
Youra tak bisa tidur nyenyak semalaman. Dia bangun berkali-kali dan sulit untuk kembali memejamkan mata setelahnya. Pagi sekali, dia bangun dan berjalan ke jendela kediamannya. Youra memandangi balkon istana Putra Mahkota dari kejauhan, melihat betapa kosongnya istana itu membuatnya semakin geram. Sangat penasaran, tetapi enggan untuk bertanya.
Dayang Nari masuk ke dalam, merapikan alas ranjang lembut itu dengan hati-hati. "Selamat pagi, Yang Mulia," sapa sang dayang membawa ceria.
Youra tersenyum sedikit, meraih apel di atas kenap yang belum dimakannya semalam. "Yang Mulia, tunggulah para pelayan mengantarkan hidangan untuk Anda sarapan."
Youra seakan tak peduli. Dengan gaun malam yang sangat cantik melekat pada tubuhnya, Youra bersandar di tepi jendela. Lagi-lagi matanya terus saja kembali berlabuh ke istana suaminya. "Dayang Nari, bukankah itu sangat aneh?" tanya Youra mendadak.
Dayang Nari mendekat, sangat sopan menghadap Youra. "Apa maksud Anda, Yang Mulia?"
Youra merenungi beberapa hal, sebelum akhirnya kembali berbicara. "Ratu berteriak mengatakan Putra Mahkota bukan putranya. Sebagai ibu yang telah melahirkannya, bukankah itu sangat aneh?" tanya Youra setelah mengingat pembicaraan saat bertemu ratu sebelumnya.
Raut wajah Dayang Nari berubah seketika. Dia menghela napas berat lalu menundukkan wajah. "Terkadang, kebenaran tidak seperti apa yang Anda lihat, Yang Mulia."
Youra spontan membalikkan badan, menatap lekat Dayang Nari. "Maksudnya?" tanya Youra penasaran. "Semua pelayan Putra Mahkota dipecat oleh istana. Yang tersisa, hanya Kasim Cho saja," jelas Dayang Nari dengan wajah sedihnya.
Youra berhenti mengunyah. Sangat terkejut setelah mendengar pernyataan yang aneh itu. Dia menyentuh pundak sang dayang, memandangnya sangat dekat. "Seluruh pelayannya dipecat istana?" tanya Youra memastikan.
"Ya, Yang Mulia."
Youra menggeleng pelan, sangat tidak menyangka setelah berkali-kali menghina suaminya dulu. "Tapi selama ini yang rakyat tahu, Putra Mahkota yang sudah memecat seluruh pelayannya. Dia juga suka menghukum sembarangan para pelayan. Aku rasa, semua orang mengetahui itu," sanggah Youra.
__ADS_1
Dayang Nari menapaki tatapan kebodohan itu. "Yang Mulia, setelah apa yang beliau lakukan kepada Anda, masihkan Anda percaya pada perkataan orang?"
DEG
Dayang Nari mendekat ke jendela, membuka lebar jendela bilik Youra. Dia lantas menoleh pada istana Putra Mahkota yang sepi. "Putra Mahkota hidup kesepian. Hamba tidak mengetahui apapun, tetapi ibu hamba pernah mengatakan bahwa seluruh pelayan Putra Mahkota dipecat istana. Putra Mahkota tidak pernah keluar dan bahkan tidak diizinkan untuk bertemu saudaranya. Para pelayannya dipecat secara sepihak oleh istana. Bahkan Kasim Cho sendiri pernah hampir dipecat. Namun, Putra Mahkota memohon pada raja, untuk tak memecat Kasim Cho. Putra Mahkota muda menangis berbulan-bulan setelah pemecatan itu. Beliau juga mogok makan selama beberapa waktu. Hingga akhirnya raja menyetujui permintaan itu. Hanya itu, yang hamba ketahui Yang Mulia."
"Kenapa kau tidak pernah mengatakannya kepadaku?" tanya Youra memaksa, mendadak mengejutkan sang pelayan. Dayang Nari menghela napas, "Anda tak pernah ingin bertanya. Sudah sering kali hamba ingin mengatakannya. Hanya saja, berkali-kali pula Anda menolaknya, Yang Mulia."
Perasaan Youra ditampar hebat. Benar, selama ini dia tak pernah peduli pada suaminya. Tak pernah pula ingin mendengarkan apapun tentang sang suami. Karenanya, ada sesuatu yang merasuki jiwa Youra. Kebencian atau dendam yang selama ini dia bawa, membuatnya merasa sangat bersalah. Ingin sekali untuk tidak mempercayai perkataan sang dayang. Hanya saja, seluruh kenyataan yang terlihat memang sangat berbeda. Semua penghuni istana ini pandai bersandiwara.
"Yang Mulia?" panggil Dayang Nari mencoba membangunkan Youra dari lamunan panjangnya. Youra masih tertegun, cukup lama menerobos perasaan itu. Hingga wajah merengut sedih itu berubah seketika. Bola matanya yang terpaku pada balkon istana Putra Mahkota membulat lebih indah. Menapaki langkah demi langkah yang melintas jauh disana.
"Putra Mahkota?" lirihnya pelan.
Sayang sekali, untuk pertama kalinya Putra Mahkota tak memandang istana permaisurinya. Youra menjadi sangat kesal. Dia bahkan keluar ke balkon istananya, memperlihatkan jelas bahwa saat itu dia sedang memandang ke arah sana. "Menyebalkan!"
Dayang Nari tersenyum, sangat tahu bahwa Youra sedang terpaku pada pesona itu. "Yang Mulia, Anda ingin bertemu dengan beliau? Hamba akan mengantarkannya dengan senang hati," tawar Dayang Nari bersemangat.
"Tidak!" Youra berdalih, memalingkan wajah setelah tertangkap basah sang dayang. Dia meraih jubah mewahnya, beranjak dari kediaman. "Anda mau mengunjunginya, Yang Mulia?" wajah Dayang Nari sedang menaruh harapan lebih.
"Aku bilang tidak ya tidak!" Youra membentak. Dengan angkuh dia keluar diiringi para pelayan terburu-buru. Terlalu keras, hentakan kaki Youra menggambarkan betapa kesalnya dia. Raut cemberut itu terus saja menemani wajah cantiknya. Dia menggerutu di sepanjang perjalanannya, entah kemana.
__ADS_1
Para pelayan saling berpandangan, saat menyadari langkah angkuh itu mengantar Youra menuju istana suaminya. Mereka berusaha keras menahan tawa karena tahu Youra tak sadar.
"Yang Mulia? Anda ingin menemui Putra Mahkota?"
DEG
Suara itu mengagetkan Youra. Matanya membelalak saat menyadari seseorang sedang memanggilnya. Itu suara berat seorang pria yang pernah dia dengar sebelumnya. Hingga akhirnya, Youra membeku. Pelan-pelan dia menoleh ke sumber suara itu. "Pa, pa-pangeran Hon?" jawabnya tersendat-sendat.
Setelah berupaya untuk tak tertawa, akhirnya semuanya pecah. Para pelayan serentak tertawa, membuat Pangeran Hon kebingungan. "Anda ingin menjumpai Putra Mahkota juga? Kalau begitu kita bisa masuk bersama, Yang Mulia." Pangeran Hon tersenyum pada Youra leluasa. Youra tersudutkan. Tak lagi bisa mengelak. Langkahnya memang berhenti di depan kediaman sang suami entah kenapa.
"Ah iya, hahah. Aku ingin bertemu suamiku." Youra tertawa, kali ini karena begitu malu. Pangeran Hon yang tak tahu apa-apa membalas senyum dan tawa itu lebih riang lagi. Dengan terpaksa, Youra membunuh rasa malu dan gengsinya. Wajahnya memerah, diikuti oleh degupan jantung yang perpacu dengan langkah anggunnya.
Saat itu, semua orang menatap kedatangan Youra dan Pangeran Hon dengan wajah terkejut mereka. Kasim Cho yang melihatnya tersenyum puas. Cekatan dia berlalu masuk ke dalam bilik Putra Mahkota. "Yang Mulia, sepertinya hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan."
Putra Mahkota yang sedang bersandar lantas duduk tegap memandang Kasim Cho. "Wajahmu memerah begitu. Ini membahagiakan untukmu atau untukku?" tanya Putra Mahkota tersenyum tipis.
Kasim Cho memandang wajah tampan yang pucat karena lelah itu dengan rasa bahagia yang luar biasa. Dia mendekat dan terus saja tersenyum cerah. "Yang Mulia Putri Mahkota, dan adik Anda Pangeran Hon, ada disini Yang Mulia."
Putra Mahkota yang sedang menggunakan jubah sehabis mandi terkesiap. "Jangan bercanda," balasnya.
"Yang Mulia, Putri Mahkota dan Pangeran Hon ada disini."
__ADS_1
Laporan dari penjaga bilik kediaman Putra Mahkota seolah menjawab segalanya. Dia terpaku beberapa saat hingga pintu bilik itu akhirnya dibuka.