
Ayu terus saja memukul-mukul punggung Samuel dan sesekali menggigitnya sampai keduanya tiba di area parkir Cafe.
Bergegas saja Ayu turun seraya menatap malas ke arah Samuel yang tengah tersenyum ke arahnya.
"Kenapa sih Mas!" Tanya Ayu ketus. Kedua tangannya berusaha membuka pengait helm namun terasa sulit.
"Aku tidak mengerti arti dari pertanyaan mu?"
"Kenapa ini sulit!!" Teriaknya menarik-narik tali pengait helm kasar.
"Jangan emosi." Samuel turun lalu membuka helm miliknya dan meletakkannya. Setelah selesai, dia menunduk untuk membantu Ayu membuka pengait helm." Gampang kan." Imbuhnya tersenyum.
"Jangan menganggu ku hari ini."
"Hm oke. Aku akan melakukannya. Aku akan menganggu mu setiap waktu."
"Jangan. Dengarkan baik-baik."
"Jangan berarti harus dan wajib. Kata orang, wanita suka berbicara kebalikan. Kalau dia bilang iya berarti tidak dan sebaliknya."
"Aku benar-benar.." Ayu mengangkat tangan kanannya dan berniat mendorong tubuh Samuel. Tapi detak jantung Samuel yang tidak beraturan sontak membuat mimik wajahnya berubah gugup. Dia berdebar-debar. Ah tidak! Apa lelaki ini benar-benar menyukaiku atau hanya sesaat seperti yang di lakukan Mas Dika.
Pertanyaan itu kini menjadi tanda tanya besar. Ayu tidak ingin kembali mengulang kesalahan yang sama hingga harus merasakan kesakitan luar biasa seperti sekarang.
"Kamu merasakannya." Sontak Ayu menarik tangannya cepat.
"Merasakan apa?"
"Debaran jantungku."
"Tidak! Ish! Jangan menganggu ku! Pokoknya jangan." Tunjuknya kasar lalu berjalan. Samuel cepat-cepat mengekor untuk kembali melontarkan ucapan yang akan membuat Ayu meluapkan kekesalannya.
"Setelah surat resmi perceraian keluar. Aku akan mempersiapkan pernikahan untuk kita." Ucap Samuel lirih.
NB. Di sini aku sengaja tidak membahas soal masa Iddah yang seharusnya ada paskah perceraian. Tujuannya aku menjelaskannya, agar nantinya tidak akan pertanyaan tidak sedap di kolom komentar π Kembali ke ceritaπ
"Gila kamu Mas. Aku tidak mau."
"Aku hanya memberitahu. Siap atau tidak, itu akan terjadi sebab aku ingin." Ayu menoleh cepat seraya mengehentikan langkahnya." Aku sudah melihat semuanya. Aku menerimamu apa adanya walaupun nantinya kamu berubah menjadi bola sepak." Ayu mendengus lalu membuang muka.
"Tidak mau. Aku belum siap."
"Aku sudah memutuskan sejak kita menddesah bersama. Aku ingin itu terjadi sepanjang waktu."
"Itu namanya memaksa."
"Ya. Aku memaksa."
"Fikirkan lagi Mas. Sebaiknya Mas Samuel melunasi hutang lalu memikirkan pernikahan. Aku tidak akan kemana-mana. Aku butuh waktu untuk sendiri."
"Aku tidak akan membiarkan kamu sendiri." Ayu mendengus. Dia mengurungkan niatnya untuk masuk dan malah duduk lemah di pos penjagaan.
Aku sudah melakukan itu bersamanya. Apa itu berarti Mas Samuel jodohku? Ahhh cepat sekali. Aku takut salah melangkah..
"Aku butuh waktu."
"Ku berikan waktu setelah kita menikah."
"Itu hal yang gila. Aku baru bercerai lalu menikah?"
"Apa kamu keberatan dengan hutangku?"
"Tidak!"
"Lalu apa Babe?"
"Aku masih merasa asing." Jawab Ayu pelan." Aku tahu kita sudah melakukannya walaupun aku tidak sadar saat itu. Tapi aku mohon berikan sedikit ruang. Aku juga tidak ingin membebani mu. Kamu punya tanggung jawab yang belum kamu selesaikan." Ucap Ayu menjelaskan.
Samuel tersenyum dan mulai memikirkan pertanyaan yang bisa mengungkap alasan Ayu yang sebenarnya.
"Nanti kamu pergi karena terlalu lama menunggu."
__ADS_1
"Tidak."
"Hutangku masih banyak."
"Kalau kamu bisa membuktikan kebenaran ucapanmu. Aku tidak keberatan ikut membayar itu!!" Jawab Ayu geram." Bukankah kau berjanji melepaskan ku dari perasaan menyiksa ini? Buktikan itu semua. Baru kau boleh menikahi ku!" Imbuhnya menekan kata-katanya.
"Seandainya aku bisa membuat mu jatuh cinta sebelum hutang itu lunas?"
"Sudah ku bilang akan ku bantu membayar nya. Puas!"
"Hahaha. Serius Babe?"
"Iya astaga!! Aku tidak mau masuk kalau kamu membahas itu terus." Jawab Ayu merengek. Meski kesal, perasaan sakit yang di rasakan terasa lebih ringan.
"Ya sudah membolos saja."
"Mas please."
"Tolong apa?"
"Ahh entahlah." Ayu duduk seraya bersandar pada kursi kayu.
"Satu Minggu lagi kita akan menikah." Ucap Samuel menatapnya lekat, dengan mimik wajah serius namun mampu menembus jatuh hati lawan bicaranya.
"Ada ucapan lain?"
"Ada. I love you Babe. Will you marry me?"
"Not." Jawab Ayu tegas meskipun hatinya cukup bergetar melihat wajah serius Samuel.
"Percuma saja menolak. Aku tidak akan mengurungkan niatku. Kamu harus jadi milikku. Aku sudah lama mencari sosok yang mau menerima keadaan ku apa adanya. Bisa kamu fikirkan apa yang terjadi selanjutnya?" Samuel tersenyum simpul." Kamu harus jadi milikku."
Tidak. Ini tipuan..
Ayu membiarkan ketika Samuel mencium punggung tangannya bahkan memasangkan sebuah cincin berlian. Dia terhipnotis akan ucapan Samuel yang terdengar meyakinkan.
"Ya Mas." Jawabnya asal.
"Ini pas sekali." Ayu seketika melongok ketika jari manisnya kembali terisi.
"A apa ini Mas." Tanyanya terbata.
"Untuk lamaran sederhana."
"Ini imitasi?"
"Mungkin."
"Tapi seperti asli."
"Mungkin juga asli."
"Menyebalkan!"
"Kita harus berfoto untuk mengenang ini." Tanpa aba-aba Samuel mengambil beberapa foto seraya menggenggam jemari Ayu dan memperlihatkan cincin ikatannya.
"Kita sedang apa Mas!" Teriak Ayu menarik tangannya.
"Lamaran."
"Hah serius." Sahut Mita yang ternyata sudah memperhatikan kegiatan keduanya.
Sejak tadi pagi dia mencari keberadaan Ayu namun tidak menemukannya. Ketika keduanya tiba di parkiran, segera saja Mita menghampirinya dan menyaksikan kegiatan yang di anggapnya konyol.
"Tidak. Ini hanya bercanda." Jawab Ayu bergegas berdiri.
"Ah coba ku lihat." Mita meraih jemari Ayu dan melongok ketika melihat cincin berlian bertengger di sana.
"Ini palsu."
__ADS_1
"Tidak Ay." Mita memperhatikan kilauan berlian seraya melirik ke kotak yang di bawa Samuel." Tiffany? Oh my God." Dengan gerakan cepat Mita mengambil kotak perhiasan dan memperlihatkannya." Ini asli." Imbuhnya tersenyum.
"Bukankah berlian itu mahal."
"Sangat! Tapi ini merk berlian nomer satu di dunia!!" Ayu mengerutkan keningnya menatap Samuel.
"Mustahil."
"Tidak ada yang mustahil Babe."
"Kalau ini mahal. Bukankah seharusnya untuk membayar hutang mu."
"Iya nih Mas Sam. Katanya banyak hutang?" Imbuh Mita menimpali.
"Aku tidak perlu menjelaskan itu." Samuel meraih pergelangan tangan Ayu dan menariknya lembut." Kalau Pak Ridwan datang hari ini. Katakan saja jika aku dan Ayu risen." Imbuhnya semakin memicu kebingungan.
"Risen?"
"Hm ya. Aku akan menemuinya lusa untuk berpamitan."
"Lalu kalian akan kemana?"
"Ada sesuatu yang harus ku tunjukkan padanya."
"Mencari perkerjaan itu susah Mas."
"Aku tidak membutuhkan perkerjaan. Aku hanya membutuhkan mu." Samuel melangkah pergi tanpa peduli dengan panggilan yang di lontarkan Mita.
Tangan kanannya menggenggam erat jemari Ayu lalu tangan kirinya meraih ponsel untuk menghubungi Dimas.
πππ
"Jemput aku sekarang.
"Baik Tuan.
πππ
"Kita akan kemana?" Tanya Ayu berusaha melepaskan tangannya.
"Ke istana kita."
"Perkataan Mas Samuel semakin membuatku bingung."
"Semuanya akan terjawab nanti. Sabar ya." Jawabnya santai.
Tidak perlu waktu lama menunggu, sebuah mobil mewah kini sudah terparkir di hadapan mereka. Dimas keluar dari dalamnya lalu membuka pintu mobil dengan wajah tertunduk.
"Apa sudah selesai Tuan." Tanya Dimas memastikan.
Tuan? Sebenarnya apa yang terjadi?
"Sudah. Aku sudah menemukan apa yang ku cari selama ini." Samuel memaksa Ayu masuk di ikuti oleh dirinya.
"Jelaskan padaku Mas." Tanya Ayu dengan wajah tegang." Kenapa dia memanggil mu Tuan." Dimas hanya tersenyum lalu mulai melajukan mobilnya.
"Seperti yang terlihat."
"Aku tidak paham Mas."
"Mulai hari ini biarkan aku yang memahami."
"Jelaskan pada saya, kenapa anda memanggilnya Tuan." Menunjuk ke arah Samuel.
"Dia memang Tuan saya."
"Bukankah Tuan adalah panggilan untuk majikan?"
"Iya Nona. Saya kaki tangan Tuan Samuel."
"Tu Tuan Samuel? Hahaha apa ini? Kalian membuatku semakin pusing. Apa aku sedang bermimpi aneh?" Ayu terkekeh dengan wajah bingung. Dia bahkan menganggap jika semua yang terjadi hanyalah mimpi.
__ADS_1
πΉπΉπΉ