Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Ini untuk anakku!


__ADS_3

Mita memutuskan untuk mendatangi kediaman Bu Erna sebelum berangkat berkerja. Bukan hanya dia yang ingin tahu keadaan Alan tapi kedua orang tuanya juga.


Terlihat Bu Erna tengah menyapu halaman depan. Penampilannya begitu lusuh dengan wajah pucat karena sulit tidur. Rambutnya berantakan seperti lama tidak di sisir dan hanya di ikat sembarangan.


Mita berjalan perlahan dengan ragu. Menghampiri Bu Erna yang kini menoleh ke arahnya seraya memperlihatkan senyum.


"Mita." Gumam Bu Erna lirih. Sapunya di letakkan lalu berjalan menghampiri Mita.


"Pagi Bu. Em maaf menganggu."


"Tidak menganggu, mari masuk Nak." Rangkulan pundak Bu Erna tertahan ketika Mita enggan mengayunkan kakinya.


"Saya tidak bisa lama Bu. Satu jam lagi saya harus berkerja. Em saya ke sini ingin menanyakan kabar Mas Alan." Raut wajah Bu Erna seketika berubah. Dia tersenyum getir seraya berjalan tertatih menuju kursi kayu yang ada di teras.


Dengan terpaksa Mita mengikutinya dan duduk tepat di samping Bu Erna.


"Sudah satu Minggu Alan tidak keluar kamar. Dia terus saja berbicara sendiri soal perusahaannya yang hancur satu Minggu lalu."


"Ke kenapa bisa begitu Bu?"


"Ibu tidak tahu Mit. Sepulang kerja Alan sudah begitu. Terakhir kali dia akan bertindak arogan, sampai-sampai membawa pisau dan berniat pergi ke rumah Ayu. Katanya mau membunuh Suaminya Ayu. Ibu terpaksa mengurungnya di kamar daripada dia membuat kericuhan apalagi sampai menganggu hidup Ayu."


Mita cukup terkejut tapi dia memakluminya karena kegilaan Alan sudah terlihat semenjak pertemuannya dengan Ayu. Hampir setiap mereka menghabiskan waktu berdua, nama Ayu selalu di sebut bahkan Alan menginginkan Mita bisa berubah menjadi seperti Ayu.


"Ibu sampai di bantu warga menyeretnya ke kamar."


Mungkin hati Mas Alan terhantam kuat. Lalu bagaimana dengan nasib pernikahan ku? Orang tuaku sudah terlanjur mengatakan kabar bahagia itu.


Mita sangat kecewa mendengar penjelasan Bu Erna. Dia tidak mengerti harus mengatakan apa pada kedua orang tuanya setelah tahu keadaan Alan yang sesungguhnya.


🌹🌹🌹


Pagi ini Ayu kembali ikut ke perusahaan karena pertemuan penting kembali di gelar. Dia memutuskan untuk menunggu di ruangan pribadi Samuel seraya melihat banyaknya buku yang ada di dalam rak.


Membosankan, sebab sebagian besar buku hanya tentang bisnis dan manajemen. Sehingga dia duduk di kursi kokoh Samuel. Terasa empuk dan sangat nyaman.


Setelah puas melihat isi meja, tangannya menarik laci dan hanya menemukan tumpukan berkas juga beberapa barang pribadi Samuel.


Sama sekali tidak ada foto wanita. Em aku hanya ingin tahu bagaimana wajah mantan Istrinya..


Tiba-tiba saja pintu terbuka, Samuel keluar dari balik pintu dan segera saja Ayu berdiri untuk menyambutnya.


"Katanya satu jam Bee?"


"Terlalu lama." Samuel menyerbunya dengan pelukan hangat nan erat. Kepalanya tertunduk seraya menempelkan hidung mancungnya ke pipi kiri Ayu." Aku rindu." Tentu saja Ayu tersenyum mendengar kata konyol namun manis yang kerapkali meluncur di bibir Samuel.


"Sikapmu tidak menunjukkan Bos besar yang berwibawa."


"Nyatanya aku seorang Bos yang sangat di hormati para bawahan ku." Sebelum menegakkan kepalanya Samuel mengecup Bibir Ayu sejenak.


"Kamu memang lelaki hebat." Puji Ayu seraya tersenyum, membalas tatapan manik Samuel.


"Semua orang punya sisi menggelikan begitupun aku."

__ADS_1


"Hm iya. Em kenapa bacaan mu selalu tentang bisnis. Apa tidak ada novel romantis atau komik yang lucu." Celoteh Ayu menunjuk ke arah rak buku.


"Mempelajari bisnis lebih dalam lagi."


"Sekali-kali, bacalah Novel romantis Bee."


"Berarti madu yang ku hasilkan tidak seberapa manis." Jawab Samuel menebak.


"Manis."


"Lalu kenapa kamu menyuruhku membacanya?"


"Melunakkan hatimu agar tidak terlalu kaku dalam menghadapi situasi." Samuel mengambil kunci mobil juga ponsel yang tergeletak di atas meja." Seperti menghadapi orang tua yang bersalah atau.."


"Lebih sabar menghadapi orang yang tidak lagi mau berteman denganmu lalu dia kembali ketika membutuhkan bantuan?" Sahut Samuel cepat.


"Aku hanya melihat kesulitan di mata Mita. Paling tidak, berikan uangnya dengan cara sopan."


"Aku sudah berusaha memulihkan hatimu dengan memasuki pasar yang mirip dengan lautan manusia. Lalu aku harus membiarkan seseorang merusaknya? Aku tidak bisa sabar untuk itu. Akan ku singkirkan sesuatu yang berusaha menyakiti mu." Ayu menghela nafas panjang. Membenarkan ucapan Samuel karena akibat orang di masa lalu yang masih berkeliaran, membuat kehidupan mereka tidak bisa tenang.


Ayu tidak menjawab, mengikuti langkah Samuel masuk ke dalam lift. Wajah itu kembali terlihat dingin, ketika pintu lift terbuka. Jangankan untuk tersenyum, Samuel bahkan enggan melirik ke para staf yang sedang menyapanya.


Semua manusia punya sisi buruk. Mungkin inilah sisi buruk dari Suami ku.


Setibanya di dalam mobil. Samuel sempat melemparkan senyum bahkan membantu Ayu memakai sabuk pengaman sebelum melajukan mobilnya.


"Kenapa kamu membenci para staf itu Bee?"


"Aku tidak membenci."


"Melelahkan kalau harus membalas sapaan mereka satu persatu jadi lebih baik diam."


"Hehehehe rasanya aku sangat banyak berprotes." Samuel ikut tersenyum seraya mengusap puncak kepala Ayu.


"Hm kamu memang berubah sangat cerewet."


"Tunggu Bee. Tolong berhenti." Pinta Ayu tiba-tiba, menatap keluar kaca mobil sampai-sampai kepalanya memutar ke samping. Mas Dika.


"Ada apa?" Samuel ikut memutar tubuhnya untuk melihat obyek yang sedang di lihat Ayu." Untuk apa lagi? Apa kamu mau turun?" Imbuh Samuel membuang nafas kasar saat melihat sosok Dika tengah berbincang hangat bersama Della.


"Ada yang ingin ku katakan padanya."


"Itu bukan urusanmu lagi. Biarkan dia berselingkuh dengan sangat bebas. Kau sudah menjadi milikku." Seketika fikiran negatif langsung mengelabuhi otak Samuel padahal Ayu memikirkan sesuatu yang lain.


"Aku tidak perduli untuk masalah itu."


"Lalu kenapa kamu mau turun? Untuk menyapanya? Tidak Babe, kamu membuat hatiku sakit."


"Melakukan sesuatu untuk anakku." Sontak Samuel menatap sendu ke arah Ayu. Dia mengira jika Ayu sudah melupakan kenyataan soal janin di perutnya kemarin tapi keinginannya membuktikan jika Ayu masih belum melupakan insiden keguguran itu.


"Katamu tidak mau berurusan lagi dengan mereka?"


"Aku tidak akan lega sebelum melakukan sesuatu untuknya. Aku Ibunya walaupun kebersamaan kami begitu singkat."

__ADS_1


Dengan segala keterpaksaan, Samuel memarkirkan mobilnya di bahu jalan. Keduanya turun dan berdiri tepatnya di trotoar.


Samuel meraih jemari Ayu lalu berjalan menyebrangi jalan yang cukup ramai. Dika yang tidak menyadari keberadaan mereka, sangat terkejut ketika sebuah tangan meraih jus milik Della yang sontak membuatnya menoleh. Ayu menyiratkan jus tersebut lalu mendorong tubuh Dika sampai membentur meja.


"Apa-apaan ini!!" Ucapan Della tertahan ketika dia melihat Samuel yang tengah berdiri di belakang Ayu. Dia masih ingat dengan wajah pemilik perusahaan tempatnya bekerja.


"Diamlah! Aku tidak punya urusan denganmu!" Jawab Ayu menunjuk kasar ke arah Della.


Dia semakin cantik. Mata Dika terbius, memandangi paras Ayu yang semakin terasa menggemaskan.


Plaaaaaakkkkkk!!!


Kepala Dika memutar ke samping ketika sebuah tamparan keras berhasil Ayu hadiahkan.


"Apa masalahmu? Kenapa kamu masih saja mengusik hidupku. Apa kau merasa cemburu melihatku bersamanya." Dengan gilanya Dika mengatakan hal tersebut. Perasaannya terasa tidak terkendali ketika keduanya di pertemukan dari jarak dekat.


"Kau pembunuh anakku!!" Teriak Ayu memicu tatapan sekitar yang langsung terfokus padanya.


"Anak apa?"


"Jangan banyak alasan kamu Mas! Aku sudah tahu kalau kau yang menyebabkan keguguran itu!!" Dika terkekeh, dia meraih tisu lalu membersihkan jus dari wajah dan bajunya." Itu darah daging mu dan kau sudah membunuh nya. Menurut mu itu lucu?" Manik Ayu berkaca-kaca, rasa benci pada sosok Dika semakin terasa mengental.


"Itu masa lalu. Dia juga belum memiliki nyawa. Untuk apa kau marah-marah hanya demi..."


Bugh!!!


Tubuh Dika terpelanting menerobos banyaknya bangku yang ada, dan berakhir tersungkur di lantai ketika Samuel menghadiahkan sebuah pukulan pada wajah.


"Aku tidak yakin kalau kau manusia." Ucap Samuel seraya menghampiri Dika lalu menarik kerah bajunya kasar.


"Kau tidak perlu ikut campur!"


"Jangan meninggikan suaramu!! Seharusnya kau meminta maaf padanya." Menunjuk ke arah Ayu dengan tangan kanan mencengkram erat kerah baju Dika.


"Ini bukan urusanmu."


Bugh!!!


Tubuh Dika kembali terpelanting membentur meja-meja yang tadinya rapi berubah menjadi berantakan.


"Bangun! Ayo lawan aku!" Tantang Samuel membuat seluruh karyawan berhamburan keluar termasuk para pengunjung lainnya. Mereka datang untuk melerai sementara Ayu memilih diam bahkan memperlihatkan senyum simpul.


Mama sudah memberikan sedikit pelajaran untuk lelaki itu Nak..


Dika tidak kuasa melawan. Wajahnya babak belur dengan sudut bibir berdarah. Beruntung, Samuel masih bisa mengendalikan diri untuk tidak menghabisi nyawa Dika saat itu juga.


"Ini termasuk kriminal Tuan." Ucap salah satu waiters.


"Dia membunuh anakku. Apa yang ku lakukan bukan sesuatu yang wajar." Jawab Samuel santai. Ucapan tersebut membuat simpatik dari orang sekitar langsung Samuel dapatkan.


"Astaga. Apa benar itu Mas."


"Tanyakan padanya. Suruh dia menuntut ku jika memang masalah ini akan di perpanjang." Samuel mengambil dompetnya dan beberapa lembar uang lalu melemparkannya ke arah Dika." Pakai itu untuk berobat. Jika kurang, kau tahu harus pergi ke mana kan." Samuel melangkah pergi menghampiri Ayu yang tengah menunjukkan wajah puas." Sudah ku balasan kesakitan anak kita. Mari pergi." Entah karena kekesalan atau apa, Ayu menyambut kedatangan Samuel dengan senyuman tanpa protesan. Keduanya berdiri di pinggir jalan untuk menyebrang menuju mobil.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2