Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Sisi lain Samuel


__ADS_3

Baru saja mobil Dika terparkir di depan rumah, sebuah taksi terlihat berhenti. Tania keluar dari sana lalu berjalan menghampiri Dika dengan tergesa-gesa.


Plaaaaaakkkkkk!!!


Tamparan keras langsung di hadiahkan. Dika mendengus dan hendak membalas namun dia lebih memilih masuk ke dalam karena tidak ingin para tetangga melihat perdebatannya.


"Tega kamu Dik!!!" Si pembantu mengelus dadanya dan memutuskan untuk tidak ikut campur.


"Dasar wanita sialan! Bagaimana kalau ada yang melihat perbuatan mu tadi!!"


"Kau pantas mendapatkannya! Kau fikir aku seperti wanita bodoh itu yang bisa kau kelabui dengan mudah? Tidak!"


"Ya sudah kita bercerai saja!" Tania tertawa renyah lalu duduk di sofa.


"Wajah wanita itu sudah ku rusak." Sontak Dika membulatkan matanya.


"Wanita mana?"


"Yang membuatmu tidak pulang semalam. Aku sudah menyiramkan cairan kimia di wajahnya hahahaha. Rasakan akibatnya kalau berani menyentuh milikku!!" Segera saja Dika menghubungi kontak Vivian untuk memastikan. Namun tidak ada jawaban sebab ponsel Vivian jatuh di bawah ranjang apartemennya.


"Kau tidak waras!"


"Ya aku tidak waras. Kau itu hanya milikku. Kalau kau berani bermain api di belakang. Aku akan menyakiti partner ranjang mu dan membunuhnya jika itu jalan satu-satunya untuk memisahkan kalian! Camkan itu!!" Dika menddesah lembut lalu cepat-cepat menaiki anak tangga menuju kamar miliknya. Dia berniat mengganti baju dan memeriksa keadaan Vivian yang saat ini sedang di tangani dokter.


Obat penenang terpaksa di suntikkan karena Vivian tidak berhenti berteriak-teriak. Farel mencoba menenangkan perasaan wanita pujaannya namun hanya mendapatkan balasan umpatan kasar.


Siapa yang melakukan ini? Farel memilih keluar ruangan untuk menemui pihak berwajib.


"Bagaimana Pak? Apa bukti CCTV sudah di dapatkan."


"Sayang sekali. Pihak apartemen bilang jika CCTV yang berada di lorong rusak sejak semalam. Tapi tenang saja Pak, kami sudah melayangkan panggilan pada saudara Dika untuk di mintai keterangan."


Tangan Farel mengepal kuat. Rasa cintanya pada Vivian membuatnya tidak rela kalau sampai Vivian mengalami hantaman mental akibat kejadian ini.


Kalau lelaki itu pelakunya! Akan ku buat kau menyesal sudah menyakiti Vivian ku.


🌹🌹🌹


Samuel melirik ke arah ponselnya, ketika sebuah panggilan terdengar. Dia mengurungkan niatnya untuk menghampiri Ayu yang tengah mengeringkan rambut dan memilih menerima panggilan telepon tersebut.


📞📞📞


"Maaf menganggu Tuan. Edo tidak terima atas pemecatannya. Dia marah-marah dan malah menuding keputusannya tidak adil.


"Tidak adil bagaimana?


"Katanya, nominal uang yang di pakai masih terlalu kecil. Seharusnya dia di turunkan jabatan bukan di pecat.


"Katakan jika itu keputusanku.


"Sudah Tuan. Dia bahkan menuding saya mempengaruhi Tuan.


"Tunggu setengah jam lagi. Aku akan ke sana.


📞📞📞


"Ada apa Mas?" Tanya Ayu ingin tahu.


"Ada sedikit masalah di kantor pusat. Aku harus pergi ke sana." Ujar Samuel mengambil jas miliknya dan mengenakannya." Kamu mau ikut? Pulangnya kita makan siang sekalian." Imbuhnya menawarkan.


"Memangnya boleh Mas?"


"Perusahaan itu sudah atas milik mu. Kamu itu Bos yang sesungguhnya." Ayu mengerucutkan bibirnya seraya melanjutkan aktivitas menyisirnya.


"Kalau aku menjadi Bosnya. Perusahaan itu akan hancur dalam satu bulan."

__ADS_1


"Hehe.. Kan ada Bos nomer dua Babe."


"Hanya tersisa baju ini Mas." Ayu menunjukkan kaos berwarna hitam.


"Tidak apa. Pakai itu saja. Jangan berdandan. Aku tidak mau kecantikan mu di nikmati lelaki lain." Ayu menddesah, dia masih beranggapan jika dirinya tidak sesempurna yang Samuel katakan." Baju bersihnya baru di antarkan nanti sore." Imbuhnya menjelaskan.


"Ya Mas. Oke." Tidak pantas sekali. Dia berjas rapi sementara aku..


Ayu mengenakan kaosnya dengan gerakan melambat. Sontak Samuel beralih menatapnya seakan dia bisa merasakan sedikit kekesalan yang bersarang di hati Ayu.


"Aku di rumah saja Mas." Ujar Ayu bergumam hampir tidak terdengar.


"Kenapa? Katakan dengan jujur. Belajar untuk saling terbuka." Samuel berjalan menghampirinya dan keduanya berdiri sejajar di depan kaca lemari.


"Lihat sendiri." Menunjuk ke arah kaca. Samuel menddesah lembut. Dia tahu maksud dari ucapan Ayu." Tidak pantas kan." Ujarnya pelan.


"Apa yang tidak pantas?"


"Ya sudah kalau tidak mengerti. Aku di rumah saja." Segera saja Samuel melepaskan jasnya. Dia berjalan ke lemari untuk mengambil kaos dengan warna sama.


"Sudah ku ganti."


"Itu malah tidak pantas Mas. Bukankah seharusnya aku memakai gaun atau dress untuk pergi ke sana."


"Tidak. Meskipun ada dress atau gaun yang tersisa. Kamu tidak boleh mengenakan itu ketika di luar."


"Kenapa?"


"Tentu saja aku tidak rela Babe. Itu juga untuk menjagamu dari mata nakal lelaki." Ayu tersenyum. Kembali mengingat perkataan Ayahnya saat dirinya berprotes tentang cara berpakaian yang membosankan." Sudah setara kan?" Samuel kembali menghampiri Ayu dan berdiri di sampingnya.


"Satu lagi."


"Apa? Katakan?"


"Dia ada di sana?"


"Iya sudah."


"Kita pergi sekarang."


Ayu mengangguk seraya tersenyum. Kebahagiaan yang sulit di ungkapkan dengan kata-kata. Bukan hanya kebahagiaan batin yang di dapatkan. Tapi Samuel memberikan berbagai kemudahan untuk hidupnya.


Sepuluh menit kemudian, mobil Samuel berbelok ke sebuah bangunan menjulang tinggi yang di kelilingi pagar kokoh.


Saat kedua turun. Satpam lobby mengerutkan keningnya melihat baju santai yang di kenakan Samuel begitupun Ayu.


"Siang Pak." Sapanya ramah.


"Ya siang." Ayu menoleh, memperhatikan wajah dingin yang di perlihatkan Samuel ketika para staf menyapanya sopan. Namun mimik wajahnya kembali teduh saat sorot matanya beralih menatap ke arah Ayu.


Kenapa mimik wajah Mas Sam begitu? Apa masalahnya sangat besar.


Ayu belum mengetahui tentang sosok Samuel sesungguhnya. Jika dirinya sudah bergelut dengan masalah perusahaan, senyum jarang di perlihatkan. Samuel di kenal sebagai Bos dingin berhati lembut. Dia sering membantu para stafnya yang mungkin terlibat masalah uang. Syarat untuk mendapatkan itu hanya satu, yaitu kejujuran.


Setelah mengetahui kedatangan Samuel. Dimas beranjak dari ruangannya untuk memanggil Edo yang ada di ruangan lain.


Ayu melongok, ketika dirinya di giring masuk ke ruangan pribadi Samuel. Bukan hanya berfasilitas lengkap, tapi banyak penghargaan terpajang rapi di etalase dan dinding.


Aku semakin terlihat bodoh. Di kamarnya sudah banyak penghargaan dan di sini? Dia lelaki hebat.


"Berjanji padaku." Tiba-tiba saja Samuel berkata demikian ketika Ayu baru menempelkan bokongnya di sofa.


"Berjanji apa?"


"Duduk manis di sini. Makan cemilan dan jangan hiraukan tentang apa yang terjadi di hadapan mu nanti."

__ADS_1


"Serius sekali Mas. Masalahnya sangat besar ya?" Samuel menghembuskan nafas berat. Emosinya sudah sedikit tidak stabil ketika dirinya di hadapkan dengan ketidakjujuran.


"Hanya masalah kecil tapi sedikit sangat menganggu."


Tok.. Tok.. Tok..


"Mereka datang. Ingat untuk diam saja." Samuel mengusap lembut puncak kepala Ayu lalu mengecupnya sebentar.


"Iya Mas."


"Bagus." Samuel menegakkan tubuhnya dan berjalan menuju kursi kebesarannya." Masuk!" Ayu kembali di buat melongok dengan suara buruk yang terdengar.


Apa yang terjadi? Mas Samuel kelihatannya sangat marah?


Pintu ruangan terbuka. Dimas dan Edo masuk dan langsung di persilahkan duduk oleh Samuel.


"Maaf Pak Sam. Saya tidak terima dengan pemecatan ini. Sudah hampir tujuh tahun saya sudah mengabdikan diri untuk perusahaan ini, tapi kenapa berakhir dengan pemecatan."


Tak!


Samuel meletakkan map berwarna biru seraya menghembuskan nafas berat.


"Saya sudah tahu kesalahan saya." Edo tertunduk seraya menatap map yang berisi laporan keuangan.


"Lalu? Kenapa kau tidak menerima keputusan ini?" Samuel masih berusaha memelankan nada bicaranya karena sadar akan keberadaan Ayu.


"Saya akan mengganti uang tersebut Pak. Tapi tolong jangan pecat saya. Ini tidak adil mengingat pengabdian yang sudah saya berikan."


"Ini bukan masalah uangnya! Kau tahu!" Samuel berdiri lalu meletakkan cek di hadapan Edo." Tulis nominal yang kau inginkan. Aku akan membayar pengabdian mu tapi cepat pergi dari perusahaan ku! Lebih baik aku memperkerjakan orang bodoh tapi jujur daripada manusia pembohong seperti mu!!" Tunjuknya kasar.


"Saya tidak mau Pak. Saya memakai uang itu untuk membayar biaya operasi Ibu saya."


"Itu bukan alasan Edo!!" Ayu menelan salivanya kasar. Dia baru melihat kemarahan Samuel yang sesungguhnya." Kau bisa berkata jujur padaku! Itu lebih baik daripada kau mengambil uang perusahaan dengan cara sembunyi-sembunyi!" Edo tertunduk. Dia sangat menyesali perbuatannya sebab sebenarnya uang hasil mencuri di berikan pada Istri keduanya.


"Maafkan saya Pak Sam. Tolong jangan pecat saya."


"Bukankah kau mengenal cara kerjaku dengan baik. Tulis nominal yang harus ku bayar dan pergi dari sini!" Edo mulai terisak, berharap Samuel luluh hatinya. Dia tidak ingin kehilangan fasilitas perusahaan termasuk rumah dan mobil juga uang tunjangan lainnya. Edo sadar, di umurnya yang sudah hampir 40 tahun, tidak akan mudah untuk mendapatkan perkerjaan dengan gaji tinggi.


"Sebaiknya di pertimbangkan Mas." Sahut Ayu merasa iba. Edo tersenyum sebentar seraya melirik ke Ayu yang mulai berjalan mendekat.


"Kamu melanggar aturan ku Babe. Bukankah aku berkata untuk tetap berada di sana." Meskipun ucapan itu terlontar. Tangannya menyambut mesra kedatangan Ayu.


"Tadi dia sudah bilang kalau uangnya untuk biaya pengobatan Ibunya." Samuel tersenyum begitupun Dimas. Ayu masih terlalu polos untuk mengerti keadaan seperti sekarang.


Semoga saja Istri Pak Sam bisa menolong ku..


"Jangan mudah percaya dengan lidah yang tidak memiliki tulang." Ayu memutar tubuhnya ke arah Edo. Mimik wajah yang di perlihatkan hampir sama ketika dirinya mengintrogasi Dika saat pulang tidak tepat waktu.


"Di rumah sakit mana Ibu anda di rawat Pak."


"Rumah sakit SEJAHTERA Nona."


"Boleh kami ke sana?" Sontak mimik wajah Edo berubah panik. Samuel yang melihat itu hanya menddesah lembut. Dia percaya jika kebohongan yang terlontar satu kali saja, pasti kebohongan itu untuk menutupi kebohongan lainnya.


"Beliau sudah pulang Nona."


"Meskipun sudah pulang, pasti ada surat atau bukti yang bisa menunjukkan kalau Ibu Bapak pernah di rawat."


Walaupun lambat untuk menyadari. Istriku cukup peka melihat kebohongan yang sudah bisa terbaca pada mimik wajahnya.


"Saya lupa meletakkannya di mana."


"Bukan lupa, tapi memang tidak ada." Sahut Ayu tegas. Dia meraih cek lalu meletakkannya kembali ke dalam laci." Sebaiknya beri pesangon sesuai aturan saja Mas. Kebohongan tidak patut di berikan penghargaan." Imbuh Ayu berjalan ke arah sofa. Dia memutuskan untuk tidak ikut campur karena Edo tidak layak di tolong.


"Seret dia keluar. Siapkan pesangon sesuai dengan surat kontrak kerja. Aku tidak ingin melihat wajahnya besok." Dimas mengangguk patuh lalu menyeret paksa Edo untuk keluar dari ruangan.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2