
"Apapun alasannya, saya merasa di jebak!" Teriak Dika menunjuk dadanya.
Dari sikap yang di perlihatkan. Pak Wira sudah bisa menebak jika Dika lelaki yang tidak ingin di salahkan.
"Hm terserah Pak. Em saya hanya akan menjelaskan. Kalau Tania memiliki gangguan mental ketika dia sudah menyukai seseorang. Dia akan kehilangan kewarasan apalagi kalau Pak Dika berusaha meninggalkan nya."
Sontak Dika menoleh dengan mata membulat. Dia semakin menyesal atas pilihan sudah meninggalkan Ayu untuk seorang wanita yang memiliki gangguan mental.
"Kenapa tidak di bawa ke rumah sakit jiwa saja."
"Sudah pernah saya lakukan."
"Lalu?"
"Mereka bilang Tania tidak gila."
"Kenapa bisa begitu?"
"Tania pintar menyembunyikan semuanya."
"Mana ada seperti itu Pak. Namanya gila ya gila! Bagaimana mungkin tidak bisa di sembunyikan?" Pak Wira melirik kedatangan Leo yang terlihat baru saja memasuki restoran.
"Sebentar Pak. Untuk membuktikan semuanya. Saya sudah mengudang Leo." Menunjuk ke arah Leo. Dika menoleh lalu memperhatikan Leo dari atas sampai bawah.
"Siapa Leo?"
"Saya mantan kekasih Tania." Jawab Leo tersenyum dan mengulurkan tangannya namun Dika tidak menyambutnya, sehingga membuat Leo memutuskan untuk duduk.
"Sebenarnya, tujuan Pak Wira itu apa?" Tanya Dika bingung.
"Saya hanya memperingatkan Pak. Silahkan tanyakan pada Leo. Kegilaan apa saja yang sudah di lakukan ketika kata perpisahan di ucapkan."
"Dia melukai adik dan Ibu saya sampai-sampai mereka terpaksa saya sembunyikan." Dika menelan salivanya kasar dengan raut wajah menegang.
"Tania melakukan itu?"
"Hm ya Tuan. Dia cemburu pada Adik dan Ibu saya. Itu kenapa saya ingin mengakhiri hubungan tapi dia menolak dan malah meneror saya dengan berbagai cara. Saya sudah pernah membuat laporan. Namun pihak berwajib tidak menemukan bukti sehingga dia masih bebas berkeliaran."
Dika membuang nafas kasar, dia mengingat kejadian saat Tania marah ketika Bu Erna duduk berdekatan dengannya. Itu kecemburuan yang sangat aneh dan ganjil sebab Bu Erna merupakan Ibu kandungnya.
.
.
.
Setelah pertemuannya dengan Leo dan Pak Wira, Dika langsung melajukan mobilnya menuju kediaman Bu Erna. Tujuannya tidak lain ingin memberikan peringatan dan pengertian kalau sebaiknya Bu Erna tidak sering datang ke rumah.
__ADS_1
Setibanya di sana, kedatangan Dika di sambut oleh Bu Erna yang kebetulan tengah menyapu halaman rumah.
"Loh kamu tidak kerja Dik."
"Masuk dulu Ma. Aku ingin bicara sesuatu." Dika meraih lengan Bu Erna lalu mengiringnya masuk. Keduanya duduk berjajar di ruang tamu.
"Ada apa sih Dik? Kenapa wajahmu tegang begitu."
"Tania Ma. Aku baru mengetahui fakta mengerikan soal dia." Jawab Dika dengan wajah panik.
"Fakta apa?"
"Dia wanita tidak waras! Itu kenapa dia bersikap seperti itu pada Mama."
"Kamu itu bicara apa Dik?"
"Aku ke sini untuk memberitahu Mama untuk tidak sering datang ke rumah."
"Kok begitu?" Bu Erna tentu merasa bingung dengan permintaan Dika.
"Dia akan cemburu dan tidak segan-segan melukai Mama."
"Terus? Mama tidak boleh ke rumahmu? Apa begitu maksudmu?"
"Iya. Untuk sementara waktu. Aku akan mencari cara untuk menceraikannya." Sontak mata Bu Erna membulat. Tentu saja dia tidak setuju dengan keinginan Dika untuk bercerai mengingat pernikahan mereka baru saja terjadi beberapa hari lalu.
"Dia itu gila Ma. Membahayakan untuk kita."
"Ya terima resikonya. Bukankah dia wanita pilihanmu? Kalian juga sudah melakukan itu bersama kan. Mama juga tidak percaya kalau dia gila!!"
"Aku tadi bertemu mantan kekasihnya. Dia menjelaskan kegilaan Tania yang hampir melukai adik dan Ibunya."
Bisa malu aku kalau sampai Dika bercerai lagi?
"Sudah ku bilang Ma. Aku masih mencintai Ayunda."
"Tutup mulutmu! Dia itu sudah bukan Istrimu lagi. Kalau memang Tania cemburu pada Mama. Ya sudah! Mama tidak akan berkunjung tapi jangan melupakan kewajiban mu untuk memberikan jatah bulanan pada Mama."
Selalu saja Bu Erna memilih jalan asal-asalan. Dia tidak ingin di repot kan apalagi kembali di permalukan atas kelakuan Dika.
"Mana bisa Ma."
"Itu pilihanmu."
Dika membuang nafas kasar kemudian berdiri. Dia berharap mendapat dukungan atau ide untuk bisa terlepas dari Tania. Namun ternyata Bu Erna kembali menunjukkan sikap acuhnya pada permasalahan anaknya.
"Ya. Aku akan fikirkan jalan keluarnya sendiri. Aku harus kembali berkerja. Kalau butuh apa-apa, Mama telepon aku saja, jangan datang ke rumah."
__ADS_1
"Hm hati-hati di jalan." Bu Erna menatap kepergian Dika dengan wajah kesal." Cerai lagi? Awas saja kalau sampai dia kembali berulah." Bukan hanya Pak Wira saja yang merasa terpukul. Bu Erna juga merasakan hal yang sama ketika mendapatkan kabar kalau Dika di gerebek para warga. Namun setelah tahu Tania adalah anak Pak Wira, orang yang di fikirnya pemilik perusahaan. Bu Erna tentu tidak menginginkan kalau pernikahan Dika hancur.
🌹🌹🌹
Sesaat, Ayu memasang wajah datar ketika dia melihat dekorasi kamar pengantin di hadapannya. Hati dan perasaan yang belum siap, menimbulkan rasa muak juga kesal.
Namun ketika wajah itu mendongak ke arah Samuel, sebuah senyuman mencoba di suguhkan. Dia merasa jika Samuel tidak layak menerima dampak dari kegagalan pernikahan yang menghantam rumah tangganya.
"Kamu mempersiapkan semuanya Mas." Tanya Ayu seakan terkesan.
"Iya. Kamu suka?"
"Hm. Suka tapi..." Aku tidak biasa berbohong dan berpura-pura bahagia.
"Tapi apa?"
"Mungkin rasanya akan lebih menyenangkan jika kita melakukan pernikahan dengan jarak yang cukup aman. Seperti, menungguku siap untuk kembali membuka lembaran baru." Samuel tersenyum lalu berjalan mendahului Ayu untuk membuka jendela dan pintu teras. Ini yang ku takutkan..
Ayu merasa jika kediaman Samuel adalah bentuk kekecewaannya. Sementara Ayu selalu mengingat ucapan terakhir mendiang orang tuanya untuk patuh dan tidak melawan permintaan Suami.
Walaupun almarhum Ibu Ayu melontarkan kekhawatirannya. Tapi beliau sempat berpesan untuk lebih sabar ketika menjalani bahtera rumah tangga. Anggap mertuamu sebagai orang tuamu sendiri meskipun mungkin mereka tidak memperlakukan mu dengan baik. Lambat laun, kebaikan itu yang akan merubah pola fikir mereka.
Bu Erna menjadi satu-satunya alasan Ibu Ayu melontarkan peringatan tersebut. Sejak pertemuan pertama, keluarga kecil Ayu bisa menilai jika Bu Erna bukanlah orang tua yang mampu mengayomi.
Apa kamu melihat ini Ma? Aku sudah menjalankan semua yang Mama ucapkan. Tapi hari ini, bukan lelaki itu yang ada di hadapanku, melainkan lelaki yang baru ku kenal satu Minggu yang lalu..
Tak sengaja, Ayu menghembuskan nafas berat untuk mengeluarkan semua perasaan yang mengganjal. Dia ingin segera terbebas agar rumah tangganya kali ini baik-baik saja.
"Memikirkan apa?" Tepukan tangan Samuel membuat Ayu menegakkan pandangannya.
"Sedang berusaha menerima kenyataan." Jawabnya tersenyum simpul.
"Sambil memikirkan itu. Ganti bajumu dulu." Menyodorkan paper bag." Setelah ini kita akan makan siang di tempat yang pasti akan membuat perasaan mu membaik." Imbuh Samuel menjelaskan.
Apa setelah perasaanku membaik, dia akan meminta jatah malam keduanya. Ah... Apa aku berpura-pura saja tidak enak badan agar dia nanti menebak kalau aku sedang hamil. Tidak! Aku tidak mau mengandung anak haram!!
"Apa tempatnya dekat Mas?" Semoga saja tempatnya jauh agar aku bisa berpura-pura ketiduran.
"Dekat sini. Kita bisa berjalan kaki untuk datang ke sana." Ayu tersenyum aneh lalu membuka paper bag yang berisi baju untuknya.
"Oh ya sudah Mas. Em aku ganti baju dulu."
Tanpa melihat, Ayu berlalu pergi masuk ke dalam kamar mandi. Samuel menarik nafas panjang dan membuangnya kasar. Sejatinya rasa cemburu sudah bergejolak sejak tadi. Ingin sekali dia menendang cepat ingatan Ayu tentang masa lalu kelamnya namun dia tahu itu tidak akan mudah.
"Ini resiko yang harus ku tanggung. Kau berharap apa Sam? Aku hanya berharap, semoga Tuhan menambah kesabaran ku." Samuel membuka kulkas kecil lalu mengambil minuman ringan dan duduk lemah untuk menunggu Ayu selesai.
🌹🌹🌹
__ADS_1