
Ayu melirik ke tangannya yang tengah di genggam. Padahal dia sudah menjelaskan pada Samuel kalau dirinya tidak marah.
Ayunda memang tengah kesal dan marah tapi bukan karena Samuel tetapi akibat dirinya sendiri. Dia ingin bisa mendisiplinkan hatinya untuk tidak mencintai seseorang terlalu dalam.
Sementara apa yang ada di fikiran Samuel sangatlah lain. Dia tengah cemburu tanpa alasan. Tidak menginginkan paras Ayu di nikmati banyak pasang mata.
"Lepas dulu Mas. Bagaimana caranya makan?" Protes Ayu pelan.
"Lihat aku. Biar ku suapi." Kening Ayu berkerut mendengar perintah Samuel dengan nada bicara selayaknya seorang komandan yang memerintahkan anak buahnya.
"Katanya di sini indah?"
"Yub Babe."
"Jika kamu menyuruhku melihat ke arah mu saja. Bagaimana cara ku menikmati keindahan?" Nafas Samuel terbuang kasar. Dia masih sama gilanya seperti dulu ketika sudah mencintai sesuatu.
"Dulu tempat ini tidak ramai."
"Lepaskan dulu Mas. Agar aku bisa segera makan lalu pulang." Pinta Ayu tidak di dengar. Tangan Samuel masih menggenggamnya erat.
"Bagaimana tipe lelaki idaman mu?" Tanya Samuel seraya menyodorkan satu sendok makanan. Ayu melahapnya tanpa berprotes daripada harus memicu sesuatu yang pernah terjadi di swalayan tempo hari.
"Mungkin hanya dewasa saja Mas. Aku bukanlah wanita yang spesial jadi aku tidak pernah memimpikan sesuatu yang berlebihan."
"Hanya itu?" Ayu mengangguk sambil mengunyah. Sesuai arahan, dia tidak menengok kiri kanan dan fokus pada Samuel." Hm.. Aku akan menjadi dewasa untukmu." Imbuh Samuel pelan. Perasaan cemburunya sangat tidak nyaman. Sesekali dia mengedarkan pandangannya dan tidak segan-segan memberikan tatapan menusuk ketika ada seorang pemuda memperhatikan Ayu.
"Mas Sam sudah dewasa walaupun sedikit jahil." Aku hanya berharap tidak ada kerikil tajam yang akan datang di kehidupan rumah tangga kita..
"Tanggapan mu sangat mengemaskan. Ini kali pertama aku menjahili seseorang." Ayu tersenyum, dia tidak mempercayai ucapan Samuel.
"Kelihatannya sudah ahli."
"Kamu yang menghadirkan kejahilan itu."
"Nanti aku akan terbiasa."
"Hm." Samuel meraih tisu dan membersihkan sekitar bibir Ayu yang terkena noda bumbu." Apa kamu sudah terbiasa meminum alkohol Babe?" Tanya Samuel perihal kejadian tadi.
"Aku fikir itu sirup. Aku menuangnya sedikit dan mencampurnya dengan air." Samuel sontak terkekeh. Ayu memperlihatkan kepolosan yang menimbulkan gelak tawa.
"Syukurlah. Aku fikir kamu terbiasa mengkonsumsi minuman semacam itu."
"Hanya pusing ringan Mas."
"Kenapa berpura-pura?" Ayu tersenyum simpul tanpa menjawab pertanyaan." Kamu malu?" Tanya Samuel lagi.
"Aku memang belum menginginkannya tapi itu adalah kewajiban."
"Kamu menikmati nya."
"Semua orang akan berekspresi sama ketika berada di posisi ku Mas. Kamu..." Ucapan Ayu tertahan saat melihat perubahan wajah Samuel. Mulutku pedas sekali.. Untuk apa mengatakan itu? Seharusnya aku memendam kekesalan ku dan tidak melibatkan Mas Sam yang sudah mau menjadikan ku wanita terhormat.
"Aku melakukan itu hanya dengan pengkhianat itu dan denganmu. Aku yakin kamu masih memikirkannya, sehingga kamu menyamakan ku dengannya." Ayu terdiam sesaat sambil memalingkan wajahnya.
"Itu kenapa aku meminta waktu." Samuel membuang nafas kasar. Dia menyesal sudah meninggikan suaranya padahal dirinya berjanji untuk menanggung resiko.
"Maaf. Ini salahku. Tapi aku tidak pernah melakukan perbuatan itu semenjak perceraian. Kamu harus yakin kalau aku hanya ingin bersentuhan dengan mu." Tanpa rasa sungkan, Samuel mengutarakan kebenaran dengan suara cukup keras.
"Aku tidak berniat menyamakan Mas. Aku hanya ingin lebih waspada lagi."
__ADS_1
"Iya Babe. Aku mengerti."
"Aku menikmati nya." Jawaban Ayu seketika membuat suasana hati Samuel kembali damai namun ada yang ganjil dari tatapannya.
"Terimakasih untuk pujiannya." Ayu menoleh sejenak ke arah obyek yang sedang di tatap Samuel. Dia berfikir jika mungkin ada wanita cantik di sana. Tapi setelah tahu sosoknya, seketika saliva Ayu tertelan kasar.
"Kenapa Mas Sam melihatnya seperti itu?" Tanya Ayu pelan. Menunjuk ke belakang dengan isyarat mata.
"Dia berani menatap mu berlama-lama."
"Semua orang punya mata Mas. Itu hal yang wajar."
"Masih ada obyek lain Babe. Aku merasa dia menginginkan mu."
"Itu hanya perasaan mu saja."
"Seharusnya tadi kita delivery." Sontak Ayu berdiri meski makanannya masih tersentuh sedikit." Kemana?" Tanya Samuel ikut berdiri.
"Kita pulang saja Mas atau mencari tempat lain yang lebih nyaman." Sikap yang di perlihatkan Ayu semata-mata ingin menjaga perasaan Samuel yang di ketahui sangat posesif.
"Kamu tidak apa?"
"Tidak. Makanannya juga tidak seberapa enak." Tangan Samuel terangkat ke arah salah satu waiters.
"Berapa?" Tanyanya mengeluarkan dompet.
"250 Kak." Samuel meletakkan tiga lembar uang pecahan seratus." Tunggu kembaliannya." Ujarnya seraya merogoh saku.
"Anggap sebagai uang tips."
"Terimakasih Kak." Samuel merangkul pundak Ayu lalu berjalan keluar.
Sangat banyak warung-warung kecil yang menyediakan berbagai makanan namun Samuel merasa tidak pantas jika harus membawa Ayu ke tempat tersebut.
Dia bukan lagi Samuel si pegawai Cafe. Apalagi Ayu di anggap sebagai harta berharganya sehingga dia ingin memberikan sesuatu yang terbaik. Tempat tinggal terbaik, fasilitas terbaik dan tentu saja makanan terbaik.
Ayu mendongak, menatap wajah Samuel dari samping. Dia bisa bernafas lega sebab wajah itu sudah berubah menjadi teduh.
"Kita membungkus sate saja Mas." Ujar Ayu menunjuk gerobak kecil di seberang jalan.
"Aku tidak yakin itu enak. Kita delivery saja."
"Setidaknya kita bisa membantu Bapak itu karena membeli dagangannya." Samuel menghentikan laju kakinya. Dia tersenyum dengan tangan terangkat lalu mengusap puncak kepala Ayu.
"Kamu suka sekali membantu orang tua."
"Mas tahu dari mana."
"Di Cafe kamu sampai rela berseteru dengan Pak Bimo hanya untuk membela ibu tua itu." Keduanya menyebrang jalan setelah memastikan sepi.
"Aku hanya merasa kasihan."
"Bungkus tiga porsi Pak." Ujar Samuel.
"Silahkan di tunggu." Jawabnya mempersilahkan duduk di kursi plastik yang di sediakan. Ayu duduk, di ikuti oleh Samuel.
"Buka sampai jam berapa Pak?" Tanya Ayu ramah. Dia melirik tusukan sate mentah yang terlihat masih banyak.
"Jam 12 Non."
__ADS_1
"Sepertinya sepi ya Pak di sini. Kenapa tidak berjualan keliling saja." Celoteh Ayu tanpa perduli dengan Samuel yang menatapnya.
"Kakinya tidak bisa di ajak negoisasi Non. Sering nyeri kalau jalan terlalu jauh."
"Oh begitu. Sudah lama Bapak berjualan?" Samuel merasakan keperdulian begitu besar saat mendengarkan pertanyaan yang Ayu lontarkan.
"10 tahun Non."
"Wah. Banyak pelanggan dong Pak."
"Dulu sih iya. Tapi semenjak banyak ruko dan tempat yang lebih modern. Lapak Bapak jadi sepi." Ayu mengangguk lalu terdiam. Ingin sekali membantu namun dirinya tidak mampu melakukannya.
Ayu masih merasa canggung jika harus meminta bantuan Samuel padahal semua harta dan perusahaan sudah di berikan untuk mahar.
"Bapak tinggal di mana?" Tanya Samuel mulai angkat bicara.
"Deket kok Den. Masuk gang kecil itu." Menunjuk sebuah gang yang terletak tidak jauh dari sana." Silahkan Den." Imbuhnya memberikan satu kantung kresek yang berisi 3 bungkus.
"Kalau semua satenya saya beli, berapa totalnya?" Si penjual sate tersenyum aneh. Dia menyangka jika Samuel hanya sekedar bertanya.
"Aden bisa saja."
"Saya serius. Tolong total semuanya dan bagikan pada tetangga-tetangga Bapak." Samuel merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sisa uang darurat.
"Semuanya ya Den." Mulut pedagang komat kamit dengan tangan bergetar. Dia terlalu senang dengan bantuan sederhana yang di berikan Samuel.
"Satu porsinya berapa Pak?"
"20 ribu."
"Itu ada berapa porsi?"
"Sekitar 50 porsi Aden."
"1 juta." Samuel menyerahkan amplop yang di bawa. Masih ada sekitar 5 juta tersimpan." Ini ada 1 juta Pak." Ujar Samuel berbohong.
"Ya Tuhan. Terimakasih Aden. Semoga rejekinya di lancarkan."
"Ya Pak. Terimakasih doanya. Jangan lupa untuk membagikan satenya."
"Siap Aden. Terimakasih Non."
"Sama-sama Pak. Kami permisi." Di luar dugaan, Ayu menggenggam erat lengan Samuel bahkan mendekatkan tubuhnya dengan begitu mesrah.
Aku menemukan cara untuk mengambil simpatik nya.
"Terimakasih Mas. Bapak tadi pasti sangat senang bisa pulang lebih awal."
"Sesuai keinginan mu Babe."
"Padahal aku tidak berkata apapun. Tapi kenapa Mas bisa tahu." Tanya Ayu dengan senyum mengembang.
"Itu tandanya kita sehati hehe."
"Akan segera terjadi Mas. Aku berjanji akan cepat beradaptasi."
"Hm iya. Aku akan sabar menunggu." Apa aku harus mengadakan acara sosial agar Ayu cepat menyukai ku?
Fikiran Samuel sudah terkontaminasi oleh sosok Ayu hingga tidak ada sesuatu yang di fikirkan kecuali cara agar Ayu bisa segera menerima kehadirannya.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹