Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Sentuhan pertama si kecil


__ADS_3

Aku kembali mengingatkan 🤣🤭


Ada adegan tidak pantas di bawah 👇


Bagi yang tidak suka🥰Harap di skip tanpa meninggalkan jejak komentar. Terimakasih 🌹


Happy reading...


Sepulangnya dari plaza, hujan terlihat turun. Beruntung, Ayu sudah berada di dalam kamar sehingga tidak harus terjebak hujan lebat.


Samuel duduk dengan laptopnya, sementara Ayu memakan manisan mangga sambil berbaring.



Samuel terlihat serius tapi Ayu sejak tadi merasakan kegelisahan yang membingungkan. Ada sesuatu yang menggelitik di bagian bawah tubuhnya sampai-sampai membuatnya tidak nyaman.


"Bee." Panggilnya meletakkan manisan mangga di meja.


"Ya Babe." Jawab Samuel cepat.


"Aku tidak nyaman." Ucapnya seraya duduk.


"Tidak nyaman bagaimana?" Samuel masih bertanya dengan mata fokus ke laptop.


"Ya tidak tahu. Pokoknya tidak nyaman!!" Suara buruk Ayu membuat Samuel bergegas menutup laptopnya lalu duduk di sisi Ayu.


"Apa yang membuat mu tidak nyaman. Coba katakan, kamu ingin apa?" Ayu menggiring tangan Samuel ke arah area sensitifnya. Sontak saja jantung Samuel berdegup kencang menatap wajah tidak biasa yang Ayu perlihatkan." Why?" Tanyanya dengan suara berat.


"Sentuh Bee." Pinta Ayu mengerakkan jemari Samuel untuk mengusap miliknya.


"Bagaimana rasanya?"


"Ada yang bergerak-gerak."


"Mungkin itu bayinya." Jawab Samuel konyol. Miliknya seakan meronta hanya dengan menyentuh area yang sudah lama tidak di masuki.


"Tidak tahu Bee."


"Jangan menggoda ku Babe. Katakan, untuk apa kamu ingin aku melakukan ini." Tanyanya dengan suara memburu. Hasrat yang sudah lama tertahan terasa meledak-ledak.


Ayu menuntunnya mempercepat usapannya sehingga Samuel kalap dan memasukkan jarinya di dalam sana. Sungguh aneh, karena area milik Ayu sudah sangat basah.


Samuel memasukkan jari telunjuknya, mengoyak lubang milik Ayu sampai-sampai membuat pemiliknya menddesah.


"Aku ingin itu sekarang." Pintanya seraya mendekatkan wajahnya dan melummat bibir Samuel dengan sangat panas.


Tentu saja Samuel terbawa hasrat. Di suguhkan pemandangan indah di tengah hawa dingin yang menerpa. Dia melahap bibir Ayu begitu dalam, menindih tubuhnya dalam kungkungannya.


Tubuh Ayu masih terlihat indah, walaupun perutnya terlihat membesar. Tangan Samuel mulai membelai seraya berusaha melepaskan baju tipis yang sedang Ayu kenakan.


"Kamu tetap tenang, biar aku yang bergerak."


"Em yah Bee. Cepat, aku tidak tahan." Senyum Samuel kian mengembang ketika Ayu melontarkan keinginan yang sudah lama tidak di dengar.


Pinggang Samuel mulai bergerak perlahan, dia tidak ingin melukai calon anaknya walaupun naffsu nya sudah sampai di ubun-ubun. Ingin sekali dia mengobrak-abrik dinding rahim Ayu untuk mendapatkan kepuasan namun tidak dia lakukan.


Meski begitu, suara dessahan menggema di seluruh ruangan. Tubuh keduanya berkeringat dengan nafas memburu. Mencoba mencapai kepuasan masing-masing dalam batasan gerakan.


Kedua tangan Ayu mengusap kasar pinggang Samuel dan berharap pemilik nya menambah tempo gerakan.


"Lebih cepat Bee.."


"Tidak.. Ini sudah cukup. Aku takut melukainya." Jawab Samuel dengan nafas terengah-engah.

__ADS_1


"Dia kuat Bee. Cepat.. Aku ingin lebih cepat." Ayu melakukan segala cara untuk memberikan rangsangan. Dia ingin memenuhi kata hatinya jika apa yang di lakukan sekarang, tidak akan menggangu si jabang bayi.


Akibat perbuatannya, Samuel lepas kendali saat puncak kepuasan akan di dapatkan apalagi Ayu membuatnya begitu bersemangat.


"Ah... Babe.. Aku harap dia baik-baik saja di sana." Samuel berbaring di sisi Ayu sambil mengatur nafasnya yang masih memburu.


Cukup sebentar, Samuel sudah memakai celana pendeknya lalu mendekap tubuh Ayu seperti biasa.


"Apa yang kamu rasakan Babe."


"Sedikit aneh Bee. Perutku rasanya kaku." Ayu berusaha merilekskan tubuhnya karena takut terjadi sesuatu dengan janinnya. Tangan kanannya mengusap perut besarnya sambil sesekali mendesis.


"Maaf." Samuel duduk dan mencium perut Ayu lalu mengusap-usapnya lembut." Kenapa kamu tiba-tiba mengajakku melakukan itu." Kini tangan Samuel beralih pada wajah Ayu. Dia menyeka keringat di sekitar dahinya.


"Entahlah Bee. Keinginan itu muncul begitu saja. Ah sebentar." Ucap Ayu setengah berteriak. Dia merasakan gerakan kecil pada perutnya untuk pertama kali.


"Apa perutmu sakit?" Tanya Samuel panik.


"Dia bergerak Bee. Aku merasakan sentuhan kecil di sini." Ayu terus mengusap-usap perutnya dan ingin merasakannya lagi.


"Serius?" Senyum Samuel mengembang. Dia ikut menumpukan telapak tangannya.


"Serius Bee. Dia bergerak. Astaga, jantungku berdebar-debar."


"Itu berarti dia ikut senang hehe."


"Mungkin itu keinginan nya."


"Anakku sangat pengertian pada Papanya." Ayu terkekeh mendengar jawaban konyol Samuel." Padahal sebenarnya aku tidak masalah harus menahan itu sampai dia lahir." Imbuhnya.


Samuel memang sudah berniat untuk berpuasa. Dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan kandungan Ayu. Tapi yang sebenarnya dia fikirkan adalah psikologi Ayu. Kalau kehamilannya sekarang kembali gugur, mungkin saja stres berat akan menimpa Ayu. Tentu Samuel tidak ingin itu terjadi sampai-sampai dia rela menahan sesuatu yang seharusnya sulit di kendalikan.


"Lihat Bee. Usap yang sini." Ayu menuntun tangan Samuel agar bisa merasakan gerakannya. Beruntung sebab kedutan kecil kembali terasa." Iya kan Bee." Imbuh Ayu bersemangat.


"Kenapa selalu saja membahas itu. Aku baik-baik saja walaupun tidak minum susu." Eluh Ayu kesal.


"Lakukan hanya untuknya."


"Aku menghindari susu juga untuk menjaganya."


"Bukan Babe. Kamu takut pada bayang-bayang masa lalu. Tidak ada ceritanya ibu hamil keguguran hanya karena susu." Ayu terdiam, rasanya sangat sulit untuk mengawali." Lelaki itu juga sudah mengakui perbuatannya kan. Obat itu yang berbahaya bukan susu. Ayolah Babe. Kamu ingin merasakan tendangan yang lebih kuat dari ini kan." Rajuk Samuel tidak sekalipun merasa bosan walaupun sudah ratusan kali Ayu menolak.


"Aku buat sendiri?"


"Ya terserah. Asal kamu mau minum."


"Oke. Nanti malam aku minum."


"No Babe. Sekarang, setelah membersihkan diri." Samuel bergegas berdiri lalu mengangkat tubuh Ayu dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


.


.


.


.


Bik Ijah dan Bik Ratih terlihat antusias saat mengetahui kalau Ayu berniat meminum susu. Bukan hanya Samuel yang merajuk tapi mereka turut menyarankan meski Ayu tidak pernah mendengar.


Terlihat Ayu membuka kotak susu lalu mengeluarkan bungkusan berwarna silver. Dia sendiri yang menyiapkan toples untuk menyimpan susu tersebut berserta gelas dan sendoknya.


Setelah membaca aturan pakai, Ayu memasukkan beberapa sendok susu ke dalam gelas dan menyeduhnya dengan air dari teko yang juga di siapkan sendiri.

__ADS_1


"Tunggu apalagi?" Tuntut Samuel tidak sabar.


"Di minum Nyah. Biar Dedeknya sehat." Sahut Bik Ratih menimpali.


"Masih panas Bik." Samuel menyentuh gelas untuk memeriksa kebenarannya.


"Sudah hangat Babe. Cepat minum."


"Kalau terjadi sesuatu, aku membenci mu Bee." Jawab Ayu memukul pundak Samuel lembut.


"Aku akan tetap mencintaimu walaupun kamu membenciku. Go Babe."


Terlihat jelas mimik wajah keraguan terpatri. Ayu masih saja merasakan momen mengerikan tersebut.


Setelah menghela nafas berkali-kali. Ayu menyeruput sedikit susu yang memiliki rasa strawberry.


Enak..


Ayu meneguknya lagi dan lagi sampai susu di gelas habis tidak tersisa.


"Bagaimana? Enak?"


"Iya Bee enak." Samuel bernafas lega begitupun Bik Ijah dan Ratih.


"Syukurlah. Sekarang kita istirahat."


"Tidak Bee. Aku mau martabak manis." Samuel tersenyum aneh, menatap jam yang tergantung di atas pintu dapur yang menunjukkan pukul tiga sore. Apalagi di luar masih gerimis.


"Hm nanti kita beli. Ini masih sore Babe. Tunggu satu jam lagi."


"Aturannya bukan seperti itu. Aku tidak mau menunggu bukankah dulu kamu juga tidak mau menunggu ku."


"Hei, menunggu apa?"


"Kamu memaksaku menikah dan tidak mau menunggu sampai aku bisa move on." Samuel sering merasa jika semua keinginan yang di lontarkan Ayu mencerminkan kepribadiannya.


"Kenapa membahas itu. Kamu bahagia kan sekarang."


"Bagaimana bisa bahagia kalau untuk martabak manis saja harus menunggu!"


"Masalahnya tidak ada yang menjual di jam segini." Jawab Samuel menjelaskan.


"Entahlah! Aku tidak mau tahu dan aku malas menunggu." Ayu berjalan keluar dapur sementara Samuel menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Coba cari di jalan manggis Tuan." Sahut Bik Ratih menyarankan.


"Memangnya ada Bik?"


"Kalau jam segini mungkin belum buka. Tapi penjualannya rumahnya dekat situ."


"Jauh sekali Bik. Butuh waktu setengah jam."


"Non Ayu di ajak saja Tuan. Kalau menunggu di di rumah takutnya malah salah faham." Bik Ratih dan Bik Ijah adalah saksi mata saat Ayu merasa gelisah menunggu pesanannya.


"Em ya. Terimakasih ya Bik."


"Sama-sama."


Samuel berjalan seraya tersenyum ketika mengingat ucapan Ayu yang tiba-tiba membahas soal awal hubungan mereka.


Aku yakin dia anak laki-laki. Sangat mirip denganku..


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2