Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Kembali berwarna


__ADS_3

Ayu menikmati makan siangnya dengan perasaan tidak berarah. Ada rasa khawatir jika nanti Samuel menagih jatah malam keduanya. Namun itu sudah menjadi kewajiban yang harus di lakukan meskipun perasaannya tengah mengambang.


Sambil mengunyah, dia memperhatikan orang berlalu lalang padahal lelaki di hadapannya tengah menatapnya.



Fokus Ayu teralihkan sampai-sampai dia tidak juga sadar akan tatapan Samuel yang sejak tadi berada di posisi yang sama.


"Walaupun kamu masih belum menerima, setidaknya jangan mendiamkan ku." Sontak Ayu tersenyum aneh ke arah Samuel.


"Aku sedang menikmati sekitar Mas. Di sini ramai ya."


"Bukan di sini yang ramai tapi di luar." Menunjuk ke kaca.


Ayu baru sadar, hanya ada beberapa orang yang makan di restoran tersebut. Sementara kata ramai yang di ucapnya lebih cocok untuk suasana di luar.


"Iya Mas, maaf."


"Selalu ku maafkan tapi aku cemburu." Samuel menebak jika Ayu tengah memikirkan kegagalan rumah tangganya. Padahal Ayu tengah berada di fase tidak ingin di sentuh, tapi tidak sanggup menolak sentuhan yang mungkin nanti Samuel minta.


"Tubuh wanita itu bagus sekali." Jawab Ayu mengalihkan pembicaraan. Dia menatap satu sosok wanita yang menurutnya memiliki tubuh ideal.


Samuel menoleh dan ikut memperhatikan. Dia membenarkan jika tubuh wanita itu sangatlah perfect. Tapi perasaannya pada Ayu membuat mata hatinya sudah tertutup untuk sosok manapun.


"Hm memang bagus." Puji Samuel berharap Ayu cemburu.


"Aku ingin memilikinya Mas. Em walaupun tubuhku mungkin tidak bisa sebagus dulu. Tapi tubuh wanita itu sudah lebih dari cukup."


"Kalau itu berarti tidak makan. Aku tidak setuju. Kamu tidak akan bisa menikmati hidup tanpa makan."


"Semua itu butuh perjuangan Mas. Aku juga tidak ingin kamu bosan padaku nantinya." Mata Ayu membulat setelah melontarkan perkataan yang mungkin akan menyinggung perasaan Samuel. Tentu saja dia menyesal mengucapkannya sebab Ayu juga tidak ingin di perlakukan seperti itu.


Lelaki mana yang mau di samakan dengan sosok pada masa lalu buruknya. Namun Ayu juga tidak sanggup menghempaskan ketakutannya begitu saja. Trauma kegagalan itu masih menari-nari di otaknya.


"Maaf." Imbuh Ayu pelan. Kepalanya tertunduk menatap makanannya.


"Cintaku tidak serendah itu Babe. Katakan alasannya? Kenapa kamu ingin memiliki tubuh seperti itu?" Sesuai janji. Samuel akan menuruti semua keinginan Ayu asal sesuatu itu tidak menyakiti Ayu dan perasaannya." Apa untuk menarik perhatiannya atau untuk ku?" Tanya Samuel tegas.


"Tentu saja untukmu. Kita sudah resmi menikah." Jawab Ayu gugup.


"Bagaimana bisa aku percaya? Aku merasa kamu menyamakan ku dengannya."


"Mas Sam salah faham." Ayu menegakkan pandangannya." Aku tanya takut gagal lagi. Em aku sadar kalau Istri seseorang yang memiliki jabatan haruslah cantik." Samuel tersenyum simpul dengan hembusan nafas panjang.


"You are already so beautiful. Aku tidak akan meninggalkan mu meski kau sebesar dia." Menunjuk ke seseorang yang memiliki berat tubuh sekitar 90 kg.

__ADS_1


Sontak Ayu tersenyum aneh seakan tidak mempercayai ucapan Samuel. Dia mulai membayangkan betapa beratnya memiliki tubuh sebesar itu.


"Aku tidak bermaksud menghina. Aku tidak akan membiarkan tubuh ku sebesar itu. Pasti bukan hanya berat untuk membawanya, tapi juga akan berat menerima cibiran dari pasangannya juga orang sekitar."


Pemikiran Ayu terlalu dangkal. Semua itu akibat dirinya tidak pernah keluar rumah atau mendengar pendapat dari orang lain semenjak menyandang status Istri.


Hanya perkataan Bu Erna dan Dika yang selalu di dengarnya setiap hari. Memotivasi dirinya untuk bisa mengembalikan bentuk tubuh dengan bumbu cibiran dan perkataan yang sangat menyakitkan hati.


"Tapi Suaminya mencintai nya." Ayu kembali menoleh dan baru menyadari jika wanita itu tidak sendirian. Suaminya bahkan membantunya memasangkan helm sebelum keduanya berlalu pergi dengan motornya." Aku mencintaimu. Perasaan itu bersifat permanen kalau kamu bisa menjaga kesetiaan." Ayu mengangguk namun mimik wajahnya belum terlihat membaik.


"Aku akan setia Mas."


"Oke. Aku akan mengajarkan bagaimana cara menurunkan berat badan tapi masih bisa tetap makan."


"Itu mustahil Mas. Hampir 10 bulan aku makan satu hari sekali dan meminum jus tapi tubuhku tetap tidak berubah."


"Kamu sangat seksi tapi kalau kamu memaksa, kita akan lakukan olahraga rutin mulai besok. Bagaimana?" Senyum Ayu berubah mengembang. Dia merasa bahagia dengan dukungan yang di berikan Samuel.


"Serius Mas?"


"Asal bukan untuk dia."


"Tentu saja tidak." Jawab Ayu bersemangat.


"Hm. Paling tidak untuk menjaga tubuhku agar tidak bertambah lebar."


"Asal hatimu hanya untukku. Itu bukan masalah besar."


"Fikirkan soal pendapat orang lain Mas."


"Aku tidak pernah memikirkannya. Tapi kalau kamu memikirkannya. Ya sudah." Ayu menelan makanannya pelan seraya melirik ke raut wajah Samuel yang berubah kesal.


"Kamu marah Mas?" Tanyanya lirih.


"Sedikit. Tapi aku akan mengerti perasaan mu yang mungkin masih tertinggal di masa lalu."


Segera saja Ayu mengangkat nampan lalu pindah duduk di samping Samuel. Dia merasa tidak enak pada Samuel yang seharusnya menjadi prioritasnya sejak beberapa jam yang lalu.


Kenapa dia pindah? Apa dia takut aku marah?


"Ya sudah tidak jadi Mas." Ayu kembali menjadi sosok wanita yang penurut dan tidak ingin menyakiti hati Suaminya meskipun hanya sedikit.


"Kenapa tidak jadi?" Tanya Samuel berpura-pura acuh. Huft! Mengemaskan sekali.


"Aku hanya berharap kamu bisa seperti lelaki tadi ketika tubuhku semakin melebar." Ingin sekali Samuel terkekeh namun dia mencoba menahannya.

__ADS_1


"Tidak. Kamu harus berdiet agar membuat mantan Suami mu terkesan dan merasa menyesal sudah menceraikan mu." Sontak Ayu menelan makanannya kasar. Mata bulatnya menatap Samuel dari samping dengan wajah tegang.


"A aku sudah tidak memikirkan itu. Aku bahkan malas bertemu dengannya." Jawab Ayu terbata.


"Keinginan mu membuktikan semuanya Babe."


"Sudah ku bilang tidak jadi." Samuel menoleh dan memperlihatkan wajah malasnya. Dia kembali terhibur memperhatikan wajah tegang yang Ayu perlihatkan.


"Aku memang masih orang baru untukmu sementara dia sudah lama bersama mu. Itu pasti akan meninggalkan kenangan indah yang sulit untuk kamu lupakan." Ujar Samuel memancing.


"Iya..."


"Nah mengaku." Ayu meletakkan sendok lalu beralih memegang lengan Samuel.


"Dengarkan dulu. Jangan menyela pembicaraan ku." Sahut Ayu setengah merengek. Sehingga menimbulkan dentuman pada hati Samuel karena kepolosan dan sikap apa adanya yang Ayu perlihatkan.


Sikapnya membuatku semakin gila...


"Aku hanya masih berusaha bangkit Mas. Aku juga sudah tersakiti oleh sikapnya."


"Tapi kamu masih memikirkan aturannya padahal aku menjanjikan kehidupan baik untukmu." Ayu semakin gelisah. Dia mengira jika Samuel benar-benar marah dan bisa menjadi pemicu perceraian terjadi.


Jika dia menceraikan ku bagaimana? Kenapa aku jadi terdesak seperti ini..


"Serius Mas aku masih berusaha menerima mu. Bukan karena masih ada dia, tapi hatiku belum bisa merespon." Rajuk Ayu semakin mengeratkan genggamannya.


"Aku tidak percaya Babe."


"Kenapa Mas Sam seperti ini sih?" Protes Ayu menggeser tubuhnya mendekat. Dia tidak ingin orang di sekitar tahu perdebatan mereka." Kalau tidak menerima, kenapa menikah?" Imbuhnya lirih.


"Seperti apa? Aku masih ingat kita menikah pagi ini."


"Tidak mempercayai perkataan ku. Kita sudah resmi Mas. Jangan mencari masalah dan membuat semuanya menjadi sulit."


"Kamu yang memulai. Aku sekarang Suami mu bukan dia." Hati Ayu bergetar hebat ketika Samuel mengucapkan perkataan tersebut. Langsung saja dia berdiri dengan kedua tangan masih menggenggam lengan Samuel.


"Kita pulang Mas." Ajak Ayu tiba-tiba.


"Why?"


"Pokoknya pulang. Ayo." Segera Samuel berdiri dan mengikuti permintaan Ayu tanpa mengerti alasannya. Dia sempat menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memeriksa jika mungkin Dika berada di sekitar.


Apa yang sedang dia lakukan? Och Babe.. Kamu membuatku semakin gemas..


🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2