Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Jun, Kau Menipuku


__ADS_3

Youra berhenti berlari saat menemui kesadarannya di ujung jalanan yang sepi. 


“Siapa orang-orang itu?” gumamnya saat memikirkan orang-orang berpakaian serba hitam itu. 


Youra mencoba berpaling dari pikirannya saat itu, dan melanjutkan langkahnya. Tak lama berjalan, ia kembali teringat bayangan pemuda yang dia tabrak di pertunjukan tadi.


“Aku sangat yakin, itu pasti Kak Jung Hyun,” pikirnya. 


Youra mengernyitkan dahinya, dan berhenti di tengah jalan. Ia membulatkan matanya setelah menyadari apa yang baru saja terjadi.


“Pemuda bangsawan yang tidak bermoral itu…”.


Youra berbalik ke sisi jalanan yang baru saja dia lewati. Terlintas dalam pikirannya pemuda dengan wajah tertutup yang sudah menolongnya tadi. 


“Orang itu, kenapa dia menolongku?”.


Youra menggeleng pelan mencoba mengusir pikiran-pikiran yang saling tumpang tindih itu. Dia meneruskan perjalanannya menuju rumah Jun dengan perasaan yang was-was.


**


Jun yang sedang berada di kediamannya, berdiri menyilangkan kedua tangannya menyambut kedatangan sang ayah yang baru saja tiba.


“Kenapa kau ke sini?” tanya Jun tersenyum kecil.


Perdana Menteri Han mendekati putranya dan menyentuh pundaknya.


“Bukan begitu caranya seorang guru besar istana menyambut kedatangan ayahnya,” jawab Perdana Menteri Han sembari berjalan masuk ke dalam rumahnya, lekas duduk menyilang santai. 


“Apa aku menyuruhmu masuk?” balas Jun kembali.


Sang ibu keluar dari biliknya.


“Jun, siapa itu?”.


Raut wajah sang ibu seketika langsung berubah saat mengetahui mantan suaminya sedang duduk santai di dalam kediamannya. 


“Sudah lama kita tidak bertemu, Jin Sil,” sapa Perdana Menteri Han pada sang mantan istri. 


“Aku kesini, untuk berbincang dengan putraku, apa itu masalah?” tambahnya.


Jun diam di tempat mengepal keras tangannya.


“Pergi dari sini,” pungkas Jun singkat tanpa memandang ayahnya.


“Apa kalian tidak merindukanku?” jawab Perdana Menteri Han tanpa segan menuangkan air ke dalam gelasnya sendiri. 


“Aku bilang, pergi dari sini!” Jun mulai berteriak pada sang ayah. 


Perdana Menteri Han tersenyum. Ia berdiri dengan mengibas jubah kebangsawanannya. 


“Kau masih menemui gadis itu?” tanya sang ayah selangkah dekat dengan putranya. 


“Itu bukan urusanmu,” jawab Jun.


“Putraku, bukankah sudah kukatakan, jangan menjalin hubungan apapun dengan anak itu?”.


Perdana Menteri Han menatap lekat sang anak.


“Jangan mencampuri urusanku. Berhentilah mengikutiku,” Jun melotot tajam pada perdana menteri.


Sang ibu yang tak bisa berbuat apa-apa hanya dapat terpaku di tempat tanpa melakukan apapun. Jun yang sedang berdiri di depan ayahnya melangkahkan kaki untuk berpaling. Namun,


“Gadis itu, adalah putri mendiang penasehat negara, kan?” balas Perdana Menteri Han tersenyum lebar. 


Jun yang sangat terkejut, berbalik dan mengangkat kerah ayahnya sendiri.

__ADS_1


“Apa yang kau katakan? Ha! Sudah kubilang pergi dari sini!” teriak Jun di wajah ayahnya.


Perdana Menteri Han tertawa keras, dan menyingkirkan  tangan sang anak dari bajunya. 


“Anak itu hanya akan mempersulit langkahmu. Aku sudah menegaskan ini padamu berkali-kali. Kau harus menyingkirkan perasaanmu sendiri, jangan sampai aku yang menyingkirkannya”.


Mendengar pernyataan sang ayah, Jun meletakkan tangannya di kedua pundak sang ayah. Jun mendorong perdana menteri itu keluar dari kediamannya. 


Dan sangat tidak terduga,


“Youra?”.


Youra sedang berdiri tepat di depan pintu kediaman Jun. Dengan mata yang berkaca-kaca, Youra mundur perlahan-lahan.


“Kak Jun, kau menipuku,” kata Youra melotot tajam pada Jun. 


Jun berusaha menjelaskan apa yang baru saja terjadi. Ia menarik tangan Youra, tetapi Youra enggan mendengarkannya.


“Jangan menyentuhku, Tuan Muda Jun yang terhormat”.


Youra melangkah mundur menatap tajam perdana menteri.


“Tidakkah kau mendengar apa yang sudah ayahmu katakan? Jangan pernah, mendekati aku lagi,” Youra menarik tangannya dari genggaman Jun dan bergegas pergi dari sana.


Perdana Menteri Han tertawa.


“Kurasa, kau tidak perlu lagi menyingkirkan perasaanmu. Itu akan berlalu dengan sendirinya,” kata perdana menteri sambil menepuk pundak putranya.


“Aku pamit dulu, mantan istriku,” senyumnya pada Nyonya Han yang membatu di tempat.


Perdana Menteri itu kemudian pulang meninggalkan kediaman Jun dan ibunya.


**


Youra pulang sambil menitikkan air mata. Ia tidak pernah menyangka, lelaki yang selama ini dia cintai, yang hanya terus mengaku orang biasa, nyatanya adalah putra perdana menteri yang sangat disegani dan dihormati. 


Pada kenyataannya, akulah yang tertipu. 


Saat itu, hanya itulah yang bisa aku pikirkan. Kebencian dan kutukanku terhadap para petinggi istana membuat dendamku nyata dan berlarut-larut menumpuk menciptakan tujuan baru dalam hidupku. 


Aku akan balas dendam. Itu saja. 


Youra melangkah gontai, menundukkan wajahnya yang putus asa. Dia terus saja berjalan dengan pikirannya yang berkecamuk. Kenyataan yang berusaha menipunya, membuatnya tak percaya terhadap apa pun.


Jung Hyun saat itu, sedang mengikutinya. Menggali dalam informasi tentangnya untuk membuktikan bahwa perkiraannya benar.  Youra yang tiba di kediaman kecilnya membuat Jung Hyun putus asa dan berpikir mungkin saja dia memang salah orang. Akan tetapi, saat ia hendak pergi meninggalkan gubuk kecil itu, seorang wanita keluar dari gubuk itu memeluk Youra.


“Nona Youra, anda sudah pulang?” sambut Nana pada Youra, membuat Jung Hyun kembali menoleh.


“Benar sekali, dia Nona Youra, adik kandung Lee Young,” batin Jung Hyun.


Segera setelah itu Jung Hyun bergegas pergi untuk segera melaporkannya pada Putra Mahkota.


**


Di istana, orang-orang tengah sibuk membicarakan kandidat istri untuk Putra Mahkota. Para menteri sibuk membicarakan soal perjodohan ini. Mereka tak mengerti apa yang harus dilakukan. Antara mau dan tak mau, mereka ingin putri-putri mereka mendapatkan posisi itu. Tetapi, mengingat bagaimana rumor buruk tentang Putra Mahkota membuat mereka ragu untuk mendaftarkan putri mereka sebagai salah satu kandidiat istri untuk Putra Mahkota. 


“Itu adalah posisi terbaik yang harus diperjuangkan,” salah satu menteri membuka suara saat sedang berkumpul bersama.


“Benar. Siapa yang tidak mau, putrinya menjadi menantu di istana ini. Belum lagi, setelah pengangkatan Putra Mahkota nanti sebagai raja, otomatis istrinya akan menjadi ratu untuk negeri ini,” bisik menteri yang lain.


Seluruh menteri berpandangan kalut dengan sejuta tanda tanya.


“Apakah kalian yakin ini langkah yang tepat? Sebenarnya, aku sangat ingin mendaftarkan putriku, tetapi kalian lihat sendiri bagaimana kenyataannya. Rumor buruk Putra Mahkota, apakah dia tetap akan mempertahan posisi itu? Aku tidak ingin putriku terlibat jika suatu hari nanti Putra Mahkota dilengserkan. Bukankah itu artinya lebih baik menjadi istri Pangeran Yul?” jawab yang lainnya.


Para menteri sebenarnya sangat ingin putrinya menjadi Putri Mahkota, akan tetapi rasa takut mereka lebih besar dari keinginan mereka. Menurut mereka, suatu hari nanti Putra Mahkota akan jatuh dari tahta karena rumor dan sifat buruk yang dimilikinya. Mereka tidak ingin nantinya putri mereka terlibat dalam situasi berbahaya itu. Bukannya malah berlomba-lomba mendaftarkan putri mereka menjadi istri Putra Mahkota, mereka malah lebih ingin anak mereka menjadi istri Pangeran Yul, karena menganggap Pangeran Yul akan bertahta suatu hari nanti.

__ADS_1


Kenyataan itu, membuat Perdana Menteri Han tersenyum.


“Jika tidak ada yang menginginkannya, kesempatan bagiku untuk memperkenalkan putriku pada raja juga akan semakin besar,” gumamnya senang.


Tak lama setelah itu, raja masuk ke ruangan tempat dimana para menteri berkumpul. Para menteri ketakutan, mereka cemas jika raja mendengar percakapan mereka barusan. 


“Seluruh putri menteri punya hak dan kesempatan untuk mendaftar menjadi salah satu kandidat calon istri Putra Mahkota”.


Perkataan lantang raja tanpa ancang-ancang itu membuat seluruh menteri kaget. 


“Istana ratu akan memilih gadis terbaik, yang berhak mendapatkan posisi itu. Gadis itu juga bertugas membantu Putra Mahkota dan memberikan contoh yang baik untuk istana,” tambah raja yang tiba-tiba saja duduk diantara mereka. 


Mereka saling berpandangan.


“Jangan pernah berpikir aku akan menurunkan Hyeon dari tahtanya. Dan satu lagi, jangan sampai aku mendengar kalian membicarakan putraku lagi, atau kalian akan aku adili dengan hukum kerajaan. Hukum pemenggalan tidak hanya pantas kalian dapatkan setelah itu. Pencabutan status dan gelar bangsawan pada seluruh keluarga kalian secara turun-temurun juga akan diberlakukan,” kata raja sambil melotot tajam dengan matanya yang memerah.


Sejak pertemuan hari itu, para menteri pun mau tidak mau harus mempersiapkan putri mereka dengan baik. Mereka akhirnya berlomba-lomba mendaftarkan putri mereka menjadi bagian dari kandidat istri Putra Mahkota.


**


Di kediamannya, kepala menteri perang memanggil Ara, putri bungsunya.


“Ara, kemarilah,” panggil kepala menteri perang. 


Ara menyeret langkahnya yang berat, karena rasa takutnya. Ia terus menundukkan kepalanya di depan sang ayah.


“Aku tidak akan mendaftarkanmu sebagai calon istri Putra Mahkota, meski kau sudah cukup tua untuk tidak menikah,” kata kepala menteri perang sambil menyantap cemilannya.


Ara yang mendengar itu sangat senang, karena dia benar-benar tidak ingin menikah.


“Itu artinya, kau masih punya waktu untuk melupakan Lee Young, putra penasehat negara itu,” tambah sang ayah sesaat setelah memandang wajah putrinya.


Wajah Ara berubah urung.


“Kau harus melupakan pria yang sudah mati itu,” tegas sang ayah, membuat hati Ara tertohok. 


“Dia belum mati,” jawab Ara bersama dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. 


Sang ayah tertawa terbahak-bahak.


“Aku tidak menyangka putriku menjadi gila, karena seorang pria. Aku akan segera menikahkanmu dengan Pangeran Yul,” tambah kepala menteri perang dengan wajah bangganya.


“Potensinya untuk mendapatkan tahta lebih baik daripada Putra Mahkota,” jelas kepala menteri perang dengan wajah angkuhnya. 


Ara tampak sesak mendengar perkataan sang ayah.


“Lee Young belum mati,” jawabnya sekali lagi.


Karena sang anak tampak ngotot, kepala menteri perang menjadi geram. 


“Meski tidak setampan Lee Young, Pangeran Yul adalah orang yang jauh lebih baik daripada Putra Mahkota. Kupastikan kau akan menyukainya,” kata kepala menteri perang kemudian berdiri dari duduknya.


“Lee Young masih hidup, aku bahkan baru-baru ini melihat Youra di pasar”.


Jawaban lantang dan yakin yang tertumpah dari mulut putrinya, membuat kepala menteri perang spontan menoleh pada putrinya.


“Apa katamu?” tanya kepala menteri perang tidak percaya.


Saat itu, Won Bin yang baru saja tiba sangat terkejut.


Ara melotot pada ayahnya sambil berderaian air mata.


“Aku akan menunggu Young kembali,”  jawabnya lalu pergi meninggalkan ayahnya yang terpaku di tempat.


Kepala Menteri Perang dan Won Bin saling bertatapan heran. Mereka, yang sangat tidak menyukai keluarga itu benar-benar berharap penasehat negara dan keturunannya tewas.

__ADS_1


**


__ADS_2