Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Pemilik Nilai Tertinggi


__ADS_3

Hari itu seluruh pemuda pun kembali ke istana untuk menulis dan mengumpulkan kertas jawaban mereka. Sambil menunggu hasil ujian yang akan segera diumumkan setelah diperiksa oleh tim juri, mereka duduk pada barisan mereka masing-masing dengan perasaan cemas. Wajah-wajah penuh harap itu, menyatu menciptakan suasana baru yang begitu canggung.


Namun, rasa cemas para pemuda berganti kagum saat melihat dua orang pangeran muda yang daritadi hanya tampak dari jauh kini berjalan berdampingan bersama para pengawal di hadapan mereka. Pangeran Yul dan Pangeran Hon berjalan menuju singgasana raja membuat semua mata tertuju pada mereka. Pesona mereka berdua terbalut indah dengan padanan baju mewah yang melekat pada tubuh mereka. Namanya saja seorang pangeran, tentu akan terlihat luar biasa, begitu kata mereka.


Namun saat bersamaan, terdengar suara ribut gosip dari para pemuda.


“Wah, benar-benar. Keluarga kerajaan benar-benar luar biasa". 


Mereka mengangkat apa yang ada di depan mereka setinggi langit.


“Dari segi apapun salah satu dari mereka berdua lebih pantas menyandeng gelar Putra Mahkota”.


Dan menjatuhkan yang lain, seolah-olah kebenaran adalah milik wawasan mereka yang sempit.


“Benar. Rumor buruk tentang Putra Mahkota itu memang tidak bisa disangkal oleh siapapun".


Mereka tidak tahu apapun.


“Tapi, aku sangat penasaran bagaimana tampang Putra Mahkota yang hina itu".


Mereka semua, hanya tahu soal kebencian.


“Rumornya, wajahnya rusak karena penyakit kulit. Ia menutup wajahnya saat keluar dari kediamannya”.


Yang tidak tahu, menjadi tahu soal kebencian. 


“Sudahlah. Bagaimanapun juga, kita tidak pernah melihat Putra Mahkota secara langsung. Akan sangat berbahaya jika raja tahu apa yang sedang kita bicarakan ini”.


Dan yang lain, berpura-pura, lantas ingin menjatuhkan.  


Saat itu, Young memegang luka di lengannya erat-erat sambil tersenyum kecil mendengar ocehan para pemuda di sekitarnya. Ia duduk diantara kebisingan yang membuatnya muak.


Menyedihkan. Dunia ini, hanya di isi oleh manusia-manusia munafik yang hanya tahu tentang kebencian.


**

__ADS_1


Dari kejauhan terlihat para dewan juri yang bertugas berdiskusi sambil membawa kertas jawaban para pemuda. Salah satu dari mereka mendekati singgasana raja berbicara pada pengawal pribadi raja. Tak lama setelah itu, seorang opsir berjalan ke hadapan para pemuda.


“Siapa pemilik kertas kosong ini?! Kertas kosong pada ujian kenegaraan adalah bentuk penghinaan terhadap raja! Segeralah mengaku!" teriak seorang opsir sontak membuat para menteri berdiri dari tempat duduk mereka.


Semua pemuda saling berpandangan. Begitu pula dengan Young. Ia memutar kepalanya melihat ke arah Jung Hyun. Jung Hyun hanya diam saja saat itu, kebingungan dan menggeleng pelan, tanda tidak tahu. 


“Kertas itu milikku, Yang Mulia,” seorang pemuda mengangkat tangan kanannya tanpa ragu.   


Semua orang kaget. Pemuda itu adalah pemuda yang baris di sebelah Young. Pemuda yang sama, yang datang terlambat, yang menghentikan pertunjukkan, dan sekarang dengan berani mengumpulkan kertas kosong. Para menteri tampak geram dengan pemuda itu.


“Anak itu lagi,” ujar mereka.


Perdana Menteri Han mengepal kedua tangannya dengan cemas. Kali ini, putranya benar-benar keterlaluan.


Mendengar pengakuan pemuda itu, raja berdiri dari singgasananya. Raja berjalan membawa semua kertas jawaban pemuda itu ke hadapan para pemuda.


“Mengapa kau mengumpulkan jawaban kosong?" tanya raja.


Sambil menunduk hormat, pemuda itu diam saja, ia menoleh kebelakang, kekanan, dan kekiri, mencoba menenangkan diri. Melihat dan mendengarkan hujatan demi hujatan orang di sekitarnya.


Melihat pemandangan itu, Perdana Menteri Han membawa kecemasannya berlari ke sisi raja.


“Yang Mulia, hamba tahu ini sangat tidak pantas, tetapi izinkan hamba untuk...”.


“Karena hamba memang tidak ingin menjawab pertanyaan itu, Yang Mulia,” jawab pemuda itu lantang tanpa merasa takut membuat perkataan Perdana Menteri Han terhenti.


Orang-orang yang mendengar jawaban pemuda itu benar-benar tidak menyangka.


“Kenapa?" tanya raja penasaran.


“Anda menulis sebuah pertanyaan pada kertas mewah bermotif bunga sakura. Kertas itu wangi, dengan tinta emas di atasnya, dilengkapi cap kenegaraan. Sementara, pertanyaan itu, hamba tidak menyetujuinya”.


Raja melangkah pelan, berjalan ke arahnya lebih dekat. Ia memandang wajah pemuda itu dengan seribu tanda tanya.


“Siapa yang meminta persetujuanmu?” tanya raja kembali.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan raja, pemuda itu mengepal tangannya gugup. Ia berusaha melawan kata hatinya. Namun siapa sangka, saat tidak ada seorangpun yang berani menatap raja dari dekat, pemuda itu justru mengangkat kepalanya tanpa ragu di hadapan raja, tapi matanya tetap saja memandang ke bawah, tampak memberikan hormat. Para opsir berancang-ancang untuk menyergap pemuda yang dianggap tidak sopan itu, tetapi raja menghentikannya.


“Hamba berdiri disini, di hadapan Yang Mulia dengan rasa hormat memohon maaf atas kelancangan hamba. Hamba tahu, Anda tidak meminta persetujuan dari siapapun, tetapi, pertanyaan yang ada di kertas itu, hamba tidak menyetujuinya. Anda bertanya pendapat kami tentang kemenangan putra sulung kepala menteri perang atas Lee Young putra sulung penasehat negara pada pertunjukkan sebelumnya, dan menulisnya pada kertas mewah dengan cap negara adalah sesuatu yang tidak dapat dibantah. Namun, jika anda bertanya pendapatku tentang kemenangan Lee Young atas Won Bin barulah hamba bisa menulis jawabannya,” jawab pemuda itu. 


Semua orang tampak kaget melihat dan mendengar keberanian pemuda itu. 


“Jadi maksudmu, aku keliru karena telah menganggap Won Bin adalah pemenangnya? Bukankah sudah sangat jelas aku katakan pada mereka untuk menunjukkan kemampuan berpedang mereka. Dan kita semua melihat, bagaimana Won Bin sangat baik dengan pedang itu,” bantah raja.


“Jika itu hanya sebuah pertunjukan, itu artinya tidak ada pemenangnya. Namun, karena ini adalah penilaian, hamba pikir Lee Young putra penasehat negara adalah pemenangnya. Won Bin menggunakan emosinya, tetapi Young menggunakan akalnya. Won Bin menggunakan pedangnya untuk menyerang, tetapi Young menggunakan dirinya untuk bertahan. Won Bin berusaha mengalahkan Young, tetapi Young tidak tampak ingin menang. Karena Yang Mulia dengan tegas mengatakan ini hanya sebuah pertunjukan, hamba pikir itulah satu-satunya alasan Young tidak menyerang. Kita semua bisa melihat, siapa yang berusaha menyerang. Young, ia berusaha bertahan agar tidak melukai siapapun. Meski hamba bukan ahli berpedang, dan hamba sama sekali tidak mengenal mereka berdua, setidaknya hamba bisa melihat, siapa yang berusaha menjaga kehormatan Anda. Young melewatkan berkali-kali kesempatan untuk menang, karena ini hanyalah sebuah pertunjukan," jelas pemuda itu pada raja.


“Karena di kertas itu ada cap negara, yang artinya tidak bisa diganggu gugat, hamba tidak bisa menulis apapun pada kertas itu karena hamba tidak setuju. Jika hamba menulis pernyataan bantahan, itu artinya hamba memberontak perintah kerajaan,” tambah pemuda itu tegas.


Mendengar jawaban pemuda itu, raja mendekatinya dan memegang pundaknya.


“Siapa namamu dan dari keluarga mana?” tanya raja padanya.


“Saya Jun, putra Perdana Menteri Han,” jawabnya gugup.


Semua orang tampak kaget. Karena yang mereka tahu selama ini, Perdana Menteri Han tidak punya seorang putra dan hanya punya seorang putri.    


“Berikan selamat pada pemuda ini,” perintah raja yang disambut tepuk tangan para pemuda heran. Perdana Menteri Han tersenyum bangga.


Raja memberikan tiga kertas jawaban itu pada Jun.


“Pemuda ini, adalah pemilik nilai tertinggi sepanjang sejarah dalam ujian kenegaraan. Ia menjawab dua pertanyaan tanpa cacat dengan nilai sempurna. Ia berusaha mencapai keadilan dengan logika dan kebijaksanaan yang ia miliki. Pastikan pemuda ini menerima pendidikan terbaik di negeri ini,” kata raja yang membuat semua orang takjub.


Jun terdiam di tempat tidak percaya pada apa yang raja katakan.


Saat itu, saat yang bersamaan dari sudut istana, Lee Young melihat seorang pemuda berdiri memperhatikan raja. Hanya tampak separuh wajah pemuda yang ditutupi kain itu. Tak lama, pemuda itu menyadari Young sedang memperhatikannya. Dengan tergesa-gesa pemuda itu pergi dari tempat itu secepatnya. 


“Jubah yang terlalu mewah jika dikenakan orang biasa,” Young berbicara pada dirinya.


Namun, Young tiba-tiba tersadar. Pemuda yang baru saja ia lihat itu, memakai sabuk yang sama dengan raja.


“Putra Mahkota?” pikirnya.

__ADS_1


__ADS_2