Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Kunjungan Tania


__ADS_3

Sesuai rencana, hari ini Samuel memesan ratusan kotak makan dan catering prasmanan untuk acara syukuran yang di adakan nanti malam. Dia hanya mengundang Bapak-bapak yang tinggal di perkampungan sekitar rumahnya.


Dengan begitu bersemangat, Ayu menyusun kotak makan juga beberapa jajanan dan minuman ke dalam wadah yang sudah di sediakan.


Ayu tidak menginginkan orang luar membantunya sehingga membuat si penjaga rumah, Bik Ijah dan Bik Ratih ikut serta membantu.


"Kalau Non capek. Biar Bibik lanjutkan saja." Ucap Bik Ijah seraya fokus pada perkerjaannya.


"Ini banyak sekali Bik. Saya juga belum lelah kok." Samuel bahkan ikut membantu hanya demi memenuhi keinginan Ayu untuk tidak menghadirkan orang baru." Jangan ada yang terlewat ya Bik." Imbuhnya sopan.


"Siap Non. Bibik sudah biasa menata."


"Iya. Biasanya di kampung malah lebih banyak dari ini." Samuel tersenyum. Merasa terkagum-kagum melihat kesederhanaan yang tersuguh di hadapannya.


Ayu bahkan tidak bersikap selayaknya seorang majikan. Caranya memperlakukan Bik Ijah dan Bik Ratih seperti ketika bersama orang tuanya sendiri.


Tiba-tiba saja bel pintu berbunyi, Bik Ijah beranjak berdiri lalu berjalan ke depan untuk memeriksa.


"Astaga Bibik telat." Sapa Bik Lena yang sudah berdiri sejajar dengan Paman Ano.


"Bik Lena."


"Eh biar Bibik yang ke sana." Cegah Bik Lena berjalan mendekat bersama Paman Ano.


Segera saja Ayu menyambut keduanya dengan pelukan hangat dan ciuman punggung tangan. Samuel juga melakukan hal yang sama sebab sudah menganggap keduanya sebagai orang tua.


"Jalannya macet Nduk." Dengan cekatan Bik Lena turut membantu.


"Bibik istirahat saja. Mungkin capek."


"Walah. Tadi sudah tidur di jalan kok hehe. Yang kasihan itu supirnya." Dimas tersenyum. Dia meluangkan waktunya seharian untuk membantu.


"Terimakasih Dim."


"Sama-sama Nona. Itu sudah tugas saya."


"Di jaga baik-baik ya. Jangan terlalu lelah, istirahat yang cukup."


"Iya Bik."


"Yang paling penting itu keadaan mentalnya." Bik Lena beralih menatap Samuel." Ibu hamil itu harus rileks Sam. Kalau bisa Suami lebih ekstra sabar karena permintaan orang hamil itu beda-beda. Ada yang rewelnya minta ampun tapi ada juga yang biasa-biasa saja." Ujarnya menasehati. Bik Lena tidak ingin Ayu kembali kehilangan calon anaknya sehingga dia melontarkan peringatan tersebut.


"Siap Bik. Saya akan lebih sabar lagi." Padahal baru satu hari yang lalu Ayu mengetahui kehamilannya. Tapi permintaan yang di lontarkan cenderung aneh sebab itu bukan kebiasaan Ayu sebelumnya.

__ADS_1


Apalagi perasaan nya kini sepuluh kali lebih sensitif. Sedikit penolakan saja sudah membuat Ayu merasa tersakiti bahkan menangis sesenggukan.


Di tengah hangatnya pembicaraan, bel pintu terdengar berbunyi lagi. Pagar yang memang tidak di kunci menggampangkan para tamu untuk langsung menuju rumah.


Dimas terlihat beranjak dari tempat duduknya, dia memeriksa siapa yang datang. Ketika sosok Tania terlihat berdiri di balik pintu, mimik wajah Dimas berubah datar. Beruntung, sebab Pak Wira terlihat ikut bersama Tania sehingga Dimas terpaksa membuka pintu untuk menyambutnya.


"Ada keperluan apa Pak Wira?" Tanya Dimas sopan.


"Menuruti permintaan Tania Pak. Dia ingin berkunjung." Menunjuk ke arah Tania.


"Saya sudah berjanji akan berkunjung. Jadi bisakah saya bertemu Ayu." Cara berbicara Tania terdengar berbeda. Pak Wira tersenyum sebab karena insiden tersebut bisa membuat Tania banyak berubah.


"Em maaf. Saya tidak memiliki kuasa untuk itu. Biarkan saya bertanya terlebih dahulu."


"Oh ya sudah silahkan." Jawab Tania mempersilahkan.


Dimas kembali menutup pintu untuk keamanan. Terlihat kebimbangan terpancar di wajahnya. Dimas takut menyebutkan nama Tania karena tahu kalau Samuel sangat membencinya.


Ada saudara Nona Ayu. Mungkin Tuan akan menahan sedikit emosinya.


"Siapa Dim?" Tanya Samuel menatap Dimas yang tengah berdiri mematung.


"Itu Tuan. Ada Pak Wira dan Tania." Nafas kasar langsung berhembus.


"Suruh mereka pergi." Pinta Samuel menekan kata-katanya. Tentu saja dia tidak ingin berteriak apalagi sampai menunjukkan kemarahan pada Bibik dan Paman Ayu.


"Tunggu. Kenapa di suruh pergi Bee." Sahut Ayu cepat.


"Kamu bilang tidak boleh ada orang luar Babe. Bukankah mereka orang luar."


"Iya tapi aku sudah memperbolehkan dia berkunjung ketika sudah sehat." Ingin rasanya Samuel menyadarkan betapa buruknya Tania.


"Oke Babe. Suruh mereka masuk Dim." Dimas tersenyum seraya mengangguk. Dia kembali berjalan keluar untuk mempersilahkan Tania dan Pak Wira masuk.


"Sedang ada acara apa?" Sapa Tania melihat banyaknya tumpukan kotak makan dan jajanan.


"Hanya syukuran biasa." Jawab Ayu tidak ingin mengaku. Dia beranjak berdiri dan bertumpu pada pundak Samuel." Astaga. Dia sudah bertambah besar." Tanpa rasa sungkan Ayu mengusap lembut perut Tania yang terlihat mulai membesar.


"Umur kandungannya sudah tiga bulan."


"Sebaiknya mengobrol di samping rumah saja Ayu. Kasihan tamunya." Kata Bik Lena ramah.


"Ya Bik. Em Bik Ratih, tolong siapkan makan ringan dan sirup dingin ya." Setelah mengatakan itu, Ayu menggiring Tania dan Pak Wira ke samping rumah.

__ADS_1


"Saya harus menemani nya Bik."


"Ya Sam silahkan." Samuel mengekor karena tidak ingin terjadi sesuatu. Dia duduk tepat di samping Ayu.


"Pembantu itu sekarang berkerja di sini?" Tanya Tania masih mengingat wajah Bik Ratih.


"Hm iya. Katanya kalian pecat." Tania mengangguk seraya tersenyum.


"Kami tidak kuat membayar pembantu Ay."


"Tidak apa. Bibik sudah berkerja di sini."


"Tujuan kalian berkunjung apa?" Sahut Samuel bertanya.


"Hanya ingin berkunjung saja."


"Iya. Katanya Tania sudah berjanji." Imbuh Pak Wira menimpali.


"Aku ingin memberikan ini untuk ucapan rasa terimakasih." Tania menyodorkan sebuah kotak berwarna putih.


"Apa ini?"


"Em, anggap saja tanda pertemanan kita." Ayu membuka kotak berisi cincin berlian." Aku ingin memberikan itu saat pernikahan kalian tapi keadaan nya tidak memungkinkan." Imbuh Tania menjelaskan.


"Ini bagus sekali. Terimakasih." Samuel membuang nafas kasar mendengar obrolan di hadapannya. Dia masih menaruh curiga pada Tania padahal akibat kejadian itu, obsesi Tania kini beralih pada Ayu.


Obsesi yang positif. Sebab Tania tidak ingin melihat Ayu tersakiti dan ingin membuatnya senantiasa tersenyum.


"Sama-sama. Itu bukan barang baru Ay."


"Tidak apa. Langsung ku pakai." Ayu ingin membalas niat baik agar Tania tidak lagi membencinya." Lantas apa yang bisa ku berikan. Aku tidak memiliki banyak perhiasan." Imbuh Ayu seraya memperhatikan jari tengahnya.


"Aku tidak butuh balasan." Bik Ratih datang dengan raut wajah ketakutan ketika dia menyuguhkan minuman dan makanan ringan di meja." Saya minta maaf atas sikap buruk saya Bik." Bik Ratih mengurungkan niatnya melangkah pergi.


"Tidak apa-apa Non. Saya permisi." Jawabnya ramah kemudian berjalan pergi.


"Silahkan Pak, Tania." Kata Ayu mempersilahkan.


"Sebenarnya ada acara apa Ay."


"Syukuran biasa saja. Untuk kesehatan ku."


"Dia hamil dan sepertinya kau harus bercerita pada Suami mu." Sahut Samuel menimpali. Dia ingin membagi berita bahagia itu pada Dika. Samuel berharap setelah ini kehidupannya bisa berjalan tenang.

__ADS_1


"Astaga selamat ya. Aku akan menyampaikannya pada Mas Dika." Senyum Tania seketika berubah menjadi mengerikan ketika nama Dika melintas di fikiran. Dia membayangkan bagaimana keadaan Dika yang sengaja di kurung setelah dia berhasil menyiratkan cairan kimia pada wajah tampannya. Dia tidak akan menganggu kehidupan mu lagi Ayu. Dia akan malu memperlihatkan wajah buruknya. Sekarang aku merasa tenang karena Dika selamanya akan menjadi milikku.


🌹🌹🌹


__ADS_2