Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Perintah Raja


__ADS_3

"Terkutuklah Putra Mahkota yang hina!"


Teriakan itu menggema hingga ke pelosok rumah-rumah warga. Sekelompok penduduk berjalan beriringan dengan papan penolakan. Ditemani oleh badut-badut penghibur memberikan penghinaan tajam pada Putra Mahkota. Berita raja jatuh sakit langsung ditanggapi cepat oleh mereka.


"Acara pernikahan Pangeran Yul yang membawa keberkahan menjadi rusak karena kutukan yang dibawa Putra Mahkota!"


Terus saja melemparkan kalimat-kalimat menakutkan dan sumpah serapah, menggambarkan betapa buruknya kesan Putra Mahkota di mata mereka.


Para badut itu menggoyangkan pinggul mereka, menghina sang pewaris tahta. Kabar tentang Yang Mulia Raja jatuh sakit, membuat mereka memaksa istana untuk cepat-cepat mencabut gelar Putra Mahkota dari Pangeran Baek Hyeon yang dianggap membawa bencana.


Sedang di istana, wajah-wajah penuh kekhawatiran itu menyatu di bawah gelapnya langit yang mendung.


"Apa yang harus kita lakukan? Raja jatuh sakit di saat yang genting seperti ini. Negeri musuh akan bersiasat untuk menyerang dari belakang, setelah mendengar berita buruk soal Putra Mahkota yang hina, mereka tidak akan tinggal diam!" teriak para menteri bersahut-sahutan.


"Siapa yang akan memimpin rapat penting besok pagi? Lihatlah para rakyat sudah sibuk melayangkan protes untuk pencabutan gelar Putra Mahkota."


Tiga kubu yang saling bertolak belakang melempar senyum mereka masing-masing. Keadaan genting ini akan menimbulkan kesempatan baru untuk mereka semua. Para pengkhianat yang memasang strategi dan siasat untuk menyingkirkan kepemimpinan Putra Mahkota. Sayang sekali, tak ada satupun dari mereka yang membela sang pewaris tahta.


"Kita harus memanggil Pangeran Yul soal ini. Masalah genting yang harus cepat diselesaikan ini harus dipimpin oleh penguasa istana. Transaksi dengan Dinasti Qing yang belum usai, harus segera dilaksanakan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman yang memicu pertumpahan darah." Kepala Menteri Perang mencoba mengeluarkan suara di tengah-tengah keributan.


"Pangeran Yul baru saja menikah. Kita belum boleh mengunjungi beliau, lagi pula kita bisa memanggil Pangeran Hon untuk sementara, dia yang ada di istana ini." Salah seorang dari kubu yang menginginkan Pangeran Hon mewarisi tahta mencoba mengambil kesempatan itu.


"Cukup! Bisa-bisanya kalian membahas soal pergantian pimpinan rapat di saat Putra Mahkota masih hidup di istana ini. Kalian bisa saja di katakan pemberontak terselubung!" teriakan Sekretaris Negara sangat berapi-api.


"Hei sekretaris negara! Apa Anda lupa? Beliau saat ini sedang sakit dan belum sadarkan diri, bagaimana kita tidak boleh memikirkan hal seperti itu?"


Percakapan sengit itu memunculkan sudut tawa di bibir Perdana Menteri Han. Diam saja di tempatnya, mengangguk kecil.


Komentar dan argumen tiap orang meluap-luap. Memperlihatkan berapa banyak kubu yang saat ini ingin melengserkan pewaris tahta. Memberikan kesempatan memimpin rapat pada salah satu pangeran menjadi siasat licik mereka. Sementara, Putra Mahkota yang dicaci sedang terbaring di atas ranjangnya.


***


"Bagaimana kabar Ayahku?" tanya Pangeran Yul pada para tabib yang baru saja tiba.


Tabib itu saling berpandangan, "Saat ini, beliau dalam keadaan yang tidak baik, Pangeran. Beliau harus istirahat panjang, dan rutin mengkonsumsi herbal yang sudah diracik."


Di dalam bilik raja, Pangeran Yul tidak sendiri. Perdana Menteri Han, Sekretaris Negara dan Pangeran Hon ada disana atas perintah raja. Suasana sangat hening di sekitar sana, sebelum akhirnya seorang pelayan datang mendekati raja.


"Bagaimana?" tanya raja pelan.


"Yang Mulia Putra Mahkota sudah sadarkan diri, Yang Mulia."


Pernyataan sang pelayan mengejutkan semua yang ada di dalam sana. Mereka saling melempar pandangan. Tidak menyangka Putra Mahkota sudah sadarkan diri setelah jatuh sakit sekian lama.

__ADS_1


"Rapat itu tidak bisa dibatalkan," ucap raja. Sambil memperbaiki posisinya, raja dibantu Pangeran Hon dan Pangeran Yul untuk duduk. "Berikan perintah pada Putra Mahkota untuk memimpin rapat besok pagi," sambung raja setelahnya.


Semua yang ada di dalam sana terbelalak. Mengingat Putra Mahkota adalah putra yang pembangkang dan tidak patuh membuat mereka tak percaya terhadap keputusan pribadi raja.


"Yang Mulia, Putra Mahkota belum pulih. Bukankah sebaiknya rapat itu dipimpin oleh yang lain terlebih dahulu?" protes Pangeran Yul.


Raja menutup matanya, "Apa yang harus aku katakan pada rakyat, jika rapat harus digantikan oleh orang lain padahal Putra Mahkota masih ada?" jawab raja tenang dan lirih.


"Yang Mulia, bisa-bisanya Anda tetap meminta anak hina itu disaat genting seperti ini? Apa putramu yang lain benar-benar kau anggap sampah disini?" batin Pangeran Yul tak terima.


Wajah Pangeran Hon berseri, sangat senang mendengar kabar sang kakak sudah pulih. Setelah berbincang sebentar dengan raja, beliau langsung bergegas keluar dari kediaman itu untuk berkunjung ke istana Putra Mahkota. Sementara, Pangeran Yul terdiam di tempat hanya bisa berpura-pura menerima keputusan itu dengan lapang dada. Perdana Menteri Han sedikit melirik, dia tersenyum pada Pangeran Yul yang tampaknya sakit hati.


Di luar kediaman raja, Perdana Menteri Han menghentikan langkah Pangeran Yul. "Yang Mulia Pangeran, Anda tidak perlu khawatir soal ini."


Pangeran Yul berusaha mengembalikan senyum di wajahnya, seperti biasa tetaplah berpura-pura ramah dan bijaksana. "Sayang sekali, aku tidak mengkhawatirkan apapun," jawabnya setelah berbalik badan.


Perdana Menteri Han menyilang tangannya ke belakang, maju beberapa langkah sambil menundukkan wajah. "Jangan terlalu menutup diri jika terluka. Anda bisa sangat sakit karenanya," tambah Perdana Menteri Han tersenyum ramah.


Pangeran Yul mengepal kedua tangannya, senyumnya tipis, tetapi kelihatan begitu tulus dan bersahaja. "Anda benar-benar tahu siapa diriku. Lebih baik, Anda urus saja urusan Anda," jawab Pangeran Yul sebelum akhirnya beranjak.


Perdana Menteri Han membusungkan dadanya melihat bagaimana Pangeran Yul melangkah angkuh menjauh darinya. Dia ikut tersenyum, sangat tahu apa yang akan terjadi. "Putra Mahkota tidak akan hadir. Apa yang Anda takutkan?" gumam Perdana Menteri Han.


***


(Istana Putra Mahkota)


Pintu bilik Putra Mahkota dibukakan oleh para pelayan. Pangeran Hon langsung saja masuk duduk bersimpuh di sebelah ranjang kakaknya. "Bagaimana kabar Anda, Putra Mahkota?" tanya Pangeran Hon dengan wajah sucinya yang tulus.


Putra Mahkota yang sedang bersandar di atas ranjang menoleh, "Bagaimana kabarmu?" tanya Putra Mahkota.


Pangeran Hon tersenyum cerah. Sangat jelas betapa bahagianya dia saat itu. "Aku mendengar kabar Putra Mahkota pulih, tubuhku menjadi lebih sehat dari biasanya." Dia duduk di sebelah Putra Mahkota setelah itu.


"Ayah memerintahkan Anda untuk memimpin rapat besok pagi. Maukah Anda melakukannya?" Wajah Pangeran Hon menuai harapan yang sangat besar. Pikirnya, ini kesempatan Putra Mahkota menunjukkan statusnya agar tak selalu direndahkan orang. Namun,


"Tidak."


Lagi-lagi Putra Mahkota menolak perintah raja, untuk yang kesekian kalinya. Raut wajah Pangeran Hon langsung berubah, lantaran kekecewaan itu menghampiri dirinya. "Apa kau ingin menggantikan diriku untuk besok pagi?"


Pangeran Hon terbelalak mendengar pertanyaan itu. "Mana mungkin aku berani Yang Mulia," sanggahnya cepat.


"Kalau begitu, jangan mengatakan soal itu lagi."


Pangeran Hon menatap wajah penuh kharisma itu, hangat sekali. "Mengapa, kakak selalu bersembunyi?"

__ADS_1


Seorang pelayan masuk, menghidangkan beberapa cemilan dan teh bunga wangi sebelum Putra Mahkota menjawab pertanyaan adiknya. Putra Mahkota menuangkan teh ke dalam porselin cantik adiknya.


"Aku tidak pernah bersembunyi," balas Putra Mahkota.


Pangeran Hon tersenyum, "Benar. Kakak tidak pernah sembunyi." Pangeran Hon meraih pundak Putra Mahkota ragu-ragu, sebelum akhirnya benar-benar menyentuhnya.


"Mereka lah yang menutup mata dari kebenaran."


***


***


Kabar tentang penyerangan terhadap Putri Mahkota tersebar luas. Tidak tahu siapa yang menyebarkannya, tetapi hal itu benar-benar menakutkan. Semua pengangkat tandu tewas di tempat. Sementara, Jung Hyun dan beberapa pengawal Putra Mahkota berhasil melumpuhkan beberapa orang yang tidak dikenal itu. Mereka diseret ke penjara bawah tanah untuk diamankan, menunggu hari sampai tiba masanya tim penyidik membuat keputusan. Putra Mahkota tak lagi sabar untuk segera melakukan interogasi pada para penyerang tak bermoral itu, hanya saja aturan istana mengharuskannya untuk patuh.


Tak lama setelah itu, penyerangan itu akhirnya sampai ke telinga Jun. Hari itu, saat para anggota kerajaan mengunjungi kediaman raja, Jun memberanikan diri untuk mengirimkan surat kepada Putri Mahkota. Lewat bantuan seorang dayang, Jun membayar untuk membantunya memperoleh informasi tentang Youra. Tak peduli akankah itu merusak citra dan moralnya, yang penting baginya keselamatan Youra adalah yang nomor satu.


"Tolong sampaikan surat ini pada Putri Mahkota. Jangan sampai ada yang mengetahuinya, kau mengerti?" tanya Jun was-was pada seorang dayang.


"Baik Tuan Muda."


Dia berdiri cukup lama di belakang istana Putri Mahkota, hingga satu dayang lainnya datang mendekat. "Saat ini, Putri Mahkota dalam keadaan baik dan sehat. Beliau hanya perlu istirahat, menunggu pencabutan statusnya sebagai terdakwa pembunuhan. Putra Mahkota, adalah orang yang sudah membawa beliau kembali ke istana. Putra Mahkota juga yang akan melakukan pencabutan status itu dengan hak amnesti yang dimilikinya."


"Apa? Bagaimana bisa dia melakukan hal itu?" Jun terbelalak.


"Maaf Tuan Muda, hanya saja hamba tidak mengerti akan persoalan penggunaan hak istimewa. Ah iya, hamba mendengar kabar bahwa Putra Mahkota menjadi pulih setelah Putri Mahkota merawatnya. Sepulang dari tempat itu, Yang Mulia Putra Mahkota terluka parah. Sehingga Putri Mahkota memutuskan untuk merawat suaminya."


"Merawat suaminya?"


Semakin lama, pernyataan itu semakin meyakinkan dan semakin sakit pula untuk Jun terima. Seakan sempit, dada itu terasa sangat mencengkram jantungnya. Mendengar hal menjijikkan itu, tentu saja membuatnya sangat cemburu. Lantas, ia mendongak ke istana Youra, melihat balkon kediamnnya dari bawah. Jun mengepal tangannya erat-erat, sebelum akhirnya kembali menunjukkan senyuman. "Baiklah. Terima kasih."


"Putra Mahkota, kau berusaha menjebak kekasihku! Bren*sek!"


***


Dayang utusan Jun telah tiba, diam-diam memberikan surat yang telah ditulis Jun kepada Youra. "Yang Mulia, ini ada surat dari Tuan Muda Jun, Guru Besar istana."


Dayang Nari yang sedang merapikan pakaian Youra hanya terus berpura-pura tidak tahu, meski hatinya sangat bergejolak dan terkejut. Youra menoleh keluar, memastikan tak ada yang mendengarnya. "Tutuplah pintu utama," perintah Youra. Segera, beberapa pelayan menutup pintu utama istananya, sehingga Youra bisa bebas membaca surat itu.


"Maaf Putri Mahkota, jika suratku lancang dan terkesan terburu-buru. Maafkan aku, karena aku tidak bisa selalu bersamamu. Mendengar kabar buruk soal penyerangan yang terjadi kepada Anda, membuatku sangat sakit untuk menerima semuanya. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu yang buruk pada Anda. Aku bahkan tidak bisa makan dan tidur dengan nyaman setelah mengetahui penyerangan yang terjadi. Syukurlah, mereka mengatakan Anda dalam keadaan yang baik dan sehat karena Putra Mahkota sudah menyelamatkan Anda. Aku sangat iri dan cemburu, tapi apakah aku masih punya hak untuk itu? Jangan melakukan sesuatu yang berbahaya, tetaplah jaga diri Anda baik-baik. Aku akan membantu Anda keluar dari istana secepatnya. Aku juga akan membantu menyelidiki dalang di balik kematian keluarga Anda. Aku tahu, aku tidak punya apa-apa dibandingkan Putra Mahkota yang punya segalanya. Hanya saja, aku yakin Anda sangat mengenalku. Apakah aku lancang, karena tetap mencintai istri Putra Mahkota?"


Selesai sudah surat itu dibaca Youra dengan susah payah. Sangat kabur, karena genangan air yang menumpuk menutupi penglihatannya. Dia terus saja terisak bahkan setelah surat itu tak lagi dipegangnya. Dia meletakkan surat itu, lalu berlari ke balkon istananya.


Dayang Nari mengejar Youra, "Yang Mulia, apa yang Anda lakukan?"

__ADS_1


Youra berlari, tegak di tepi pagar balkon kediamannya memandang sisi luar istana, tetapi tak ada seorangpun yang berdiri disana. Sangat menyedihkan, mengingat bagaimana dia telah terombang-ambing oleh perasaannya sendiri, dia merasa sangat terluka. Dia mencintai Jun, tetapi di sisi lain, suami yang ingin dia singkirkan malah terus menghujaninya dengan cinta dan kepedulian. Terulang kembali di kepalanya bagaimana bibir suci itu telah disentuh oleh pria yang bukan Jun, membuatnya geli pada dirinya sendiri. Ingin segera menyesalinya, tetapi ada perasaan yang memaksanya untuk tak bisa menyesal.


Dayang Nari terus saja menatapnya, menaruh rasa iba itu lebih dalam lagi. Tak tahu akan seperti apa jadinya kisah cinta itu. Mereka sama kuatnya, sama dalamnya. Hanya saja, dalam bayangan yang terlintas di benak Dayang Nari, Youra akan terjebak dalam kepalsuan dan penyesalan yang dia ciptakan sendiri.


__ADS_2