
Di dalam mobil, Ayu terlihat sibuk melihat-lihat video seraya sesekali bersenandung. Hari ini Samuel akan mengajaknya menghadiri pertemuan di luar.
Dia tidak ingin meninggalkan Ayu sendirian di rumah tapi pertemuan juga tidak dapat di tunda. Para tamunya akan pergi siang ini karena kesibukan yang padat.
"Nanti tidak apa kan kalau kamu duduk di meja berbeda?"
"Tadi kan sudah di bicarakan Bee."
"Hm." Samuel mematikan mesin lalu memutar tubuhnya untuk mengambil sweater di jog belakang." Pakai ini agar yang di dalam tetap terjaga." Samuel mengambil ponsel dari tangan Ayu untuk membantunya memakai sweater yang sudah di siapkan.
"Ini sudah sopan Bee."
"Bagaimana lagi kalau aku masih tidak ikhlas. Kamu hanya milikku." Ayu tersenyum bahkan tidak membantu ketika Samuel kesulitan memakaikannya sweater.
"Kamu posesif sekali Bee."
"Tidak suka?"
"Asal setia aku tidak masalah."
"Anak pintar." Samuel menelungkup wajah Ayu lalu melummat bibirnya beberapa kali." Tunggu di situ. Ku bukakan pintu." Samuel turun lebih dulu lalu membukakan pintu mobil.
Di dalam restoran terlihat relasi Samuel sudah lebih dulu tiba di temani Dimas. Samuel tidak melontarkan sapaan dan lebih mendahulukan mencarikan tempat yang tepat untuk Ayu.
Beruntung sebuah meja yang terletak di belakang mejanya terlihat kosong. Dia mengiring Ayu duduk di sana, memesan beberapa menu makanan agar nantinya Ayu tidak jenuh ketika menunggu.
"Tinggal menunggu pesanan." Ucap Samuel dengan tatapan begitu dalam seakan dunia hanya berporos pada Istrinya.
"Sebenarnya aku bisa pesan sendiri."
"Sudahlah. Aku ada di sana." Menunjuk ke arah Dimas. Ayu menghela nafas lembut seraya tersenyum. Samuel memperlakukannya seakan dirinya anak kecil yang perlu penjagaan ekstrak.
"Iya Bee." Samuel mengusap puncak kepalanya lalu mengecupnya sejenak sebelum akhirnya berjalan menghampiri Dimas dan para relasinya. Gara-gara kejadian kemarin. Dia menjadi lebih menggelikan. Dia fikir aku anak kecil yang tidak bisa memesan makanan sendiri. Ahh aku berdosa. Dia memakai kaos sementara relasinya memakai jas.
"Silahkan Kak." Ucap waiters menyajikan beberapa menu makanan. Ayu tersenyum lalu beralih menatap Samuel yang mulai memasang wajah serius karena pembicaraan sedang berlangsung.
"Porsinya besar sekali Kak." Gumam Ayu memperhatikan menu yang mengunggah selera.
"Pesanan memang yang doubel Kak. Permisi."
Tentu saja Suamiku menginginkan aku menghabiskan ini semua. Tapi.. Emmm sepertinya enak.
Ayu menggeser satu menu makanan. Dia menyendok lalu memasukkannya ke dalam mulut. Sesuai selera, menggoyang lidah dan sangat sedap penuh bumbu.
Hidupku berubah indah hehe. Ayah selalu saja membelikan makanan sesuai seleraku. Mirip dengannya..
Samuel melirik sebentar lalu tersenyum ketika melihat raut wajah Ayu tengah menikmati sajian pesanannya.
__ADS_1
Mudah sekali membuatnya bahagia..
"Tuan." Suara Dimas membuat Samuel tersadar lalu kembali melanjutkan pembicaraan.
Ketika Samuel sibuk menjelaskan konsep, dia tidak menyadari keberadaan Alan yang tengah berjalan ke arah Ayu. Sementara Alan sendiri mengira jika Ayu tengah menikmati makan siangnya sendiri.
"Ayu." Sontak Ayu mendongak lalu menelan makanannya kasar. Mulut yang penuh makanan sulit membuatnya berbicara untuk mencegah Alan tidak duduk di sampingnya." Kebetulan sekali. Aku juga sedang makan siang dan kita bertemu di sini." Imbuh Alan memandangi Ayu yang semakin terlihat menggemaskan.
"Jangan duduk di situ Mas." Ayu menggeser kursinya sampai menimbulkan decitan. Samuel menoleh dan seketika wajahnya berubah garang.
Sayang sekali dia tidak dapat beranjak karena presentasi nya akan terhenti dan mengulang dari awal. Apalagi pembicaraan sudah berjalan menuju tahap terpenting, sehingga sebisa mungkin Samuel mencoba menahan diri. Dia yakin jika Ayu sanggup mengatasi semuanya untuk bertahan sebentar.
"Kamu membenciku setelah bertemu Elis."
"Itu tidak penting. Terserah kau mau mengatur hidupmu seperti apa." Jawab Ayu ketus.
"Aku ingin hidup bersama mu. Bagaimana rasanya? Ku pastikan akan bahagia." Masih saja Alan tidak berhenti bersikap gila. Keinginan untuk memiliki Ayu lebih menggebu ketika keduanya saling bertatap muka seperti sekarang. Karena terlalu fokus menatap Ayu, sehingga Alan tidak menyadari akan keberadaan Dimas di sana.
"Jangan main-main kamu Mas!" Dengan terpaksa Ayu meletakkan sendok kasar. Dia merasa sangat terganggu dengan kehadiran Alan.
"Aku serius Ayu. Sekarang perusahaan ku juga sudah berkembang. Aku akan membelikan mu rumah lebih besar dari milik Suami mu."
"Benar-benar gila. Ternyata kau lebih tidak waras daripada Dika. Kau sudah punya Mita dan aku Istri seseorang. Bagaimana mungkin kau mengatakan itu dengan sangat santai. Ingat sama Mila Mas. Kasihan dia." Alan terkekeh sambil terus menatap ke bibir Ayu yang terus berceloteh. Ingin rasanya dia membungkam bibir itu dengan bibirnya. Melahapnya dengan sangat ganas agar dia tidak lagi merasa penasaran akan rasa manisnya.
"Fantasi ku hanya untuk mu. Otakku sudah di penuhi olehmu sejak awal. Apa mungkin aku bisa fokus pada hidupku sendiri ketika nyatanya wanita yang ku gilai sangat membuatku berhasrat." Ayu menyiratkan es jeruk tepat ke wajah Alan. Dia berdiri sambil membereskan barang miliknya dan memutuskan untuk pergi." Aku tidak akan marah meskipun kau meludahi ku." Seharusnya Alan membiarkan Ayu pergi tapi kegilaan yang berkecamuk membuatnya tidak tahan dan terpaksa melakukan hal sedikit ekstrim
Suasana berubah ricuh. Samuel menendang-nendang tubuh Alan beberapa kali dengan wajah merah padam. Bagaimana tidak marah ketika dia melihat sendiri Alan berusaha menyentuh Ayu dengan kecurangannya.
Tepat di saat sebuah kursi akan di lempar ke Alan, Ayu mencegahnya dengan cara memeluk erat tubuh Samuel seraya memegangi lengan yang sudah terangkat.
"Tidak Bee. Dia akan mati!" Tubuh Ayu sedikit bergetar dengan mata mulai berkaca-kaca. Dia sendiri merasa terkejut dengan perbuatan Alan yang dengan tega menariknya untuk sebuah ciuman.
"Akan lebih baik jika dia mati!!" Jawab Samuel berteriak nyaring. Tangannya terayun namun Dimas memegangi kursinya kuat.
"Tuan saya mohon. Lihatlah, Nona Ayu menangis." Samuel menunduk dan baru menyadari wajah Ayu yang berubah ketakutan akibat ulahnya. Perlahan, dia menurunkan kursi dari tangannya lalu membalas pelukan Ayu.
Bukankah dia Pak Dimas? Lalu kenapa dia memanggil Samuel dengan sebutan Tuan?
Beberapa waiters berjalan ke arah Alan untuk membantunya berdiri. Tapi Alan tidak menerima bantuan tersebut karena merasa jika apa yang di lakukan Samuel tidak sesakit ketika dirinya melihat Ayu bersama lelaki lain.
"Seharusnya kau tidak langsung menyerang ku agar kita bisa berduel dengan seimbang." Dengan bodohnya Alan malah melontarkan ucapan tersebut padahal jelas dia berusaha melakukan pelecehan pada Ayu.
"Ya ayo kita lakukan. Jangan salahkan aku jika kau akan mati di tanganku nantinya!!" Jawab Samuel tegas. Tangan kirinya menunjuk kasar ke arah Alan dengan nafas terbuang kasar karena setengah mati menahan emosi.
"Jangan berbicara bodoh Pak Alan. Hidup anda berada di tangan Tuan saya." Sahut Dimas menimpali.
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Sebaiknya anda membaca dengan baik isi dari surat kontrak perjanjian yang anda tanda tangani satu Minggu lalu. Di sana sudah di jelaskan kalau perusahaan anda akan sepenuhnya menjadi milik Tuan Samuel jika sampai anda berani menyentuh Nona Ayu."
Terdengar gila, tapi memang itulah isi surat perjanjian. Dimas sengaja membubuhkan aturan itu di dalamnya.
"Dan Tuan Samuel berhak mencabut kapanpun saham yang sudah di tanam. Jika Pak Alan masih ingin hidup layak. Saya mohon berhenti untuk melakukan sesuatu yang nantinya akan merugikan Bapak sendiri." Para relasi Samuel mengangguk-angguk, sedikit terkejut dengan sebuah perjanjian yang seharusnya tidak melibatkan masalah pribadi. Namun setelah melihat Alan berusaha melecehkan Ayu, membuat para relasi sedikit membenarkan perbuatan Samuel.
"Perjanjian macam apa itu!!" Tubuh Alan seketika lemah. Mendengar kenyataan jika perusahaan berada di dalam genggaman Samuel." Seharusnya tidak boleh melibatkan masalah pribadi seperti ini!" Imbuhnya tidak terima.
"Nyatanya kau menandatanganinya bodoh!!!" Jawab Samuel kasar.
"Karena aku tidak tahu!!"
"Seharusnya Pak Alan bisa lebih teliti. Saya sudah menuliskan itu di sana dan Pak Alan langsung setuju karena terlalu bernaffsu." Alan mendengus tanpa bisa berkata apapun.
"Kau makan dan hidup dengan uangku! Seharusnya kau membalas budi. Tapi kau malah akan melecehkan Istriku! Kau mau mendekam di penjara! Katakan! Dalam waktu 24 jam hidupmu akan berubah menjadi sangat buruk saat kau menjawabnya dengan kata iya!!"
Sialan!!
Dengan tubuh sempoyongan Alan berjalan keluar restoran. Samuel menghela nafas panjang. Emosinya masih meluap-luap ketika bayangan kejadian tadi melintas.
"Aku tidak bisa melanjutkan pertemuan." Ucapnya terdengar di tekan. Tangan kanannya mendekap pundak Ayu dengan sangat erat.
"Biar saya urus Tuan. Maaf atas kejadian tadi."
"Bukan salahmu. Kamu bisa berjalan sendiri Babe."
"Hm aku baik." Samuel kembali menarik nafas panjang lagi dan lagi. Dia mengangkat tubuh Ayu lalu berjalan ke para relasi yang masih menunggunya." Saya tidak bisa melanjutkan pertemuan. Kalau kerja sama gagal, saya tidak masalah. Maaf. Em Dimas, tolong bawa ponsel dan juga dompetku. Aku tunggu di mobil." Ucapnya setengah berteriak lalu berjalan keluar restoran.
"Bagaimana dengan kerusakan restoran Kak." Ucap salah satu waiters. Dimas mengeluarkan kartu nama lalu menyodorkannya.
"Hubungi nomer ini. Saya akan mengurus biaya kerugian."
"Baik Kak." Dengan setengah berlari Dimas mengantarkan barang milik Ayu dan Samuel yang masih tertinggal. Setelah itu, dia kembali masuk dan menemui para relasi.
"Saya minta maaf atas kejadian tadi. Anda harus melihat sesuatu yang tidak pantas. Em sesuai dengan perkataan Tuan Sam. Kalau kerja sama ini gagal saya akan membereskan berkasnya sekarang juga. Tapi kalau anda masih ingin berkerja sama, biarkan saya melanjutkan presentase nya. Untuk urusan tanda tangan, saya pastikan akan memintanya pada Tuan Sam."
"Saya juga akan melakukan hal yang sama kalau Istri saya di lecehkan." Dimas mengangguk-angguk seraya tersenyum. Dia yakin nama baik Tuannya akan tetap terjaga.
"Terimakasih atas pengertiannya Pak."
"Ternyata Pak Sam sangat pencemburu sampai-sampai dia menambahkan urusan pribadi pada surat kontrak perjanjian." Dimas kembali duduk untuk melanjutkan presentase yang tertunda.
"Istri Tuan saya sangat spesial. Banyak lelaki gila yang menginginkan hubungan mereka hancur."
"Astaga. Rasanya Pak Sam harus ekstra dalam menjaganya."
"Hm iya. Bisa saya lanjutkan." Para relasi mengangguk. Kejadian buruk tadi tidak akan menggeser cara pandang mereka terhadap sosok Samuel yang di kenal bijaksana.
__ADS_1
🌹🌹🌹