Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Istri


__ADS_3

Ha Sun bergerak cepat menuju kediamannya, sesaat setelah mendengar kabar mengerikan dari Putri Shin. Wajahnya panik. Ada emosi yang tersimpan rapat.


Dalam semalam, semua berubah menjadi malapetaka. Berita Putri Shin yang bunuh diri tercium hingga negeri musuh. Kesempatan bagus bagi mereka untuk menyerang. Negeri tanpa raja dengan permaisuri yang kabur dari istana memberikan citra buruk untuk negeri yang sedang dilanda musibah. Ditambah absennya para pangeran dalam diskusi politik, menambah besar peluang musuh untuk menyusup.


Belum lagi seluruh masalah itu selesai, kabar Putri Shin yang bunuh diri menambah daftar hitam dalam sejarah kelam negeri ini. Sangat jelas, tak ada putra putri raja yang bahagia di dalam sana. Bagi rakyat, mungkin menjadi raja dan ratu yang hidup bergelimang harta di dalam istana yang tinggi dan megah adalah mimpi yang tak dapat dicapai.


Namun, bagi mereka penghuni istana ... istana adalah neraka dunia, dimana tahta dapat mengalahkan cinta.


Satu prinsip turun temurun dalam sejarah yang tak pernah lepas dari seorang penguasa yang tinggal di dalam istana, adalah fakta menyakitkan yang tak pernah orang ketahui, yang andai saja orang-orang tahu ... mereka pasti akan menolak untuk tinggal.


Setelah seseorang menginjakkan kaki di istana, sejak saat itulah sebenarnya kebahagiaan mereka telah berakhir. Mereka menderita dan hidup kesepian. Ayah dan anak bahkan sampai bermusuhan. Suami istri yang tidak tinggal seatap, bahkan kakak beradik yang saling membunuh. Mereka tidak mengenal cinta, mereka hanya tahu cara tepat untuk bertahan hidup.


Karena sejatinya, setiap penghuni hanya dihadapkan satu pilihan. Hidup dengan membunuh, atau mati karena terbunuh. Begitu kelamnya kehidupan nyata dalam sejarah kerajaan.


Mereka yang tahu artinya, adalah mereka yang paling menderita. Putri Shin jatuh cinta pada seorang pria kasta rendah, yang tiba-tiba diangkat oleh raja sebagai pengawal pribadi Putra Mahkota. Cinta mereka harus gugur, lantaran benteng tinggi di antara keduanya.


Kisah kelam yang tertulis dalam sejarah, menjadi saksi betapa mengerikannya kehidupan masa itu.


***


Kabar bunuh dirinya Putri Shin, akhirnya membawa langkah para pangeran datang ke istana. Tangis mereka menghujani seisi ruangan sang ratu. Ratu Kim sangat kusut. Beban itu memenuhi hatinya yang mulai remuk. Dia hanya duduk di pojok kamar, menggigit jarinya sedari tadi sambil menangis. Pangeran Yul duduk di dalam sana, berupaya menenangkan ratu yang sedang terpukul. Sedang Pangeran Hon, dia duduk bersimpuh di depan ruang Putri Shin yang sedang sekarat.


"Kakak ... tega sekali Anda mencoba meninggalkan aku sendirian. Apa mungkin Anda sudah sangat lelah, menghadapi betapa kejamnya negeri ini kepada kita?"

__ADS_1


***


Di tengah-tengah pasar, Nana hanya berdiri di belakang Tuan Muda Young. Jalannya sangat pelan karena tak ingin mendahului majikannya. Young berhenti sesaat. Berbalik badan menghadap Nana. "Kenapa menunduk terus? Berjalanlah di sampingku. Jangan sampai orang mencurigai kita."


Nana tak bisa menolak. Dia berjalan di sebelah Young dengan keringat dingin yang dari tadi bercucuran. "Maaf Tuan Muda, Anda tidak perlu membelikan aku pakaian baru. Aku sudah sangat senang bisa bekerja melayani Anda."


"Emas yang kumiliki sangat banyak. Aku tidak mungkin membuangnya di jalanan. Lebih baik menyumbangkannya kepada rakyat. Tapi aku sangat bodoh karena aku bahkan tidak pernah membelanjakanmu apapun juga." Young berjalan santai, menyilang tangannya di belakang.


"Tapi Anda sudah sangat baik kepadaku, Tuan. Membelikan tempat tinggal dan makan gratis setiap hari kepada kami. Aku ... aku takut tidak bisa membalas kebaikan Anda." Nana terus saja menundukkan wajahnya.


Young menghentikan langkahnya. Dia menunjuk ke sebuah kios menjahit yang cukup populer. Di atas sana, tergantung beberapa gaun cantik dan mewah. "Disana. Kita sudah sampai. Ayo."


Sambil berjalan mendekati kios itu, Nana kelihatan tidak nyaman. "Maaf Tuan Muda, tapi ... tapi ... bukankah ini kios bangsawan? Bukankah itu tidak berlebihan?" Nana sangat canggung hingga suaranya terdengar bergetar. Young mengajaknya ke kios mahal.


Wanita pemilik kios itu tersenyum pada Nana. "Sepertinya, kalian orang baru di tempat ini. Aku tidak pernah melihat kalian. Anda cantik sekali, Nona." Beramah tamah wanita pemilik kios itu kepada Nana.


Nana terpaku. Ini pertama kalinya dia di panggil "Nona" oleh seseorang. Nana merasa bersalah karena telah berpura-pura. Namun, rasa bersalah itu menjadi bahagia kala mengingat bersama siapa saat ini dia berada.


"Terima kasih, Nyonya." Nana menundukkan wajahnya. "Anda benar-benar sangat pemalu. Mari ikut denganku." Wanita itu mengajak Nana untuk masuk lebih dalam. Melihat-lihat beberapa baju mewah yang tergantung disana. "Ini adalah jahitan terbaik yang pernah aku buat. Silakan dipilih, gaun mana yang memikat."


Nana tak bisa memilih. Dia hanya terus memandangi dan menyentuh gaun-gaun mewah yang tak pernah dia pakai. Sangat cantik, hingga air matanya jatuh kala tangan itu meraba-raba betapa halus serat kainnya.


Dia kembali menoleh pada Young. Young sedang duduk di atas sebuah kursi kayu memandanginya. Nana menundukkan wajah, berjalan mendekati tuannya. "Maaf Tuan Muda, aku rasa ini bukan tempat yang sesuai dengan diriku," ujar Nana merendah.

__ADS_1


Young terkesiap. "Baju-bajunya tidak bagus?" tanya Young meyakinkan. "Bukan. Bukan begitu Tuan. Hanya saja ... ini bukan tempat yang tepat untuk seorang budak sepertiku."


Young tersenyum setelah mendengar kalimat itu. Dia berdiri berjalan mendekati tumpukan gaun indah yang berjejer rapi. "Mana yang terbaik?" tanya Young pada wanita pemilik kios.


"Yang ini, semuanya adalah yang terbaik, Tuan Muda." Wanita itu memaparkan 6 helai gaun indah yang harganya sangat mahal. "Kalau begitu, aku beli semuanya."


Perkataan lantang Young berhasil mencekat Nana di alam mimpi. Enam buah gaun indah yang selama ini hanya ada di dalam khayal benar-benar Young belikan untuknya. "Tuan itu terlalu banyak. Satu saja sudah cukup. Aku akan memilihnya," sanggah Nana cepat.


"Satu itu tidak cukup. Youra bahkan membeli pakaian dua pasang tiap Ibu membawanya ke pasar." Young meraih gaun-gaun indah itu, meletakkannya di atas sebuah meja. "Oh iya, Nyonya. Apa Anda punya perias wajah atau apa itu aku juga kurang tahu. Sesuatu yang dipakai wanita pada wajahnya. Apa Anda menjualnya?" tanya Young.


"Tentu saja, Tuan Muda."


"Kalau begitu aku juga membelinya. Yang lengkap." Young tersenyum ramah pada pemilik kios.


"Tuan Muda, mohon jangan seperti ini. Aku ... "


"Tidak hanya paras tampan Anda yang menyenangkan, tetapi Anda benar-benar pria yang romantis. Kalian berdua pasangan yang serasi," puji pemilik kios tak tahu apa-apa memotong kalimat Nana.


Nana tersentak, menyadari kenyataan yang tidak semanis itu. Dia merasa sangat tidak pantas disandingkan dengan pria sesempurna Young. "Nyonya, itu semua tidak benar. Aku hanya ... "


"Benarkah? Berarti aku memang tidak salah pilih istri."


DEG

__ADS_1


"Istri?"


__ADS_2