Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Bertemu Mita


__ADS_3

Kejadian tegang berakhir menggelikan. Itulah pendapat Ayu tentang apa yang di lihatnya sore ini.


Perseteruan yang berjalan satu jam lebih itu harus berakhir hanya karena panggilan sayang darinya. Wajah para lawan bicara Samuel berubah terheran-heran walaupun pencapaian mufakat sudah mereka capai. Samuel dengan mudah mencabut tuntutannya dan menerima permintaan maaf pihak Swalayan.


"Kita benar-benar mendapatkan makanan gratis." Gumam Ayu menatap kantung belanja di tangan Samuel.


"Mereka memaksa, ya sudah. Coba panggil lagi Babe." Pinta Samuel tersenyum.


"Hah. Itu kali pertama aku menyebut seseorang dengan panggilan sayang." Samuel merasa berbangga diri mendengarnya." Aku tidak mau melakukannya lagi. Itu memalukan dan membuat lidahku gatal." Senyum merekah Samuel seketika musnah.


"Aku menyesal sudah mencabut tuntutan."


"Itu hanya masalah kecil Mas. Tidak perlu di perbesar, kasihan para pegawai."


"Aku tidak bisa menerima. Kamu ingat kegilaan yang ku bicarakan?"


"Maksudnya tempramen buruk?"


"Lebih tepatnya. Aku tidak suka milikku di lukai."


"Aku baik-baik saja Mas." Walaupun memang sedikit terasa nyeri. Aku tidak mengerti bagaimana kejadiannya.


"Keranjangnya membentur lengan mu. Bagaimana kamu sebut itu baik-baik saja? Aku yakin itu akan memar." Ayu hanya tersenyum mendengar ketelitian Samuel dalam menjaganya. Namun dia tidak membicarakan rasa nyeri di pundaknya. Ayu takut kalau Samuel akan kembali menggila dan membuat keonaran.


Drrrrtt.. Drrrrtt.. Drrrrtt...


Ayu merogoh tas kecilnya lalu mengambil ponselnya. Dia melihat nama Mita tertera di layar. Segera saja Ayu menerima panggilan tersebut.


📞📞📞


"Di mana!


Ayu menjauhkan ponsel dari telinganya sebentar ketika suara buruk Mita menyapa.


"Ay! Halo.


"Ya. Pelan kan suaramu.


"Hehehe. Maaf, aku khawatir. Katakan, kamu di mana.


"Sedang di luar.


"Tempatnya.


"Plaza Aurora.


"Wah. Mas Sam mengajakmu jalan-jalan.


"Iya.


"Terus pulangnya kamu ke kontrakan kan?


"Tidak.


"Lalu?


Ayu mendongak ke arah Samuel yang berusaha mendengar pembicaraannya.


"Nanti ku beritahu. Kamu pulang jam berapa?


"Aku sedang makan di warung pinggir jalan.


"Di mana itu?


"Warung nasi Pak Karto.


"Dekat dengan Cafe.


"Depan pom bensin.


"Aku ke sana sekarang.


"Oke aku tunggu.


📞📞📞

__ADS_1


Ayu meletakkan ponselnya ke dalam tas lalu melirik ke arah Samuel.


"Mita?" Tanya Samuel ingin tahu.


"Iya. Em apa aku boleh jujur padanya tentang kita." Ujar Ayu pelan.


"Tentu saja. Dia harus hadir di hari bahagia kita."


"Bukan kita Mas. Tapi, hanya kamu yang berbahagia. Dia ingin bertemu dan sedang ada di warung nasi Pak Karto. Mas tahu lokasinya?"


"Kamu akan bahagia setelah hidup bersama ku."


"Kamu tahu warung Pak Karto?" Tanya Ayu mengulang. Dia seakan tidak menghiraukan jawaban Samuel.


"Hm tahu."


"Kita ke sana Mas. Aku takut Mita khawatir."


"Iya baik." Cepat atau lambat, kamu akan menerima kehadiranku Ayu.


Singkat waktu. Setibanya di lokasi, berapa terkejutnya Mita ketika melihat Samuel datang dengan mobil mewahnya. Sontak hal tersebut membuat Mita melupakan makanan di hadapannya. Dia berdiri menyambut kedatangan Ayu dengan bersemangat.


"Serius? Mas Sam." Sapa Mita terbata.


"Jangan norak Mit. Duduk di tempatmu." Pinta Ayu meraih lengan Mita sementara Samuel memesan makanan.


"Itu mobil siapa?" Tanya Mita antusias.


"Aku bingung harus mengawali ini dari mana. Semua terjadi begitu cepat. Pagi tadi aku bercerai lalu satu Minggu lagi aku menikah." Mita menelan makanannya kasar dengan mata hampir keluar.


"Hah? Menikah? Dengan siapa?"


"Denganku." Sahut Samuel duduk di sisi Ayu.


"Jadi lamaran tadi benar?"


"Tanya padanya." Melirik malas ke Samuel.


"Undangan akan kamu dapatkan besok."


"Milikku."


"Hahaha.. Apa Mas Sam bercanda?"


"Tidak." Mita baru menyadari penampilan Samuel yang kini sudah berubah. Gaya rambutnya terlihat rapi meski anting di telinga masih tampak ada. Baju yang di kenakan pun menjadi sorotan mata Mita yang jelly dalam menilai.



"Aku bingung."


"Dia menipu kita. Mas Sam bukan lelaki penuh hutang. Dia.." Ayu menghela nafas panjang." Lihat sendiri kenyataannya." Imbuhnya pelan.


"Mas Sam orang kaya maksudnya?"


"Itu tidak penting. Kita datang ke sini agar kau tidak khawatir." Sahut Samuel cepat.


"Tentu saja itu penting Mas. Banyak yang mundur untuk mengenalmu hanya karena hutang itu. Termasuk aku." Dengan bodohnya Mita membicarakan ketertarikannya pada Samuel dulu. Walaupun Mita memilih mundur daripada harus terdampak masalah karena hutang.


"Oh jadi. Kamu menyukai Mas Sam." Tanya Ayu dengan mimik wajah sulit di artikan.


"Maaf. Itu dulu Ay. Sekarang, aku sudah punya tunangan."


"Pernikahan saja bisa hancur apalagi pertunangan. Jujur saja. Aku sebenarnya belum bisa menerima pernikahan ini. Aku butuh waktu tapi dia memaksaku." Kebimbangan dan kebingungan yang bergejolak di hati Ayu membuat dirinya melontarkan ucapan tersebut. Sesungguhnya dia ingin sendiri dulu sambil merenung tentang kesalahan saat dia memutuskan memilih Dika.


"Aku.."


"Aku menjamin teman ku akan setia padamu Mas." Sahut Ayu cepat. Samuel menddesah lembut seraya menatap lemah ke Ayu.


"Aku asal bicara Ay. Aku tidak bermaksud begitu. Aku mendukung hubungan kalian asal Mas Samuel bisa membahagiakan mu."


Mita yang tahu sifat Ayu, langsung kebakaran jenggot sebab apa yang terlontar dari mulut Ayu adalah kebenaran isi hatinya.


Dia tetap saja berusaha menolak walaupun sudah tahu kenyataan tentang jati diriku. Aku semakin menginginkan mu...


"Kamu bisa berkata itu karena tidak tahu apa yang sedang ku rasakan. Bukankah kamu menyukai Mas Sam. Dia sedang mencari seseorang yang setia." Mita tersenyum aneh. Tentu saja dia merasa sungkan dengan kesalahan perkataannya tadi.

__ADS_1


"Kamu melupakan malam itu Babe." Samuel tersenyum simpul menatap Ayu yang juga tengah menoleh ke arahnya.


"Kamu tidak memberikan ku waktu untuk memutuskan." Jawab Ayu pelan. Dia kembali menyerah dan takut kalau Samuel membicarakan malam naas itu.


"Sudah ku katakan. Aku tidak perduli. Kita harus menikah dan mengenal satu sama lain."


"Tapi.."


"Aku sudah memutuskan. Aku menginginkan mu, bukan orang lain jadi jangan kamu suruh aku memilih." Ayu mengangguk dengan kepala tertunduk.


"Kamu tidak boleh menolak niat baik Ay." Ujar Mita menimpali.


"Ya. Kau lihat, aku tidak bisa mundur kan. Bagaimana pendapat mu?"


"Pendapat apa?"


"Perceraian dan pernikahan yang berjarak satu Minggu."


"Wow amazing. Aku akan datang." Ayu menatap lemah ke sajian yang baru saja datang.


"Makanlah, mumpung masih hangat." Pinta Samuel mengambil sendok dan garpu lalu meletakkannya pada piring Ayu.


Perlakuan itu membuat Mita tersenyum. Sederhana namun terlihat begitu manis.


"Terimakasih Mas." Jawab Ayu singkat. Dia tidak banyak bicara dan mulai menyendok makanan.


"Hm sama-sama."


"Aku harus kembali berkerja." Mita merasa lega dengan apa yang di lihat. Dia sempat merasa khawatir sejak kepergian Ayu tadi siang.


"Kita baru bertemu."


"Ini sudah waktunya Ay. Em aku juga sudah menyampaikan pesan Mas Sam pada Pak Ridwan."


"Oh terimakasih."


"Iya Mas. Aku tunggu undangan nya." Mita mencium pipi kanan Ayu lalu melangkah pergi menuju motor pinjaman yang terparkir.


"Sebenarnya aku belum lapar Mas."


"Tidak perlu menunggu lapar untuk makan."


"Nasinya terlalu banyak." Eluh Ayu menguyah makanannya pelan. Samuel menghela nafas lembut, dia merasa gemas mendengar banyaknya alasan yang di lontarkan Ayu.


"Biar ku ambil sebagian." Samuel akan mengambil nasi yang terlihat sudah bercampur aduk. Cepat-cepat Ayu menjauhkan piringnya.


"Tidak boleh Mas. Ini sudah tercampur."


"Hm." Samuel meraih piring Ayu lalu mencampurkannya dengan makanan miliknya." Nah. Begini kan enak. Kamu makan dulu, sisanya aku." Ujar Samuel tanpa melihat sekitar yang tengah melihat kegiatan mereka.


"Ini menjijikkan Mas." Protes Ayu melirik malas.


"Tidak menjijikan kalau kita sudah memiliki rasa." Samuel menyendok makanan lalu memasukkannya ke dalam mulut. Dia kembali menyendok makanan yang belum tersentuh lalu menyodorkannya pada Ayu." Milikku belum tercampur." Imbuhnya memperlihatkan senyum simpul.


"Biar aku makan sendiri."


"Sudah ku katakan jika keputusan mu terlalu lama. Makanan ini sudah tidak bisa di bagi menjadi dua. Kalau saja kamu tidak banyak berprotes, mungkin sekarang kita makan dengan piring terpisah."


Hal kedua yang Ayu ketahui. Samuel sosok lelaki yang tidak suka bertele-tele. Tindakannya dalam mengatasi masalah sangat cepat hingga membuat lawan mainnya tidak sanggup berkutik seperti apa yang terjadi padanya sekarang.


Terpaksa, Ayu menerima suapan demi suapan agar masalah kecil tidak berubah runyam seperti yang terjadi di swalayan.


Padahal kita baru saja bertemu. Tapi dia tidak jijik melahap sisa makanan ku.


Ayu menyeruput es jeruk di hadapannya seraya memperhatikan Samuel yang tengah membersihkan sisa nasi di dalam piring.


"Almarhum Mamaku selalu marah ketika aku menyisakan satu butir nasi di dalam piring. Aku takut mereka menangis dan mengganggu saat malam hari."


"Bukankah itu hanya mitos Mas."


"Aku tidak tahu Babe. Tapi aku selalu mengingatnya."


"Jadi benar ini kalian." Sapa Dika yang sudah berdiri di belakang keduanya.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2