
Hujan turun membasahi setiap langkah, hingga jejak itu hilang terhapus. Tapi langit, tetap menjadi saksi atas setiap langkah yang tergores pada ujung-ujung kehidupan. Mereka yang diam-diam tertawa, menghina, dan meninggalkan luka, meski tak terlihat langsung, langit tetap menjadi saksi atas senyum-senyum palsu itu.
Pemuda Berbakat
Di istana, tanpa menunggu lebih lama, singgasana Putra Mahkota dan sebuah tempat tepat di sebelah Young dibiarkan kosong. Acarapun kemudian segera dimulai. Sementara itu, para pejabat mulai berbaris lebih rapi dan pelan-pelan mengurangi bising mereka. Yang Mulia Raja berdiri, dengan wajah tak biasa. Sangat kecewa, seperti itu kelihatannya.
“Sebelumnya, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya, atas absennya Putra Mahkota dalam acara pagi ini. Karena saat ini, Putra Mahkota masih sedang terkena flu,” jelas raja dari singgasananya.
Kebohongan…
Mendengar perkataan raja, para menteri berbisik pelan.
“Lihat, apa lagi yang bisa dilakukan oleh Yang Mulia untuk membela putranya yang tidak patuh itu,” bisik para menteri.
Kebencian..
Raja menatap Lee Young yang sedang menunduk, pandangannya tak lama langsung beralih pada barisan kosong di sebelah Young. Ia menatap dalam tempat itu. Namun, akhirnya pelan-pelan mengarahkan tatapannya pada singgasana Putra Mahkota.
Melihat tatapan raja, Perdana Menteri Han yang sebenarnya sejak tadi menatap gerbang sesekali juga memandang tempat kosong di sebelah Young. Ia tampak sangat putus asa, melangkah gontai sambil menundukkan kepala. Segera setelahnya menghampiri raja.
Dan rasa bersalah..
“Maaf Yang Mulia, hukum saja hamba. Karena sepertinya, putra hamba tidak bisa hadir. Anda tidak perlu menunggu lebih lama, Anda bisa memulai acara ini sekarang,” Perdana Menteri Han menunduk karena merasa bersalah pada Yang Mulia.
“Jadi, tempat kosong itu adalah milik putramu?" tanya raja.
“Ya, Yang Mulia.”
“Baiklah, acara akan segera kita mulai,” perintah Yang Mulia, diikuti dengan gerakan seluruh opsir menutup gerbang dan berbaris rapi.
Tak semuanya pedih.
Namun, belum sempat tertutup rapat, tiba-tiba seorang pemuda berjalan dari tengah gerbang.
Raja yang hendak memulai acara langsung memandang ke arahnya. Pandangan raja itu diikuti oleh seluruh orang yang ada disana. Dengan tatapan mata yang kharismatik dan senyuman yang hangat, pemuda itu pelan-pelan melangkah ke hadapan raja. Sontak semua orang melihatnya.
Karena,
“Maaf atas keterlambatan hamba Yang Mulia,” ucap pemuda itu di hadapan raja dengan sangat hormat. Hal ini membuat seluruh yang ada di istana heboh.
Ada cahaya yang selalu hadir.
__ADS_1
“Siapa anak itu? Aku belum pernah melihatnya. Berani sekali dia datang terlambat,” heboh para pejabat yang hadir.
Raja yang melihat pemuda itu tersenyum senang, tampak sangat kagum.
“Pergilah ke barisanmu,” jawab raja padanya.
Pemuda itu dengan sigap berjalan cepat ke tempat kosong yang ada di sebelah Young. Saat itu, orang-orang mulai menatapnya. Setelah sampai pada tempatnya, pemuda itu menoleh pada Perdana Menteri Han.
Perdana Menteri Han yang sedang mengendalikan rasa cemasnya tersenyum senang melihatnya, tetapi pemuda itu cepat-cepat memalingkan wajah.
Yang tak ingin menerangi.
Acara hari itu berjalan dengan baik. Dalam pidatonya, raja mengungkapkan rasa syukur dan terimakasihnya atas kehadiran para putra negara yang dianggap memiliki kemampuan dan bakat masing-masing.
“Aku tidak menyangka, kalian semua masih sangat muda. Sama mudanya dengan para pangeran. Betapa menyenangkan bisa bertemu dengan anak-anak sehebat kalian. Aku sudah tidak sabar ingin melihat bakat-bakat yang kalian miliki. Baiklah, siapa yang ingin tampil diatas sana, tampil dan menghiburku lebih dulu,” tanya raja pada para putra tersebut.
Namun, tidak satupun dari mereka yang ingin maju. Melihat pemandangan itu para pangeran mengernyitkan dahi. Dengan tidak sabar, segera Pangeran Yul berdiri.
“Yang Mulia Ayahanda, izinkanlah hamba untuk menghibur anda dengan keterampilan seni bela diri hamba yang mungkin tidak ada apa-apanya ini," minta Pangeran Yul pada raja.
Mendengar sang putra yang berani itu, Ratu Kim (Seol) tersenyum bangga. Yang Mulia pun ikut tersenyum dan mengizinkannya tampil.
Penampilan Pangeran Yul menghasilkan banyak pujian kagum dari orang-orang yang melihatnya. Sementara Putri Shin yang juga hadir pada acara itu hanya bisa melihat dari jauh karena seorang putri tidak diizinkan dekat dengan para putra negara. Saat sedang menyaksikan penampilan adiknya, Putri Shin tersenyum bangga. Ia melihat ke arah banyak orang yang juga ikut memuji adiknya itu, hingga matanya tak sengaja terfokus pada seorang pemuda yang ada pada barisan paling belakang. Pria yang hanya diam saja itu sedang tersenyum manis. Terlihat sangat menikmati penampilan Pangeran Yul. Dia tampak begitu kagum pada pangeran. Bahkan pandangan pemuda itu terus mengikuti Pangeran Yul hingga Pangeran Yul duduk kembali pada singgasananya.
**
Setelah Pangeran Yul menunjukkan kebolehannya, seorang pemuda dengan tubuh tetap berototnya berjalan ke arah raja.
“Yang Mulia, perkenankanlah saya untuk menghibur Anda,” ucap salah seorang pemuda di hadapan raja sambil menundukkan kepalanya. Kedatangan pemuda itu disambut hangat oleh raja.
“Siapa namamu anak muda?" tanya raja dengan wajah bahagia.
“Yang Mulia, saya Won Bin, putra kepala menteri perang,” jawab pemuda itu lantang.
Won Bin yang merupakan putra kepala menteri perang adalah salah satu dari beberapa pemuda paling berbakat yang ada di negari tersebut. Kepandaiannya juga terdengar hingga masuk ke istana. Won Bin memiliki bakat dalam bidang yang sama dengan putra penasehat negara, Young. Mereka menempuh pendidikan yang sama pada Biro Pendidikan dan Pelatihan Militer terbaik yang pertama kali dibangun saat itu.
Tapi bukankah sudah kukatakan, bahwa tidak akan pernah ada dua mentari?
Won Bin dan Young memiliki karakter yang saling bertolak belakang. Won Bin adalah putra negara yang juga berbakat, akan tetapi perawakannya tidak sesuai dengan sikap dan perilakunya. Ia suka sekali mengganggu anak-anak yang lemah terutama para rakyat jelata. Won Bin punya banyak teman dan mereka memperlakukan Won Bin layaknya tuan. Sementara Young, ia sangat pendiam dan begitu kharismatik. Ia berteman dengan siapapun tetapi hanya percaya pada yang terdekat. Young sangat terkenal hingga ke seluruh lapisan masyarakat. Itulah yang membuat Won Bin tidak menyukainya.
Bintang yang lain akan terus berusaha lebih bersinar.
__ADS_1
Mendengar jawaban sang pemuda, dengan senang hati raja pun mempersilakan untuk menunjukkan kebolehan. Melihat pemandangan itu, sang ayah kepala menteri perang dengan senyuman bangga melirik kepada para menteri yang lain. Dengan senyumannya yang begitu lebar ia tunjukkan kepada Perdana Menteri Han. Namun, matanya melirik penasehat negara, dan tak lama kemudian, ia mengakhiri senyumannya saat penasehat negara tersebut menatap balik ke arahnya.
Pada saat itu, seluruh mata tertuju pada Won Bin, orang-orang mulai berfokus padanya. Dengan percaya diri pemuda itu berjalan di atas karpet merah yang terbentang lurus ke sebuah panggung pertunjukan. Ia terus berjalan dan melewati para pemuda yang saat itu menatapnya. Namun, saat ia berada di depan Young, Won Bin menoleh ke kanan tepat di depan Young yang sedang menatapnya. Ia tersenyum ringan, dengan tatapan penuh hina, seolah-olah menunjukkan bahwa dia adalah yang terbaik.
Young yang melihat itu hanya tersenyum padanya. Senyuman Young yang mematikan itu membuat Won Bin bergetar geram. Won Bin yang tak terima mengepal tangannya erat. Ia melirik pemuda di sebelah Young yang sedang tajam memperhatikannya. Tak lama ia menyadari orang-orang sedang menatapnya, dan dia harus menjaga sikapnya membuat Won Bin melanjutkan langkahnya dengan emosi yang terpendam.
Dengan seni berpedang yang ia miliki, Won Bin tampil sangat baik. Hal ini tentu membuat ayahnya sangat bangga. Orang-orang mulai berbisik membicarakannya. Tiba-tiba di pertengahan pertunjukannya, Won Bin berhenti.
“Yang Mulia, rasanya, sangat kurang jika saya tidak menampilkan yang terbaik di hadapan Yang Mulia. Saya adalah salah satu siswa Biro Pelatihan Militer terbaik di negeri ini. Saya ingin mengasah kemampuan duel yang saya miliki,” ucap Won Bin yang membuat semua orang terbelalak.
“Di usia yang masih begitu muda ini, begitu sangat membanggakan bagi saya bisa tampil di hadapan Yang Mulia dan orang-orang terhormat di istana. Untuk itu, saya ingin memberikan yang terbaik,” sambung Won Bin.
“Kau ingin berduel?" tanya raja padanya.
“Jika di izinkan, saya ingin berduel dengan Lee Young, putra penasehat negara, Yang Mulia,” jawab Won Bin lantang.
Mendengar permintaan ini, semua orang terkejut, terutama ayahnya, kepala menteri perang. Penasehat negara yang mendengar permintaan Won Bin, dengan cemas memandang putranya, Lee Young. Sementara itu, Pangeran Yul dan Pangeran Hon saling bertatapan.
“Anak yang begitu pemberani. Lihat bagaimana ia menantang putra penasehat negara. Aku benar-benar tidak menyangka ia meminta hal itu kepada Yang Mulia,” bisik para menteri bergantian.
“Yang Mulia tidak akan mengizinkannya. Usia mereka masih sangat muda. Lagipula ini bukan ajang kompetisi,” balas menteri yang lain.
Tiba-tiba,
“Bagaimana menurutmu, Lee Young?" tanya raja pada Young yang saat itu menunduk terdiam, seolah menyetujui permintaan Won Bin.
Semua orang terbelalak, menatap Young dan berusaha memasang telinga mereka baik-baik. Keputusan Young adalah yang mereka tunggu. Tatapan mereka bahkan tak teralihkan oleh apapun. Tidak ada satupun dari mereka yang tidak menoleh ke arahnya. Young yang saat itu hanya menunduk diam sayup-sayup mendengar orang-orang berbicara buruk tentang ayanya.
“Putra penasehat negara itu, akan sama pengecutnya dengan ayahnya,” satu diantara orang-orang yang mengolok-olok ayahnya. Ia bisa mendengar itu sayup-sayup di telinganya.
Young pelan-pelan mengangkat kepalanya. Ia memandang ayahnya. Tampak dari jauh wajah sang ayah yang khawatir, berharap Young menolak tawaran raja.
“Dengan senang hati, Yang Mulia,” jawab Young dengan santai, membuat sang ayah terkejut.
Mendengar jawaban itu, orang-orang saling memandang. Kepala Menteri Perang memandang penasehat negara dengan tatapan kebencian yang dalam. Ia melotot tajam dan mulai tersenyum sinis. Penasehat Negara tidak menggubris senyuman itu, ia hanya khawatir pada putranya.
Pemuda terlambat yang berbaris di sebelah Young menatap Young dalam-dalam. Lalu ia mengalihkan pandangannya pada Won Bin yang sedang memandang sinis.
Bukan sebuah upaya. Ia meminta, untuk menghina.
“Akan jadi pertunjukan yang sangat menarik,” bisik para pejabat dan para pemuda silih berganti.
__ADS_1
**