
Semenjak Tania memergoki Dika menyimpan foto Ayu. Dia tidak lagi mendapatkan laporan orang suruhannya tentang Dika yang biasanya hobi menggoda wanita.
Seharusnya Tania senang. Tapi rupanya sikap Dika membuatnya semakin menaruh benci pada Ayu.
Bukan hanya berkata kasar, Dika kerapkali membandingkan Tania dengan Ayu yang memiliki kulit halus tanpa perawatan. Apalagi wajah Tania semakin terlihat buruk karena perawatan sudah di tinggalkan.
Dika semakin tidak betah di rumah. Lebih memilih berada di restoran daripada harus melihat wajah buruk Tania.
"Aku sudah menyiapkan makan malam Dik." Sapa Tania ketika Dika baru saja melangkahkan kakinya masuk.
"Aku sudah makan." Dika berjalan melewati Tania begitu saja.
"Kau tidak merasa kasihan padaku?"
"Tidak. Untuk apa kasihan. Kalau kau tidak betah, silahkan tinggalkan rumah ini."
"Mustahil. Aku tidak akan pergi dari sini, apapun yang terjadi."
"Terserah!"
"Aku sudah membakar semua foto wanita itu." Langkah Dika seketika berhenti, dia memutar tubuhnya ke Tania dengan raut wajah geram.
"Kenapa kau ikut campur urusan ku!" Tatapnya tajam.
"Karena aku Istri mu!"
"Jika kau tidak hamil. Kita sudah bercerai sejak satu bulan yang lalu!!"
"Tidak semudah itu Dika!"
"Aku akan membuat itu mudah. Aku menyesal sudah meninggalkan Ayu dan memilih hidup bersama wanita sinting seperti mu!!" Dika melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar.
Tania duduk lemah seraya meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.
📞📞📞
"Aku minta foto semua sudut rumahnya.
"Susah Nona. Rumahnya sangat tertutup.
"Pokoknya aku tidak mau tahu. Kau sudah ku bayar mahal.
"Ba baik Nona. Akan saya usahakan.
📞📞📞
Di sisi lain, orang suruhan Tania ternyata sudah sejak lama mengintai rumah Samuel.
Pagar tinggi yang menjulang, juga pekarangan yang luas, membuatnya kesulitan mendapatkan informasi.
"Nona marah. Bagaimana ini?" Ucapnya kebingungan.
"Pura-pura saja bertanya dengan penjaga rumahnya. Kita lihat, apa layar CCTV ada di pos penjagaan atau tidak."
Segera saja mereka melangkah mendekati pintu pagar. Si penjaga rumah langsung menghampirinya dan bertanya lewat lubang kecil yang ada di pagar.
"Ada perlu apa Mas?"
"Em mau mencari lahan kosong untuk bos saya Pak." Si penjaga rumah membuka pintu pagar tanpa rasa curiga.
"Lahannya sudah menjadi milik Tuan saya. Mungkin Masnya bisa mencari di tempat lain." Sambil berpura-pura mendengar penjelasan. Salah satu dari mereka melirik pos penjagaan yang ternyata tidak terdapat monitor.
Itu karena rumah Samuel memang tidak di lengkapi dengan CCTV. Hanya kamar pribadi miliknya yang terpasang kamera, itupun di pasang sejak Samuel meninggalkan rumah. Tujuannya agar dia bisa memantau kamar pribadinya dari jarak jauh.
__ADS_1
"Sayang sekali ya Pak."
Ketiganya mengobrol hangat, sebab si penjaga tidak memiliki fikiran negatif. Dia menganggap orang suruhan Tania benar-benar mencari lahan untuk Bosnya.
🌹🌹🌹
Baru saja kondisi tubuhnya membaik, Ayu sudah melaksanakan kewajibannya sebagai seorang Istri. Dia tidak tega jika Samuel terlalu lama menahan hasrat sehingga siang ini, Ayu berhasil mengobarkan gairah Samuel yang sudah beberapa hari tidak mendapatkan jatah.
Tubuh keduanya terlihat berkeringat, saling bergesekan sampai-sampai bunyi penyatuan menggema di ruangan.
Ayu meringkuk di kungkungan Samuel yang masih mengerakkan miliknya dari arah belakang. Nafas Ayu tersengal-sengal, sesekali menjerit dan sesekali menddesah ketika Samuel melakukan gerakan yang sanggup meluluhlantakkan kewarasannya.
Rasa lelah kerapkali menjalar. Ketangguhan Samuel tidak sanggup di imbangi dan hal itu menjadi candu untuknya.
Ayu mengigit lengan Samuel keras, ketika gerakan begitu keras menghantam dinding rahimnya. Tubuhnya mengejan, menggelinjang di sertai nafas memburu.
Samuel tersenyum simpul, mengecupi punggung Ayu dan di akhiri dengan lummatan bibir. Tujuannya ingin meredakan rasa lelah Ayu.
"Seharusnya kamu tidak memulai Babe." Ucap Samuel lirih. Bibirnya masih saja bermain sebab Ayu meminta itu melalui bahasa tubuh.
"Kamu menikmati nya."
"Hm ya. Kamu mau lagi?"
"Ya mau." Samuel menghembus nafas berat ketika Ayu memundurkan tubuhnya lagi dan lagi.
"Tidak. Aku tidak mau kamu sakit lagi." Walaupun menolak, Samuel tetap menikmati perlakuan Ayu yang tengah berusaha menggodanya.
"Berkeringat berarti sehat."
"Oh tidak Babe. Kamu masih butuh banyak istirahat."
"Kamu bisa membaca kebohongan ku?" Dengan gerakan cepat Ayu memutar tubuhnya menghadap ke arah Samuel.
"Hanya membutuhkan pemulihan Bee. Aku juga ingin cepat hamil." Jawab Ayu mengutarakan keinginannya untuk segera memiliki buah hati.
"Masih banyak waktu melakukan nya."
"Tapi kamu suka kan." Samuel terkekeh lalu mencubit ujung hidung Ayu lembut.
"Mana mungkin bisa tahan melihat caramu menggoda ku."
"Kalau suka di larang berprotes. Ayo mandi bersama."
Tanpa fikir panjang, Samuel duduk dan mengenakan celana pendeknya. Dia mengangkat tubuh Ayu lalu membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
"Bee."
"Hm." Jawab Samuel bergumam. Menggosok lembut punggung Ayu di bawah guyuran shower.
"Kalau aku tidak bisa hamil bagaimana?" Entah kenapa Ayu merasa risau memikirkan itu. Dia takut jika efek obat keras yang Dika campurkan, mempengaruhi keadaan dinding rahimnya.
"Jangan memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Kita baru satu bulan menikah." Walaupun Samuel menginginkannya, tapi dia tidak ingin membuat Ayu berkecil hati.
"Seumpama Bee."
"Kita akan menghabiskan waktu berdua dan menua bersama. Saling melengkapi, saling menghibur agar nantinya tidak ada yang merasa kesepian." Jawaban tersebut sudah terlintas di fikiran Samuel jauh-jauh hari.
"Bagaimana dengan mengadopsi anak."
"Aku tidak mau."
"Bukankah dulu kamu mau melakukannya?" Ayu memutar tubuhnya menghadap ke arah Samuel.
__ADS_1
"Aku mau kalau asal usul anaknya jelas. Tapi kalau asal mengambil, aku takut anak itu hasil dari hubungan gelap." Ayu sedikit kecewa walaupun dia tidak ingin menyalahkan Samuel atas keputusannya.
"Rumah ini akan sepi tanpa anak Bee."
"Itu kenapa kita harus saling menghibur."
"Masa tua tanpa anak. Itu menyedihkan."
"Aku yang akan menjamin masa tuamu bahagia."
"Ish!" Ayu menepuk pundak Samuel lembut.
"Percayalah. Kamu akan memiliki nya."
"Amin Bee. Aku hanya takut tidak bisa memberikan anak lalu kamu mencari wanita lain." Samuel menghela nafas panjang. Ketidakpercayaan Ayu ternyata masih tersisa meski sedikit.
"Mustahil. Aku sudah cinta mati pada mu. Itu artinya aku masih mencintaimu walaupun salah satu dari kita berada di liang lahat."
"Itu hanya bualan. Aku tahu. Kalau aku mati pasti kamu mencari wanita lain." Jawab Ayu seraya mengerucutkan bibirnya.
"Perasaan ku akan terkubur bersama jasad mu."
"Kata-kata itu sering ku dengar di sinetron." Samuel menghela nafas panjang lalu membuangnya kasar.
"Aku akan di kubur hidup-hidup bersama jasad mu." Ayu mendongak ke Samuel yang tengah memasang wajah serius." Pernah dengar juga." Imbuhnya meraih handuk kimono lalu memakainya pada Ayu.
"Itu mengerikan Bee."
"Katakan saja iya. Aku akan melakukannya. Bukankah kamu tahu kalau aku selalu menepati janji dari saat aku mengurus surat perceraian mu sampai sekarang." Ayu tersenyum aneh. Dia tidak menyangka jika Samuel akan menjawab pertanyaannya dengan kata-kata mengerikan.
"Kamu akan menjadi hantu penasaran Bee sebab itu termasuk bunuh diri."
"Tidak apa. Asalkan aku bisa membuktikan kesetiaan. Aku rela menjadi hantu penasaran dan menghabiskan waktu duduk di atas batu nisan mu."
"Aku tidak mau seperti itu." Jawab Ayu pelan.
"Apalagi yang bisa ku katakan."
"Iya maafkan aku sudah berkata tidak-tidak."
"Ganti bajumu nanti dingin." Samuel meraih handuk dan melilitkannya ke pinggang.
"Kamu marah Bee?"
"Tidak."
"Lalu kenapa tidak menjawab kata maaf ku?"
"Kamu tidak bersalah Babe. Aku paham kekhawatiran mu. Tapi aku serius akan melakukannya." Ayu mengekor langkah Samuel yang berjalan keluar kamar mandi.
"Kamu harus melanjutkan hidup meski aku tidak ada." Samuel menoleh dengan tarikan nafas berat. Pembicaraan Ayu selalu saja membuatnya harus ekstra sabar dalam menghadapi.
"Kita akan hidup bersama, mati bersama agar tidak ada yang merasa di tinggalkan atau meninggalkan." Ayu tersenyum lalu menyerbu Samuel dengan pelukan." Sudah mendapatkan jawaban yang tepat?" Imbuhnya membalas pelukan Ayu.
"Hm sudah." Jawabnya memperlihatkan senyum mengembang.
"Sekarang ganti bajumu agar masuk angin."
"Bantu aku kalau kamu memang tidak marah."
Mana bisa aku marah padanya. Sikap yang di perlihatkan selalu saja bisa melunakkan hatiku.
Samuel mengiring Ayu ke lemari lalu mengambil sebuah gaun rumahan dan memakaikannya. Dia juga membantu mengeringkan rambut basah Ayu hanya untuk membuktikan jika dia tidak sedang marah.
__ADS_1
🌹🌹🌹