
Di dalam tandu kehormatan itu, Youra terus saja bersama rasa cemasnya. Mereka mengantar Youra menyisiri bukit yang berliku itu menuju kuil yang ada di bukit. Youra membuka sedikit jendela kecil yang menempel pada tandu mewahnya, mencoba mengintip sudah sampai dimana mereka. Keringatnya sudah bercucuran, membasahi tiap sudut wajahnya. Terlalu lama, hingga mungkin saja prosesi pernikahan Pangeran Yul sudah selesai terlaksana. Tandu itu bergoyang keras, sangat terasa. Mungkin karena melewati bebatuan hingga para opsir kesusahan membawanya. Sekali lagi Youra memeriksa dari jendela kecil itu.
"Ada apa?" tanya Youra.
"Maaf Yang Mulia, jalannya penuh bebatuan. Mohon maaf sudah mengganggu kenyamanan Anda," jawab pemandu jalan.
Saat Youra mencoba mengintip sekali lagi, dia sangat terkejut. Tampaknya mereka melewati anak sungai yang tak jauh dari gunung. Youra kebingungan. Itu cukup jauh letaknya dari kuil. Namun, dia mencoba untuk menenangkan diri. Ini perintah raja yang tak mungkin bagi mereka untuk membawanya keluar dari perintah.
***
Sementara itu, di istana Putra Mahkota, Jung Hyun menundukkan wajah bersalahnya di hadapan tubuh Putra Mahkota yang terbaring tak sadarkan diri. Kasim Cho yang melihat momen mengharukan itu hanya bisa ikut menangis. Sudah cukup lama, Putra Mahkota tak sadarkan diri hingga banyak yang mengira Putra Mahkota tak akan pernah selamat lagi.
"Yang Mulia, bagaimana kabar Anda hari ini?" sapa Kasim Cho pada tubuh lemah yang tak mungkin mampu mendengarnya.
"Yang Mulia, tahukah Anda, hari ini adik Anda Pangeran Yul menikah," tambah Kasim Cho.
Kasim Cho mengambil handuk basah yang telah direndam dengan air hangat itu, lalu menyapunya di tangan Putra Mahkota. "Yang Mulia, sudah lama Anda tidak memintaku untuk menyiapkan air pemandian wangi. Kulit Anda sudah cukup kering. Tidakkah Anda ingin berendam seperti biasanya?"
Jung Hyun tak mampu lagi menahan diri, lantas dia memalingkan wajah ke arah yang berbeda. "Yang Mulia, permaisuri Anda dijadikan tersangka. Bukankah itu sangat menyedihkan?" Kasim Cho tak berhenti berbicara, menitikkan air mata pasrahnya. Dia terus saja menyapu tangan dan sebagian tubuh Putra Mahkota dengan air hangat, setelahnya dia keluar dari sana meninggalkan Jung Hyun bersama Putra Mahkota.
Hingga selang beberapa waktu kemudian,
"Jung Hyun..."
Suara itu, sangat berat. Mengejutkan Jung Hyun yang sedang termenung di tempat. "Putra Mahkota..."
Cepat-cepat Jung Hyun berlari ke arah sumber suara itu. Dan benar saja, Putra Mahkota membuka kelopak matanya, segera sadar. "Dimana istriku?"
Jung Hyun tercengang, baru saja sadarkan diri, Putra Mahkota sudah bertanya tentang sang istri. Dia terpaku di tempat tak percaya. Setelah sekian lama terbaring lemah, Putra Mahkota sadar dan langsung menanyakan Youra. Jung Hyun terdiam, mulutnya serasa terkunci. Kasim Cho belum juga kembali masuk ke bilik Putra Mahkota membuatnya semakin panik harus menjawab apa.
"Yang Mulia, syukurlah Anda sudah sadar. Istirahatlah dulu. Aku akan memanggilkan tabib secepatnya." Wajah Jung Hyun menorehkan kekhawatiran yang berlebih. Dia segera melangkah pergi untuk memanggil tabib, tetapi Putra Mahkota menahan tubuhnya, berusaha membawa berdiri tubuhnya yang lemah.
"Yang Mulia, apa yang Anda lakukan?" tanya Jung Hyun ketakutan, berusaha menahan Putra Mahkota.
"Aku ingin ke istana istriku," jawab Putra Mahkota dengan suara beratnya yang lemah. Dia menyeret kaki tak bertungkai itu untuk berdiri, dibantu Jung Hyun di sebelahnya.
__ADS_1
"Yang Mulia, Anda baru saja sadarkan diri. Berbaringlah sebentar hingga tabib datang." Jung Hyun berusaha membantu Putra Mahkota untuk kembali berbaring. Namun, Putra Mahkota mendorong tubuh Jung Hyung. Dia berjalan tertatih-tatih keluar dari kediamannya. Para pelayan sangat terkejut, ketika pintu itu dibuka lebar oleh Putra Mahkota. Sosok yang sudah lama sakit itu langsung keluar dari kediamannya bahkan disaat dia yang baru saja siuman.
"Yang Mulia, akhirnya Anda sadarkan diri," sapa bahagia para pelayan.
Putra Mahkota tak peduli, Jung Hyun memberikan kode pada para pelayan untuk menemani Putra Mahkota ke kediaman sang istri.
Masih tertatih, bahkan berkali-kali hampir saja jatuh ke tanah. Para pelayan mencoba membantunya, diikuti Kasim Cho dengan wajah cemasnya yang luar biasa.
"Yang Mulia, hamba mohon tenangkan diri Anda."
Putra Mahkota mendobrak pintu bilik istrinya. Mengagetkan seluruh pelayan istana Putri Mahkota. "Dimana permaisuriku?" tanya Putra Mahkota dengan napas tersenggalnya yang menyedihkan. Sangat jelas, tubuh itu pasti masih merasakan sakit luar biasa, tapi rasa sayang yang berlebihan membuatnya segera memeriksa apakah istrinya baik-baik saja.
Para pelayan saling berpandangan, hingga Dayang Nari pelayan pribadi Youra bersimpuh di kaki Putra Mahkota. "Maaf Yang Mulia, hari ini istana membawa Putri Mahkota," jawab Dayang Nari dengan raut wajah merasa bersalah.
Putra Mahkota sangat sesak napas. Bahkan untuk berbicara saja sangat sulit baginya. "Kemana mereka membawanya?" tanya Putra Mahkota. Dayang Nari berusaha untuk tidak menjawabnya, tetapi..
"Jawab!"
Bentakan Putra Mahkota sangat menakutkan. Menakutkan bukan karena kemarahannya, tapi karena tubuhnya yang lemah bergetar tampak masih sangat kesakitan, membuat para pelayan merasa iba. Mereka takut mengatakan kebenarannya, bahwa sang istri kini di tetapkan sebagai tersangka.
Dayang Nari berdiri, membungkukkan tubuhnya segera menyampaikan kebenaran. "Maaf Yang Mulia, permaisuri di pindahkan ke rumah aman, sejak Anda jatuh sakit."
"Yang Mulia, hamba mohon, lihatlah tangan Anda kembali terluka," risau teriakan para pelayan yang ketakutan mengubah suasana menjadi lebih menyedihkan.
Putra Mahkota berjalan pelan keluar dari kediaman sang istri, hampir saja terjatuh. Untung saja, cepat-cepat Kasim Cho dan Jung Hyun menahan tubuhnya yang lemah. "Bawa aku ke rumah aman," kata Putra Mahkota yang masih dengan sesaknya.
"Maaf Yang Mulia, istana membawa Putri Mahkota ke kuil selama pelaksanaan pernikahan Pangeran Yul," tambah Dayang Nari bergetar.
"Siapa yang memerintahkannya untuk pergi?!!" teriak Putra Mahkota penuh emosi.
Mereka saling berpandangan, lantas langsung bersujud di kaki sang Putra Mahkota, "Ampuni kami Yang Mulia.."
"Jung Hyun, siapkan aku kuda," perintah Putra Mahkota. Semua orang terbelalak, hingga Kasim Cho tak perlu pikir panjang untuk mencium kaki Putra Mahkota, memeganginya untuk tidak melangkah pergi. "Hamba mohon, sekali ini saja tolong pikirkan keselamatan Anda Yang Mulia. Hamba mohon sekali saja, tunggulah tabib datang untuk memeriksa Anda."
Putra Mahkota mengabaikannya, terus saja melewati Kasim Cho yang sedang menyentuh kakinya. "Lepaskan aku," perintah Putra Mahkota.
__ADS_1
"Kami memohon pada Anda Yang Mulia.." bersama-sama para pelayan bersujud memohon agar Putra Mahkota tetap di tempat.
"Jung Hyun apa kau tidak mendengarkan? Lakukan!"
Ragu-ragu Jung Hyun keluar dari sana, segera menyiapkan kuda untuk Putra Mahkota. Sementara, para pelayan akhirnya kalah. Putra Mahkota terlalu memaksa untuk menyusul sang istri. Kasim Cho membantu Putra Mahkota melangkah. "Yang Mulia, ingatlah bagaimana permaisuri tidak peduli pada Anda. Jangan menyakiti diri sendiri dengan cara seperti ini," berderai air mata Kasim Cho terus saja membujuknya.
Putra Mahkota tak peduli, tetap saja melangkah tertatih-tatih. "Aku akan mati, jika terjadi sesuatu yang buruk padanya."
Perkataan Putra Mahkota menghentikan langkah Kasim Cho untuk terus membujuknya. Mereka berhenti tepat di depan pintu gerbang lapangan memperhatikan Jung Hyun yang sudah menyiapkan dua kuda disana.
Tanpa pikir panjang, Putra Mahkota yang sangat lemah itu langsung saja naik ke atas kuda dan membawanya pergi. Jung Hyun pun ikut bergegas mengikutinya.
"Sedalam itukah cinta Anda pada seorang wanita yang tidak peduli kepada Anda. Kasihan sekali Anda, Yang Mulia.." batin Kasim Cho terluka, hanya bisa menyaksikan kepergian mereka dari kejauhan.
***
Tandu yang membawa Youra tiba-tiba saja berhenti, mengejutkan Youra yang hampir saja terlelap.
"Apa kita sudah sampai?" tanya Youra.
Pemandangan di luar tandu langsung menjawab pertanyaan itu. Jauh di seberang sana, tampak orang-orang berpakaian serba hitam menyergap mereka.
"Lindungi Yang Mulia Putri Mahkota!"
Mendengarnya saja, sudah menghancurkan puing-puing harapan untuk tetap hidup dan membalaskan dendam. Melihat betapa banyaknya orang yang menghadang mereka, membuat Youra sadar diri betapa menakutkannya situasi. Tandu itu di turunkan oleh para opsir, bersamaan dengan suara teriakan para dayang.
Aku mengira, hidupku telah berakhir sia-sia...
Suara teriakan itu disambut dengan bunyi pedang-pedang yang beradu, desingan yang menciptakan irama nyaring yang menakutkan bagi Youra. Mengingatkan padanya pertarungan terakhir sang kakak yang tewas karenanya. Youra menutup telinganya, berusaha keras untuk tidak mendengarnya. Menyakitkan, hingga napasnya sesak tak beraturan. Terkurung, bersama cucuran keringat dan air mata ketakutan di dalam tandu sempit yang membuatnya sesak.
Tapi..
Hingga akhirnya, tandu itu di buka oleh seseorang, membuat Youra ketakutan dan segera menutup matanya.
"Ayo.."
__ADS_1
Aku selamat sekali lagi.
Suara itu membuatnya kembali membuka mata, memperlihatkan tangan kekar yang langsung saja menarik tubuhnya keluar, membawanya masuk dalam pelukan hangat.