
Permintaan Putra Mahkota benar-benar membuat Youra kebingungan. Tingkah menggemaskan suaminya yang selalu menuntut cinta benar-benar membuatnya ingin berteriak bahagia setiap hari.
"Hadiah apa?" tanya Youra semakin bingung. Menatap lekat wajah sang suami yang sedang sangat serius. "Hadiah karena aku telah menjaga cintaku untukmu selama bertahun-tahun tanpa berpaling sedikitpun. Bahkan setelah kau menyakitiku, aku masih menjaga cintaku untukmu," jawab Putra Mahkota percaya diri.
"Mau hadiah apa, Suamiku Sayang?" Youra duduk menghadap suaminya, tersenyum sangat senang. "Menurutmu hadiah apa yang pantas aku dapatkan karena kesetiaanku yang luar biasa?" balas Putra Mahkota.
"Hmm ... Dua buah istana yang lebih besar?" jawab Youra meraba-raba. "Lee Youra, kau bahkan tetap jahat meski hanya kita berdua disini." Wajah Putra Mahkota malah tampak menyedihkan. "Memangnya, dua buah istana yang lebih besar itu tidak cukup?" tanya Youra polos.
"Sudah berapa lama kita menikah, tapi kau terus saja membiarkan suamimu sendirian dan kesepian setiap malam." Putra Mahkota meletakkan tangannya di bawah dagu Youra, dan menatapnya dengan wajah yang menggoda, sebelum kembali melanjutkan. "Istana mengirimkan banyak wanita setiap malam, tapi aku selalu menolaknya. Apa sampai disini, kau mengerti soal betapa aku sangat mencintai dan menginginkan dirimu?"
Perkataan Putra Mahkota malah membuat Youra cemburu buta. "Mengirimkan wanita setiap malam?" Youra menyentuh wajah suaminya dengan kedua telapak tangan mungilnya. "Anda benar-benar tidak tidur dengan wanita-wanita itu? Apa peraturan itu tidak bisa dihapus? Seperti tidak usah ada selir atau semacamnya. Aku tidak setuju!" Youra sampai sesak napas mengutarakan keinginan itu.
Putra Mahkota meraih satu tangan Youra yang menyentuh wajahnya. Dia mencium mesra tangan mungil itu sambil tersenyum. "Aku terlalu sabar menunggumu di sepanjang malam. Tapi aku tidak akan pernah berpaling darimu sampai kapanpun. Hanya Lee Youra, satu-satunya wanitaku. Aku tidak akan memiliki selir, atau wanita lainnya." Kembali Putra Mahkota mengecup mesra tangan istrinya.
Ia menarik tubuh Youra masuk di antara kedua kakinya. "Suamiku, apa yang ingin ... "
__ADS_1
"Membuka pakaianmu. Bukankah kau ingin mandi?" Seolah tahu, tangan itu kini menarik ikatan pita di bagian dada Youra. "Suamiku, aku bisa membukanya sendiri." Youra melepaskan tangan Putra Mahkota dari gaunnya. Ia mundur sedikit menjauh. Jantungnya berdebar sangat kencang. Langit gelap dengan angin yang cukup kencang mendukung suasana romantis itu lebih panas.
Putra Mahkota terus saja menatapnya. "Suamiku, bisa Anda berputar sebentar?" tanya Youra gugup. "Aku ingin melihatnya. Kenapa memintaku untuk berputar?" Perkataan Youra disambut kecewa oleh Putra Mahkota. Youra terpaku beberapa saat, sebelum akhirnya Putra Mahkota beranjak dari tempat. Tak bersuara, Putra Mahkota tiba-tiba keluar dari biliknya. Membawa raut kecewa itu beranjak dari sana memegangi perutnya yang masih berdarah.
Apa dia merajuk?
Youra terburu-buru lari ke belakang gubuk untuk segera mandi. Sangat terkejut, sang suami telah menyiapkan air mandi untuknya. Lengkap dengan wewangian bunga yang entah kapan dia cari. Youra tertawa lepas di dalam sana. Wajah menggemaskan Putra Mahkota membuatnya tak berhenti tersenyum. Benar-benar sedang jatuh cinta. Youra cepat-cepat mandi, tidak sabar untuk kembali bermanja dengan suaminya. Nanti setelah Putra Mahkota mandi, dia akan membantu mengoleskan obat dan mengganti pembalut lukanya. Putra Mahkota tak memandangnya saat hendak mandi. Youra sadar, sang suami sedang kecewa.
Hingga malam menyapa, Putra Mahkota tak masuk ke dalam gubuk mereka. Masih melamun di luar sana. Duduk menekuk lutut dengan luka basah di perutnya, padahal hujan akan segera turun.
"Ayo kita masuk. Disini banyak nyamuk dan gelap. Sebentar lagi hujan akan turun. Anda tidak boleh masuk angin. Nanti sakit." Youra mengencangkan pelukannya.
"Istriku, kau telah melukai hati Suamimu." Putra Mahkota membalikkan tubuhnya, menatap sang istri. "Iya, Sayangku. Maafkan aku. Ayo kita masuk. Kita harus mengobati lukanya. Aku juga sudah menyiapkan makanan sederhana untuk makan malam kita." Bujukan Youra berhasil meluluhkan Putra Mahkota.
Setelah masuk ke dalam gubuk kecil itu, langit tak lagi ramah. Angin semakin kencang hingga dedaunan terdengar saling berdesir. Youra menutup pintu gubuk itu rapat-rapat. Di dalam gubuk itu, dia telah menyiapkan makan malam untuk mereka. Dengan dua buah lilin yang diletakkan di sudut ruangan.
__ADS_1
"Suamiku, mari kita ganti pembalut lukanya." Youra mengoleskan obat ke dalam luka itu pelan-pelan. "Apa itu tidak sakit, Suamiku?" tanya Youra. "Lee Youra, jangan sakiti hatiku lagi jika kau benar-benar mencintai aku." Putra Mahkota tidak menjawab pertanyaan itu dan malah kembali membahas soal sebelumnya.
"Aku tidak akan melakukan kesalahan lagi, janji." Youra memelas manja dihadapan suaminya. "Aku akan memberikan hadiahnya sekarang," tambahnya. Perkataan terakhir Youra berhasil melukis senyum di wajah iba Putra Mahkota. "Benarkah?" tanya Putra Mahkota sangat berharap.
"Tentu. Tapi, kita makan dulu ya?" Youra telah selesai membalut kembali luka itu. Dia menggeser meja kecil berisi hidangan ke hadapan suaminya. "Kenapa harus makan dulu?" tanya Putra Mahkota.
"Kita harus makan dulu, Sayangku. Sejak pagi kita tidak makan. Apa Anda tidak lapar?" balas Youra sembari menuangkan nasi dan lauk ke dalam piring suaminya. "Lalu setelah makan Permaisuriku yang jahat malah tertidur karena kenyang, dan meninggalkan aku sekali lagi. Begitu saja terus sampai aku mati."
Youra tiba-tiba cekikikan mendengar keluhan suaminya. Dia benar-benar selalu saja mengelak. "Aku tidak akan meninggalkan Anda sendirian lagi malam ini. Jangan bicara seperti itu. Aku akan memberikan hadiahnya. Tapi, Anda harus makan dulu, ya?" Youra membujuk suaminya yang enggan makan untuk segera makan.
Mata Putra Mahkota berkelana hingga sudut terkecil tubuh Youra. Dia terus saja menatap wanitanya hingga Youra menjadi canggung. Rambut basah Youra yang mulai mengering menyempurnakan kecantikan itu. Di temani lampu redup dan hujan yang mulai turun, Youra terlihat sangat menggoda. "Lee Youra," panggil Putra Mahkota menghentikan Youra yang sedang makan dengan lahap.
"Bagaimana bisa kau benar-benar lapar disaat seperti ini?" tanya Putra Mahkota tidak sabar. Youra yang baru saja selesai makan langsung meneguk air minumnya. Baru sadar, Putra Mahkota bahkan tidak menyantap makanan itu sama sekali. "Apa masakanku tidak enak, Suamiku?" tanya Youra polos.
Putra Mahkota menggeser meja itu dengan kasar. Meraih tubuh Youra dan mulai menerkamnya, tanpa aba-aba.
__ADS_1