Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Ikan gabus


__ADS_3

Keesokan harinya, tepatnya pukul lima pagi. Mobil Samuel terlihat baru saja tiba setelah pihak rumah sakit memberikan persetujuan untuk rawat jalan.


Seperti biasanya, Samuel menggendong Ayu masuk menuju kamar utama lalu membaringkannya ke atas ranjang. Tidak lupa dia membuka jendela juga pintu teras kamar agar udara segar pagi itu bisa masuk.


"Ingat untuk tidak banyak menggerakkan area tangan kanan Babe. Kalau perlu, seharian ini kamu jangan turun dari ranjang." Pinta Samuel sudah terlontar entah berapa kali.


"Kalau mau buang air kecil dan besar?"


"Apa gunanya aku hidup. Biar ku gendong." Ayu menghembuskan nafas berat. Dia tentu masih malu ketika membayangkan Samuel membantunya saat buang air kecil atau besar." Bagaimana? Masih sakit?" Dalam waktu sekejap, Samuel sudah duduk di samping kepala Ayu.


"Sudah minum obat jadi nyerinya berkurang."


"Masih tidak ingin membuat perhitungan. Atau paling tidak akan ku buat retak tangannya seperti yang sudah di lakukan padamu."


"Ingat untuk tidak balas dendam." Ayu menjewer telinga Samuel lembut.


"Aku sebenarnya kesal."


"Kamu arogan sekali sih Bee."


"Aku bisa menjadi pembunuh berantai kalau kamu mengizinkan." Jawab Samuel asal.


"Tidak mau Bee."


"Semua lelaki pasti marah saat wanitanya di sakiti." Samuel mulai memainkan jemarinya di dahi Ayu.


"Marah saja, jangan sampai menyentuh apalagi membalas. Kamu juga sudah memukulnya." Ayu masih ingat ketika Samuel menendang-nendang tubuh Alan yang tersungkur di lantai.


"Ya. Kamu membelanya lagi."


"Aku membencinya. Itu kenapa aku tidak ingin berurusan lagi dengan nya. Aku baik-baik saja. Dokter juga berkata kalau retaknya tidak parah."


"Hm ya aku kalah. Mari tidur, semalaman kita di rumah sakit kan." Samuel melepaskan kaos dan celana panjangnya lalu melemparkannya sembarangan. Tidak lupa tirai di tutup meskipun jendela dan pintu di biarkan terbuka.


"Kamu gerah Bee?" Tanya Ayu pelan.


"Ingin menghangatkan mu." Samuel meraih remote pendingin ruangan dan menambahkan suhunya.


"Ingat pada tanganku. Aku tidak bisa di peluk."


"Iya aku ingat." Tangan Samuel menelusup ke rongga leher belakang Ayu.


"Tidak kesemutan Bee."


"Biasanya kan begini."


"Hm iya. Aku heran, tanganmu terbuat dari apa sampai-sampai kamu kuat menopang kepala ku semalaman."


"Kalau kamu nyaman, rasa kesemutan akan hilang. Sudahlah tidur, jangan terus berprotes."


"Kamu juga tidur."


"Itu pasti. Hoaaaaammmmmmm.." Samuel berpura-pura menguap padahal rasa kantuk tidak terasa sama sekali.


Melihat keadaan tangan Ayu, membuat perasaannya ikut tersakiti. Dia sedang berakting mengantuk, agar Ayu mau beristirahat setelah setengah malam berada di rumah sakit.


Lidah memang tidak bertulang. Aku berjanji akan menjagamu tapi sekarang aku sudah menyakiti mu..


Samuel memandangi wajah Ayu dari samping, terlihat lebih polos dengan bibir setengah terbuka.


"Kamu tidak tidur Bee?" Sontak Samuel terkejut ketika menyadari Ayu belum terlelap. Tubuhnya di miringkan sehingga keduanya saling berhadapan meski tidak dapat menempel untuk memberi ruang pada tangan Ayu yang di perban.


"Ku fikir sudah tidur."


"Hanya memejamkan mata saja."


"Apa kamu lapar?"

__ADS_1


"Tidak."


"Lantas kenapa?" Ayu menyeret tubuhnya ke atas lalu menempelkan bibirnya ke milik Samuel sebentar. Dia tersenyum dengan wajah memerah ketika isyarat sebuah sentuhan berusaha di utarakan.


Samuel menggeser tubuhnya mendekat. Membalas bibir Ayu dengan lummatan lembut. Ketika respon di dapatkan lummatan menjadi sedikit memanas tapi masih sanggup terkontrol mengingat keadaan tangan Ayu.


"Kamu harus istirahat." Meski bibir berucap demikian. Namun nyatanya Samuel tidak menghentikan permainan bibirnya.


.


.


.


.


Sekitar pukul 11 siang, mobil Dimas terparkir di depan pintu utama rumah Samuel. Di tangan kanannya membawa sebuah kantung kresek kecil berwarna hitam.


Rupanya Samuel sudah menunggu kedatangan Dimas, sebab pintu langsung terbuka ketika Dimas baru saja mengayunkan kakinya ke teras.


"Apa benar bagus untuk pemulihan tulang." Samuel menerima kantung kresek dari Dimas.


"Iya Tuan. Kebetulan Pak Asrul dari kampung. Tadi saya bertemu dengannya dan menjelaskan soal keterlambatan. Terus beliau menyarankan untuk memakan olahan ikan tersebut."


"Kenapa tidak beli matang saja."


"Katanya akan lebih mujarab kalau di masak sendiri. Saya sudah menyuruh pedagangnya untuk memotong-motong dan mencuci bersih. Ikannya tinggal di goreng saja Tuan."


"Hm ya sudah. Terimakasih ya."


"Sama-sama Tuan. Permisi."


Samuel membawa ikan tersebut masuk setelah menutup pintu utama. Dia kembali mencucinya di air mengalir karena lendir ikan masih terlihat.


Setelah yakin bersih, Samuel melumurinya dengan air jeruk nipis untuk menghilangkan lendir dan bau amis. Pengetahuan seperti ini di dapatkan dari almarhum Mamanya ketika dulu dia melihatnya mengolah ikan.


"Sebaiknya ku goreng sekarang."


"Bee." Samuel mengurungkan niatnya untuk keluar kamar dan berjalan menghampiri Ayu.


"Lapar?"


"Iya. Tapi aku ingin buang air kecil."


"Hm ayo." Samuel menyikap selimut lalu mengangkat tubuh Ayu dan berjalan masuk kamar mandi.


Setibanya di sana, dia duduk berjongkok dan membantu Ayu melepaskan celana panjangnya.


"Sebentar." Cegah Ayu ketika Samuel menyentuh celana dallam nya.


"Kenapa?"


"Sebaiknya ini di lepas dulu." Menyentuh kain penopang tangan.


"Tidak boleh." Samuel melanjutkan aktifitasnya meskipun Ayu setengah mati merasa malu.


"Lalu membersihkannya bagaimana Bee?"


"Tinggal di bersihkan."


"Tapi.."


"Orang sakit harus menurut dan tidak boleh malu." Sahut Samuel menekan lembut pundak Ayu agar duduk di toilet yang sudah terbuka.


"Berbalik badan dulu." Pinta Ayu lirih.


"Padahal aku sudah sering melihatnya." Samuel membalikkan tubuhnya daripada harus banyak berdebat.

__ADS_1


"Ini kan lain Bee." Ayu mencoba mengeluarkan kotorannya sedikit demi sedikit agar Samuel tidak mendengar gemericik air nya.


"Sudah?"


"Sebentar."


"Lama sekali."


"Sabar dulu Bee. Harus sampai tuntas." Samuel terkekeh melihat pantulan mimik wajah Ayu dari kaca di hadapannya. Sementara Ayu yang terlalu tegang, tidak menyadari itu semua." Sudah." Samuel berbalik badan dan melirik ke paha Ayu yang terlihat merapat.


"Bangun biar ku bersihkan."


"Siram dulu." Ucapnya merengek.


"Astaga." Samuel menombol toilet dan otomatis air keluar bertujuan untuk membersihkan." Ayo berdiri." Perlahan Ayu berdiri. Samuel mengambil shower kecil yang terletak di samping toilet dan membasuh milik Ayu dengan penuh perasaan.


Semoga saja perut ku tidak sakit sampai tanganku sembuh. Memalukan jika harus menyuruh Mas Sam membersihkan itu.


Ayu duduk di salah satu kursi makan, memperhatikan Samuel yang entah sedang menggoreng ikan apa. Aromanya harum. Begitulah pendapat Ayu untuk pertama kali ketika hidungnya bersentuhan dengan aroma si ikan gabus.


Namun ketika Samuel meletakkan ikan goreng di hadapannya. Sontak selera makan Ayu langsung runtuh. Dia mengingat bentuk ikan yang paling di benci. Bertekstur lembek dan berbau amis penuh lendir.


Almarhum Ibunya pernah memasak olahan ikan tersebut tapi sedikitpun Ayu enggan menyentuhnya. Dia lebih memilih makan tempe dan tahu goreng daripada perutnya nanti terasa di aduk-aduk ketika potongan ikan melewati kerongkongannya.


"Ikan a apa Bee?" Tanya Ayu terbata.


"Kalau tidak salah ikan gabus. Katanya baik untuk penyembuhan."


"A aku tidak mau Bee." Sontak Samuel menoleh. Gerakan tangannya tertahan dan memilih meletakkan piringnya lagi.


"Why?"


"Tidak suka."


"Untuk obat Babe. Agar kamu cepat sembuh."


"Iya tapi aku tidak mau. Lebih baik makan nasi putih." Ikan gabus tanpa sambal pedas. Rasanya seperti apa nantinya.


"Aku sudah menggoreng nya untukmu. Makan sedikit saja."


"Tidak mau Bee."


"Coba dulu. Sedikit saja. Suami mu yang membuatnya." Ayu menggelengkan kepalanya pelan seraya berpaling. Dia sungguh tidak ingin menyentuh ikan tersebut." Padahal aku sudah lelah membelinya di pasar lalu mengolahnya. Tapi kamu tidak menghargainya." Ayu masih ingat rasa amis dari ikan tersebut tidak dapat di hilangkan dengan bumbu apapun.


"Obat saja sudah cukup Bee. Aku tidak mau memakannya." Jawab Ayu lirih. Dia melirik ke arah Samuel yang berpura-pura memasang wajah kecewa.


"Hm ya sudah biar ku buang." Ucapan yang terdengar di tekan membuat Ayu tidak sampai hati dan mencegah Samuel dengan memegang lengannya.


"Hanya sedikit. Kalau aku mual jangan di paksa lagi."


"Iya Babe. Biar ku suapi." Samuel mengambil secuil ikan daging ikan gabus yang masih hangat, dia meniup-niupnya sebentar lalu menyodorkannya ke mulut Ayu.


Tarikan nafas berhembus lembut, Ayu membuka mulutnya sedikit untuk menerima suapan ikan dari tangan Samuel.


Ini buatan Suamiku. Ini sangat spesial. Kamu harus percaya bisa memakan ini untuk menghargai kerja kerasnya..


Ayu mengunyahnya pelan. Menikmati empuknya ikan tanpa aroma amis. Tekstur daging ikan begitu kering sebab Samuel menggorengnya dengan api kecil.


"Bagaimana? Enak?" Ayu mengangguk sambil bergumam. Samuel beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil saus sambal yang sudah di masak dan di tambahkan rempah." Aku tidak bisa membuat sambal tapi ini sudah ku olah menjadi lebih pedas." Ada untungnya Samuel hidup berkelana selama satu tahun lebih. Dia memiliki banyak pengalaman yang di dapatkan dari sana.


"Serius Bee. Sausnya enak sekali. Rasanya pahitnya hilang dan manis pedasnya sangat pas."


"Aku asal membuatnya. Katanya kamu suka pedas."


"Iya ini enak." Untuk pertama kalinya Ayu memuji keenakan dari ikan gabus. Apa karena memang tidak amis? Atau itu buah dari keikhlasan Ayu menerima sajian dari Suaminya sehingga ikan yang dulunya di benci kini terasa menggoyang lidah.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2