
Ayu cukup terkejut dengan kehadiran Samuel yang sudah duduk di sofa kamar. Tapi lagi lagi dia berusaha untuk membiasakan diri dengan kehadiran Samuel, orang asing yang akan menjadi Suaminya.
"Mas mau pergi?" Tanya Ayu seraya mengeringkan rambut basahnya." Handuknya aku pakai." Imbuhnya pelan.
"Kamu baik-baik saja?"
"Hm. Di mana Mas letakkan sisir." Samuel beranjak dari tempatnya untuk mengambil sisir yang jarang dia pakai.
"Hanya ada ini." Menunjukkan sisir kecil." Besok sekalian kita membeli keperluan mu." Ayu mengangguk lalu meraih sisir tersebut.
"Aku juga akan mengambil barang di kontrakan."
"Biarkan saja. Akan ku belikan yang baru. Aku ingin kamu sepenuhnya melupakan dia."
"Sedang ku coba Mas." Samuel berjalan ke arah meja lalu mengambil sebuah map dan memberikannya pada Ayu." Apa ini?" Tanya Ayu bingung.
"Sesuai permintaan. Aku sudah membayar uang ponsel yang kamu rusak serta mengganti biaya yang di keluarkan selama kamu menjadi Istrinya."
Ayu membuang nafas lembut. Dia meletakkan sisir lalu mengambil map dan membacanya.
"Berapa banyak uang yang kamu keluarkan Mas."
"Itu hal yang tidak penting untuk di bahas."
"Aku hanya takut kamu mengungkitnya." Ayu menutup kembali map sambil menunjukkan senyum getir.
"Mana mungkin aku melakukan itu."
"Tidak ada hal yang tidak mungkin. Seseorang bisa melakukan apapun kalau rasa jenuh sudah hadir. Sebelumnya aku juga tidak pernah menyangka semua ini terjadi. Aku merasa tertipu dengan rasa yang ku fikir cinta."
Samuel cukup tersinggung dengan dugaan Ayu. Tapi dia mencoba memahami posisi Ayu yang tengah terhantam kekecewaan berat.
"Aku tidak ingin banyak bicara. Kamu akan menyebutku terlalu banyak menggombal. Aku akan membuktikan jika sangat tidak mungkin aku melakukan hal itu."
"Hm ya. Terimakasih Mas. Tolong simpan surat itu agar dia tidak lagi bisa menuntut." Ayu menyerahkan surat perjanjian pada Samuel.
"Apa yang bisa ku lakukan." Jawab Samuel seraya memegang lembut lengan Ayu.
"Melakukan apa?"
"Membalas kesakitan mu." Ayu tersenyum seraya mendongak. Dia menatap wajah tampan di hadapannya. Seharusnya itu memudahkan tumbuhnya rasa cinta. Tapi nyatanya, Ayu hanya sekedar kagum dan belum memiliki perasaan apapun.
"Aku bukan wanita pendendam Mas. Surat perjanjian itu saja sudah lebih dari cukup. Aku tidak ingin lagi mendengar apapun tentang nya. Dia sudah memilih jalannya sendiri dan aku pun begitu. Jangan membahasnya. Aku sangat lapar."
"Hatimu lebih baik dari apa yang ku fikirkan." Samuel mengusap lembut pipi Ayu sejenak lalu menyimpan surat perjanjian di dalam laci." Mungkin saja kamu ingin berjalan-jalan sebentar sekalian makan malam." Ujar Samuel menawarkan.
__ADS_1
"Bibik tidak memasak?"
"Masak. Tapi mungkin saja kamu ingin keluar untuk meringankan beban fikiran."
"Tidak Mas. Em, aku ingin menonton televisi setelah makan."
"Oke Babe. Apapun kemauan mu. Ayo turun."
Samuel merangkul pundak Ayu dan mengiringinya keluar menuju ruang makan. Terlihat sajian sudah tertata di atas meja lengkap dengan cake cokelat untuk pencuci mulut.
"Wah wah sepertinya segar Bik." Puji Ayu menghirup aroma masakan.
"Semoga saja masakan Bibik cocok ya Non." Ijah membalikkan piring dan menuangkan air putih.
"Saya tidak terlalu repot untuk masalah makanan kok Bik. Asal matang saja. Saya juga tidak bisa memasak." Samuel tersenyum. Dia meraih centong nasi dan mengisi piring Ayu terlebih dahulu." Cukup Mas. Ini terlalu banyak." Protes Ayu akan mengurangi porsi nasi.
"Lupakan soal diet. Kamu bersamaku sekarang."
"Tapi Mas. Kalau nantinya tubuhku semakin melebar."
"Itu menguntungkan. Kita tidak perlu membeli kasur." Ijah tersenyum begitupun Ayu.
"Awas saja jika nanti Mas Sam menyesal."
"Tidak akan. Ambil lauknya sendiri." Ijah sengaja menunggu untuk mendengarkan pendapat Ayu tentang masakannya.
Wahhh. Rasanya aku kembali hidup. Masakan Bibik sedap sekali..
"Bagaimana Non."
"Enak Bik. Tapi kurang pedas."
"Non suka pedas?"
"Iya Bik. Tapi ini sudah enak kok. Terimakasih ya." Ijah tersenyum teduh. Ini kali pertama dia mendapatkan ucapan terimakasih dari seorang majikan. Apalagi jika di bandingkan dengan mantan Istri Samuel yang memiliki perangai buruk. Membuat Ijah mendukung hubungan pernikahan kedua majikannya.
"Sama-sama Non. Bibik tinggal dulu. Permisi."
Ayu menegakkan pandangannya ketika menyadari jika sejak tadi Samuel tidak bergerak dan hanya menatapnya.
"Sudah kenyang Mas?" Tanya Ayu kembali makan.
"Kamu sudah cantik. Tidak perlu berdiet. Selama aku masih kuat mengangkat tubuhmu. Itu berarti kamu masih terlihat kecil di mataku." Samuel mulai mengambil ikan lalu mulai makan." Aku merasa kamu sangat seksi." Sontak Ayu menelan makanannya kasar seraya memperlihatkan senyum aneh.
"Hahaha Mas bercanda saja. Terus saja menggombal."
"Umurku sudah tua. Mana mungkin aku bercanda. Aku sangat suka bentuk tubuh mu."
__ADS_1
"Seharusnya kamu menjerat wanita yang lebih seksi."
"Sudah ku lakukan. Aku sudah menjerat wanita yang paling seksi." Ayu terkekeh kecil." Bahagia sekali. Aku akan melakukannya sepanjang waktu." Imbuhnya menatap hangat wajah ceria Ayu.
"Melakukan apa?"
"Memujimu. Itu yang kamu mau kan."
"Berbohong maksudnya."
"Berbohong untuk kebaikan dan membuat pasangan kita bahagia. Tidak ada salahnya melakukan itu. Asal senyum mengembang itu bisa ku nikmati setiap hari." Ayu mengangguk-angguk seraya mengunyah. Perkataan itu cukup membuat perasaannya dingin walaupun dia tidak sepenuhnya percaya.
"Sangat tidak mungkin jika selamanya kita akan tersenyum Mas. Dalam kehidupan pasti ada pahit dan manisnya."
"Iya aku tahu. Manisnya cukup untukmu, biar aku yang merasakan pahitnya."
"Itu tidak adil Mas."
"Adil Babe. Setelah menikah semua tanggung jawab sepenuhnya berada di pundak ku. Kamu hanya perlu menjaga kesetiaan. Selebihnya, biar aku yang mengurus."
"Aku harap itu benar Mas."
"Tentu saja. Asal kamu setia, kehidupan manis tanpa rasa pahit akan kamu dapatkan. Hartaku tidak akan habis meskipun kamu menghambur-hamburkan nya. Aku juga tipe lelaki yang tangguh saat berada di ranjang. Lahir dan batin mu akan terpenuhi." Ayu mengerutkan keningnya seraya tersenyum. Pembahasan kali ini terdengar cukup aneh.
"Aku sudah selesai Mas." Ujar Ayu mengalihkan pembicaraan. Dia menggeser piringnya lalu meneguk air putih.
"Cake nya? Cokelat baik untuk menghilangkan stres."
"Tidak Mas. Walaupun kamu tidak memperbolehkan ku berdiet. Kalau terlalu banyak makan. Aku takut tubuhku benar-benar lebar." Samuel meletakkan sendok lalu pindah duduk di samping Ayu.
"Biar ku suapi." Alasan apalagi yang akan dia katakan..
"Aku tidak minta itu."
"Agar kamu percaya aku tidak sedang bercanda. Buka mulutmu."
"Tidak Mas. Biar ku makan sendiri." Tolak Ayu merasa sungkan.
"Not Babe. Agar hubungan kita cepat menghangat."
"Aku saja Mas." Tangan Ayu berusaha merebut sendok kecil dari tangan Samuel.
"Ayolah. Please.." Ayu membuka mulutnya perlahan dan menguyah suapan demi suapan.
Dia baik. Sangat baik. Semoga saja dia tidak sedang bersandiwara. Seperti apa yang di lakukan Mas Dika..
🌹🌹🌹
__ADS_1