
NB: Bagi yang tidak mengenal Ines. Mohon di baca part berjudul "SAMUEL" Terimakasih 🙏😁
Happy reading ❤️
Dengan setengah berlari, Samuel berjalan menuju apartemen setelah membungkus tiga kotak makanan.
Penampilannya terlihat biasa saja, sebab Samuel masih ingin menjaga privasinya dari media.
Sekalipun dia tidak pernah mengenakan jas ketika relasinya menginginkan pertemuan di luar perusahaan. Mereka tidak merasa keberatan akan penampilan Samuel, karena lebih mementingkan kerja sama yang terkadang sudah terjalin baik.
Samuel menempelkan kartu lalu berjalan tenang di lobby menuju lift. Dari jauh dia melihat sosok wanita yang cukup di kenal.
Samuel berjalan melewatinya begitu saja bahkan berpura-pura tidak tahu. Sementara si wanita memutar haluan untuk memastikan jika apa yang di lihat adalah benar.
"Sam." Sapa Ines. Wanita yang pernah menjadi tetangga kontrakan.
"Oh kau." Samuel tersenyum simpul lalu berjalan melewatinya namun Ines terus berusaha menghadang langkahnya. Dia menatap kartu VIP yang sedang di bawa Samuel.
Ines tahu jika kartu itu hanya di miliki oleh pemilik apartemen mewah tersebut. Sebab lantai teratas memang di khususkan untuk si pemilik.
"Apa yang salah? Kenapa kau menghadang langkah ku?" Protes Samuel santai.
"Kau dapat kartu itu dari mana? Apa kau mencurinya?" Samuel tersenyum simpul mendengar tebakan wanita matre di hadapannya.
"Untuk apa bertanya. Entah kartu ini ku dapatkan dari mencuri atau tidak. Itu bukan urusanmu."
"Itu kartu VIP." Menunjuk ke arah kartu.
"Lalu?"
"Hanya pemilik apartemen yang punya."
"Aku heran. Setiap kali bertemu denganmu, kau hanya membicarakan materi dan kemewahan."
"Itu hal yang wajar. Hidup itu butuh uang. Katakan padaku, apa kau saudara si pemilik itu?" Samuel hanya tersenyum lalu pergi begitu saja. Cepat-cepat dia masuk ke dalam lift sebelum ines berhasil menyusul." Tidak mungkin sekali kalau lelaki miskin itu pemilik tempat ini." Ines mengurungkan niatnya untuk keluar dan malah berjalan ke arah resepsionis untuk bertanya.
"Ada yang bisa saya bantu Nona."
"Em kau tahu lelaki yang tadi mengobrol denganku?" Si resepsionis mengangguk." Siapa dia?" Imbuhnya penasaran.
"Tuan Samuel Ivander. Pemilik tempat ini." Sontak mata Ines melebar sebab selama ini dia menganggap Samuel lelaki miskin.
"Kau yakin."
"Sangat yakin Nona. Saya sudah berkerja di sini sejak awal apartemen ini di buka." Ines membalikkan tubuhnya seraya mengigit kukunya. Dia menyesali perbuatannya pada Samuel dulu.
Dunia terbalik! Lelaki yang ku fikir kaya ternyata hanya lelaki beristri. Dia bahkan membohongi ku dengan berkata sudah membelikan apartemen tapi ternyata, dia hanya menyewa tepat ini saja. Sementara Samuel...
"Dia tinggal di lantai berapa?" Tanya Ines kembali menghadap resepsionis.
"Itu privasi Nona. Saya juga tidak tahu Tuan Sam tinggal di lantai berapa."
"Bukankah lantai 14 dan 15 kamar pribadinya?"
"Iya Nona."
Ines beranjak pergi dengan perasaan kalut. Dia melangkah keluar lobby seraya memesan taksi untuk pergi ke tempat kerjanya.
__ADS_1
Aku yakin ini akan lebih mudah sebab Samuel sudah mengenalku. Ugh!! Untuk apa kamu berpura-pura sih Sam. Aku akan mendekatinya dengan perlahan setelah aku tahu soal informasi kamarnya.
🌹🌹🌹
Sudah lima belas menit berlalu, Samuel hanya berdiri seraya memandangi gaya tidur Ayu yang terlihat konyol. Dia sengaja tidak bergerak agar dirinya bisa menikmati bahkan mengabadikan momen ini dalam beberapa foto.
Tepat setelah Samuel berhasil mengambil beberapa gambar. Ponsel Ayu tiba-tiba berdering sehingga pemiliknya terpekik kaget dan terduduk.
Tanpa sadar akan keberadaan Samuel, Ayu mengangkat panggilan yang di ketahui dari Mita. Samuel malah memundurkan tubuhnya ingin mendengar obrolan keduanya secara sembunyi-sembunyi.
📞📞📞
"Hoaaaaammmmmmm. Ya Mit.
"Astaga. Kau baru bangun.
"Tidak. Sebenarnya sudah bangun tapi aku ketiduran tadi.
"Hahaha enak sekali hidupmu sekarang.
"Enak apa sih? Sama saja.
"Kau terlihat lebih bebas.
"Hm ya seperti nya.
"Minggu depan tunangan ku ada waktu. Bagaimana kalau kita dinner bersama.
"Jujur? Bagaimana kehidupan mu sekarang.
"Terlalu manis Mit. Aku senang tapi takut juga kalau Mas Sam nantinya berubah lebih buruk.
Samuel menghela nafas panjang mendengar pengakuan dari kekhawatiran Ayu.
"Sejauh aku mengenal Mas Sam. Aku tidak pernah melihatnya berpacaran.
"Entahlah Mit. Aku ingin sedia payung sebelum hujan. Lebih baik aku memiliki Suami biasa saja asalkan pernikahanku tidak hancur.
Ucapan tersebut seperti belati yang cukup tajam untuk mengiris hati Samuel namun dia mencoba untuk mengerti posisi Ayu.
"Aku sarankan jaga diri dan pola makan agar nantinya kamu bisa terus terlihat menarik. Tapi jangan sampai diet ketat dan minum obat-obatan.
"Dia melarang itu. Aku malah di suruh makan dan makan.
Nada bicara Ayu sontak membuat suasana hati Samuel kembali baik. Nada manja ketika Ayu merengek sudah mulai menjadi candu untuknya.
"Ya semoga saja Mas Sam bisa menerima keadaan mu ketika kamu berubah menjadi ikan buntal hahaha.
"Itu yang ku takutkan. Ya untuk sekarang masih sangat wajar jika dia bersikap manis. Ini baru awal hubungan, bagaimana nantinya kalau dia mulai bosan padaku.
Samuel tidak tahan, dia berjalan mendekat lalu meraih ponsel yang ada di tangan Ayu dan mengubahnya menjadi panggilan video.
Sejak kapan Mas Sam pulang..
Wajah Ayu seketika pucat. Dia merasa tidak enak pada Samuel yang pasti sudah mendengarkan obrolannya.
__ADS_1
"Kau akan jadi saksi kalau aku tidak akan pernah meninggalkan dia meskipun tubuhnya berubah menjadi ikan buntal.
"Iya Mas Oke.
Jawab Mita asal. Dia terkekeh melihat raut wajah pucat yang di perlihatkan Ayu.
"Itu tidak sopan Mas.
"Mita juga temanku. Apa salahnya merebut panggilan.
"Hahaha. Ya sudah silahkan berdebat asal jangan benar-benar bertengkar. Aku kerja dulu Ay. Sampai jumpa hari Minggu.
📞📞📞
Mita mengakhiri panggilan karena merasa sungkan. Sementara Samuel langsung meletakkan ponsel seraya menatap lekat ke Ayu yang tertunduk.
"Maaf Mas." Ujarnya pelan padahal Samuel sudah mengetahui jika selama ini Ayu berpura-pura sudah melupakan masa lalunya.
"Selalu ku maafkan. Aku membawa makanan sesuai janji." Ujarnya mengiring Ayu duduk bahkan menyiapkan satu kotak makanan untuk Ayu.
"Marah saja kalau ingin marah." Protes Ayu melihat makanan yang sudah ada di pangkuannya.
"Mau ku suapi?" Tanya Samuel mengalihkan pembicaraan. Dia ingin menelan bulat-bulat resiko itu sendiri.
"Tidak." Ayu malah meletakkan lagi kontak makan di atas meja.
"Why?"
"Aku masih saja membuat mu sakit hati Mas." Eluh Ayu meruntuki kesalahannya sendiri. Ingin rasanya dia segera meninggalkan masa lalu sampai tidak tersisa. Namun, kehadiran Dika kemarin menimbulkan perasaan tidak nyaman. Ayu takut kalau selamanya Dika akan menjadi bayang-bayang di hidupnya.
"Aku mengerti ini sulit Babe."
"Seharusnya kamu tidak memilih..."
"Itu malah menyakiti ku." Sahut Samuel cepat." Jangan fikirkan soal perasaan ku. Aku sudah bertekad untuk menanggung resiko dan menunggumu sampai hatimu benar-benar sembuh." Imbuhnya mengambil kotak makan Ayu.
"Aku akan berdosa Mas."
"Aku yang berdosa. Tuhan tahu ini keinginan ku. Makan dulu." Samuel menyodorkan satu sendok makanan seraya menyuguhkan senyuman hangat." Tuhan tahu hati mu belum siap. Tapi aku memaksamu untuk menikah. Hanya saja, aku yakin Tuhan juga tahu kalau niatku baik." Ucapan Samuel kembali bisa membuat hati Ayu luluh. Dia membuka mulutnya untuk menerima suapan lalu mengambil kotak makan dari Samuel.
"Terimakasih Mas."
"Sama-sama Babe."
"Kamu juga makan."
"Hm ya. Aku membeli tiga kotak untuk berjaga-jaga mungkin kamu mau nambah." Mata Ayu membulat sambil mengunyah.
"Aku sudah makan roti isi tadi."
"Itu untuk mengganjal perut. Ini baru sarapan. Makan yang banyak, agar kamu cepat hamil." Ayu mengangguk pelan seraya tersenyum simpul.
Dia lelaki yang baik.
Cara itu ternyata tidak berhasil. Aku berharap Ayu bisa melepaskan masa lalu setelah perdebatannya kemarin. Tapi ternyata dia masih merasakan kekecewaan. Apa aku terlalu terburu-buru dan bernaffsu? Aku hanya berharap Tuhan melapangkan hatiku seluas-luasnya agar aku tidak harus mengotori tanganku dengan membunuh lelaki sialan itu!!
🌹🌹🌹
__ADS_1