Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Kebenaran soal Riska


__ADS_3

Di sebuah sekolah Taman kanak-kanak. Beberapa orang berkerumun menantikan keluarnya anak-anak yang akan di jemput. Wajah mereka terlihat berseri-seri walaupun cuaca terasa panas.


Keano sengaja berjalan melambat. Menatap teman-teman yang di sambut hangat oleh orang tua masing-masing. Ingin rasanya dia berada di posisi mereka lagi. Merasakan perhatian dan kasih sayang dari kedua orangtuanya.


Apa Papa benar-benar meninggal? Kenapa Mama tidak memperbolehkan ku ke pemakamannya?


Kecerdasan Keano membuatnya mampu berfikir dewasa. Sejak perubahan terasa pada sosok Riska, dia mengait-ngaitkan semuanya dengan kematian sang Ayah yang mungkin meninggalkan beban pada Riska.


Mama tidak sehangat dulu. Kean sudah tidak pernah nakal tapi Mama tetap saja memarahi ku terus-menerus..


Tiiiinnnn!!


Sontak Keano menatap lurus ke mobil mewah yang terparkir. Semua berdecak kagum melihat mobil seharga puluhan milyar tersebut.


Namun berbeda dengan Keano. Dia melangkah perlahan mendekat lalu masuk dan duduk di sisi Riska.


"Adik Daniel sudah kembali." Riska mulai melancarkan aksinya untuk mempengaruhi Keano agar mereka bisa terus tinggal.


"Benarkah Mom?" Ekspresi wajah sumringah langsung terpancar sebab Ayu lebih bisa memberikan Keano kehangatan daripada Ibu kandungnya sendiri.


"Iya. Tapi Ibu Ayu ingin kita pergi. Kau mau?" Senyum Keano seketika pudar.


"Why?"


"Tanyakan padanya nanti. Jawab Mama. Apa kamu mau pergi dari rumah itu dan tidak lagi bertemu Adik Daniel."


"No Mom. Aku ingin bersama Adik Daniel. Kean akan bicara pada Ibu Ayu. Kean tidak akan nakal." Jawabnya polos sementara Riska tersungging. Dia ingin memanfaaatkan keluguan Kean untuk memenuhi ambisinya menguasai harta dan simpatik Samuel.


"Itu kenapa kamu harus merajuk Ibu Ayu. Bilang padanya, Kean tidak mau pergi."


"Oke Mom. Kean akan bicara pada Ibu Ayu."


"Lantas? Bagaimana pendapat mu tentang Papi Samuel?"


"Papi Sam?" Keano memperlihatkan matanya yang bulat." Aku tidak tahu Mom." Imbuhnya pelan.


"Dia Ayah kandung mu."

__ADS_1


"Not Mom. Ayah kandungku Stefan Hansson."


"Dia hanya Ayah tiri mu."


"Papi seperti tidak suka pada Kean. Dia tidak pernah menyapa Kean dan mengajak bermain." Kerapkali Kean berusaha mengobrol dengan Samuel. Namun semuanya sia-sia sebab Samuel seakan menganggapnya tidak ada. Samuel selalu menghindar, memasang wajah datar dan enggan mengucapkan kata-kata.


"Itu hanya butuh waktu. Kamu harus bertahan agar hak mu tidak di ambil Adik Daniel." Sungguh ganjil sikap yang di tunjukkan Riska. Tidak seharusnya dia mempengaruhi Kean untuk berbuat sesuatu yang tidak baik. Apa karena dia terlalu buta akan harta atau perasaannya pada Samuel yang terasa menggebu-gebu. Alasan apapun, sikap yang di tunjukkan Riska tetap saja terlihat aneh.


"Ya Mom." Jawab Kean lemah. Sesungguhnya dia mengharapkan kasih sayang dari Ayu juga kebersamaanya bersama Daniel. Aku harus jadi anak baik agar Ibu Ayu tidak mengusir ku. Yeah.. Setelah ini aku akan di suapi bersama Adik Daniel.


🌹🌹🌹


Amsterdam


Stefan Hansson menatap lemah ke arah Riska, wanita yang di rebut nya dari Samuel. Wanita ini terlihat pucat setelah beberapa bulan terpaksa mendapatkan perawatan kejiwaan di rumah sakit yang ada di kota tersebut.


Riska di tuduh menjadi dalang akan menghilangnya Kean satu tahun silam. Beberapa bukti CCTV menunjukkan sosok Riska sendiri yang sudah membawa anaknya pergi.


Tentu saja Riska menyangkal, sebab dirinya tidak merasa melakukannya. Dia bahkan merasa bingung ketika pihak sekolah berkata jika Kean sudah pulang bersamanya beberapa saat lalu.


Sayang sekali. Bukti CCTV menguatkan tuduhan tersebut. Sehingga Stefan pasrah dan harus menerima kemungkinan terburuk. Pihak berwajib memastikan jika nyawa Kean sudah di habisi oleh Riska sendiri.


"Apa itu?"


"Orang yang mirip dengan mu, berkerja sama dengan pihak bandara. Itu kenapa dia memalsukan CCTV sehingga polisi tidak bisa melacaknya." Riska tersenyum simpul. Meski dia terlihat cantik namun tubuhnya tidak sebagus wanita yang berpura-pura menjadi Riska.


"Jadi mereka menemukan Kean?" Tanyanya antusias.


"Aku tidak yakin kalau Kean masih hidup. Ini sudah satu tahun." Jawab Stefan lemah.


"Di mana dia membawanya?"


"Indonesia."


Riska melebarkan matanya begitupun Stefan yang langsung menghembuskan nafas berat. Mereka merasa jika apa yang terjadi pada kehidupannya, adalah teguran dari Tuhan.


Apalagi negara yang di tuju adalah tempat tinggal seseorang yang mereka curangi. Membuat keduanya kembali di bawa pada masa di mana mereka membawa kabur harta Samuel.

__ADS_1


Harta curian itu bahkan sudah berkembang menjadi sebuah perusahaan yang kini di kelola oleh Stefan. Dari perusahaan itulah Stefan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya.


"Apa kamu serius Stef?" Tanya Riska terbata. Ada niat terbesit untuk meminta maaf. Namun dirinya terlalu takut untuk kembali.


"Ya. Pegawai Bandara itu sudah mengakui semuanya." Stefan menghembuskan nafas berat. Menyesali perbuatannya dulu meski sampai saat ini dia bisa membuktikan jika Stefan benar-benar mencintai Riska." Apa Tuhan ingin kita kembali ke sana?" Imbuhnya lirih.


"Ini hanya kebetulan saja."


"Kenapa harus negara Indonesian?"


"Dia tidak akan memaafkan ku."


"Lalu bagaimana? Apa kita lanjutkan pencarian?"


"Hm ya. Aku yakin anakku masih hidup. Keano kuat." Riska mengatakan sesuai dengan apa yang ada di dalam hatinya.


"Oke. Aku akan menyuruh polisi untuk melanjutkan pencarian. Jika ada kabar tentang keberadaan Keano, kita datang ke sana sekalian meminta maaf. Aku akan menyiapkan nominal yang sama untuk mengganti uang yang kita curi." Riska meraih jemari Stefan seraya tersenyum.


Ketulusan hati Samuel dalam mencintai Riska dulu, membuat keluarga kecil mereka di bayang-bayangi dosa masa lalu. Meski kehidupan layak berhasil mereka dapatkan, namun ada sedikit ketakutan terbesit jika suatu saat dosa tersebut berbalik haluan menimpa anak satu-satunya mereka, yaitu Keano.


🌹🌹🌹


Setibanya di rumah. Kean berlari kecil masuk ke dalam lift. Dia tidak sabar bertemu Ayu namun raut wajahnya berubah kecewa saat melihat pintu kamar utama tertutup.


Bik Ratih yang melihat itu tersenyum, menghampiri Kean dengan satu gelas sirup dingin.


"Ganti seragam lalu makan Aden." Kean menoleh namun tidak mengambil sirup yang ada di nampan.


"Kean ingin bertemu Adik Daniel."


"Adik Daniel sedang beristirahat. Nanti setelah makan, pasti Adik Daniel bangun."


"Kean ingin di suapi Ibu Ayu." Bik Ratih tersenyum, menghembuskan nafas berat karena dia mengetahui jika Riska malah pergi entah kemana setelah mengantarkan Kean pulang. Orang tua yang seharusnya memperhatikan Kean malah kerapkali mengabaikannya.


"Ya sudah. Ganti baju dulu Aden. Nanti seragamnya kotor." Rajuk Bik Ratih menatap iba ke arah Kean.


"Baik Bibik. Setelah ini Kean akan menunggu sampai Ibu Ayu selesai beristirahat." Setelah tersenyum polos, Kean berlari kecil masuk ke kamarnya.

__ADS_1


"Ibu macam apa sih Nyonya Riska itu. Anaknya sendiri kok tidak di urus. Kasihan Aden Kean." Gumamnya berjalan lemah menuruni tangga sambil membawa sirup yang belum tersentuh.


🌹🌹🌹


__ADS_2