
Di sebuah ruang perawatan, Ayu di pindahkan setelah mengalami masa kritis. Banyaknya air yang masuk ke dalam paru-paru membuatnya hampir merenggang nyawa.
Pertolongan yang Samuel berikan, sangat membantu sehingga Ayu bisa melanjutkan kehidupannya.
Bantuan pernafasan masih terlihat terpasang. Beberapa perban membalut jari Ayu yang kukunya sempat terkelupas.
Samuel masih saja memasang wajah khawatir, walaupun Dokter berkata jika Ayu sudah melewati masa kritis.
Baju miliknya bahkan masih basah. Samuel tidak memikirkan bagaimana keadaannya sekarang karena ingin melihat Ayu segera membuka mata untuk menyapanya.
"Tuan sebaiknya anda mengganti baju dulu." Ujar Dimas melangkah ke arah Samuel. Dia meletakkan sebuah paper bag yang berisi baju milik Samuel.
"Sudah kau penjarakan pelakunya!" Samuel tidak mendengar kekhawatiran Dimas akan keadaannya.
"Dia juga sedang di rawat di sini. Perutnya mengalami kontraksi hebat tapi pihak kepolisan akan memeriksa setelah keadaan nya membaik."
"Tidak perlu di periksa. Wanita itu harus di hukum mati karena merencanakan pembunuhan ini!" Dimas menghela nafas panjang, melihat jelas amarah Samuel yang meledak-ledak. Wajah Tuannya sangat berantakan, dengan mata sembab.
"Semua harus melewati prosedur Tuan."
"Kau lihat keadaannya." Menunjuk ke arah Ayu. Hatinya teriris melihat beberapa jari Ayu harus cedera dengan bantuan pernafasan yang terpasang di hidung." Kalau kau tidak becus! Biar aku sendiri yang menuntut wanita itu!!" Imbuhnya membuang nafas kasar.
"Baik Tuan." Dimas memilih pergi. Dia tahu tidak ada gunanya berbicara ketika Samuel tengah marah.
Mita yang masih menunggu, langsung berjalan menghampiri Dimas untuk menanyakan keadaan Ayu. Matanya terlihat berkaca-kaca sebab ternyata Mita masih perduli pada Ayu walaupun dia mencoba membencinya.
"Bagaimana keadaan Ayu Mas." Tanya Mita memasang wajah cemas.
"Sebaiknya kamu pulang. Em Tuan sedang tidak bersahabat. Daripada nantinya kamu di umpat."
"Tapi dia baik?"
"Nona Ayu sudah melewati masa kritisnya."
"Hm syukurlah. Em boleh aku meminta kontak Mas Dimas. Tolong kabarkan aku kalau Ayu sudah sadar nanti." Ucap Mita seraya menyodorkan ponselnya.
"Boleh. Nanti aku akan menghubungi mu." Dimas mengetikkan nomernya dan langsung melakukan panggilan sehingga nomer Mita otomatis tersimpan.
"Terimakasih Mas. Aku permisi."
Dimas duduk lemah di salah satu tempat duduk setelah kepergian Mita. Dia mengambil ponselnya untuk menyimpan kontak Mita dan menghubungi relasi yang di tinggalkan begitu saja. Dimas meminta maaf dan mendapatkan tanggapan positif sebab para relasi memakluminya.
.
.
.
"Egh.." Samuel bergegas bangun lalu menyentuh tombol berwarna merah untuk memanggil para perawat. Setelah melakukan itu, dia berjalan menghampiri Ayu yang sudah sadarkan diri.
"Kamu melihat ku Babe." Tanya Samuel mengusap lembut dahi Ayu dan mengecupnya beberapa kali.
"Bee.."
"Ya ini aku. Bee mu. Suami mu." Para perawat masuk untuk memeriksa kondisi Ayu.
Samuel terpaksa berdiri menatap Ayu yang juga tengah menatapnya. Dia tersenyum lega, ketika bantuan pernafasan di lepas. Itu berarti keadaan Ayu sudah sangat baik dan tidak lagi membutuhkan bantuan pernafasan.
"Bagaimana keadaannya Dok?" Tanya Samuel tidak sabar.
"Paru-parunya sudah berkerja normal."
__ADS_1
"Syukurlah."
"Hm permisi Tuan." Setelah mengganti infus, para perawat juga Dokter berjalan keluar ruangan.
Samuel duduk di kursi yang terdapat di sisi ranjang. Dia mendekatkan hidungnya ke wajah Ayu untuk mengekspresikan betapa khawatirnya dia.
"Kamu memenuhi janjimu Bee. Ku fikir aku akan mati." Ketakutan terpancar jelas pada mimik wajah Ayu. Hatinya baru saja pulih dari luka masa lalu, harus kembali mengalami insiden buruk yang mengakibatkan trauma.
Ayu masih merasakan bagaimana sesaknya ketika tubuhnya jatuh ke dasar sungai. Dia tidak menyangka akan bisa selamat karena pertolongan terasa sangat mustahil terjadi.
"Sudah ku katakan. Kita akan mati bersama kalau memang itu terjadi." Ayu merasakan pipinya basah sebab rupanya air mata Samuel kembali lolos. Kejadian tadi membuat hati Samuel sangat terpukul.
"Kamu menangis Bee?" Ayu meraba wajah Samuel yang basah.
"Tidak. Ini karena bajuku yang basah." Jawab Samuel tidak ingin berkata jujur. Dia merasa malu memperlihatkan tangisnya di hadapan Ayu.
"Aku baik-baik saja. Kamu jangan menangis."
"Kamu selalu saja berkata baik-baik saja. Kamu tidak tahu bagaimana takutnya aku." Dengan gerakan cepat Samuel membersihkan sisa air mata lalu menegakkan kepalanya menatap Ayu.
"Aku juga takut Bee."
"Lalu kenapa kamu berkata baik-baik saja." Ayu tersenyum dengan wajah pucat nya. Walaupun beberapa jarinya cedera, dia meraih wajah Samuel dan mengusapnya lembut.
"Tampan sekali. Kamu menangis untukku." Gumam Ayu lirih.
"Aku tidak menangis."
"Berarti kamu tidak bersedih."
"Aku ikut sesak bernafas."
"Ya aku menangis karena kesal pada diriku sendiri. Aku lengah dan tidak bisa menjagamu hanya karena pertemuan bodoh itu!!" Ayu menyadari baju Samuel yang basah.
"Tidak ada yang bersalah. Ganti bajumu nanti kamu sakit."
"Ini akan kering sendiri. Aku tidak mau meninggalkan mu lagi."
"Jangan seperti anak kecil. Ganti bajumu Bee." Pinta Ayu memaksa.
"Tidak. Kita harus tetap bersama-sama."
"Bee." Ucapnya merengek.
"Ya apa Babe."
"Ganti bajumu!!" Rengekan berubah menjadi teriakan.
"Ya baik." Samuel berdiri lalu mengambil paper bag dan masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti bajunya.
Bagaimana keadaan Tania. Apa dia selamat?
Cukup sebentar saja, Samuel keluar kamar mandi dan kembali berjalan menghampiri Ayu setelah meletakkan paper bag.
Aku harus membicarakan ini dengan caraku..
Ayu yakin kalau Samuel sudah menangkap Tania bahkan mungkin memenjarakan nya. Sehingga dia berusaha menanyakan keadaan Tania dengan jurus ampuhnya.
"Bee, aku ingin tidur bersama mu." Pinta Ayu pelan. Samuel mengurungkan niatnya untuk duduk lalu berbaring di samping Ayu. Tangan kanannya menelusup ke belakang tengkuk dan mendekap erat tubuh Ayu.
"Hm ingin apalagi. Akan ku turuti." Mata Ayu terpejam, mengirup kuat aroma tubuh Samuel dan sesekali mengecup dagunya lembut.
__ADS_1
"Apapun?" Tanya Ayu lirih.
"Iya apapun."
"Janji tidak marah dan menolak."
"Iya Babe. Janji. Memangnya apa yang kamu inginkan."
"Bagaimana keadaan Tania." Sontak Samuel mendengus kesal ketika nama Tania di sebut.
"Dia akan di hukum mati. Dia merencanakan pembunuhan ini bahkan menyuruh beberapa orang untuk menculik mu!"
"Bee." Ayu merengek seraya terus menenggelamkan wajahnya sehingga membuat Samuel membuang nafasnya kasar. Dia paham Ayu sedang berusaha merajuknya untuk menuruti keinginannya." Dia sedang hamil. Jangan seperti itu." Imbuhnya pelan.
"Aku tidak perduli. Jangan menyuruh ku Babe."
"Itu berarti kamu ingkar janji."
"Semua keinginan kecuali itu."
"Ya sudah." Ayu menyeret tubuhnya turun agar kepalanya tidak bertumpu pada lengan Samuel.
"Dia ingin membunuh mu."
"Aku sengaja menyelamatkan nya. Dia hamil. Ada janin di perut nya. Seharusnya kamu tidak menyelamatkan ku agar aku tidak merasa jika pengorbanan ku sia-sia." Samuel menghela nafas panjang lagi dan lagi." Pergilah, aku ingin sendiri." Samuel ikut menggeser tubuhnya turun, dia kembali mendekap tubuh Ayu erat walaupun berusaha di tolak.
"Kamu terlalu bodoh Babe."
"Terserah. Jangan menyentuh ku!"
"Sudah ku katakan apapun." Ayu tersenyum lalu membalas pelukan Samuel." Tapi kita tidak boleh berjauhan." Imbuhnya berusaha mengalahkan ego yang menginginkan kematian dari Tania.
"Iya janji tidak berjauhan."
"Awas saja kalau kamu beralasan memasak lagi."
"Aku hanya ingin.."
"Terjadi hal seperti ini? Apa kamu mau meninggalkan aku?"
"Ingin bisa memasak seperti Mama. Apa salah? Meski kamu bisa menyewa ratusan pembantu, tetap saja aku ingin sesekali memanjakan lidahmu dan anak-anak kita nanti." Samuel tersenyum lalu menenggelamkan kepala Ayu di dekapannya.
"Tapi kalau ada pertemuan, berhentilah melakukan. Akan lebih baik jika kamu ikut lalu sepulangnya. Kamu bisa kembali belajar memasak."
"Hm iya. Tapi aku tidak ingin Tania di penjara."
"Agar dia jera. Aku berjanji tidak sampai satu tahun."
"Aku merasa dia sedang sakit. Orang seperti itu tidak akan berhenti jika di lawan."
"Apa maksudmu?"
"Pertemukan kami dulu Bee." Rajuk Ayu belum juga berhenti memohon.
"Kamu membutuhkan istirahat."
"Iya setelah sembuh. Besok ya."
"Hm kalau sembuh." Terpaksa Samuel mengiyakan meski rasanya dia ingin menghukum Tania seberat-beratnya." Sekarang kamu tidur. Jangan dulu fikirkan macam-macam." Hati Samuel seakan tersayat, ketika jemarinya menyentuh jari tangan Ayu yang memakai perban. Terlalu baik atau terlalu bodoh? Rasanya dia membutuhkan penjagaan 24 jam. Bagaimana mungkin dia memaafkan seseorang yang sudah membuatnya sakit seperti sekarang. Aku benar-benar belajar banyak hal darimu...
🌹🌹🌹
__ADS_1