
Sudah seminggu lamanya, Ayu berusaha mencari perkerjaan dengan ijasah miliknya namun hasil yang di dapatkan nihil. Meski kontrakan rumah sudah terbayar enam bulan ke depan tapi dia membutuhkan uang untuk membeli susu formula.
Semenjak Riska hadir. Ayu menjadi stress sampai-sampai asi yang tadinya lancar tiba-tiba berhenti. Terpaksa Daniel di berikan bantuan susu formula meski sebenarnya Ayu tidak ingin.
Pagi itu seperti biasa. Ayu berdandan rapi dengan sebuah map di tangannya. Dia menghampiri Daniel yang tengah di asuh Bik Ratih.
"Mama." Ucap Daniel polos. Dia sudah bisa berceloteh meskipun ucapannya terkadang tidak jelas.
"Ouch sayang. Mama tinggal dulu ya. Doakan hari ini Mama mendapatkan perkerjaan." Mata Ayu berkaca-kaca. Rasanya dadanya langsung sesak ketika menyadari Samuel tidak lagi bersamanya. Apa mereka sekarang berbahagia tanpaku?
Fikiran negatif bergejolak di hati. Ayu mulai membayangkan jika sentuhan, senyuman dan perhatian yang Samuel berikan akan berpindah pada wanita lain.
"Harus semangat Nyah. Kasihan Daniel."
"Ya Bik." Jawabnya menyeka tangis." Doakan hari ini saya dapat perkerjaan Bik." Ujarnya lirih.
"Amin Nyah."
"Mama pergi ya sayang. Jangan nakal-nakal." Setelah memberikan kecupan di sekitar wajah Daniel, Ayu berjalan keluar rumah dan memacu motornya pergi.
Ayu menyusuri jalanan perkotaan dengan mengunakan masker. Motor matiknya sengaja di rubah, untuk menyamarkan pelariannya. Dia tidak ingin kembali pulang sebelum Riska pergi. Tapi Ayu juga sudah menyiapkan hati kalau seandainya Samuel lebih memilih Riska daripada dirinya.
Seharusnya Ayu tidak setakut sekarang, sebab beberapa kali Samuel menyakinkan hatinya bahwa dirinya satu-satunya wanita yang di cintai.
Tapi rupanya kegagalan awal membuatnya masih saja merasa takut. Dia takut di perlakukan buruk seperti pernikahan pertamanya. Ayu tidak ingin terjadi sesuatu dengan Daniel jika harus bertahan di lingkungan yang menurutnya tidak sehat.
Motor Ayu berhenti di bahu jalan. Menatap tulisan lowongan terpampang di sebuah gudang kecil. Dia merasa ragu untuk menghampiri karena takut jika perusahaan kecil itu berkerja sama dengan Samuel.
Perusahaan ini masih menengah ke bawah. Tidak mungkin Mas Sam menanam saham di sini..
Dengan terpaksa, Ayu melajukan motornya dan memarkirkannya di depan gudang. Dia berjalan menghampiri satpam dengan membawa map coklat.
"Permisi Pak. Em apa benar ada lowongan?" Tanya Ayu ramah.
"Ada Non. Bagian administrasi tapi mencari yang berpengalaman."
"Saya punya pengalaman Pak." Jawabnya cepat.
"Serius Non?"
"Iya Pak." Ayu menunjukkan berkas miliknya. Si satpam mengambilnya lalu memeriksanya.
"Kebetulan ada Pak Ridwan di dalam."
"Pak Ridwan?" Nama Pak Ridwan bukan hanya satu saja kan.
"Mari masuk Non." Salah satu satpam mengantarkan Ayu ke dalam. Setibanya di pintu sebuah ruangan, satpam masuk terlebih dahulu lalu keluar dan menyuruh Ayu masuk.
Bibir Ayu seketika mengembang ketika dia melihat Pak Ridwan duduk di sofa bersama John, anak laki-lakinya.
__ADS_1
"Pak Ridwan." Sapa Ayu lirih.
"Astaga jadi kamu yang akan melamar? Silahkan duduk Ayu." Ayu mengangguk sebentar kemudian duduk dengan sopan.
"Ayu? Apa dia.." John menunjuk ke arah Ayu.
"Ya Ayu yang Ayah ceritakan. Dia sudah berkeluarga sekarang." John mengulurkan tangannya ke arah Ayu. Ini pertama kalinya dia melihat sosok yang kerapkali di bahas sang Ayah.
"John."
"Ayu Pak."
"Setua itu?" John menarik lagi tangannya saat Ayu tidak merespon.
"Untuk menghormati."
"Ingat John, dia sudah punya Suami."
"Hm ya."
"Bapak sudah memeriksa berkas mu. Ini sesuai kriteria tapi gajinya kecil Ay."
"Tidak apa Pak." Jawab Ayu cepat.
"Bapak bingung. Kenapa kamu mencari perkerjaan lagi?"
"Di sini tidak banyak karyawan. Di bagian produksi hanya ada 20 orang. Nanti ada seseorang yang akan membantu perkerjaan mu. Tapi jangan mengeluh kalau sedikit sibuk, maklum perusahaan kecil." Ujar Pak Ridwan menjelaskan.
"Saya siap Pak. Em jadi, kapan saya bisa berkerja?"
"Sekarang tidak apa kan. Untuk pelatihan saja."
"Oh saya siap Pak." Jawab Ayu cepat. Raut wajahnya terlihat bahagia walaupun terbesit kekhawatiran jika nantinya Samuel akan menemukannya.
Dengan seksama, Ayu mendengarkan penjelasan yang di lontarkan John. Dia yang sudah memiliki pengalaman, tentu tidak merasa kesulitan.
"Bisa di pahami Ayu?"
"Bisa Mas." Jawabnya cepat.
"Lebih cocok di panggil Mas daripada Pak."
"Tapi Pak lebih terdengar sopan."
"Hm tapi panggilan Mas lebih nyaman. Em hari ini Radit tidak masuk."
"Siapa Radit itu?" Tanyanya pelan.
"Temanku. Tapi dia juga berkerja di sini bagian pemasaran." Ayu mengangguk patuh. Membaca berkas yang ada di tangannya." Kamu masukkan semua data, aku akan mengecek ke gudang sebentar." Pinta John ramah.
__ADS_1
"Ya Mas siap."
Ayu menghembuskan nafas berat lalu mulai memindahkan satu persatu file yang ada di berkas. Tangannya masih terlihat lincah dalam mengetik meski semenjak kepergiannya dari rumah Samuel, fikirannya kerapkali terganggu dan bercabang.
🌹🌹🌹
Samuel keluar dari kamar utama dengan wajah datar. Dia sudah jarang berada di rumah semenjak Ayu pergi. Samuel lebih memilih menyibukkan diri dengan perkerjaan daripada harus berdiam diri dan melihat kelakuan Riska yang menurutnya memuakkan.
"Daddy." Sontak Samuel menghentikan laju kakinya. Menoleh ke arah Keano sejenak lalu melanjutkan langkahnya.
"Seharusnya kamu memperlakukan Keano dengan baik. Dia juga memiliki hak yang sama." Samuel tersenyum kecut lalu menatap tajam ke arah Riska.
"Dia bukan anakku." Jawab Samuel tegas. Dia yakin jika Keano bukanlah anaknya.
"Sudah ku katakan, aku hamil ketika meninggalkan mu."
"Omong kosong Riska!! Kenapa kau baru datang sekarang jika memang dulu kau mengandung anakku!!" Ayu yang tidak lagi ada, membuat Samuel sulit mengontrol amarahnya. Dia tidak mau memikirkan bagaimana psikologi Keano.
"Dia meninggal. Itu kenapa aku ingin kau bertanggung jawab atas keano." Bik Ijah yang melihat itu, langsung menggiring Keano masuk daripada harus mendengarkan perdebatan.
"Aku bertanya? Berapa nominal yang harus ku bayar tapi kau tidak juga pergi. Sekarang lihatlah! Kau menghancurkan kehidupan ku lagi." Samuel kerapkali menawarkan nominal yang harus di bayar. Dia juga berniat memberikan hunian yang layak dan mau menopang seluruh biaya hidup Keano tapi Riska tidak menerima dan menyebut Samuel tidak adil.
"Wanita itu tidak pantas bersanding denganmu. Kalau dia lebih baik dariku, mungkin aku langsung menyebutkan nominal nya." Riska melangkah mendekat dengan senyum simpul." Aku yakin kau hanya menjadikannya pelampiasan. Ayolah Sam, dia sudah pergi dan sekarang kita bisa mulai semuanya dari awal." Saat Riska akan menyentuh lengan, sontak Samuel memundurkan tubuhnya untuk menghindar. Dia tidak ingin mengingkari janjinya pada Ayu.
"Kau salah. Aku sangat mencintai nya melebihi diriku sendiri." Menunjuk ke dadanya.
"Dulu kau juga mencintai ku seperti itu."
"Itu dulu!" Jawab Samuel cepat.
"Tidak akan ada bedanya Sam."
"Tentu saja berbeda. Sekarang aku lelaki miskin, aku hanya memiliki nya." Mata Riska membulat, dia merasa bingung dengan ucapan Samuel yang seakan bisa menebak niatnya.
"Kamu bercanda kan." Tanyanya lirih.
"Tidak. Semua harta ku sudah atas nama Istriku."
"Bukankah kau bodoh kalau melakukan itu?" Tentu saja Riska terpancing sebab dia memang menginginkan Samuel karena kekayaannya.
"Terserah. Aku tidak perduli. Silahkan tinggal di sini sesukamu. Tapi jangan harap kau bisa menjamah harta ku. Ini milik Istri ku." Samuel melangkah keluar. Dia berharap Riska segera meninggalkan rumah Agar dia bisa membawa Ayu kembali.
"Haha konyol. Mana mungkin Samuel sebodoh itu." Riska seakan tidak percaya dan menganggap Samuel mengarang cerita agar dirinya pergi." Kau dan harta mu harus jadi milikku." Umpatnya sambil berteriak-teriak memanggil Keano.
🌹🌹🌹
Minta dukungannya agar novel ini terus berlanjut..
Terimakasih 🥰
__ADS_1