
Sepulang Pak Wira dari kantor pusat. Dia bergegas berjalan menuju gudang untuk menegur Dika agar bisa lebih menjaga sikap.
Namun kenyataan yang terlihat di hadapannya sungguh membuatnya geram. Jelas terlihat jika Dika mencoba merayu para pegawai berparas cantik dengan body aduhai.
Pak Wira sadar kalau kemarahan Tania tidak sepenuhnya salah. Apalagi Tania sedang mengandung anak Dika yang seharusnya mendapatkan perhatian lebih bukan pengkhianatan.
"Dika!!" Teriak Pak Wira dengan wajah geram. Sontak Dika menoleh dengan wajah gugup. Segera saja Dika menghampiri Pak Dika yang tengah menunggunya di ambang pintu gudang.
"Ada apa Pak." Tanya Dika ketus. Dia sangat membenci lelaki yang merupakan mertuanya itu.
"Ikut ke ruangan ku." Pinta Pak Wira tegas. Dika terpaksa mengekor daripada harus berdebat di tengah para gadis yang menjadi incarannya.
Setibanya di ruangan. Pak Wira mengunci ruangan sambil menghembuskan nafas berat untuk meredam emosi.
"Ada apa Pak." Tanya Dika santai seakan tidak merasa bersalah atas perbuatannya.
"Kenapa kau tidak menjaga jarak dengan wanita wanita itu? Bukankah kau tahu kalau perbuatan mu akan memicu pertengkaran?"
"Aku tidak pernah berbohong Pak. Aku sudah mengatakan kekecewaan ku pada penampilan Tania sekarang. Sangat menjijikan. Bapak tahu kan bagaimana buruknya wajahnya itu!!"
Perawatan yang di lakukan Tania tidak sanggup mengubah wajahnya menjadi secantik dulu. Banyaknya uang yang di keluarkan malah membuat wajah Tania rusak akibat over perawatan.
"Kau sadar apa yang kau bicarakan!"
"Sangat sadar. Seharusnya dia menuruti perintah ku untuk mengugurkan janin itu. Sudah saya katakan kalau mengandung itu hanya akan membuat tubuhnya rusak."
Dika sudah melakukan berbagai cara untuk menyingkirkan janin yang di kandung Tania. Namun cara itu selalu saja gagal sebab Tania lebih pintar daripada dirinya.
"Dia itu anakmu Dika! Darah daging mu!!"
"Tapi aku membenci wanita hamil jadi kalau aku mencari kesenangan lain, jangan salahkan aku!!"
"Lakukan kalau kau ingin kehilangan perkerjaan!" Dika menghembuskan nafas berat. Dia sudah bosan dengan ancaman tersebut.
"Terserah! Pecat saja! Aku juga tidak menginginkan perkerjaan ini juga anakmu yang buruk rupa itu!!" Umpat Dika bergegas berdiri dan meninggalkan ruangan.
Pak Wira terduduk lemah. Rasanya dia sudah tidak sanggup harus bertahan di tengah ombak yang menghantam. Seharusnya di masa tuanya. Tania bisa memberikan sedikit kebahagiaan dalam bentuk Cucu atau kehidupan harmonis bersama sang Suami. Tapi rasanya itu hanya sanggup Pak Wira mimpikan sebab lagi lagi dia di hadapkan dengan permasalahan akibat kegilaan Tania.
🌹🌹🌹
"Maaf Tuan. Saya ingin membicarakan beberapa hal dengan Nona Ayu." Ucap Dimas mencegah kepergian Samuel.
"Soal apa?" Tanya Ayu pelan.
"Istri Pak Dika kerapkali membuat onar di area perusahaan. Selama satu Minggu ini, saya sering mendapatkan laporan itu karena para karyawan merasa terganggu. Em bukankah sebaiknya Pak Dika di keluarkan saja."
Samuel hanya mengangguk. Dia juga tidak memiliki kuasa. Hanya Ayu satu-satunya orang yang berhak memutuskan.
"Apa dia akan mendapatkan perkerjaan setelah keluar dari perusahaan?"
"Sulit Babe. Catatan hitam sudah di kantongi para relasi ku akibat kebodohannya tempo hari." Ayu menghela nafas panjang. Dia masih memikirkan bagaimana nasib janin Tania jika sampai Dika tidak berkerja.
"Mungkin ada perusahaan kecil yang tidak melihat kejadian kemarin?" Ayu berusaha memberikan perhatian pada calon anak Dika dengan caranya dan berharap Tuhan bisa segera menghadirkan malaikat kecil di rahimnya.
"Aku tidak tahu. Tidak akan ada perusahaan yang mau memperkerjakan seseorang yang bisa menjadi pengkhianat. Itu kenapa ketika ada seorang direktur ketahuan berselingkuh, perusahaan itu akan memecatnya sebab dia saja bisa tega membohongi keluarganya. Lalu bagaimana dengan perusahaan? Orang seperti itu sudah tidak layak di pekerjakan." Jawab Samuel menjelaskan.
"Aku hanya kasihan pada si jabang bayi."
"Tapi banyak yang tidak nyaman dengan ulah Istrinya Nona." Ayu terdiam sesaat. Walaupun dia tidak tahu menahu dengan masalah bisnis tapi tidak seharusnya dia merugikan orang lain lain demi mempertahankan satu nama.
"Beri pesangon yang cukup untuk membangun usaha."
__ADS_1
"Jadi saya boleh memecatnya?"
"Sangat egois jika saya harus mempertahankan seseorang yang tidak penting dalam perusahaan." Jawab Ayu sopan.
"Terimakasih Nona. Sesuai perintah, saya akan memberikan pesangon cukup agar nantinya Pak Dika bisa membangun usaha kecil."
"Sama-sama."
"Sudah selesai?" Samuel berdiri di ikuti oleh Ayu.
"Sudah Tuan."
"Hm." Ayu tersenyum sejenak sebelum akhirnya mengikuti langkah Samuel keluar ruangan. Keduanya berniat untuk langsung pulang karena ingin menyalurkan hasrat yang tertunda selama satu Minggu." Lihat bagaimana cara Tuhan memutar kehidupan kita." Ayu kembali menghela nafas panjang. Keberuntungan baginya bisa melihat bagaimana karma berjalan ke arah seseorang yang dulunya pernah singgah di hidupnya.
"Tidak baik menyimpan dendam Bee."
"Itu kenapa Tuhan menjatuhkannya begitu buruk. Dia tahu kalau kamu tidak akan membalas perbuatannya."
"Aku harap dia bisa belajar dari sana."
"Keterlaluan sekali kalau dia tidak bisa belajar dari perbuatannya sendiri."
"Terkadang butuh kematian untuk bisa menyadarkan seseorang. Aku harap itu tidak terjadi dengannya."
"Hm semoga saja." Samuel mengakhiri pembicaraan. Sebenarnya dia tidak suka kalau Dika masih berada di sekelilingnya. Tapi apalah daya, kalau Ayu masih berusaha mempertahankan Dika di sana.
Namun hari ini. Hatinya sedikit merasakan kelegaan karena akhirnya Ayu memutuskan untuk memecat Dika. Itu satu berita yang cukup membuat hatinya bergembira.
"Kamu ingin membungkus makanan apa?" Tanya Samuel menawarkan.
"Asal bisa di makan." Jawab Ayu singkat.
"Apa yang terjadi?" Sontak Samuel mempertanyakan raut wajah malas yang Ayu perlihatkan.
"Aku tahu kamu memikirkan sesuatu? Apa pemecatan itu membuat mu risau?"
"Kenapa membahasnya? Tidak ada hubungannya dengan itu."
"Lalu apa?"
"Apa harus memakai rok mini ketika berkerja di area kantor?"
Setelah beberapa kali berkunjung di perusahaan. Ayu menjadi tahu bagaimana besarnya godaan para Suami yang harus di tuntut berada di sekeliling teman wanitanya.
Selain rok di bawah lutut yang ketat, para staf wanita kerapkali mengenakan make up berlebihan. Padahal itu semua sangat wajar tapi tidak wajar untuk pandangan Ayu yang baru tahu dunia perkantoran besar seperti apa.
"Bukankah kamu dulu pernah berkerja di perusahaan?"
"Iya Bee. Tapi para staf wanita memakai celana panjang yang sopan. Tidak ada rok seperti yang ada di perusahaan."
"Kalau roknya panjang. Itu akan sulit Babe dan itu juga sudah terjadi begitu lama. Seragam mereka memang seperti itu."
"Aku menjadi tahu alasan kenapa sangat banyak lelaki yang lebih memilih menghabiskan waktu bersama teman kantornya daripada anak Istrinya!" Samuel menghela nafas panjang. Pemandangan yang di lihat Ayu mungkin membuatnya ingat pada masa lalu kelamnya.
"Tidak semuanya begitu."
"Kalau aku yang menjadi pemimpin. Mungkin aku akan mengganti seragam mereka dengan celana panjang."
"Itu memang perusahaan mu. Aku dan Dimas hanya pesuruh yang bertugas mengelola perusahaan." Samuel meraih ponselnya untuk menghubungi kontak Dimas.
📞📞📞
__ADS_1
"Ya Tuan. Ada masalah lagi.
"Hm masalah besar.
"Ada apa Tuan?
Ayu menghembuskan nafas berat seraya melirik malas. Tidak ada niat lain kecuali berusaha menekan angka perselingkuhan.
"Pemilik perusahaan tidak menyukai konsep seragam yang di gunakan staf wanita.
Dimas tersenyum di ujung telepon. Dia sudah membaca mimik wajah yang sempat di perlihatkan Ayu tadi.
"Mungkin roknya bisa di perpanjang?
"Bukankah itu akan menyulitkan?
"Hm benar juga.
"Ganti semua seragam dengan celana panjang. Untuk ukuran baju harus lebih longgar daripada sebelumnya.
"Segera saya pesankan Tuan.
"Hm oke.
📞📞📞
Samuel meletakkan kembali ponselnya lalu mengalihkan pandangannya ke arah Ayu sebentar.
"Keinginan mu sudah di proses."
"Apa tidak akan menjadi masalah besar Bee."
"Asal kamu tidak berusaha mengelola perusahaan itu sendiri. Untuk masalah baju, itu tidak akan berpengaruh. Konsep rok ketat sudah bukan lagi menjadi trend dan terlalu ketinggalan zaman." Ayu kembali menghela nafas panjang.
"Bukankah celana panjang yang ketinggalan zaman."
"Sekarang akan menjadi trend karena perusahaan kita yang menerapkannya."
"Aku berharap setelah ini angka perselingkuhan menjadi menurun."
"Aku sakit hati. Ku fikir kamu melakukan itu hanya untuk menjaga pandangan ku." Jawab Samuel menggoda. Dia ingin melihat Ayu cemburu.
"Oh berarti kamu menikmatinya Bee? Menyenangkan ya melihat paha mulus bertebaran di hadapan mu. Belum lagi ketika mereka menyapamu dengan suara sok lembut. Sebenarnya itu kantor atau tempat..." Ucapan Ayu tertahan. Dia berusaha menahan umpatan yang kerapkali meluncur tanpa rem.
"Tempat apa?"
"Aku lupa!" Ayu memunggungi Samuel dengan memasang wajah masam.
"Itu kenapa aku jarang pergi ke sana. Apalagi setelah ada kamu. Aku benci melihat wajah munafik yang berusaha mereka perlihatkan. Mereka fikir aku suka, padahal aku malah muak melihatnya. Aku lebih suka wanita yang ketus tapi pencemburu."
"Aku tidak cemburu."
"Cemburu saja. Itu terlihat mengemaskan."
"Aku tidak..." Ayu merasa jika tidak ada gunanya menutupi rasa cemburunya sebab itu hal yang wajar karena Samuel sudah menjadi Suaminya.
"Kamu ingin spaghetti?"
"Terserah Bee."
"Hm kita pesan di sini saja." Samuel memarkirkan mobil lalu memesan lewat nomer yang tertera di depan restoran.
__ADS_1
🌹🌹🌹