Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Ingin di perhatikan


__ADS_3

Pak Wira bergegas datang ke rumah Dika setelah menerima eluhan dari Tania. Selain merasa bahagia, Pak Wira juga merasa kecewa atas sikap kekanak-kanakan yang di tunjukkan Dika.


"Anda bukan lagi anak SMA Pak." Ujar Pak Wira masih menghormati Dika sebagai rekan kerjanya.


"Saya tidak mencintai anak anda. Saya yakin itu bukan anak saya."


Plaaaaaakkkkkk!!!


Langsung saja Pak Wira melayangkan tamparan pada pipi kiri Dika. Walaupun Tania gila ketika mencintai sesuatu, tapi sudah tiga bulan terakhir dia tidak pernah berhubungan dengan lelaki lain selain Dika. Kegilaannya melambangkan kesetiaan dan kecemburuan yang sangat ekstrim, sampai-sampai dia rela melukai jika ada seseorang yang mengusik hubungannya.


"Anda sudah berhubungan hampir tiga bulan! Sementara kehamilan Tania masih menginjak tiga Minggu! Bagaimana mungkin anda berkata itu Pak." Dika membuang nafas seraya berpaling. Otaknya terasa mendidih karena kekesalan atas kehamilan Tania." Kita tes DNA! Kalau memang ini bukan anak Pak Dika, saya yang akan merawat anak ini kalau sudah lahir." Imbuh Pak Wira dengan raut wajah kesal.


"Bukan masalah anaknya. Tapi tubuhnya akan rusak jika dia sampai hamil!" Tunjuk Dika kasar ke arah Tania.


"Astaga Pak. Lalu tujuan Bapak menikah itu apa? Kalau bukan memiliki keturunan? Saya malah ingin Almarhum Istri saya bisa hamil. Saya menginginkan seorang anak hadir agar masa tua saya ada yang menjaga."


"Kita tidak sepemikiran. Saya tidak mau kalau akibat kehamilan ini, tubuh Tania berubah buruk! Sebaiknya Bapak bawa pergi saja Tania dari rumah saya!"


"Aku tidak mau Dika! Kalau kau mengusir ku! Ayah akan memecat mu dari perusahaan. Kau ingat ancaman Pak Samuel?" Dika menelan salivanya kasar. Dia sangat membutuhkan perkerjaannya sekarang. Apalagi Samuel sudah memastikan kalau dirinya tidak akan di terima pada perusahaan manapun jika sampai risen.


"Ayah dan Anak sama saja!!! Kalian hanya bisa mengancam! Jangan harap kita tidur satu kamar lagi!" Dika menyambar kunci mobilnya lalu pergi meninggalkan Pak Wira tanpa rasa hormat sedikitpun.


"Tinggalkan Dika saja. Ayah akan mencarikan Bapak untuk anakmu." Ucap Pak Wira menyarankan walaupun dia sudah tahu jawabannya seperti apa.


"Tidak Ayah. Aku ingin mengikat Dika dengan kehadiran anak ini." Pak Wira menddesah lembut. Kegilaan cinta Tania tidak akan mudah di hentikan begitu saja.


"Dia tidak menerima anak itu. Ayah tidak ingin terjadi sesuatu denganmu juga calon bayi mu."


"Aku akan menjaganya. Dika tidak akan mudah menyakitinya. Dia tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa."


"Jangan berbuat arogan Nak. Ayah tidak ingin kamu terlibat masalah hukum."


"Ayah tenang saja." Kalaupun terlibat, aku akan dengan mudah menghindar..


.


.


Dika sendiri sudah tiba di perusahaan. Dia bergegas masuk namun pemandangan di hadapannya sontak membuat langkahnya terhenti.


Seorang wanita cantik turun dari sebuah taksi. Cara berpakaiannya sangat modis di tambah dengan tubuh semampai dan kulit putihnya.


Dika berhenti bernafas sejenak, lalu menghembuskan nya berat. Sejak tubuh Ayu berubah, Dika berubah menjadi lelaki brengsek dan mudah berpaling meski hatinya memang masih terpaut pada Ayu. Mata nakalnya sering berbelanja, bahkan tidak segan-segan memacari si wanita jika memang bisa.


Siapa wanita ini? Semua barang yang di pakai branded.


"Ada yang bisa saya bantu Nona." Sapa Dika mulai melancarkan aksinya. Dia kembali melupakan perasaannya pada Ayu yang katanya masih terjaga.


"Em saya Vivian. Orang yang akan menangani proyek di lokasi B." Dika tersenyum mengembang. Dia mengenal nama Vivian dari Pak Wira sesuai rapat Sabtu siang.


"Oh astaga. Saya Dika, Direktur pemasaran di sini." Dika mengulurkan tangannya dan di sambut langsung oleh Vivian.


Dewasa dan berkharisma.. Puji Vivian dalam hati.


Keduanya berkenalan akrab lalu berjalan bersamaan masuk ke dalam lobby perusahaan.


Tanpa mereka sadari, Farel memantau mereka dari balik pohon dengan wajah geram. Dia merasa terkhianati saat terungkap kenyataan kalau Vivian sering menerima bokingan dari para pengusaha muda untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.


Aku sudah menyerahkan semua hartaku untukmu Vivian. Ku fikir semuanya sudah cukup tapi kenapa kamu masih tidak berhenti melakukan perkerjaan kotor itu!!


NB. Semoga para pembaca masih mengingat Farel๐Ÿ˜


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1



Sore itu, Samuel berpura-pura sibuk padahal dirinya berusaha menarik perhatian Ayu yang sejak tadi menonton televisi. Dengan gerakan kasar, dia membolak-balikkan map di tangannya seraya melirik ke Ayu yang seakan tidak perduli.


Pilihanku memang sangat berbeda. Bukankah seharusnya dia berada di samping ku. Paling tidak jangan berdiam seperti pasangan yang sedang bertengkar..


Apa yang Samuel pinta, juga sedang bersarang di dalam hati Ayu. Ingin sekali dia menemani Samuel namun dirinya mengira jika Samuel sedang sibuk.


Sampai kapan memeriksa laporan? Katanya sudah ada yang mengurus? Kenapa tidak selesai-selesai. Seharusnya dia duduk di sampingku dan menonton televisi bersama agar kita berdua cepat akrab.


Bukan Samuel tidak ingin mengawali. Tapi setelah pembicaraan serius yang terjadi tadi pagi, membuatnya ingin memberikan ruang bagi Ayu untuk berfikir.


"Nyaman sekali berada di sana." Ujar Samuel membuka suara.


Apa dia sedang berbicara denganku atau?


Ayu tidak bergeming. Dia mengira jika Samuel bukan berbicara padanya.


Acara apa yang di tonton sampai-sampai dia tidak menjawab obrolan ku.


Samuel berdiri sambil meletakkan map nya. Dia berjalan menghampiri Ayu lalu meraih remote televisi dan mematikannya. Sontak Ayu mendongak, menatap Samuel dengan raut wajah bingung.


"Ke kenapa Mas? Apa aku tidak boleh menonton acara memasak?"


"Bukan acaranya. Tapi kamu mengabaikan ku." Ayu tersenyum aneh sambil menoleh ke Samuel yang sudah duduk di sampingnya.


Bukankah dia yang mengabaikan ku?


"Apa televisi itu terlihat lebih bagus daripada aku?" Ayu mencoba mencerna perkataan yang Samuel ucapkan.


"Aku melakukan kesalahan lagi Mas?" Samuel membuang nafas kasar lalu memiringkan tubuhnya menghadap Ayu.


"Bukan kesalahan. Tidak masalah melihat acara televisi tapi jangan terlalu lama mendiamkan ku." Sungguh otak Samuel sudah sangat menggilai wanita di hadapannya. Sampai-sampai dia tidak bisa berfikir jernih karena menginginkan Ayu hanya menatap ke arahnya.


"Babe please. Dari tadi siang kamu terus saja menatap ke arah televisi padahal aku duduk di sana." Menunjuk ke meja kerjanya.


"Aku tahu kamu duduk di sana."


"Hanya tahu?"


"Terus bagaimana? Aku hanya berusaha mengerti kesibukan mu. Aku takut kamu tidak konsentrasi saat memeriksa laporan. Lalu, Em, apa Mas Sam ingin aku menganggu seperti seorang anak kecil yang minta di temani." Samuel tersenyum simpul lalu terkekeh. Penjelasannya dari Ayu membuat otaknya kembali berkerja dengan benar.


Aku benar-benar tidak waras mengatakan kekonyolan itu..


"Lakukan kalau memang kamu mau."


"Itu seperti anak kecil."


"Tidak masalah. Aku suka."


"Mas suka?" Tanya Ayu mengulang.


"Hm. Aku tidak pernah sibuk."


"Lalu tadi?"


"Ingin mendengar mu berprotes karena aku mengacuhkan mu. Itu gagal, aku yang tidak tahan ketika melihat mu berpaling." Perkataan yang terdengar manis namun konyol.


"Aku hanya menonton televisi." Memang sangat gila? Tapi.. Cinta berlebihan itu sangat ku sukai walaupun aku tidak tahu perasaan itu akan memudar atau tidak?


Samuel berbaring dan menumpukan kepalanya pada paha Ayu. Meskipun canggung, Ayu berusaha untuk memanjakan Samuel dengan usapan tangan pada dahinya.


"Mita mengajak kita dinner Minggu depan Mas." Ucap Ayu baru menyampaikan pesan dari Mita.

__ADS_1


"Hm boleh."


"Terimakasih."


"Untuk apa berterimakasih?"


"Memperbolehkan ku bertemu Mita."


"Asal bersamaku."


"Aku berjanji tidak akan keluar sendiri. Aku terbiasa berada di rumah sejak lama." Samuel terdiam sesaat untuk memikirkan jawaban dari penjelasan Ayu.


"Mita bisa datang kapan saja ke rumah. Aku tidak akan mengekang untuk masalah itu. Kalau kamu ingin berpergian, aku akan mengantarmu dengan senang hati."


Itu berbanding terbalik dengan pemikiran Dika. Dulu Ayu sering mengajak Dika untuk mengunjungi Mita sesekali namun ribuan alasan berhasil membuat Ayu mengurungkan niatnya.


"Tidak menganggu Mas?"


"Tidak."


Suruh Mita pulang! Menganggu saja!!


Tanpa sadar bibir Ayu tersungging di ikuti Samuel yang ikut tersenyum simpul. Ayu mulai membayangkan kebebasan yang akan di berikan Samuel walaupun hanya sekedar bertemu Mita.


"Senang sekali." Lamunan Ayu buyar. Kepalanya kembali menunduk menatap Samuel seraya mengusap dahinya lembut.


"Sudah lama kita tidak mengobrol dan menghabiskan waktu bersama."


"Kalian bisa melakukan itu di rumah."


"Hm. Terimakasih Mas."


"Sama-sama Babe. Biarkan aku memejamkan mata sebentar. Setelah itu kita mandi bersama lalu makan malam."


"Tidak Mas. Kita mandi sendiri-sendiri." Tolak Ayu tegas.


Baru tadi pagi Samuel meminta sebuah percintaan. Pembicaraan mereka selalu berakhir di adegan ranjang sampai-sampai Ayu sendiri tidak habis fikir di buatnya.


Bagaimana mungkin dia selalu terenyuh dan menurut ketika Samuel meminta sebuah percintaan panas. Padahal tubuhnya sedikit lelah dan terasa kaku setelah semalam melakukannya.


Apa karena baktinya? Itu bukan alasan satu-satunya. Sebab di dalam hati, Ayu menginginkannya bahkan di sela dessahan dia kerapkali meminta, menuntun tangan kekar Samuel untuk memanjakan area yang di inginkan.


"Why?"


"Aku lelah. Kakiku rasanya nyeri kalau kamu meminta itu lagi." Sebisa mungkin Ayu merendahkan suaranya saat dirinya melontarkan penolakan.


"Aku harus meminta pada siapa jika bukan padamu?"


"Satu hari sekali saja Mas." Rengek Ayu lirih.


"Tidak Babe. Kita itu pengantin baru." Samuel tersenyum simpul. Hasratnya sudah terkoyak karena rengekan yang di lontarkan Ayu.


"Kita sama-sama pernah menikah."


"Terus kenapa? Milikmu bahkan masih seperti gadis."


"Aku mandi duluan kalau begitu. Mas Istirahat saja." Ayu akan beranjak namun tentu saja Samuel tidak membiarkan itu terjadi. Dia melontarkan ancaman yang menjadi titik kelemahan Ayu.


"Mamamu akan menangis kalau kamu tidak mematuhi perintah Suamimu." Ayu mengurungkan niatnya untuk bangun.


"Ya terserah. Ayo lakukan sekarang. Sekuat yang kamu bisa." Ayu mengangkat kepala Samuel dari pangkuannya lalu menarik lengannya dan mengiringinya masuk ke kamar mandi.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2