
Perdana Menteri Han spontan menajamkan pandangan itu kepada Youra yang sedang berjalan di tengah. Mereka bisa melihat bagaimana wanita itu kini sedang sangat kusut. Youra sudah turun dari tengah panggung, kembali di bawah hujan. Dayang Nari dan seluruh pelayan mengejarnya, membawakan payung untuknya berlindung. "Yang Mulia, apa yang Anda lakukan?" tanya salah seorang pelayan padanya sangat khawatir.
Setelah berhasil mengelabui para menteri, Youra mencoba untuk terlihat kuat. Wajahnya tak lepas urung barang sedikitpun. Dayang Nari menatap sang tuan yang saat ini sedang putus asa. Mereka mengantar Youra kembali ke kediaman. Membantunya membersihkan diri dan menghidangkan makanan. Hampir semua pelayan tersedu-sedu menangis disana. Wajah mereka menggambarkan betapa sakitnya rasa ini. Putri Mahkota jatuh cinta terlalu terlambat. Setelah sang suami dinyatakan mati, barulah dia merasa kehilangan.
"Dayang Nari," panggil Youra lirih. Dia duduk menghadap jendela, menatap kosong langit yang tak berhenti membawa hujan. "Aku ingin bertemu dengannya." Wajah tanpa ekspresi itu bertemankan air mata.
"Apa langit sedang menghukumku?" tanya pasrah Youra. Dayang Nari tak menjawab apapun, masih kecewa atas keputusan bodoh Youra yang gegabah sebelumnya.
Youra memangku wajahnya di atas kedua lutut yang saling menekuk. Menangis terisak hingga tubuhnya ikut merasakan. "Apa dia masih hidup?" Youra tak kuasa mengatakannya. Sangat tidak jelas, tetapi Dayang Nari dapat mendengarnya.
Meski itu tak lagi mungkin, tetapi aku tidak pernah menyerah untuk berharap. Aku selalu merindukanmu, Yang Mulia.
***
Pangeran Yul yang baru saja tiba disambut wajah kecewa para pejabat. "Ada apa?" tanya Pangeran Yul keheranan.
Para menteri saling melempar mata, menuangkan seluruh jawaban itu hanya dengan beberapa kali kedipan. "Putra Mahkota masih hidup?" tanya Pangeran Yul.
Mereka menggeleng bersamaan, "Bukan, Pangeran Yul. Putri Mahkota telah kembali. Dan mengaku bahwa dia tengah mengandung anak Putra Mahkota."
Pangeran Yul kebingungan, lantaran tahu bahwa Putra Mahkota dan Youra hanya punya cinta sepihak. Mungkin saja, semua bisa terjadi karena Putra Mahkota yang punya cinta, tetapi ada satu hal yang tak dapat dihindari. Pangeran Yul tahu, Youra dan Jun menjalin hubungan.
Setelah mendengar pengakuan Youra yang tengah mengandung. Jun yang baru saja hendak menginjakkan kaki ke istana langsung melemah. Jantungnya berdebar sangat kencang diraup cemburu. "Tidak mungkin!" Sekuat tenaga mencoba melawan kenyataan. Jun menggenggam jari-jemari tangannya sangat kuat.
***
Tak lama setelah tibanya Pangeran Yul, kabar dari istana wanita menghebohkan seluruh penghuni. Ratu yang sedang dalam keadaan sakit dan berduka, menyeret langkah berapi-api itu menuju kediaman Youra. Dengan piyama putih, rambut terurai tanpa alas kaki, wajah sembab tak sedikitpun ada riasan.
"Yang Mulia, Anda masih sakit!" Mereka, para pelayan ratu mengejar wanita berduka itu terburu-buru.
__ADS_1
Ratu masuk dengan lancang, tak pikir panjang menarik tubuh Youra yang sedang terbaring di atas ranjang.
Plak!
Tamparan hebat mendarat di pipi kanan Youra hingga membekas. "Semua ini karena kau! Kau meninggalkan istana, mengapa kau kembali?! Pelayan! Panggilkan tabib, periksa wanita pendusta ini!"
Para pelayan dengan sigap melaksanakan perintah. Youra tak bergeming sedikitpun. Dia terus saja menatap kosong ke depan. Tak memperlihatkan sedikitpun keraguan. Youra meremas gaunnya dengan jari jemari. "Jangan bersikap kurang ajar kepadaku." Jawaban Youra menohok ratu yang tak menyangka.
"Beraninya kau ... "
Belum lagi selesai ratu melemparkan kemarahan, Youra lekas menatap ratu tajam. Youra tersenyum, menciptakan seringai yang jauh lebih mengerikan dari sebelumnya. Menyatukan dua pasang mata yang saling berduka atas kematian suami itu.
"Aku Lee Youra, mulai sekarang ... adalah ratu di negeri ini. Hati-hatilah kau bersikap padaku wanita tua." Youra menusuk ratu dengan suntikan tajam dari mulutnya yang runcing.
Ratu terpojok, memancing kemarahan untuk mendaratkan kembali tamparan yang jauh lebih keras dari sebelumnya. Namun sebelum itu terjadi, seorang pelayan datang mengiring tabib masuk ke bilik Youra.
Tabib meraih tangan Youra. Dia menatap Youra sangat lama sebelum membacakan hasil pemeriksaan. "Bagaimana?" tanya ratu mendesak. Youra hanya terus menatap kosong ke depan, tak menoleh pada mereka sedikitpun.
"Dia hamil?" tanya ratu. Ada guratan halus dari wajah sang tabib. Dia seperti seseorang yang sedang melawan dirinya sendiri.
"Yang Mulia, Permaisuri Lee ... " Tabib itu kembali menatap Youra sebelum akhirnya memberikan hasil dari pemeriksaan.
"Permaisuri Lee, benar tengah mengandung anak Yang Mulia Putra Mahkota."
Seluruh pelayan, hingga ratu termasuk Youra langsung menoleh pada sang tabib. Mereka tak menyangka hasil pemeriksaan memang membenarkan segalanya. "Aa-apa? Kau mencoba membohongiku?" tanya ratu tak terima.
"Anda boleh bertanya pada yang lainnya, Yang Mulia. Memang benar, langit telah menitipkan anugerah pada rahim Putri Mahkota. Saat ini beliau memang sedang mengandung."
"Kau sudah dengar itu wanita tua? Keluar dari kamarku sekarang juga." Youra mengusir ratu dari sana, tanpa memandang wajahnya sama sekali. Ratu yang hampir saja tumbang, dibopong para pelayan kembali ke kediaman. Sedangkan para pelayan Youra sedang terpaku untuk meneliti lebih dalam soal kebohongan itu. Bagaimana dia bisa hamil? Apa pagi itu, semuanya terjadi? Kalau memang benar, bukankah itu baru terjadi beberapa hari yang lalu?
__ADS_1
***
Jung Hyun kembali ke lokasi peresembunyian Lee Young bersama dua orang pemuda lain. Dia juga membawa mantan tabib hebat kerajaan yang biasa di panggil Tabib Nam. Saat itu, mereka membawa tubuh sekarat Putra Mahkota berbaring di atas tumpukan jerami dalam sebuah gubuk yang jauh di balik gunung. Jung Hyun mendekati tubuh lemah itu, sembari menitikkan air mata.
"Kita harus membuka penutup wajah Putra Mahkota. Siapa yang bisa melakukannya?" tanya salah seorang pemuda. Dengan terpaksa, Jung Hyun membuka penutup wajah sang pewaris tahta untuk memeriksa seluruh kondisinya. Mereka ragu-ragu untuk menoleh pada wajah tampan itu. Namun, pada akhirnya mereka memberanikan diri untuk melihatnya saat Tabib Nam datang untuk memeriksa.
"Terkutuklah aku yang pernah membenci beliau. Beliau benar-benar berbeda dari rumor yang beredar. Wajahnya yang dikatakan buruk rupa, nyatanya sangat rupawan dan teduh." Sesal mereka saling bertaut.
***
Tak mendapati Lee Young ada di dalam, Jung Hyun keluar dari gubuk itu. Melihat sang sahabat sedang duduk termangu di tepi hujan. Jung Hyun mendekat, mendekap pundak Lee Young yang sudah lama tak bertemu dengannya. Lee Young sedang menyandarkan kepalanya di sisi tiang yang menopang gubuk tua itu. "Jadi, lelaki yang waktu itu menabrakku di jalan adalah kau?" tanya Jung Hyun. Young mengangguk pelan.
"Aku terlalu lama mati," kata Young dengan wajah merasa bersalah. "Seandainya aku bangun lebih cepat, aku akan mengubah segalanya," sambungnya.
"Aku menyebabkan adikku menjadi pembunuh suaminya sendiri." Lee Young sangat menyesali perbuatan Youra yang kejam dan tidak bermoral kepada suaminya.
"Aku kehilangan ingatanku setelah aku terbangun dari tidur yang panjang. Seorang pria tua mengobatiku cukup lama. Dia melarangku untuk meninggalkan persembunyian. Aku selalu penasaran dan ingin tahu kebenaran. Akhirnya aku tahu dan mulai mengingat segalanya. Putra Mahkota lah yang sudah menukar pembunuh bayaran itu dengan salah seorang suruhannya. Dia membawa jasadku pergi jauh dan mengobatinya. Aku ingin sekali membalaskan jasanya, tetapi dia melarangku untuk kembali ke istana. Dia hanya memintaku membantunya meletakkan beras di depan rumah warga setiap tengah malam secara diam-diam."
Lee Young menghela napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Dia tak pernah mengatakan bahwa dia telah lama menyukai adikku. Dan dia tak juga mengatakan bahwa dia telah menikahi adikku. Tapi melihat bagaimana dia terus saja mencari tahu tentang Youra, membuatku menyadari itu dengan sendirinya. Aku tak bisa berkata-kata saat menyadari adikku malah ingin membunuh pria yang sangat mencintainya. Dia tahu dan hanya diam saja. Rasanya, aku ingin memarahi anak itu. Tapi aku tahu, dia pasti sangat menderita karena telah kehilangan keluarganya."
Panjang lebar Young berkeluh kesah. Memperlihatkan betapa menyesalnya dia atas sikap gegabah Youra. Wajah Jung Hyun lebih buruk dari itu. Penyesalan yang lebih dalam terukir dari wajahnya. Jung Hyun ingin mengatakan bahwa Youra mengaku mengandung anak Putra Mahkota. Namun belum lagi dia mengatakan, suara tangis dari dalam bersahut-sahutan saat Tabib Nam melangkah keluar.
Jung Hyun dan Young berdiri cepat mendekat pada tabib yang tertunduk lesu. "Bagaimana? Apa yang terjadi?" tanya Jung Hyun dan Young bergantian.
Tabib itu menggeleng pelan, menandakan putusnya sebuah harapan. "Kita membutuhkan pelayan pribadi Putra Mahkota secepatnya. Ada hal aneh, yang harus aku telusuri."
***
__ADS_1