
Sudah lima hari Ayu dan Samuel tidak keluar dari area rumah hanya demi menjaga keselamatan Keano. Apalagi semakin banyak bukti menguatkan dugaan tentang Riska sehingga keduanya tidak ingin lengah.
Beberapa kali Riska datang mengunjungi rumah. Namun Ayu enggan keluar untuk menemui walaupun Riska melontarkan berbagai ancaman.
Hari ini berbagai sajian lezat tertata di meja makan. Samuel akan kedatangan tamu spesial yaitu Stefan dan Riska. Mereka sudah tiba sejak semalam namun meminta waktu untuk beristirahat karena kesehatan Riska sedikit terganggu.
Memang Dimas sengaja tidak mengatakan jika perusahaan yang berkerja sama dengan perusahaan Stefan adalah milik Samuel. Dia melakukan semuanya sesuai dengan perintah. Dimas hanya mengundang Stefan dan Riska untuk urusan bisnis sehingga keduanya tidak menaruh curiga sedikitpun.
"Kami merasa terhormat dengan undangan dari Tuan Dimas." Ucap Stefan Hansson dengan nada bicara kurang jelas meski dia menguasai beberapa bahasa termasuk bahasa Indonesia.
"Bukan saya yang mengundang tapi Tuan saya. Dia pemilik perusahaan yang sebenarnya." Jawab Dimas sopan. Sesekali dia melirik ke arah Riska yang memang memiliki wajah mirip. Yang jadi perbedaan hanyalah kulit Riska asli yang terlihat lebih keriput. Lantas siapa wanita itu? Astaga.. Mereka mirip sekali.
"Di mana letak rumahnya?" Tanya Riska dengan raut wajah menegang ketika mobil mewah itu masuk ke kompleks perumahan di mana letak kediaman Samuel berada.
"Nanti Nyonya akan tahu." Riska dan Stefan saling melihat. Mereka masih ingat karena jalan komplek tidak mengalami banyak perubahan.
Segera saja Riska memegang jemari Stefan erat. Wajahnya terlihat gugup disertai dengan ekspresi pucat akibat dosa masa lalu yang seakan kembali di putar.
"Tidak." Gumamnya lirih. Menatap tegang ke arah Stefan.
"Ada apa Nyonya?"
"Si siapa nama Tuanmu?" Tanya Riska terbata.
"Anda pasti sudah tahu. Untuk alasannya, anda bisa langsung bertanya pada beliau. Saya hanya utusan dan tidak berani berkata banyak."
"Aku belum siap Stef." Ujar Riska menghela nafasnya panjang.
"Sudahlah. Mungkin Tuhan ingin kita bertemu dahulu. Siapa tahu setelah itu kita mendapatkan kabar baik dari kepolisian." Jawab Stefan seakan berusaha menguatkan padahal dirinya sendiri belum merasa siap bertemu Samuel.
Memang niat untuk meminta maaf sudah terencana. Tapi mereka berniat melakukan itu saat Keano sudah di temukan. Sementara pencarian Keano masih berjalan dan belum mendapatkan titik temu.
Ketika undangan dari Samuel di dapatkan. Mereka wajib datang memenuhi undangan karena ternyata perusahaan Samuel sudah menanam saham cukup besar. Mau tidak mau Stefan mengiyakan pertemuan tersebut dan membawa Riska ikut serta.
"Apa dia sengaja mengundang kami?" Tanya Stefan sebelum Dimas turun.
__ADS_1
"Iya Pak. Kalian sudah di tunggu." Stefan beralih menatap Riska.
"Kita lewati bersama." Imbuhnya lirih. Riska mengangguk seraya tersenyum getir.
Stefan turun lebih dulu, di ikuti oleh Riska. Jantung keduanya berpacu cepat saat Dimas sudah membuka pintu rumah dengan sensor sidik jari. Dengan sopan Dimas mempersilahkan keduanya masuk. Setelah keduanya masuk. Pintu kembali di tutup untuk menjaga keamanan kalau tiba-tiba saja si peniru datang.
Tepat di ambang pintu ruang tamu. Langkah kaki Riska berhenti terayun, saat kedua maniknya menangkap sosok Samuel yang menurutnya tidak mengalami perubahan pada bentuk fisik. Tapi bukan itu yang membuat tubuhnya bergetar melainkan rasa bersalah yang teramat dalam. Ketulusan yang di balas dengan kecurangan membuat Riska di liputi perasaan bersalah sepanjang hidupnya.
"Mari silahkan masuk." Ujar Ayu mempersilahkan. Entah kenapa dia merasa nyaman melihat Riska seakan hatinya bisa menebak jika Riska asli tidak memiliki niat jahat.
Aku tidak percaya. Wajah mereka memang sama. Batin Samuel menghembuskan nafas berat melihat kenyataan jika Riska saat ini tidak secantik dulu. Penyakit yang di akibatkan kehilangan Keano menggerogoti tubuhnya.
Dengan langkah ragu, Riska dan Stefan berjalan lalu berdiri tepat di hadapan Ayu dan Samuel.
"Silahkan duduk." Ucap Samuel mempersilahkan. Segera saja Riska dan Stefan duduk sambil memasang wajah gugup.
"Aku tidak tahu itu perusahaan mu." Sapa Riska mencoba tersenyum simpul di balik wajah pucat nya.
"Hm. Aku juga tidak tahu."
"Kami ingin minta maaf untuk masa lalu." Sahut Stefan tegas.
"Ku maafkan. Aku sudah melupakan itu. Em dia.. Istri ku." Ayu tersenyum ramah lalu mengulurkan tangannya ke arah Riska.
"Saya Ayu Kak." Riska dengan lembut menyambut uluran tangan Ayu.
"Aku Riska dan dia Stefan Suamiku."
Terimakasih Tuhan. Ternyata orang tua Keano masih ada.
Bukan tanpa alasan Ayu memperlihatkan senyuman mengembang. Dia turut merasa bahagia atas kebenaran soal kedua orang tua Keano yang masih hidup. Itu berarti Keano tidak bersedih lagi dan mengeluh soal keluarga nya.
"Aku sudah menyiapkan uang untuk mengembalikan sesuatu yang sudah kami ambil." Stefan masih saja menebak jika undangan Samuel bertujuan untuk membalas dendam atas masa lalu.
"Tidak perlu. Aku sudah melupakan itu. Aku hanya ingin tahu, apa kamu memiliki saudara kembar?" Tatapan Samuel beralih pada Riska.
__ADS_1
"Aku?" Menunjuk ke dadanya.
"Ya kamu."
"Tidak Sam. Bukankah kamu tahu aku anak tunggal? Aku bahkan tidak memiliki keluarga di sini. Ada apa?" Tentu saja Riska bingung dengan pertanyaan Samuel.
"Kalian kehilangan anak?" Stefan dan Riska saling melihat.
"Ya kami kehilangan anak. Apa.. Kamu yang melakukan ini?" Samuel tersenyum simpul.
"Untuk apa aku melakukan itu?"
"Mungkin kamu masih menyimpan dendam dengan kami? Aku mohon Sam, jangan libatkan anak kami. Dia tidak bersalah." Jawab Riska panik.
"Aku sudah bahagia dengan hidup ku. Aku juga baru tahu lokasi kalian akhir-akhir ini."
"Lalu kenapa kamu menanyakan itu? Sudah lama Kean menghilang. Dia belum di temukan sampai sekarang." Jawab Riska dengan manik berkaca-kaca. Itu tandanya dia sangat terbebani akibat kehilangan Keano.
"Berarti kamu yang membuat postingan di sebuah aplikasi?"
"Aku yang membuatnya tapi aku sudah tidak memiliki aplikasinya. Aku menghapusnya karena ku fikir tidak bermanfaat."
Itu kenapa Tania tidak mendapatkan balasan dari Riska. Sebab postingan tersebut sudah di lupakan. Memang sangat banyak orang yang membagikan postingan tersebut. Namun rasanya itu tidak membantu.
"Apa.. Kamu tahu soal anakku Sam." Tanya Riska terbata. Kedua sudut pipinya basah karena air mata.
Ayu tersenyum, membaca ketulusan di mimik wajah Riska. Dia merasa yakin jika wanita di hadapannya adalah orang tua kandung Keano.
"Dia bersama kami Kak." Jawab Ayu lirih.
"Benarkah? Keano bersama kalian?" Tanya Riska mengulang.
"Tidak mungkin. Bagaimana bisa?" Sahut Stefan menimpali. Kedua maniknya ikut berkaca-kaca karena perasaan yang bercampur aduk.
"Ada wanita asing yang membawanya ke sini."
__ADS_1
Samuel menceritakan soal kedatangan si peniru tujuh bulan lalu. Bukan hanya dirinya sebab Riska dan Stefan juga memasang wajah kebingungan. Keduanya tidak bisa menebak siapa sebenarnya si wanita peniru itu.
🌹🌹🌹