
Genangan air mata itu menumpuk banyak, melintasi pipi Youra setelah meluap-luap. Hati beku itu terus saja berharap selamat. Hanya demi satu hal, balas dendam. Tak boleh mati sia-sia sebelum membalaskan seluruh dendam itu, menghancurkan istana, mengembalikan keadilan, memusnahkan suaminya sendiri, Putra Mahkota.
Tangannya kaku terkunci, melepaskan seluruh tenaga yang tersisa itu pergi. Terus saja menutup matanya yang ketakutan, mendengar suara teriakan yang mungkin saja meninggalkan bekas-bekas darah yang berceceran di tengah hutan. Hingga sebuah tangan meraih tubuh mungil itu keluar dari tandu mengerikan, membawanya masuk dalam dekapan, hingga ketakutan itu hilang perlahan.
"Ayo..."
Semilir angin berhembus lembut, meniup mesra helaian rambutnya yang bertebaran, saat tubuh itu terus saja menempel pada bidang hangat yang menenangkan.
"Awas, Yang Mulia!"
Youra tersentak, saat tubuhnya diputar berbalik arah, menghasilkan suara panah melesat pada lengan kokoh yang kini berlumuran darah sedang memeluk tubuhnya.
Youra tak melihat wajah itu, hanya tertegun saat tangan berdarah itu menyentuh pipinya.
"Jangan menangis lagi." Suara itu terlalu pelan, tampak sedang merintih kesakitan. Youra membelalakkan matanya saat menyadari siapa yang telah mengeluarkannya dari ketakutan. Segera ia menengadah untuk melihat wajah sang pahlawan.
"Putra Mahkota?"
Suaminya, Putra Mahkota membiarkan panah-panah itu menembus lengannya, saat tubuh Youra berada di bawah naungannya.
"Kenapa Anda disini?" tanya Youra tak percaya.
Putra Mahkota diam saja. Betapa menyakitkan baginya mendengar perkataan Youra seolah tak senang atas kehadirannya. Dia hanya terus menatap mata Youra sendu. Tatapan mata itu menusuk tajam menembus ke jantung, saat Youra menyadari betapa kesakitannya sang suami saat itu. Youra melabuhkan pandangannya pada panah yang menempel kokoh di lengan sang suami.
Jauh disana, Jung Hyun bersama para pengawal Putra Mahkota masih bergulat dengan para pria berpakaian serba hitam itu sengit.
Youra hanya terpaku di tempat, karena sosok itu menyentuh panggul kecilnya, mengangkatnya naik ke atas kuda nan gagah. Putra Mahkota naik setelahnya, tidak memandangnya lagi sama sekali.
Di atas kuda itu berdua dengan sang suami, meninggalkan para opsir dan pengawal yang sibuk berkelahi. Tiba-tiba, kembali orang-orang berjubah hitam itu melepaskan panahnya ke arah Putra Mahkota dan Youra. Namun, Putra Mahkota gesit membawa Youra pergi secepatnya dari tempat itu bersama kuda kesayangannya.
Sangat kencang, kuda itu terus saja berlari kencang. Youra duduk diam di depan tubuh Putra Mahkota, bersandar di dada bidang sang suami. Sementara itu, Putra Mahkota memegang kendali kuda itu dengan satu tangan saja. Tangan satunya lagi terluka parah, membuat raut wajah kesakitan itu lebih nyata.
Aku membencinya..
Di atas kuda itu, Youra memutar kepalanya ke belakang pelan-pelan.
Yang aku tahu, aku ingin sekali membunuhnya..
Wajah ditutupi kain hitam itu, menyisakan mata setajam elang yang terus saja fokus ke depan, tak membalas tatapan Youra sama sekali.
Tapi..
__ADS_1
Youra ragu-ragu mengangkat tangannya, meraih penutup wajah suaminya itu perlahan-lahan. Menariknya, hingga penutup wajah itu terlepas. Putra Mahkota terkejut, langsung menjatuhkan pandangan itu ke mata sang istri yang sedang menatapnya.
Kenapa, melihat wajahnya, detak jantungku lebih meningkat dari biasanya?
Dua pasang mata itu saling bertabrakan, memberikan kesan yang begitu dalam bagi keduanya. Untuk pertama kalinya, Youra menatap mata dan wajah itu atas keinginannya. Menjadi wanita pertama, yang duduk di atas kuda kesayangan Putra Mahkota dan wanita pertama yang dapat melihat leluasa wajah Putra Mahkota. Suami, yang sudah resmi menyerahkan dirinya.
Dua hati yang berbeda, mengikat cinta dan kebencian dalam sebuah ikatan yang menyedihkan. Langit mendung menjadi saksi, pertemuan dua hati yang berbeda itu. Pupil itu membulat, Youra tenggelam dalam pesona yang memabukkan, tak dapat berkata-kata saat melihat air mata jatuh dari pelupuk mata suaminya. Putra Mahkota cepat-cepat membuang muka, mengalihkan pandangannya untuk kembali fokus ke depan, menarik tali kendali kuda itu lebih cepat.
Wajah suaminya sangat pucat, bersamaan dengan derasnya darah yang tak berhenti mengalir dari lengannya. Tak sadar sudah berapa lama dia memandang wajah suaminya itu, sampai akhirnya mereka tiba di istana. Putra Mahkota kembali menutup wajahnya dengan susah payah, karena luka besar di lengannya. Namun, Youra diam saja, tak membantu sama sekali.
Kasim Cho yang was-was sudah lama menunggu, cepat-cepat mengejar Putra Mahkota yang penuh luka. Putra Mahkota turun dari kudanya, menarik tangan Youra dan menggendongnya turun.
"Bawa dan obati permaisuriku," perintah Putra Mahkota terbata-bata kesakitan. Sambil berjalan meninggalkan Youra bersama para pelayan, Putra Mahkota terus saja melangkah pergi. Tubuhnya sangat lemah.
"Cepat panggilkan tabib!" teriak Kasim Cho ketakutan.
"Tidak, jangan panggil tabib," balas Putra Mahkota kesakitan.
Tubuh Putra Mahkota sempoyongan, hingga dia melemah dan hampir saja terjatuh. Youra terus saja memandang kepergian suaminya itu, tak berbuat apa-apa. Youra segera melangkah pergi, tapi saat ia kembali menoleh ke belakang, tubuhnya langsung saja berlari ke arah sang suami yang hampir saja jatuh.
"Yang Mulia, mohon obati luka Anda.." Sambil memegangi erat lengan suaminya, Youra menitikkan air mata.
Putra Mahkota kembali membuka matanya, menoleh pada sentuhan manis, tangan mungil yang menggenggam lengannya.
***
Mereka menyandarkan tubuh Putra Mahkota di atas ranjang, sementara Youra pergi entah kemana. Putra Mahkota terus saja menatap pintu biliknya, berharap sang istri datang untuk melihatnya, sebentar saja.
"Semua orang menginginkan kematianku." Putra Mahkota tersenyum, sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya, "Mengapa aku tidak mati saja?" tanyanya pada Kasim Cho dengan suara paraunya.
"Yang Mulia, apa yang sudah Anda katakan? Itu tidaklah benar Yang Mulia. Semua orang ingin Anda segera pulih." Kasim Cho membohongi keadaan, setidaknya memberikan sedikit semangat untuk Putra Mahkota.
"Aku akan menghukum siapa saja, yang menyentuh permaisuriku," tambah Putra Mahkota setelahnya.
"Jika dia memintaku meninggalkan tahta, aku akan melakukannya. Jika dia ingin aku mati, akan aku penuhi, asal dia memberikan sedikit saja cintanya."
Perkataan itu, membawa langkah Kasim Cho mendekat pada Putra Mahkota, "Yang Mulia, Anda bisa memiliki selir yang jauh lebih baik dari permaisuri, seberapa banyak yang Anda inginkan. Tolong, jangan mengatakan hal menyedihkan seperti itu lagi," lirih Kasim Cho menangis.
"Aku tidak akan memiliki selir. Aku hanya menginginkannya," bantah Putra Mahkota.
"Aarrghh..!" Putra Mahkota menyentuh lukanya, tampak sangat sesak.
__ADS_1
"Keluar dari sini, tinggalkan aku sendiri." perintah Putra Mahkota pada Kasim Cho.
"Yang Mulia, hamba mohon, tolong izinkan hamba.."
Kreekk...
Pintu berderit, menghentikan Kasim Cho yang terbelalak. Youra, sang istri masuk ke dalam kamar itu. Tak pikir panjang, Kasim Cho langsung saja keluar dari sana, meninggalkan mereka berdua. Sementara itu, Putra Mahkota yang kesakitan membuang muka.
Youra melangkah pelan-pelan ke arah sang suami. "Anda harus diobati," kata Youra saat duduk di sebelah suaminya.
Putra Mahkota menoleh padanya, "Bantu aku, membuka pakaianku," kata Putra Mahkota.
Youra terpaku, cukup lama. Bagaimana bisa dia membuka pakaian seorang pria yang dibencinya, pikirnya. Karena Youra tak memberikan respon, Putra Mahkota membukanya sendiri, meski sangat kesakitan dia tetap berusaha membuka pakaiannya.
Youra mendaratkan tangannya di dada hangat itu, membantunya membuka pakaiannya. "Jangan terlalu kencang," kata Youra saat melihat reaksi Putra Mahkota yang kesakitan.
Dia meraih tali-tali dan kencing yang mengaitkan jubah suaminya. Ragu-ruga memalingkan wajah dari tangan yang sedang membantu Putra Mahkota membuka jubahnya.
"Kenapa memalingkan wajah?" tanya Putra Mahkota.
Youra menarik napasnya, diam saja tak memberikan jawaban. Putra Mahkota menyentuh tangan Youra yang sedang membukakan pakaiannya, menahannya cukup lama. "Jangan memalingkan wajah dari suamimu," lirih Putra Mahkota.
Youra berusaha melepaskan genggaman suaminya, tapi Putra Mahkota menahan tangan itu cukup kuat. "Kau boleh melihat apa saja, yang ingin kau lihat."
Youra ingin melayangkan amarahnya, hanya saja semua keinginan itu terhenti saat kembali menatap lengan yang semakin deras mengeluarkan darah. "Yang Mulia, lengan Anda harus segera diobati," pungkas Youra.
"Kau mengkhawatirkanku?" tanya Putra Mahkota sekali lagi. Youra tak menjawabnya, lantas langsung menarik tangannya dari genggaman Putra Mahkota, membantunya cepat-cepat membuka bajunya. Memperlihatkan susunan otot yang menakjubkan, Youra berusaha mengalihkan pandangannya. Putra Mahkota membuka jubah dan penutup wajahnya, memperhatikan wajah cantik yang sedang menyapu darah di lengannya.
"Ah.." rintih Putra Mahkota kesakitan.
"Apa itu sakit?" tanya Youra cepat.
Putra Mahkota mengangguk manja. "Ya, sangat sakit." Terus saja memandang wajah cantik itu. Youra tak berani menatap wajah suaminya, atau menatap bagian lain yang dapat bebas dilihatnya. Dia hanya fokus pada lengan penuh luka itu.
Youra mengambil beberapa helai kain, melipatnya menjadi dua potong berimpit. Memutar perlahan kain itu di lengan suaminya. Sangat hening, Youra tak berbicara tentang apapun pada suaminya.
Apa benar, laki-laki ini yang sudah membunuh kakakku? Mengapa, terus saja peduli padaku? Apa, ini hanya pelarian dari rasa bersalah?
Putra Mahkota meraih rambut yang terjuntai di wajah Youra, menyibaknya ke belakang. "Aku tidak akan membiarkanmu terluka."
Putra Mahkota terus saja menatap sang istri yang sedang membalut lukanya. "Jangan menyakiti aku lagi, atau aku benar-benar ingin mati," tambah Putra Mahkota setelahnya.
__ADS_1
Tidak, tidak mau..