melayang malam ini." Dika mulai melingkarkan tangan kanannya ke pinggang ramping Vivian. Hasrat terlarang kembali membuat akal sehatnya lenyap.
Tanpa keduanya sadari, seorang lelaki tengah mengintai bahkan mengambil beberapa gambar kegiatan mereka.
🌹🌹🌹
Di dalam mobil, beberapa kali Ayu menghembuskan nafas berat. Ada kelegaan setelah melihat kenyataan jika selama ini bukankah dirinya yang bersalah, tapi Dika memang tidak puas dengan satu wanita.
"Padahal dulu dia tidak begitu. Dia tidak pernah berpacaran dan sibuk bekerja." Gumam Ayu tidak habis fikir kenapa Dika masih saja berselingkuh padahal Tania sangatlah cantik.
"Berbeda denganku. Saat masih sekolah, aku suka bergonta-ganti pasangan." Ayu menoleh cepat. Samuel sengaja membicarakan masa sekolahnya untuk memberitahu Ayu jika dirinya pernah menjadi lelaki brengsek." Tapi semenjak menikah? Aku sudah tidak pernah melakukannya." Imbuhnya menjelaskan. Tatapan tajam Ayu bahkan di nikmati olehnya.
"Kamu berbohong Mas."
"Berbohong apa?"
"Katanya tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun kecuali mantanmu."
"Aku sudah jujur Babe. Aku pernah menjadi brengsek saat sekolah dulu. Tapi ketika sudah duduk di bangku kuliah. Aku berhenti dan bosan melakukanya."
Itu adalah alasan kenapa Samuel tidak mudah tergoda dengan kecantikan. Dia mengenal mantan Istrinya saat keduanya berkuliah sama-sama.
Samuel jatuh cinta pada kecantikan mantan Istrinya dan kesempurnaan fisik yang di miliki. Dia memutuskan untuk setia pada satu nama dan merencanakan hubungan serius sampai ke jenjang pernikahan.
Tapi karena kala itu Samuel belum sehebat sekarang. Dia sering di sibukkan dengan perusahaan yang belum berkembang.
Samuel berkerja keras bahkan pulang larut malam agar perusahaan kecil Ayahnya bisa menjadi perusahaan besar.
Mantan Istrinya kerapkali kesepian dan tidak sanggup menerima kesibukan Samuel. Dia berpura-pura menjadi Istri yang baik namun ketika Samuel pergi, dia selalu memuaskan hasratnya bersama sembarangan lelaki.
Samuel masih menahan ketika Dimas menunjukkan bukti perselingkuhan. Dia berusaha menutup mata walaupun almarhum Ibunya kerapkali menyuruh Samuel untuk bercerai.
Puncak perselingkuhan terjadi. Ketika mantan Istrinya bertemu teman lama yang kala itu terlihat lebih sukses dari Samuel.
Iman yang setipis tisu, membuat mantan Istrinya memilih berpisah dengan cara sembunyi-sembunyi. Dia memberikan surat perceraian seraya membawa semua aset yang Samuel miliki.
Perusahaan Ayahnya bahkan sempat di jual sampai-sampai kejadian itu terdengar oleh Ibunya dan membuatnya merenggang nyawa.
Rasa cinta seketika berubah benci. Bukan hanya mengambil hartanya tapi si mantan Istri juga menjadi pemicu kematian Ibu kandungnya. Orang tua satu-satunya yang Samuel miliki.
Kala itu Samuel merasa terpuruk, putus asa bahkan sempat akan bunuh diri namun Dimas dengan setia menyemangati.
Samuel terpaksa mengadaikan surat rumah, untuk menebus kembali perusahaan peninggalan Ayahnya. Dimas berhasil mengubah pola fikirnya hingga sampai dirinya bisa sesukses sekarang. Itu kenapa Samuel sudah mempercayakan perusahaan pada Dimas.
🌹🌹🌹
__ADS_1