
Dika masuk ke dalam rumah dengan gerakan kasar di ikuti oleh Tania yang sejak tadi tidak bisa menerima semua perlakuan Dika padanya. Tania merasa di permalukan padahal sekarang dirinyalah Istri resmi Dika bukan Ayu.
Tania tidak merasa malu akan perbuatannya yang sudah tega menghancurkan pernikahan antara Dika dan Ayu, sehingga memicu rasa cemburu yang berlebihan.
"Apa kau bisa diam Niah!!!" Teriak Dika dengan mata membulat.
"Tidak! Kau membela wanita lain di depan Istri mu!!" Dika terkekeh nyaring seraya menatap rendah ke arah Tania.
"Kau sadar sedang berbicara apa!! Gara-gara kau.." Menunjuk ke dahi Tania." Aku bercerai dengannya! Kau yang merebut ku darinya!!" Tania menghembus nafas berat. Ada yang aneh dari perasaannya. Tidak biasanya dia mudah sakit hati seperti sekarang.
"Tapi aku sekarang Istri mu Dik."
"Aku tidak mencintaimu!!" Tania duduk lemah seraya mengatur nafasnya. Tubuhnya seketika lemas saat mendengar ungkapan perasaan Dika yang sesungguhnya.
Kenapa aku ini..
Eluh Tania memijat kepalanya yang tiba-tiba pusing. Perasaannya juga kian terasa aneh di iringi dengan mata mulai berkunang-kunang.
Bruuuuuuukkkkk!!!
Tiba-tiba saja tubuh Tania terkulai di sofa. Dika tersenyum tipis. Dia mengira kalau Tania sedang menarik simpatiknya dengan berpura-pura pingsan.
"Bangun!! Ini tidak akan berpengaruh apapun." Ucap Dika kasar. Tania tidak merespon dan masih pada posisinya yang sama." Niah!! Hei!!! Kau jangan berpura-pura lemah seperti itu!!" Imbuhnya seraya berjalan menghampiri lalu menggoyang-goyang pundaknya.
Dika memeriksa keadaan Tania lalu membulatkan matanya ketika sadar Tania hilang kesadaran.
Segera saja Dika mengangkat tubuh Tania untuk membawanya ke klinik terdekat. Tebakan Dika pertama kali adalah. Tania memiliki penyakit serius dan semacamnya.
.
.
.
.
Setelah beberapa menit di periksa, dokter keluar dari ruangan lalu berjalan menghampiri Dika.
"Dia sakit apa Dok?" Tanya Dika tidak ingin mengakui kalau Tania adalah Istrinya. Pertemuannya dengan Ayu semakin menguatkan perasaannya dan berharap bisa kembali menjalin biduk rumah tangga bersama seperti dulu.
"Nyonya tidak sakit Tuan. Tebakan awal, Nyonya sedang hamil." Dika menelan salivanya kasar. Matanya membulat dengan nafas berhembus pelan.
Kehamilan adalah sesuatu yang Dika benci. Apalagi dirinya juga tidak memiliki perasaan pada Tania sehingga emosinya semakin terkoyak. Tentu saja Dika sangat tidak menginginkan kehamilan terjadi. Sebab dia tidak menganggap serius hubungan pernikahannya.
"Kita tunggu Nyonya sadar. Saya akan menanyakan beberapa hal untuk memastikan semuanya." Tangan Dika mengepal kuat. Dia menatap tajam kepergian Dokter lalu berjalan masuk ke dalam ruang perawatan.
Terlihat Tania terkulai lemah di temani seorang suster. Segera saja Dika menghampiri ranjang Tania lalu memegang erat kerah dress-nya.
"Bangun! Hei Tania!!! Kenapa bisa terjadi!! Katakan jika itu bukanlah anakku!!" Teriak Dika seraya mengguncang-nguncang tubuh Tania.
"Lepaskan Pak. Apa yang Bapak lakukan!" Cegah suster dengan wajah panik. Dia mencoba melepaskan cengkraman tangan Dika dari kerah dress Tania namun tidak berhasil. Cepat-cepat suster itu berlari ke luar untuk meminta bantuan.
Beberapa keamanan dan suster berdatangan untuk mengamankan Dika yang terlihat semakin tidak terkendali. Tubuhnya di seret paksa menjauh bahkan kedua tangannya terpaksa di borgol.
๐น๐น๐น
__ADS_1
Ayu melongok ketika Samuel melajukan mobilnya menuju jalan yang tidak pernah mereka lalui sebelumnya. Padahal ingin sekali Ayu segera tiba di rumah untuk mengistirahatkan tubuh tapi ternyata Samuel memiliki rencana lain.
"Kenapa tidak langsung pulang Mas?"
"Kita akan tinggal di apartemen untuk beberapa hari. Kamu akan menyukai tempatnya." Jawab Samuel tersenyum simpul. Dia tidak lagi membahas kejadian di pesta karena tidak ingin membuat perasaan Ayu kembali buruk.
"Honeymoon?"
"Yub Babe. Yang kedua hehe."
"Kemarin sudah Mas?"
"Kita akan melakukannya setiap Minggu. Apa kamu ingin merekomendasikan tujuan lain?"
"Tidak Mas. Aku lebih senang di rumah."
"Syukurlah kalau kamu sudah menganggap itu rumahmu."
"Bukan begitu.."
"Itu memang rumahmu. Sesuai permintaan akan ada sedikit renovasi di rumah. Itu kenapa kita tinggal di apartemen untuk sementara waktu." Jawab Samuel menjelaskan.
"Rumah itu sudah bagus."
"Belum ada lift nya. Akan ku tambahkan agar kamu tidak harus naik ke tangga." Ayu tersenyum aneh padahal saat itu dia asal bicara.
"Aku hanya asal bicara Mas."
"Lift memang di butuhkan. Apalagi ketika kamu hamil nanti."
"Akan segera terjadi. Kamu akan memberikan anak yang lucu-lucu untukku." Jawab Samuel memarkirkan mobilnya di basement apartemen.
"Amin Mas."
"Tunggu di situ. Akan ku bukakan pintu mobil." Ayu mengangguk. Samuel tersenyum kemudian turun dari mobil dan membukakan pintu.
"Besar sekali tempatnya Mas."
"Hm ini apartemen terbaik. Sudah lama aku tidak mengunjungi tempat ini." Samuel merangkul kedua pundak Ayu lalu menggiringnya masuk.
Samuel menempelkan kartu yang di bawanya untuk membuka pintu menuju lobby. Keamanan di sana sudah memakai teknologi canggih. Untuk masuk ke dalam harus memiliki kartu sehingga sudah bisa di pastikan tidak akan ada seseorang yang bisa masuk sembarangan kecuali memiliki akses.
Ayu mengedarkan pandangannya dan hanya menemukan seorang resepsionis. Tempat itu begitu sunyi sebab sebagian besar pemilik hanya menempatinya kala sedang berlibur atau merasa bosan dengan suasana rumah.
Mewah tapi sepi sekali.. Batin Ayu ketika dirinya sudah berada di dalam lift.
"Seperti tidak berpenghuni Mas." Ucap Ayu pelan. Kedua tangannya memegang lengan Samuel erat.
"Sejak dulu suasananya memang seperti ini."
Pintu lift terbuka, Samuel menggiring Ayu masuk ke dalam ruangan yang hanya ada satu-satunya di lantai 15. Sontak Ayu menghentikan langkahnya untuk menanyakan keanehan tersebut.
"Tunggu Mas."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Aku tidak melihat kamar lain." Samuel tersenyum simpul.
"Masuk dulu. Nanti kamu akan tahu alasannya."
Ayu mengangguk seraya tersenyum dan melangkah masuk sesuai perintah Samuel.
"Ya Tuhan." Gumam Ayu melihat kamar berdindingkan kaca dengan fasilitas lengkap. Di luar terdapat kolam renang serta tempat bersantai.
"Aku berharap kamu betah tinggal di sini untuk sementara waktu." Samuel berjalan ke depan untuk membuka pintu agar pemandangan di luar terlihat lebih jelas.
"Ini surga Mas." Puji Ayu bergegas meletakkan tasnya di atas ranjang lalu berjalan keluar." Ini tinggi sekali. Sedikit menakutkan." Tanpa basa-basi Samuel mengangkat tubuh Ayu lalu mengajaknya masuk ke dalam kolam.
Segera saja Ayu mengalungkan tangannya ke leher Samuel erat. Dia takut tenggelam karena tidak bisa berenang. Samuel tersenyum dan mengiring Ayu ke bibir kolam untuk melihat apa yang ada di bawahnya.
"Tidak Mas. Kamu mau apa." Kalungan tangan Ayu semakin erat. Kepalanya di sandarkan lemah pada pundak tegap Samuel.
"Memberikan surga yang sesungguhnya."
"Biarkan aku beristirahat sebentar. Bukankah tadi pagi sudah?" Tolak Ayu lembut. Kode permintaan Samuel sudah bisa terbaca olehnya.
"Sudah terlanjur basah." Samuel menyentuh tombol merah yang ada di samping kolam. Seketika, atap muncul secara otomatis dan menutup area kolam.
"Kita memang sedang berada di air Mas. Basah adalah hal yang wajar."
"Tolak aku jika kamu mampu. Setiap tempat memiliki sensasi berbeda."
Leher jenjang Ayu mulai di cumbu bahkan di gigit. Ayu mendesis, tidak kuasa menolak keinginan Samuel untuk menyentuhnya.
Hanya butuh waktu sebentar, keduanya sudah hanyut akan percintaan panas yang melenakan. Adegan berlanjut di samping kolam tepatnya di sebuah gazebo yang di hias sedemikian indah.
Dalam keadaan basah, Samuel mulai memasukkan miliknya. Menghujam keras dinding rahim Ayu dan berharap benihnya segera tumbuh.
Ayu sedikit terbiasa dengan cara kasar nan lembut yang di suguhkan. Terkadang dia sampai menjerit ketika Samuel bergerak dengan brutal. Namun kecupan dan ucapan manisnya meredam rasa sakit.
"Ach Mas.." Lenguh Ayu ketika pinggangnya terasa di tekan keras. Samuel menggerang dengan nafas memburu ketika pelepasan berhasil dia dapatkan.
"I love you so much Babe." Ucapnya mengecup bibir Ayu lalu meraih selimut yang memang sudah di sediakan. Dia menutup tubuh polos Ayu lalu mendudukkannya di tengah kungkungan tubuhnya.
"Aku masih ingat kalau kamu tidak seberapa menyukai sentuhan fisik Mas." Celoteh Ayu mengingat kalau Samuel pernah berkata jika sentuhan semacam ini bukanlah prioritas.
"Bukan tidak menyukai. Tapi aku pintar menahannya kalau memang kamu berhasil menolak pemanasan nya." Jawab Samuel terkekeh.
Ayu menddesah lembut. Dia menikmati tubuh tegap yang tengah mendekapnya erat. Walaupun sosok itu sangatlah jahil.
"Aku kembali tertipu. Mana mungkin bisa ku tolak." Jawabnya seraya tersenyum. Kepalanya di miringkan agar bisa bersandar pada dada bidang Samuel.
"Aku akan berhenti jika kamu menolak." Samuel menundukkan kepalanya lalu memberikan kecupan pada tanda merah yang terpampang. Cup Cup Cup
Rasanya surga kembali mendatangi Ayu. Kecupan itu tidak membuat Ayu merasa nyaman malah membuat hasratnya kembali tersulut, sampai-sampai keduanya kembali hanyut dalam hasrat masing-masing.
๐น๐น๐น๐น
Kesehatan ku masih tidak stabil ๐ Mohon maaf belum bisa doubel update ๐๐
Terimakasih dukungannya ๐นโค๏ธ
__ADS_1