
Sesuai permintaan Dimas. Pagi itu Ayu dan Samuel tengah bersiap pergi ke acara lamaran. Beberapa mobil sudah terparkir di depan kediaman mereka.
Mobil-mobil tersebut hanya berisi dua orang, sebab di dalamnya hanya ada seserahan yang akan Dimas berikan pada Mita.
Bukan hanya baju branded dan tas. Uang tunai juga perhiasan di rangkai sedemikian indah pada keranjang berbentuk hati.
Meski Mita dan keluarga menginginkan acaranya tertutup. Tapi momen hari ini adalah sesuatu yang akan Dimas lakukan sekali seumur hidup.
Setelah mobil Samuel terlihat keluar, beberapa mobil langsung mengikutinya.
Ayu terlihat cantik dengan busana yang di pakai. Samuel sengaja memesankan baju khusus agar bentuk tubuh Ayu tidak seberapa terekspos.
Samuel menoleh ke Ayu yang tengah sibuk mengunyah dengan cemilan di tangannya. Mulutnya terasa pahit jika tidak memakan sesuatu.
"Apa Dimas sudah menyiapkan uang untuk pernikahan Bee. Mita bukan dari golongan orang kaya."
"Mungkin sudah. Aku juga tidak tahu." Jawabnya fokus menyetir.
"Sebaiknya nanti di bicarakan. Kasihan keluarga Mita."
"Tapi aku yakin Dimas sudah melakukannya." Tebakan Samuel benar adanya. Seserahan dalam bentuk uang memang di berikan untuk membayar pesta resepsi yang akan di gelar." Em kamu tidak apa kalau aku ikut turun?" Tanya Samuel memastikan.
"Sebenarnya tidak boleh tapi ya sudah, kasihan Dimas tidak memiliki keluarga."
"Kejujurannya luar biasa. Aku memungutnya dari jalanan."
"Serius Bee?"
"Ya Babe. Itu kenapa waktunya selalu untuk perkerjaan sebab dia tidak memiliki tujuan hidup lain." Ayu mengangguk-angguk seraya tersenyum.
.
.
.
Singkat waktu. Setibanya di lokasi. Seserahan di keluarkan satu persatu dan di letakkan di teras rumah.
Ayu turun dari mobil dengan bantuan Samuel, tersenyum menatap rumah Mita yang sudah lama tidak di kunjungi.
"Nak Ayu." Sapa Mama Mita.
"Astaga Ibu." Dengan akrab Ayu memeluk Mama Mita.
"Jadi Dimas itu saudara mu?"
"Bukan Bu. Dia saudara Suami saya." Dimas tersungging, dia tahu jika Ayu tidak akan menyebut dirinya kaki tangan Samuel.
"Sudah berapa bulan Ay." Tanyanya seraya mengusap lembut perut Ayu.
"Hampir tujuh bulan Bu."
"Semoga semuanya di lancarkan."
"Amin Bu. Em di mana Mita?"
"Ada di dalam. Mari masuk Nak."
Mama Mita mempersilahkan semuanya masuk. Bibirnya tersungging melihat mewahnya seserahan yang di berikan Dimas untuk Mita.
Syukurlah Tuhan. Aku tidak perlu memikirkan biaya pernikahan..
Sengaja, Ayu duduk di samping Mita untuk memberikan selamat. Raut wajah Mita terlihat bahagia, bisa mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik daripada Alan.
Walaupun Dimas hanya seorang kaki tangan. Namun masa depannya sangat menjanjikan.
Samuel memberikan 10 persen keuntungan dari banyaknya perusahaan yang di kelola. Sementara untuk satu perusahaan saja, keuntungannya mencapai puluhan milyar setiap harinya.
__ADS_1
Setelah melakukan serah terima, kini Ayah Mita menanyakan tanggal pasti pernikahan. Samuel menjawabnya sesuai dengan permintaan Dimas yang ingin mengakuinya sebagai Kakak.
"Jadi bagaimana Pak. Bisa di terima?" Tanya Samuel memastikan.
"Bapak siap." Jawabnya tersenyum.
Senangnya... Mas Sam hanya melamar ku di depan Cafe..
Ayu memakan sajian yang di suguhkan sambil bercengkrama akrab. Dia mulai melupakan kecemburuannya sebab sebentar lagi Mita akan menjadi milik Dimas.
"Hadiah dariku." Ayu menyodorkan kotak kecil.
"Terimakasih Ay."
"Sama-sama. Buka langsung, aku ingin kamu memakainya." Mita mengangguk lalu membuka kotak yang berisi sebuah gelang." Aku sendiri yang memilihnya." Imbuhnya menimpali. Ayu mengambil gelang lalu memakaikannya pada Mita.
"Ini bagus sekali."
"Selamat ya." Keduanya berpelukan sebelum akhirnya pulang sementara Dimas memilih untuk tinggal sebentar.
Di dalam mobil, tangan Ayu mengusap-usap perutnya karena gerakan yang semakin sering terjadi. Fikirannya menerawang, memikirkan kado untuk pernikahan Mita.
"Kenapa?" Tanya Samuel ingin tahu.
"Memikirkan kado untuk Mita Bee." Ayu menuntun tangan Samuel untuk mengusap perutnya.
"Dia bergerak."
"Iya Bee, semakin kuat hehe. Terus? Apa kado yang cocok untuk mereka? Apa perhiasan lagi."
"Sudah ku siapkan Babe."
"Apa Bee?"
"Rumah dan liburan." Senyum Ayu seketika mengembang.
"Terpaksa aku. Tidak apa kan? Hanya dua Minggu saja." Jawabnya sambil terus mengusap perut Ayu.
"Tidak apa Bee."
"Hm. Untuk masalah ke luar kota bisa di cancel dulu." Samuel tidak tahu jika Dimas sudah menyiapkan semuanya dengan sempurna. Dia memiliki orang kepercayaan yang akan menggantikannya.
Dimas tidak ingin merepotkan Tuannya, apalagi melihat kesibukan Samuel yang kini fokus mengurus Ayu.
"Berarti kamu harus ke perusahaan setiap hari."
"Iya seperti itu. Sebaiknya kamu di rumah saja."
"Tidak Bee. Aku ikut." Tentu saja Ayu tidak ingin di tinggalkan meski untuk perkerjaan. Samuel sudah mengubahnya menjadi wanita yang sangat manja. Bukan hanya ingin di turuti, Ayu mulai terbiasa menggantungkan hidupnya pada lelaki yang saat ini duduk di sampingnya.
"Aku takut kamu kelelahan."
"Aku kuat." Tiba-tiba saja telepon Samuel berdering. Tertera kontak milik Dimas.
"Sebentar."
πππ
"Ya Dim.
"Sore ini saya akan mengenalkan Adit pada Tuan Sam.
"Siapa Adit?
"Orang kepercayaan saya Tuan. Em banyak persiapan yang harus saya lakukan sehingga mungkin tidak memiliki banyak waktu untuk mengurus perusahaan.
"Oke. Sudah tahu kriterianya?
__ADS_1
"Sudah Tuan. Itu kenapa saya akan mengenalkannya pada Tuan. Nanti Tuan yang akan memutuskan.
"Hm baik. Aku tunggu di rumah.
"Baik Tuan.
πππ
Samuel meletakkan ponselnya seraya bernafas lega. Dia tidak harus meninggalkan Ayu untuk urusan perusahaan.
"Kenapa Bee?"
"Dimas. Dia selalu bisa di andalkan. Dia sudah menyiapkan orang untuk mengurus perusahaan." Ayu tersenyum mengembang sebab Samuel tidak harus meninggalkannya.
"Jadi masih bisa bebas ya Bee."
"Apa yang di maksud dengan kata bebas Babe?"
"Bebas merepotkan mu." Samuel terkekeh lalu mengusap puncak kepala Ayu sebentar.
"Kamu tetap yang utama." Jawabnya memasang wajah serius meski senyum di perlihatkan.
"Kalau kamu sibuk tidak akan bisa Bee."
"Tetap saja sama. Keinginan mu hal pertama yang akan ku penuhi."
"Walau sibuk."
"Iya, tentu."
"Aku heran, kenapa kamu tidak pernah kesal padaku Bee?"
"Hm itu salah satu dari kegilaan ku. Tidak perduli serepot apa aku, selelah apa aku. Kalau perintah itu darimu, aku tidak keberatan memenuhinya."
"Apa karena aku hamil?"
"Tidak Babe. Aku mencintaimu. Aku tidak suka mengecewakan orang yang ku cintai."
"Manis sekali Bee." Ayu meraih lengan Samuel dengan kedua tangannya lalu menyadarkan kepalanya." Bee." Sontak perasaan Samuel langsung berubah cemas.
"Ya mau apa?" Tanyanya menebak. Nada panggilan Ayu sangat dia ingat. Nada bicara ketika Ayu menginginkan sesuatu.
"Aku ingin makan permen lengket tadi."
Mama Mita sudah menawarkan pada Ayu yang mungkin ingin membawa pulang suguhan. Tapi Ayu menolak dan sekarang, setelah dirinya sudah berada jauh dari rumah Mita. Salivanya tertelan kasar saat membayangkan manisnya makanan yang memiliki nama madu mongso.
"Yang kamu makan tadi di rumah Mita?" Tanya Samuel pelan.
"Iya Bee."
Hahaha dia benar-benar menguji kesabaran ku.
"Kita beli saja."
"Memangnya beli di mana Bee. Makanan itu sangat langkah."
"Jadi kita kembali?"
"Katanya tidak ingin membuat aku kecewa." Jawab Ayu mengancam. Tanpa bertanya lagi, Samuel memutar balik mobilnya untuk kembali ke rumah Mita.
πΉπΉπΉ
Mungkin season duanya akan langsung tersambung di lapak iniπ
Tapi aku membutuhkan waktu untuk mengistirahatkan fikiran sambil merangkai alur ceritanya π€
Tunggu info selanjutnya π₯°π₯°π₯°
__ADS_1
Terimakasih dukungannya..