
Tania menatap penuh curiga ke Dika yang terlihat bersiap untuk pergi ke kantor.
Dika beralih ada rapat penting yang akan di hadiri pagi ini. Tania berpura-pura tidak curiga dan mengantarkan kepergian Dika dengan senyuman manis.
Setelah mobil Dika terlihat meninggalkan kediamannya. Segera saja Tania berjalan keluar dan masuk ke dalam mobil orang suruhannya.
"Aku tidak menemukan ATM itu? Kau yakin dia memiliki ATM lain?" Tanpa Dika sadari, Tania menyuruh seseorang untuk membututi kegiatannya sejak kemarin.
"Saya yakin Non. Kemarin Tuan Dika masuk ke dalam ATM."
"Sialan!! Awas saja kalau dia menduakan ku!!"
Tebakan awal Tania adalah, Dika berkhianat darinya dengan mengunakan uang ATM yang di sembunyikan.
Setelah beberapa menit berjalan. Tania di buat terkejut ketika mobil Dika memasuki gang di mana Bu Erna tinggal. Dan benar, Dika membelokkan mobilnya masuk ke pekarangan rumah.
Oh jadi dia selingkuhan mu?
Pemikiran yang terdengar gila. Seharusnya Tania mendukung bakti Suaminya pada Ibunya. Tapi kecemburuan yang menggila membuatnya tidak perduli. Hati Tania tidak merelakan ketika melihat Dika berdekatan dengan wanita manapun.
Sementara di dalam rumah. Dika menemui Bu Erna yang rupanya tengah ada di belakang. Kedatangan Dika kembali mengejutkan Bu Erna sehingga kegiatan memasaknya langsung di hentikan.
"Loh kamu lagi." Ucap Bu Erna berjalan menghampiri setelah mematikan kompor.
"Aku tidak bisa lama Ma." Jawab Dika memberikan sebuah amplop putih.
"Apa ini Dik?"
"ATM. Nomer pin nya sudah ku tulis di amplopnya."
"Loh kenapa? Biasanya kan di beri tunai."
"Ini ada hubungannya dengan Tania Ma. ATM milikku di rampas. Dia tidak memperbolehkan ku memberikan jatah bulanan ke Mama." Bu Erna mendengus kesal." Ada 300 juta di dalam. Aku minta Mama pergunakan dengan baik. Kalau Mama tidak mengerti cara mengambilnya. Mama bisa meminta tolong anak Bu Broto." Imbuh Dika menjelaskan.
"Keterlaluan sekali Tania itu."
"Sudah terlanjur. Aku bisa apa? Dia tidak akan melepaskan ku. Aku pamit Ma. Ingat untuk tidak datang ke rumah. Hubungi aku di jam kerja saja." Pinta Dika mengingatkan.
"Ya hati-hati."
"Hm." Setelah mencium punggung tangan Bu Erna, Dika berjalan keluar dapur lalu bergegas melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah.
__ADS_1
Tepat di saat Bu Erna akan melanjutkan perkerjaannya. Sebuah tangan dengan cepat menyambar amplop yang ada di tangannya. Sontak Bu Erna membalikkan tubuh dan terkejut saat melihat Tania berdiri di hadapannya.
"Ini bukan lagi hak mu!!" Ujar Tania kasar.
"Berikan pada Mama Niah. Itu jatah bulanan dari Dika untuk Mama." Dengan gerakan cepat Tania meraih pisau dapur lalu menyergap tubuh Bu Erna dan mengacungkan pisau ke lehernya.
"Aku tidak suka ketika kau mendekati Suami ku." Ucap Tania lirih.
"Ja jangan Niah. Ingat, aku itu mertua mu dan Mama kandung Suami mu."
"Peduli apa!! Dika sudah jadi milikku dan itu berarti kau tidak boleh berhubungan lagi dengannya!" Tubuh Bu Erna menegang, untuk bernafas pun dia tidak berani. Pisau itu bisa saja menyayat lehernya dan membuat nyawanya melayang saat itu juga.
Kenapa Tania seperti ini?
"Jangan menghubungi Dika atau meminta uang darinya! Kalau aku melihatmu melakukan itu, pisau ini akan memisahkan kepalamu dari tubuhmu!!" Air mata Bu Erna lolos. Itu terlihat dari sudut pipinya yang basah.
"I iya..." Tania menjauhkan pisau dapur dan mendorong tubuh Bu Erna sampai terjungkal.
"Jangan mengadu pada Dika. Kalau sampai Dika berprotes sedikit saja! Aku akan membunuhmu!!" Klunting....
Tania melemparkan pisau dapur lalu melangkah pergi. Bu Erna terduduk lemah di salah satu kursi makan seraya menatap kepergian Tania.
"Duh Gusti..." Eluhnya mengusap sudut pipinya yang basah." Kenapa Tania seperti itu." Terlintas sebuah ingatan ketika dirinya berkata kasar pada Ayu yang tidak pernah di balas. Ayu selalu merendahkan ucapannya untuk bentuk kepatuhannya pada Dika.
Seharusnya aku tidak merestui hubungan mereka.
Batin Bu Erna mengutarakan penyesalan dengan isakan tangis. Kepalanya tertunduk mengingat betapa bodohnya dirinya sampai membiarkan wanita baik-baik pergi dari kehidupan anaknya dan tergantikan dengan Tania, sosok cantik nan sempurna namun berhati iblis.
🌹🌹🌹🌹
Baru saja kedua bola mata Ayu terbuka, kehadiran Samuel di sampingnya membuatnya seketika terduduk.
Ayu melupakan pernikahan yang sudah terjadi kemarin akibat tidur terlalu nyaman. Hampir saja dia melontarkan kata-kata kasar. Telunjuknya bahkan sudah mengarah pada Samuel yang masih berbaring.
"Ke kenapa...." Ucapan Ayu tertahan saat dia mengingat janji suci yang Samuel ucapkan dengan lantang. Dia Suamiku... Perlahan tangannya di turunkan dengan hembusan nafas berat." Ma maaf Mas. Aku lupa." Ucapnya seraya memunguti baju yang tergeletak di lantai.
Semalam mereka melakukannya lagi meskipun Ayu masih mengukuhkan niatnya untuk tidak jatuh terlalu dalam. Niat itu sangat tidak sesuai. Sebab nyatanya dia menikmati sentuhan dan percintaan yang Samuel berikan.
Ayu bahkan meminta Samuel menyentuh area tubuhnya dengan meninggalkan jejak. Lalu sekarang, dia menganggap itu hanya kekhilafan.
__ADS_1
Memalukan sekali mengingat itu. Hanya karena dia menolong tukang sate, aku jadi bersemangat untuk memberikannya lagi.
Ayu melirik sedikit ke Samuel yang tengah menatapnya. Tubuhnya bahkan masih bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana dallam.
Aku tidak percaya kalau alasannya karena tukang sate. Mungkin karena Mas Sam sangat tampan. Tubuhnya juga bagus dan dia...
Sorot mata Ayu menangkap tanda merah pada leher dan beberapa bagian tubuhnya dari pantulan cermin.
Kenapa aku bisa meminta itu!!!!
Wajahnya memerah. Mengingat betapa manja suara yang dia hasilkan kemarin. Sampai-sampai Samuel ikut terbawa suasana dan memuji-muji cara Ayu meminta sentuhan padanya.
Bibirnya masih menempel di sana. Aku bisa merasakannya.
"Apa kamu juga melupakan kejadian semalam?" Ujar Samuel berdiri di hadapan Ayu. Celana pendek sudah terlihat di pakai meski masih bertelanjang dada.
"Aku lupa kita sudah menikah Mas." Ayu melirik ke jam dinding yang menunjukkan pukul setengah delapan. Selalu saja kesiangan. Seharusnya aku bangun pagi dan menyiapkan minuman hangat untuknya.
"Kamu hanya belum terbiasa Babe." Samuel merengkuh tubuh Ayu sejenak lalu memberikan kecupan singkat pada kedua pipi dan dahinya." Terimakasih untuk semalam. Aku mencintaimu." Tubuh Ayu terasa kaku. Dia tidak membalas dan hanya memperlihatkan senyuman aneh.
"Apa minuman kesukaan mu Mas?" Tanya Ayu setelah Samuel menegakkan tubuhnya. Dia kembali mengalihkan pembicaraan.
"Untuk apa?"
"Membuatkan minuman."
"Aku bisa membuatnya sendiri. Bukankah kamu tidak bisa menyalakan kompor." Tanpa Ayu ketahui, Samuel selalu mendengar apa yang di bicarakannya bersama Mita.
"Iya. Tapi aku akan belajar untuk melakukan nya."
"Kalau minuman kesukaan mu?" Tanya Samuel balik.
"Kenapa balik bertanya?"
"Biar ku buatkan. Aku bisa menyalakan kompor."
"Apa tidak ada teko listrik Mas? Biasanya..."
Ayu menghembuskan nafas berat ketika ingatan Dika kembali melintas. Seakan marah, Samuel meraih kaos miliknya dan mengenakannya. Dia berjalan keluar kamar meninggalkan Ayu begitu saja.
"Dia marah?" Gumamnya menatap kepergian Samuel." Satu bulan lalu aku masih menyiapkan itu untuknya. Bukankah ini hal yang wajar?!" Ayu ingin tidak perduli dengan kemarahan yang di tunjukkan Samuel tapi lagi-lagi ucapan almarhum Ibunya melintas." Itu masa lalu sementara Mas Sam. Orang yang harus ku patuhi sekarang." Ayu memakai kaos longgar dan bajunya dengan cepat lalu mengikat rambutnya sembarangan. Segera saja dia melangkah menuruni tangga untuk memberi pengertian pada Samuel.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹