Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Pengakuan Saksi Kunci


__ADS_3

Suara ribut kembali membayang-bayangi mereka semua. Dayang Nari diam beberapa lama menunggu suara itu mereda.


"Diaam!" Jung Hyun menghentikan keributan, sesaat setelah melihat raja memberikan kode lewat tangannya.


"Lanjutkan," tambah Jung Hyun.


Dayang Nari menarik napas panjang. Air matanya jatuh dengan tegas.


"Aku datang ke istana ini di usiaku yang masih sangat muda, 10 tahun. Aku datang sendiri, membawa dendamku kepada mendiang raja karena sudah tega membunuh Ayahku saat Ibuku sedang hamil muda."


"Perlahan-lahan bayangan kelam terus saja terlintas dalam benakku. Tentang masa depan istana yang lebih dulu kupandang melalui imajinasi, atau ... memang sebuah kehendak langit."


"Aku berdiri di bawah hujan cukup lama agar tak ada yang tahu aku sedang menangis. Aku sedang mengutuk seluruh penghuni istana ini dengan lidahku yang pahit."


Dayang Nari tertawa kecil, tapi air matanya masih menetap. "Sangat sakit melihat putra putri raja tertawa tanpa merasakan penderitaan seperti yang aku alami, tapi ..."


Dayang Nari memandang raja. "Bayangan kelam kembali terlintas di kepalaku. Menuntut hatiku untuk mengalah. Mereka semua, putra putri raja itu ... tak ada satupun yang bahagia."


"Mereka duduk diam di istana, tak punya teman seperti aku yang bisa kemana saja. Tapi, meski bayang kelam soal rasa sakit mereka lebih dulu menghampiri pandanganku, aku tetap tidak ingin mengulurkan niatku untuk menghancurkan istana mengerikan ini."


Youra meremas lengan jubah suaminya. Dia sangat gugup mendengarkan semua kenyataan yang selama ini tidak dia ketahui.


"Aku benci mereka semua. Itu yang aku tahu. Namun, delapan tahun yang lalu ... saat aku memantapkan hati untuk terus melanjutkan balas dendam ini, aku melihat satu titik cahaya dalam diri seseorang."


Semua orang terperanjat. Berkali-kali mereka melempar mata. Youra dan raja berpegangan tangan. Jung Hyun yang masih dengan perasaan sedihnya karena Putri Shin tadi ikut deg-degan. Sementara, Lee Young yang seolah mengetahui sesuatu hanya mengangguk kecil.


"Dayang Nari, apa kau tidak dibayar oleh seseorang melakukan ini?! Apa maksud semuanya ini?" Pangeran Hon yang sibuk melirik seluruh keributan mencoba untuk mengalahkan suara lantang Dayang Nari. Maksudnya, agar dia tak sembarang berbicara.


Namun, Dayang Nari seolah tak mendengar perkataan Pangeran Hon. Dia bahkan semakin sering menghujani karpet merah itu dengan air mata. Semakin menunjukkan betapa yakinnya dia soal apa yang akan segera dia katakan.


Dayang Nari menatap raja dan Youra. Bibirnya bergetar, karena sepertinya dia ingin melepaskan ikatannya yang semakin merusak jiwa.

__ADS_1


"Saat aku hendak menuju kediaman raja, secara tidak sengaja aku melihat sebuah cahaya yang sinarnya sangat terang di dalam diri seseorang."


"Seorang pemuda suci tak berdosa, yang melangkah gembira masuk ke istana." Dayang Nari menyeka air matanya.


"Aku tak pernah melihat cahaya seterang itu dalam diri seseorang. Siapapun. Tapi, aku bisa melihat cahaya yang jauh lebih terang dari itu pada dirinya. Dia berlari sambil tertawa, memeluk Ayahnya, tanpa tahu apa-apa. Pemuda suci, yang tidak pernah sekalipun berbohong."


"Hatinya bersih dan tidak pernah membenci. Dia, pemuda itu ... berhenti tepat di depan istana Putra Mahkota. Menatap istana cukup lama, dan berkata kepada Ayahnya 'Ayah, aku ingin masuk ke sana' sambil tersenyum cerah."


"Sang Ayah tak bersuara, dan malah salah mengartikan tatapan tulus anaknya. Ayahnya mengira, anak laki-laki yang paling baik itu ingin menjadi seorang raja. Padahal, anak lelaki itu ingin masuk ke sana, karena ingin menemani Putra Mahkota yang kesepian."


Tak tahu siapa yang Dayang Nari ceritakan, tapi cerita itu bagai sebuah dongeng yang membuat banyak orang kembali menangis.


Dayang Nari kembali melanjutkan. "Setiap kali ke istana, dia akan berhenti sejenak di depan istana Putra Mahkota untuk sekedar memandanginya. Tak ada seorangpun yang peduli, dan tak ada seorangpun yang tahu siapa dia."


"Dia mengagumi Putra Mahkota yang terhina, dan menganggapnya luar biasa." Dayang Nari menyentuh dadanya yang tampak kesakitan.


"Pemuda itu ... telah berjasa kepada ribuan nyawa. Pemuda itu ... dialah orang yang mampu mengubah dunia ini menjadi gelap dalam sekejap, dan menjadi terang kembali dalam sekejap."


"Pemuda, yang membuatku berhenti untuk balas dendam. Pemuda malang, yang melepaskan cintanya, karena dosanya yang malang."


Dayang Nari menegakkan kepalanya. "Dia akan segera kemari, Yang Mulia. Dia akan kemari ... mengungkap semuanya."


"Dia, orang yang paling berjasa dan paling berbahaya ... datang untuk mencerahkan langit yang telah lama menangis." Dayang Nari dengan kekuatannya berusaha untuk mengatakan semua itu dengan baik.


"Dayang Nari, siapa? Siapa orangnya?" tanya Sekretaris Negara dari kejauhan.


Dayang Nari memandang langit, sebelum kembali menghadap raja. "Dia telah tiba, Yang Mulia. Pemuda malang itu telah tiba."


Tepat setelah Dayang Nari bersuara, seorang opsir berteriak dari kejauhan. "Yang Mulia, seseorang meminta izin untuk menjumpai Anda."


Dayang Nari menyatukan kedua tangannya seraya mengusap-usapnya memohon izin. "Biarkan dia masuk, Yang Mulia. Biarkan bintang itu masuk untuk menerangi gelap kita." Sampai melotot Dayang Nari memintanya.

__ADS_1


Ragu-ragu, akhirnya raja mengangguk.


Dari tengah rakyat yang berkumpul, pelan-pelan mereka membuka jalan untuk seorang pemuda yang sangat mereka kenal.


"Apa yang sedang terjadi?! Mengapa semuanya jadi seperti ini?"


"Kenapa penderitaan ini bertubi-tubi?"


"Dia ... bukankah dia ..."


Youra langsung berdiri dari duduknya. Air matanya menetes.


"Bukankah dia putra Perdana Menteri Han?"


***


Jun datang tanpa baju bangsawannya. Dia menyeret jubah mewah itu hingga menyapu tanah. Tanpa topi bangsawan yang biasa dia gunakan, tanpa buku, tanpa sabuk yang menunjukkan statusnya. Jun melepaskan jubah itu dari tangannya. Dia bersujud di hadapan raja. Tak tahu apa yang sudah dibicarakan Dayang Nari sebelumnya. Napasnya yang tersenggal-senggal menunjukkan bahwa dia baru saja datang sehabis berlari.


"Apa yang terjadi? Guru Jun, apa yang Anda lakukan?" tanya raja.


Tanpa disuruh, Jun berdiri lantas segera ingin berbicara. Sebelumnya dia tersenyum kepada Youra lebih dahulu.


Perdana Menteri Han gelagapan. Dia lantas mendekat pada putranya. "Apa yang kau lakukan disini?" tanya Perdana Menteri Han sembari menarik lengan putranya.


Jun memandang wajah ayahnya. Dia bersujud sambil menangis di kaki sang ayah. "Maafkan aku, Ayah. Aku tidak pernah, menginginkan istana."


Entah kenapa, kalimat mencurigakan itu membuat semua orang terbelalak. Perdana Menteri Han dibawa mundur oleh petugas, agar tak mengganggu saksi yang ingin berbicara.


Jun berdiri, merapikan pakaiannya.


"Bertahun-tahun yang lalu, aku telah jatuh cinta pada seorang gadis. Gadis ceria, bermata bulat." Jun senyum sendiri, awalnya. "Dia suka sekali mengintipku, dan mencari tahu tentang aku." Jun mengeluarkan sesuatu dari lengan bajunya. Melempar benda itu hingga terjatuh. "Dia sangat ceroboh dan bodoh." Bahkan Jun masih sempat bercanda.

__ADS_1


Youra meremuk gaun indahnya. "Awalnya, aku berusaha mengubah takdir. Gadis yang aku cintai, ditakdirkan untuk membenciku, tapi aku ... aku malah ingin mengubah takdir itu karena aku jatuh cinta padanya. Aku menggandeng tangannya dalam kepalsuan selama bertahun-tahun. Namun pada akhirnya ... dia memilih orang lain yang menghujaninya dengan kejujuran."


__ADS_2