Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Awal Penderitaan


__ADS_3

Suatu hari, Young datang ke istana memenuhi panggilan raja. Young tidak sendiri, ia bersama pemuda-pemuda bertemu kembali setelah ujian negara waktu itu. 


Hari itu, tidak terlalu cerah, namun kicauan burung pagi masih terdengar bersahut-sahutan, menyilang indah menciptakan nada pagi. Hari itu, berbeda dari biasanya. Ada lebih banyak pengawal di istana. 


Saat itu, para pangeran tiba dan lewat di depan para pemuda bersama para pengawal mereka. Sesaat setelah para pangeran duduk di singgasana mereka, sekretaris negara berdiri menyampaikan kata sambutan. Saat itu, mereka semua yang ribut pelan-pelan terdiam. 


Setelah sekretaris negara berpidato, raja berdiri.


“Lee Young putra penasehat Lee Tae Hwon, mendekatlah kemari,” perintah raja di hadapan seluruh pemuda.


Lee Young pelan-pelan melangkah ke arah raja.


“Sebagai siswa militer terbaik, aku ingin tahu, posisi terbaik apa yang ingin kau dapatkan di istana ini? Mungkin saja, aku akan memberikan itu kepadamu,” tanya raja yang disambut rasa dengki orang-orang disana. 


Saat Young hendak menjawabnya, tiba-tiba, secara tidak sengaja ia melihat seorang pemuda dengan pakaian yang luar biasa mewah dan indah, berjalan cepat terlihat dari celah-celah tiang bersama beberapa kasim. Pemuda berpostur tinggi dan rapi, dengan wibawa hebat yang sangat kharismatik. Pemuda itu adalah Putra Mahkota yang sebenarnya hadir di lapangan itu diam-diam, tetapi, Young tidak tahu siapa pemuda itu. 


Jika aku ingin melenyapkan manusia-manusia bodoh dan serakah ini,


“Aku ingin menjadi pengawal pribadi Putra Mahkota, Yang Mulia".


Aku harus mengubah dunia yang kejam ini terlebih dahulu.


Tidak ada satu orangpun yang mempercayai jawaban Young tersebut. 


Namun, Putra Mahkota yang tidak sengaja mendengar itu, menghentikan langkahnya.


“Siapa pemuda yang berkata konyol itu?” tanya Putra Mahkota pada pelayannya.


“Dia Lee Young, putra penasehat negara, siswa militer terbaik di negeri ini,” jawab sang pelayan.


Putra Mahkota kemudian tersenyum kecil dan pergi dari tempat itu segera.


Selama ini, mereka semua tahu betapa buruknya Putra Mahkota. Rumor buruk yang menimpa Putra Mahkota, dan kenyataan yang ada membuat tidak seorangpun bersedia bekerja di istana Putra Mahkota, apalagi untuk menjadi pengawal pribadinya yang otomatis harus selalu bersedia dekat dan melindunginya. 


Saat itu, raja sangat terkejut. Jung Hyun sang sahabat, benar-benar tidak menyangka atas apa yang menjadi jawaban Young.


“Semua orang menghindari posisi itu, lantas mengapa kau menginginkannya?” tanya raja tidak percaya.

__ADS_1


Aku tidak menginginkan apapun.


“Aku mengagumi beliau. Putra Mahkota negeri ini, pastilah putra terbaik di negeri ini. Aku ingin, berguru dengannya,” jawab Young.


Aku tidak peduli, pada pandangan orang lain.


Raja kemudian tersenyum.


“Baiklah,” angguk raja.


Pertemuan hari itupun berjalan dengan lancar dan cepat.


Saat hendak pulang, Won Bin mencegat Young.


“Caramu mencuri perhatian raja memang luar biasa. Aku tidak menyangka, resiko besar yang akan kau terima benar-benar akan menyenangkan. Apa kau ini bodoh?".


Won Bin mendekatkan wajahnya pada Young kemudian tertawa.


“HAHAHA! Tentu saja. Kalian memang sangat cocok! Seorang pengecut sepertimu menjadi pengawal pangeran yang hina, bukankah itu sangat cocok?" ledek Won Bin sebelum akhirnya meninggalkan Young.


“Kenapa? Teman, kau bisa meminta posisi paling hebat di istana, seperti menjadi jendral misalnya. Kenapa kau malah memilih posisi mengerikan itu? Putra Mahkota, ditakuti oleh banyak orang. Dia terkenal sangat kejam,” tanya Jung Hyun.


Young hanya diam saja, tanpa jawaban sama sekali, meninggalkan sahabatnya yang kebingungan0.


Untuk mengubah dunia, seorang ksatria bahkan rela mati. Mengapa aku tidak bisa melakukannya?


**


Suatu hari, istana yang damai di serang kabar tak sedap. 


Awal dari penderitaan, 


Sangat tidak disangka-sangka, rumor buruk tentang Putra Mahkota yang selama ini dijaga agar tidak menyebar malah menjadi-jadi hingga tersebar luas sampai ke negeri seberang. Rumor itu tersebar luas karena tulisan seseorang yang ditempel pada dinding rumah warga, bahkan tiap-tiap sudut terkecil di negeri itu sekalipun tidak terlewatkan. Mereka yang semula tidak tahu, menjadi tahu rumor-rumor buruk Putra Mahkota. Bahkan rumor itu menjadi lebih gila lagi dan semakin besar. 


Saat hujan tak membawa pelangi, turun begitu saja menenggelamkan tak henti.


Raja yang mendengar itu, memerintahkan seluruh opsir untuk mencabut seluruh tulisan yang ditempelkan dimana-mana itu. Kini seluruh rakyat jelata mengetahui rumor itu dan berbondong-bondong ke istana untuk mengutuk Putra Mahkota. Tak sedikit dari mereka bahkan dengan berani berteriak untuk melengserkan Putra Mahkota.

__ADS_1


Para menteri yang mengetahui hal ini menjadi panik. Namun, di balik panik itu, mereka berharap Putra Mahkota benar-benar dilengserkan.


Langit biru yang indah menjadi kelam kelabu. 


“Tangkap dan bunuh siapapun yang melakukan itu! Tangkap beserta keluarganya!! Cepat!!" teriak raja murka dari kamarnya. 


Semua orang ketakutan. Para menteri yang mendengar itu saling berbisik.


“Menurutmu, apakah Yang Mulia akan melengserkan putranya?” bisik salah seorang menteri.


“Mau tidak mau, dia harus melakukannya,” kata yang lain.


Sementara itu, ratu datang untuk menenangkan suaminya.


“Yang Mulia, Suamiku, izinkanlah aku memberimu saran,” kata ratu.


Sambil memegang pundak suaminya, ratu pelan-pelan mendekat.


“Yang Mulia, alangkah lebih baik, Anda mengganti posisi Putra Mahkota dengan Pangeran Yul. Hanya ini cara satu-satunya untuk menjaga stabilitas negara. Aku sangat paham situasi ini, tapi setidaknya Anda juga memikirkan masa depan Putra Mahkota. Orang-orang akan berusaha mencelakai dia agar dia lengser. Aku tidak mau, nantinya akan terjadi pemberontakan di istana ini".


Raja yang mendengar itu langsung memandang wajah sang istri. Ia membelai rambut sang istri dengan tangannya. Hingga sampailah tangan itu dekat dengan tenggorokan sang istri. Tangan itu mulai menekan keras leher sang ratu.


“Kau tahu, berapa lama aku mempertahankan semua ini? Posisi yang kau dapatkan ini adalah berkat mendiang istriku. Jangan pernah berpikir aku akan mengubah seluruh janjiku. Aku sudah berjanji pada istriku, bahwa hanya Hyeon satu-satunya pewaris tahta di kerajaan ini”.


Raja tersenyum jahat, mendorong tubuh istrinya itu hingga terjatuh di atas ranjang.


“Yang Mulia, aku hany..". 


“Jangan pernah berpikir sesuatu yang membuatku muak melihat dirimu!” bentak raja.


Mendengar ucapan sang suami, ratu berdiri. Sambil bercucuran air mata ia berteriak di hadapan suaminya.


“Sampai kapan? Sampai kapan kau terus berharap pada putramu yang bodoh itu? Sampai kapan kau berharap pada hal yang mustahil? Sampai kapan kau menunggunya?! Dia, putramu yang tidak tahu malu itu, tidak pernah berbuat apapun! Setidaknya kau pikirkan masa depan dua putramu yang lain? Jika kau tidak bisa menghargai aku sebagai istrimu, setidaknya kau memikirkan putramu yang lain, biarkan Putra Mahkota pergi dari sini!". 


Raja yang sedang bergelut dengan emosinya, dibuat tak terima dan semakin menjadi. Emosi itu meluap-luap hingga akhirnya ia mendaratkan telapak tangannya di pipi sang istri. Ratu Kim hanya bisa pasrah menatap suaminya. Dia pergi dari bilik sang suami, membawa dendam dan air mata.


Kehancuran itu, sedikit lagi datang menghampiriku.  

__ADS_1


__ADS_2