
Awalnya Mita mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam depot setelah tahu akan keberadaan Ayu di sana. Langkahnya tertahan sesaat sambil menatap lekat ke arah Ayu yang terlihat sangat bahagia bersama Samuel.
Hal itu memicu rasa iri apalagi Samuel semakin terlihat sangat tampan paska menikah.
Mita melanjutkan langkahnya, berniat menyapa Ayu demi menunjukkan perubahan tubuhnya setelah perawatan. Seharusnya dia malu, sebab dia sendiri yang memutuskan persahabatan namun pesona Samuel mengelabuhi mata hatinya.
"Maaf lancang." Sapa Mita sengaja duduk di antara Ayu dan Samuel. Segera saja Ayu menegakkan pandangannya untuk melihat siapa yang datang.
"Mi Mita." Jawab Ayu bergumam.
"Aku minta maaf untuk sikapku tempo hari."
Mita yang selama ini sudah menipu Ayu dengan ketulusan semu yang di perlihatkan. Tentu tidak merasa kesulitan agar simpatik Ayu bisa kembali di dapatkan. Tujuannya tidak lain ingin dirinya bisa bebas datang ke rumah agar bisa bertemu dengan Samuel.
"Ku fikir kita tidak akan bertemu." Dengan polos Ayu menyerbu Mita dengan pelukan hangat.
"Kemarin aku hanya sedang kacau." Samuel sedikit melebarkan matanya ketika dia melihat senyum nakal yang Mita perlihatkan.
Apa ini? Ah tidak. Mungkin hanya perasaanku saja.
Samuel merasa jika Mita merayunya lewat isyarat bahasa tubuh. Tapi dia mencoba menepis dugaan itu dengan cara menggeser kursi miliknya agar lebih dekat dengan Ayu.
"Aku tahu kamu sedang emosi saja. Sebentar." Ayu melepaskan pelukannya lalu memperhatikan dengan lekat perubahan pada tubuh Ayu." Aku merasa kamu semakin cantik." Imbuhnya memuji. Menyentuh lengan Mita dengan usapan lembut.
Ya aku bisa lebih cantik daripada kamu.
"Mas Alan menyuruhku perawatan." Lagi lagi Mita berusaha mencuri pandang pada Samuel yang bahkan tidak melihatnya. Dia lebih memilih menunduk sambil bermain ponsel daripada harus melihat sesuatu ganjil yang mencoba Mita tunjukkan.
"Em begitu." Kenapa Mita masih bersama Mas Alan. Kalau aku menegurnya sekarang. Aku takut dia marah lagi.
"Mas Sam. Apa kabarnya?" Mita yang sudah tidak berselera mengobrol dengan Ayu, sengaja mengudang Samuel untuk mengobrol.
"Sangat baik."
"Sedang apa sih Mas? Kenapa sibuk main ponsel." Ayu menelan makanannya pelan. Dia mendengar perbedaan dari cara Mita menyapa Samuel." Boleh kapan-kapan aku bermain ke rumah." Tanyanya lagi ketika dia tidak mendapatkan jawaban dari Samuel.
"Boleh. Ke rumah saja." Sahut Ayu.
"Aku bertanya pada pemilik rumah." Jawab Mita seakan ingin menyingkirkan Ayu.
"Rumah itu miliknya." Samuel meraih jemari Ayu lalu menggenggamnya. Dia bahkan merebut sendok dari tangannya dan mulai menyuapi Ayu." Biar ku suapi." Imbuhnya menatap tajam Mita yang tengah tersenyum aneh.
"Dia hanya bercanda." Hati Mita berkedut nyeri melihat kemesraan yang tersuguh di hadapannya.
"Bukankah kau ingat mahar yang ku sebutkan." Samuel tersenyum mengejek ketika raut wajah Mita semakin menunjukkan perubahan. Satu lagi orang munafik..
"Aku lihat kamu bertambah gemuk." Mita ingin melebarkan hasutan dan berharap kemesraan di hadapannya terhenti. Dia tahu jika penampilan bisa menyinggung perasaan Ayu paska perceraiannya dulu.
"Benarkan Mit?" Tentu saja Ayu langsung memasang wajah panik dan menegang.
"Iya sedikit, ku lihat bentuk tubuhmu banyak berubah." Imbuh Mita menimpali.
"Kau benar." Sahut Samuel cepat. Mita memasang senyuman manis karena mengira Samuel termakan ucapannya." Berubah semakin mengemaskan. Pipinya, bibir dan seluruh tubuhnya membuatku ingin selalu menyentuhnya." Ucapnya seraya menyentuh bagian yang di sebut.
"Apa sih Bee. Ingat untuk tidak melakukannya di tempat umum." Kata Ayu seraya berusaha menghalau kepala Samuel yang berusaha mendekati pipinya.
Bee?
"Em aku harus kembali." Mita yang merasa tidak tahan pada kobaran panas pada hatinya, memutuskan untuk pergi saja.
__ADS_1
"Kenapa terburu-buru?" Tanya Ayu mencegah.
"Waktu Istirahatnya habis."
"Padahal kamu baru datang."
"Hm kami juga sedang ingin makan berdua." Dengan gamblang Samuel melontarkan ucapan tersebut. Dia tidak ingin ada seseorang pun berusaha mengecilkan hati Ayu.
"Kamu bilang apa Bee? Dia itu.."
"Dia bukan sahabat mu. Bukankah tempo hari dia berkata itu. Ucapan awal adalah isi hatinya yang sesungguhnya." Jawab Samuel santai.
"Jangan berdebat hanya karena aku." Lagi lagi Mita mulai berkhayal hal yang tidak-tidak. Dia masih tidak memahami bagaimana setianya sosok Samuel ketika sudah menemukan seseorang yang di anggapnya tepat.
"Sama sekali tidak." Jawab Samuel tersenyum simpul." Aku hanya sedang mengingatkan pada Istri ku tentang seseorang yang mungkin pintar bersandiwara." Ayu memilih mendengarkan sebab dia tahu jika Samuel tidak akan asal bicara. Apalagi tanpa Mita sadari, Ayu sedikit merasakan perubahan pada perkataannya ketika dia mengomentari soal bentuk tubuhnya dan sapaan untuk Samuel.
"Aku pergi Ay. Ku rasa Suami mu tidak menyukaiku. Aku tidak tahu bisa bertemu lagi atau tidak."
"Iya hati-hati. Em mungkin tidak masalah jika kita tidak bertemu lagi. Aku juga akan fokus pada kehidupan ku sekarang." Raut wajah Mita semakin terlihat bengis. Tentu saja dia sangat kesal mendengar jawaban yang tidak di inginkan.
"Oh sekarang kau sudah sombong karena menjadi Istri orang kaya."
"Kau berkata itu seakan kau tidak mengenalku dengan baik."
"Harta bisa melupakan teman dan sahabat."
"Apa niatmu? Kenapa kamu menemui ku lagi?" Perubahan ucapan sudah bisa memperlihatkan bagaimana sifat asli Mita. Sementara yang bersarang di otak Ayu hanyalah ketakutannya akan kehilangan Samuel. Dia tidak ingin lagi gagal berumahtangga untuk kedua kali hanya karena kerikil tajam jalanan.
"Aku tidak sengaja bertemu denganmu."
"Tapi kenapa kau menatap Suami ku seperti itu?" Sontak Mita menelan ludahnya kasar. Cepat-cepat dia berpaling untuk menghentikan acara curi pandangnya yang tidak berbalas.
"Kau salah faham." Jawab Mita gugup." Kau terlalu takut karena luka masa lalu mu." Imbuhnya menimpali.
"Untuk pertama kalinya aku membenarkan keputusan Dika meninggalkan mu!"
"Ya. Dia sudah ku anggap sebagai sampah yang tidak bisa di daur ulang."
"Kau akan sadar betapa membosankan nya wanita ini." Menjinjing tasnya sambil menunjuk kasar ke arah Ayu.
Samuel menoleh ke arah Ayu yang sedikit termakan ucapan menyakitkan tersebut. Itu terlihat dari raut wajah dan tarikan nafas berat yang mulai terlihat.
"Jika dia baik. Sangat tidak mungkin seorang lelaki sampai meninggalkannya untuk wanita lain!" Imbuh Mita lagi.
"Mantan Istriku juga meninggalkan ku dan membawa kabur hartaku dengan selingkuhannya. Apa itu berarti aku juga lelaki yang sangat buruk? Itu tandanya kita sedang di kumpulkan. Lelaki baik dengan wanita baik dan lelaki buruk dengan lelaki buruk. Apa itu maksud mu?"
Mita yang tidak tahu jika Samuel sudah pernah menikah, tentu merasa terkejut mendengar pembelaan tersebut.
"Kau berusaha membela."
"Tidak. Ini juga pernikahan keduaku. Sebaiknya kau pergi. Jujur saja kalau kau sangat menganggu. Apalagi ketika kau sengaja mencibir Istriku lewat masa lalunya. Kau fikir itu akan merubah cara pandang ku padanya? Haha kau salah." Samuel tersenyum simpul seraya menatap Ayu yang masih berusaha mengendalikan perasaan bergemuruh." Walaupun semesta menyebut nya sebagai wanita paling buruk. Aku tetap akan melihatnya sebagai wanita paling sempurna. Apalagi jika yang menyebut itu seseorang yang tidak penting. Telingaku sudah tidak sanggup mendengar dan mataku juga sudah tidak bisa melihat tentang keburukan yang ada pada Istri ku. Dia satu-satunya, sekalipun Tuhan akan mengambilnya. Aku berjanji ini pernikahan terakhir ku." Tentu saja Ayu menoleh mendengar itu. Bibirnya mulai tersenyum dengan sorot mata berkaca-kaca.
Luka pada masa lalu ternyata masih sedikit membekas sampai-sampai dia kerapkali merasa tersinggung ketika ada seseorang merendahkan seperti apa yang sedang di lakukan Mita sekarang.
Kedua tangannya menggalung erat pada pundak Samuel dengan tarikan nafas berat. Hal itu menandakan jika hati Ayu benar-benar sakit meskipun dia mencoba menepis itu agar tidak terinjak-injak.
"Itu hanya kalimat bualan!!"
"Terserah." Jawab Samuel seraya mengusap lembut punggung Ayu. Sesungguhnya dia juga tengah menahan amarah karena kehadiran Mita yang merusak suasana hati Ayu yang tadinya sedang baik." Kenapa kau tidak juga pergi!" Imbuh Samuel sedikit berteriak." Di mana keamanan tempat ini!! Saya terganggu dengan wanita ini!!" Teriak Samuel menunjuk kasar ke arah Mita yang seharusnya sudah pergi sejak tadi.
Segera saja salah satu pelayan lelaki menyuruh Mita pergi atau setidaknya menjauh.
__ADS_1
Awas ya. Mungkin aku belum cukup cantik untuk mengalihkan perhatian mu Mas Sam. Batin Mita terpaksa pergi meski sesekali dia masih saja menoleh.
"Sudah pergi. Lanjutkan makannya." Pinta Samuel lirih.
"Menurut mu, aku tidak malu Bee." Jawab Ayu tidak berniat mengangkat kepalanya dari pundak Samuel.
"Untuk apa malu."
"Kita pulang. Aku tidak berselera makan." Samuel menghembuskan nafas panjang. Kekesalannya semakin terasa ketika Ayu kembali harus kehilangan selera makan.
"Membeli tas langsung atau mencari tempat makan lain."
"Pulang Bee. Tidak mampir ke mana-mana. Aku malu, serius." Dengan terpaksa Samuel mengangkat tangannya pada salah satu pelayan untuk membayar. Dia mengangkat tubuh Ayu tanpa perduli pada tatapan sekitar.
"Hanya sebentar. Kita beli tas dan pulang. Tempatnya berada tidak jauh dari sini." Rajuk Samuel berharap suasana hati Ayu kembali baik setelah membeli tas kesukaannya." Orang-orang yang makan di depot bakso itu tidak akan mengikuti kita sampai toko tas." Imbuhnya menurunkan tubuh Ayu tepat di samping mobil tapi Ayu tetap tidak berhenti menyembunyikan wajahnya.
"Pergi dulu dari sini." Pintanya merengek.
"Oke." Samuel membuka pintu dan dengan gerakan cepat Ayu masuk ke dalam di ikuti oleh Samuel." Kenapa menutup mata? Mereka tidak akan bisa melihatmu dari dalam sini." Samuel mulai melajukan mobilnya meninggalkan area parkir.
"Aku tidak mau melihat mereka."
"Sudah masuk jalan raya." Perlahan, Ayu membuka matanya lagi." Lupakan soal tadi." Imbuh Samuel lirih.
"Hatiku harus lebih kuat."
"Jika tidak kuat biar aku yang menanggung. Kamu tinggal menangis saja daripada harus di tahan."
"Itu memalukan."
"Aku tidak malu. Kau akan lelah jika terlalu memikirkan pendapat orang lain."
"Aku malas keluar rumah kalau begini."
"Aku tidak ingin kamu terkurung dan tertinggal di masa lalu."
"Lalu benarkah ucapan mu tadi Bee?"
"Ucapan yang mana?"
"Yang soal pernikahan."
"Yang mana?" Samuel sengaja pura-pura lupa.
"Aku yang terakhir sekalipun aku meninggal."
"Iya."
"Tidak menikah lagi?"
"Tidak Babe."
"Apa bisa tahan kamu Bee?" Samuel terkekeh karena tahu maksud dari perkataan Ayu.
"Kalau tidak ada lawan mainnya pasti bisa tahan."
"Ya itu berarti sama saja Bee."
"Apa yang sama?"
"Kalau kamu bertemu wanita yang tepat, kamu pasti akan melakukan itu dengannya." Entah kenapa rasa cemburu tiba-tiba saja menjalar. Ayu merasa tidak rela jika harus menerima kenyataan Samuel beradegan ranjang bersama wanita lain.
__ADS_1
🌹🌹🌹