Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Putri Mahkota atau Ratu


__ADS_3

Pertemuan haru antara Jung Hyun dan Putra Mahkota, menciptakan aliran sungai air mata bagi para pelayan. Kasim Cho yang berdiri di depan bilik tak berhenti terisak, hingga Jung Hyun akhirnya keluar.


Mereka saling berpandangan, sebelum akhirnya Kasim Cho ajak bicara. Tak jauh dari istana Putra Mahkota, Jung Hyun dan Kasim Cho berbincang ringan, memelankan suara.


"Apa Putra Mahkota tahu, aku seorang pengkhianat sejak lama?" tanya Jung Hyun masih dengan suara sengau habis menangis.


Kasim Cho mengangguk. Menghapus pelan air matanya. "Sejak kecil, beliau sudah sangat menderita. Sangat tidak tega, hamba melihatnya terus saja dicaci dan dihina oleh rakyatnya sendiri. Mereka tidak tahu, beras yang mereka dapatkan, semuanya adalah hasil kekayaan Putra Mahkota," jawab Kasim Cho.


"Aku tidak menyangka, beliau benar-benar tahu tentang segalanya. Sudah berapa lama?" tanya Jung Hyun.


"Sejak awal. Sejak awal beliau sudah tahu."


Kasim Cho menghela napas. "Dia sangat tahu bahwa hampir seluruh isi istana ini menginginkan kematian beliau, termasuk permaisuri Lee. Jung Hyun, bantu lah supaya permaisuri jatuh cinta pada Putra Mahkota. Beliau tersenyum dan bersemangat tiap kali permaisuri berlaku baik padanya. Beliau akan mengamuk dan melukai diri sendiri jika permaisuri menyakitinya. Tangannya penuh luka, apa tidak sedikit saja timbul di hati permaisuri rasa iba untuk sering datang dan memberikan kasih sayangnya?"


"Jadi, Putra Mahkota sudah tahu, permaisurinya ingin membunuhnya?" tanya Jung Hyun menampakkan manik mata yang menaruh simpati sangat kasihan.


Kasim Cho mengangguk putus asa. "Beliau tahu. Dan kadang memutuskan untuk menerima takdir menyedihkan itu. Bukankah itu sangat menyedihkan?" Kasim Cho menyapu keringat di dahinya. Wajahnya memerah karena sudah berusaha keras menahan tangisnya.


"Beliau benar-benar mencintai Putri Mahkota, bukan karena alasan lain?" tanya Jung Hyun.


"Ya. Beliau sangat mencintai permaisurinya. Bahkan saat pertama kali mereka bertemu."


Jung Hyun menjadi lemah. Dia duduk di pinggir tiang menyentuh kepalanya. "Kita tidak boleh membiarkan negeri ini kehilangan pemimpin yang benar. Putra Mahkota harus bertahan agar dapat menunjukkan betapa hebat dan baiknya dia."

__ADS_1


Jung Hyun tiba-tiba mengangkat tubuhnya berdiri. "Apapun yang terjadi, tetaplah awasi Putra Mahkota. Seseorang akan terus berusaha membunuhnya. Transaksi gelap soal racun mematikan menunjukkan terjadinya interaksi salah seorang penghuni istana selain Putri Mahkota."


Jung Hyun mendekat, sedikit berbisik. "Para pelayan ini mungkin saja utusan dari seseorang yang berusaha menyingkirkan Putra Mahkota. Ada banyak mata dan pengkhianat yang mengincar beliau. Masalah permaisuri, aku akan berusaha mencari cara."


Jung Hyun menyentuh pundak Kasim Cho, "Selain Anda, tidak ada lagi yang bisa aku percaya. Termasuk diriku sendiri. Jadi, tetaplah bertahan dan kuat apapun yang terjadi. Tolong berikan hiburan kepada Putra Mahkota. Aku akan mencari petunjuk dari luar istana. Dan Anda carilah petunjuk dari dalam."


Perkataan Jung Hyun membentuk sebuah ikatan kepercayaan yang selama ini belum pernah dia berikan. Soal cintanya kepada Putri Shin, dia berusaha untuk terus melupakannya. Yang terpenting baginya saat ini adalah keselamatan Putra Mahkota. Kasim Cho melirik hampir semua pelayan Putra Mahkota. Pandangan penuh kecurigaan itu dia titipkan saat melangkah masuk kembali ke bilik Putra Mahkota.


Pemandangan yang menyejukkan jiwa. Melihat Putra Mahkota terlelap dengan baik di atas ranjang adalah sebuah anugerah baginya. Putra Mahkota selama ini sangat sulit makan dan tidur. Beliau selalu berjaga sepanjang waktu hingga jatuh sakit. Mungkin, ini kilas balik dari rasa senangnya tadi pagi. Dapat berduaan dengan sang istri meski tak begitu lama, sudah begitu bermanfaat untuk hidupnya.


***


Matahari belum lagi mengintip, ratu sudah datang dengan angkuhnya mendobrak kediaman Putri Mahkota. "Yang Mulia, apa yang Anda lakukan?" tanya Dayang Nari terkejut. Ratu menarik selimut Youra. "Kau bangunlah menantu memalukan!" teriak ratu hingga Youra terjaga.


Youra cekatan bangun dan membungkukkan tubuhnya. "Ada apa gerangan, Anda datang terlalu pagi, Yang Mulia?" Youra bertanya.


Ratu tertawa, hingga para pelayan bergidik ketakutan. "Siapa kau di istana ini sehingga bisa berbuat seenaknya?" tanya ratu semakin tidak dimengerti.


Youra merapikan gaunnya dan segera berdiri. "Maaf Yang Mulia, tetapi aku tidak mengerti maksud Anda."


"Kau tidak datang ke istana utama melakukan pemeriksaan. Dan ternyata, kau asik bercumbu mesra dengan Putra Mahkota di pagi hari. Bukankah itu sangat memalukan?!" kembali ratu berteriak.


Youra mengepal keras tangannya, berusaha menahan emosi yang hampir saja meledak. "Hamba benar-benar tidak mengerti maksud Anda. Jika pagi yang Anda maksud adalah kemarin, tidak ada yang terjadi. Hamba hanya mengunjungi beliau yang sedang tidak enak badan."

__ADS_1


"Cih! Alasanmu tidak masuk akal! Wanita tidak berpendidikan sepertimu memang hanya akan mempermalukan negeri. Bukan hanya suaminya yang sampah disini. Ternyata istrinya lebih busuk dari sampah!"


Youra terus saja berusaha menahan kemarahan yang sudah berada di ujung tombak.


"Karena kelakuan tidak beradab kalian, suamiku dalam keadaan lebih buruk!" teriak ratu marah-marah, dengan pakaian kusutnya yang berantakan.


"Jika Anda datang kemari hanya untuk menghinaku, dengan hormat aku meminta Anda untuk hengkang dari kediamanku." Youra geram, ingin sekali menendang sang ratu pergi.


Ratu yang sudah memaki-maki akhirnya menarik rambut Youra karena kesal. "Siapa kau yang berani mengusirku! Jika bukan anak tak beradab itu yang meminta, aku pastikan kau enyah dari tempat ini!"


Yorua menarik tangan ratu dari rambutnya lebih kasar. "Kau pikir aku tidak tahu bahwa kau yang sudah berusaha menyingkirkanku? Kau meletakkan racun di gelasku, dan mengirim orang untuk membunuhku. Kau pikir aku tidak tahu? Ha!"


Para dayang yang berjaga memasang wajah khawatir mereka. Melirik ke segala arah memastikan tak ada yang mengetahuinya.


Youra melawan, kali ini sudah tak lagi dapat menahannya. "Kurang ajar!" teriak ratu tidak terima.


"Biar kuberitahu satu hal padamu. Jika terjadi sesuatu yang buruk pada raja dan anak-anakku, ku pastikan kau dan suamimu akan mati dan membusuk di neraka! Jika kau berpikir aku menyayangi anak pembawa sial itu, kau salah besar. Dia bukan putraku, dan bukan darah dagingku." Ratu memelankan suaranya saat mengatakan hal yang seharusnya mulutnya simpan.


Youra tercengang, tak habis pikir dan coba meraba-raba. Aneh. Kenyataan soal ratu bukanlah ratu asli, tak pernah Youra ketahui. "Apa maksudmu?" tanya Youra melotot.


Ratu mendekat dengan tubuh bergetarnya yang penuh aura gelap. Dia tersenyum tipis, tampak memulai kegilaan. "Aku berhasil menyingkirkan bahkan mereka yang terkuat. Apalagi hanya sebutir pasir tak berharga seperti dirimu. Tidak lama lagi, aku akan menikahkan Putra Mahkota dengan wanita pilihanku sendiri. Dan saat itu terjadi, kupastikan kau enyah dari istana ini."


"Silakan saja!" Youra membalas seringai mematikan dari ratu.

__ADS_1


***


__ADS_2