Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Kemarahan Alan


__ADS_3

Tak!


Alan menunjuk kasar kolom chat milik Ayu seraya menatap tajam ke arah Mita.


Mita sendiri tertunduk dan memperhatikan banyaknya chat yang tertulis namun tidak terkirim. Hanya ada tanda centang berwarna abu-abu.


"Kau yang menyuruhnya!!" Tanya Alan terdengar di tekan. Seketika Mita mendongak dan melihat wajah geram yang di perlihatkan Alan.


"Menyuruh apa?"


"Memblokir nomer ku!!" Mita menghembuskan nafas berat untuk mengendalikan rasa sesak di hatinya.


"Aku tidak melakukan apapun."


"Nyatanya dia memblokir nomer ku!! Kau pasti cemburu tidak beralasan lalu menyuruhnya memblokir nomerku!!" Ucap Alan menuduh.


"Sejak kapan kamu memiliki kontak miliknya?"


"Jawab aku hei Mita! Jangan mengalihkan pembicaraan untuk menutupi kesalahan mu!!" Mita tertunduk seraya terisak. Ekspresi serta suara buruk Alan sanggup menyayat hatinya.


"Bukankah itu lebih baik Mas. Untuk apa kau menyimpan nomer nya?"


"Apa salahnya aku menjalin hubungan dengan adikku sendiri. Harusnya kau bisa bersikap dewasa, tidak seperti bocah atau selamanya kau tidak akan mendapatkan jodoh!!" Alan meraih ponselnya setelah menunjuk Mita kasar. Dia mendengus lalu melangkah pergi begitu saja tanpa memperdulikan Mita yang tengah terisak akibat ulahnya.


Aku tidak mau menikah dengannya!!


Ketika Mita akan beranjak untuk menemui kedua orang tuanya. Langkahnya kembali tertahan ketika sang Ayah dan Ibunya sudah berdiri di ambang pintu ruang tamu.


"Batalkan saja lamaran ini Yah. Ayah lihat sendiri bagaimana Mas Alan membentak ku." Sambil menunjuk ke arah luar.


"Ya! Agar kau selamanya tidak menikah. Kau sadar umurmu sudah 25 tahun. Banyak teman-teman mu yang sudah berumah tangga bahkan memiliki anak." Mita menggelengkan kepalanya pelan, mendengar kenyataan jawaban dari Ayah kandungnya.


"Daripada menikah dengan orang yang salah dan berakhir perceraian."


"Berhentilah bersikap kekanak-kanakan Mit. Kamu harus bisa meletakkan rasa cemburu pada tempatnya. Apa pantas kamu cemburu pada Adik kandung Alan yang baru saja di temui. Sangat wajar mereka saling merindukan karena sudah lama berpisah." Bagaikan tersambar petir di malam hari. Hati Mita tambah berkedut nyeri ketika Ibu yang biasanya menjadi pembela handal, kini berhasil di kelabui Alan yang ternyata memiliki sifat tidak mau di salahkan.


"Ayu bukan Adik..."


"Kamu jangan mempermalukan Ayah!"


"Ya Mit. Mama juga malu kalau sampai kamu tidak jadi menikah dengan Alan. Semua tetangga sudah tahu bahkan terus saja menanyakan soal pernikahan kalian."


Mita hanya bisa bungkam. Dia tidak bisa melawan perkataan orang tuanya apalagi sekarang emosinya sedang menggebu-gebu.


Sebaiknya ku bicarakan nanti saja.


Mita mengalungkan tas kecilnya lalu berjalan masuk tanpa sepatah katapun. Bukan hanya emosi dan sakit hati. Kini perasaannya di liputi kekalutan memikirkan sikapnya pada Ayu tadi.


Itu keputusanku. Dia bukan temanku sekarang. Apalagi Ayu sudah memiliki Mas Sam yang pasti akan menemaninya. Sementara aku? Maafkan aku Ayu. Aku sudah menuduh mu macam-macam.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Ayu kembali tidak sadar akan kepergian tiga mangkuk es krim yang ada di hadapannya. Sementara Samuel malah terkekeh kecil melihat ekspresi yang di perlihatkan Ayu.

__ADS_1


"Kenapa ekspresi mu begitu Babe?" Terlihat, kopi milik Samuel masih di minum separuh. Itu berarti hanya butuh setengah jam bagi Ayu untuk menghabiskan es krim tersebut.


"Ini mencengangkan Bee. Semua lemak coklat sudah berpindah di perut ku."


"Itu kenapa aku memesan 3 porsi."


"Hm ya. Maaf. Aku tidak menyisakan untukmu." Jawab Ayu pelan.


"Es krim itu untukmu."


"Aku jadi lupa diri kalau kamu memesan sebanyak itu."


"Buktinya habis."


"Aku khilaf Bee."


"Coklat bisa menghilangkan stres."


"Tapi tidak sebanyak itu."


"Och Babe jangan berprotes dan menyebutkan kekhawatiran soal bentuk tubuhmu. Em sekarang. Kamu ingin makan malam sekalian atau kita delivery." Manik Ayu membulat. Dia menggeser tiga mangkuk seraya menarik nafas panjang. Tawaran Samuel sangat menggoda tapi tiga mangkuk es krim sudah di lahap.


"Kita langsung pulang dan tidur Bee."


"Itu es krim bukan makan malam."


"Tiga porsi Bee. Astaga." Jawab Ayu ketus.


"Itu berlemak lagi."


"Ini keinginan Suami mu. Percayalah, Tuhan akan menjaga bentuk tubuhmu kalau kamu patuh pada Suami mu."


"Bagaimana mungkin. Lemaknya sudah pasti mengendap di perutku." Samuel terkekeh seraya mengangkat tangannya ke arah waiters untuk meminta bil.


Setelah menyelesaikan pembayaran, mobil Samuel melaju ke arah depot yang di maksud walaupun sejak tadi Ayu melontarkan penolakan.


Aroma sedap gulai kambing sudah dulu menyapa ketika keduanya baru turun dari mobil.


"Pesan dua porsi ya Bu. Minumnya es jeruk." Pinta Samuel memesan sementara Ayu sudah lebih dulu duduk. Sambil memesan, dia mengetik sebuah chat pada Dimas.


๐Ÿ’ŒAku minta kau menyelidiki seseorang.


๐Ÿ’ŒSiapa Tuan.


Samuel mengirimkan foto Alan yang sempat di ambil kemarin.


๐Ÿ’ŒTidak ada petunjuk tempat tinggalnya Tuan.


๐Ÿ’ŒKau pantau saja rumah orang tua dari mantan Suami Istri ku.


๐Ÿ’ŒMereka bersaudara?


๐Ÿ’ŒHm. Cari info soal perkerjaannya dan segera kirimkan jika kau berhasil mendapatkannya.

__ADS_1


๐Ÿ’ŒBaik Tuan.


Setelah memasukkan ponselnya pada kantung jaket, Samuel menghampiri Ayu lalu duduk di hadapannya. Tanpa Ayu sadari, Samuel sudah terbakar api cemburu sejak dia mengetahui fakta tentang Alan. Hanya saja Samuel tidak ingin melibatkan Ayu dan ingin mengatasi semua dengan caranya.


Aku bisa lebih gila dari siapapun jika kau berani menyentuh milikku.


Samuel memiliki sifat mengayomi namun bisa berubah menjadi buruk ketika sudah menyangkut orang yang di sayangi. Hal itu membuatnya buta ketika mencintai dan tidak perduli dengan sifat buruk pasangannya.


"Kamu tidak memesan doubel kan Bee?"


"Tidak Babe. Hanya dua porsi."


"Hm." Ayu melihat layar ponselnya yang sudah tidak terdapat kartu kontak. Samuel sudah mengambil kartu dan berjanji menggantinya besok. Walaupun aku ingin melupakan semuanya. Tapi aku khawatir pada mu Mit. Tidak perduli bagaimana kamu membenciku. Aku sudah terlalu nyaman bersama mu..


Karena melamun, Ayu sampai tidak sadar saat sajian sudah di hidangkan. Samuel tidak bergeming dan malah menumpukan kedua tangannya di atas meja. Kedua matanya fokus menatap Ayu sambil sesekali menyeruput es jeruk di hadapannya.


Ketika Ayu menyadari tatapan penuh selidik Samuel. Segera saja dia meletakkan ponselnya seraya tersenyum aneh.


"Ke kenapa Bee?" Tanyanya terbata.


"Kamu yang kenapa?" Samuel mengambil ponsel milik Ayu lalu memeriksa menu apa saja yang tadi di buka." Apa kamu tidak menerima keputusan ku mengganti kontak milik mu." Imbuhnya bergumam.


"Tidak Bee."


"Lantas kenapa kamu membuka menu ini?" Tanyanya sambil meletakkan kembali ponselnya.


"Aku masih khawatir dengan Mita." Jawab Ayu pelan.


"Asal jangan memikirkan Kakak dari lelaki gila itu. Kalau saja aku menuruti kata hatiku kemarin. Sudah ku seret dia agar tidak mendekat." Ayu tersenyum lalu menyeret kursi yang di duduki sehingga keduanya duduk berjajar. Dia merasa tidak enak karena kembali membuat Samuel marah akan kegilaan orang di sekitarnya.


"Aku juga baru tahu Bee. Sebaiknya kita makan lalu pulang. Aku ingin berendam air hangat." Jawab Ayu mencoba mencairkan suasana yang terasa menegang apalagi Samuel sudah menyuguhkan wajah garang di sertai tarikan nafas berat.


"Kamu makan saja dulu." Ucapnya bersandar pada kursi kayu.


"Untuk apa aku memikirkan dia Bee. Aku memikirkan Mita karena kami sudah bersahabat lama."


"Dia saja tidak memikirkan bagaimana perasaan mu ketika dia mengumpat seperti tadi."


"Sudah lupa untuk tidak membalas apapun perbuatan buruk seseorang. Ku suapi ya Bee." Samuel melirik lalu tersenyum sebentar walaupun ketika Ayu menyendokkan makanan untuknya, dia berpura-pura acuh.


Och.. Kamu manis sekali Babe. Ini pertama kalinya aku menerima suapan dari seseorang yang ku kasihi. Ternyata kamu juga bisa melakukan hal itu untukku.


"Ayolah Bee. Kalau kamu tidak mau makan, sebaiknya kita pulang saja." Ujar Ayu merajuk karena suapannya belum di respon.


"Tapi suapi." Sungguh perkataan yang berat untuk di lontarkan sebab Samuel tidak pernah membayangkan akan bermanja-manja seperti sekarang. Namun sikap Ayu membuatnya terpancing sampai-sampai dia dengan canggung melontarkan kalimat menggelikan itu.


"Baik Bee."


Perlahan Samuel membuka mulutnya dengan raut wajah memerah, sementara Ayu memasukkan sendok dengan senyuman manis.


Dalam pandangan sekitar, tatapan keduanya terlihat dalam sehingga memicu kekaguman dan kecemburuan. Ada yang berdecak kagum tapi ada juga yang berpura-pura tidak tahu karena merasa iri ketika pasangannya tidak bisa menyuguhkan perlakuan sederhana namun sulit untuk di lakukan.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2