Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Ibu


__ADS_3

Malam itu, karena aturan istana Youra dan raja tak bisa tinggal di dalam bilik yang sama. Setelah berbincang panjang, akhirnya Youra keluar dari bilik suaminya dengan berat hati. Malam itu terasa sangat menegangkan. Dayang Nari yang mendampingi Youra sangat bisa membaca raut wajah itu. Dia tampaknya sedang menyusun strategi bersama suaminya.


"Yang Mulia, senang bisa melihat Anda bersemangat seperti ini." Dayang Nari menatap lekat wajah aneh Youra yang terlihat khawatir.


"Dayang Nari, apa menurutmu semuanya akan baik-baik saja?" tanya Youra.


Dayang Nari tak mengatakan apapun, hanya terpaku pada sorot mata itu. "Anda sedang merencanakan sesuatu bersama Yang Mulia Raja?" tanya Dayang Nari.


Youra mengangguk cepat. "Aku takut, akan ada yang menjebak suamiku. Beliau sangat yakin seluruh rencananya besok akan berjalan lancar. Aku takut ada yang menjebak kami lagi."


Dayang Nari menatap wajah itu sekali lagi. " Saat ini, Yang Mulia Raja tidak lagi sendiri. Anda dan rakyat sudah berdiri mendampingi beliau. Tenanglah, Yang Mulia. Semuanya akan baik-baik saja." Entah kenapa wajah Dayang Nari tak terlihat seperti biasa. Dia sangat aneh dan tampak tertekan.


"Dayang Nari, kau sakit?" tanya Youra. "Tidak, Yang Mulia. Aku hanya sedang sedikit pusing." Dayang Nari segera membuang muka agar tak terus diperhatikan Youra.


Youra memperhatikan terus wajah sang pelayan. Dayang Nari terlihat sakit dan tertekan. Dia terus saja menyembunyikan wajahnya dari Youra. Sikap Dayang Nari yang aneh itu mengingatkan Youra dengan pelayan lamanya Nana.


"Dayang Nari, apa kau mendapat surat kiriman dari Nana?" tanya Youra. Pertanyaan Youra menekan keras perasaan Dayang Nari. Wajahnya terlihat menaruh simpati berlebih. "Yang Mulia, ampuni aku. Beberapa bulan yang lalu, aku mendapat kabar bahwa Nana telah tewas di tangan musuh yang ingin melukai Tuan Muda Young." Meski wajah Dayang Nari menunjukkan penyesalan, rasanya wajah sedih itu tidak cukup menunjukkan satu kesedihan. Dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih menyedihkan.


"Apa katamu? Dayang Nari, aku tidak bisa mempercayai itu. Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?!" Youra menarik tangan sang pelayan. "Kau berbohong padaku? Kenapa kau aneh sekali?" Youra melotot pada Dayang Nari.


"Aku tidak berbohong, Yang Mulia. Gadis itu benar-benar sudah tewas. Aku tidak bisa mengatakan ini, karena takut akan memperburuk kondisi kandungan Anda waktu itu." Dayang Nari menitikkan air mata. Youra merasa sangat sesak. Baginya, Nana sudah seperti seorang kakak. Dia yang selama ini menjaga Youra, dia rela memendam cintanya dalam waktu yang cukup lama.


***


"Cepat ambilkan aku air!" Hingga lewat tengah malam, Pangeran Yul belum juga tiba di rumah. Padahal Ara sudah mulai kontraksi. Wajahnya pucat dan dingin. Dia memang akan segera melahirkan.


"Cepat cari Pangeran Yul! Katakan pada beliau istrinya akan segera melahirkan!" Teriakan para tabib dan petugas medis cepat-cepat ditanggapi oleh para pelayan. Mereka berhamburan mencari sang pangeran, dan beberapa lainnya sibuk membantu tabib.


***

__ADS_1


Ha Sun suami Putri Shin pulang ke rumah setelah sekian lama menghilang, hendak bertemu dengan sang istri. Sayang sekali, jangankan di istana ... di rumahpun Putri Shin tak juga ada. Sudah sejak lama dia menghilang dan pergi entah kemana. Para pelayan sedang berkemas-kemas untuk segera pergi.


"Dimana Putri Shin?!" teriakan Ha Sun mengamuk dalam kediaman mereka. Semua orang bergidik takut, termasuk pelayan Putri Shin yang sedang terpojok di lantai karena sudah lama bersedih hati.


"Jawab pertanyaanku, dimana Putri Shin?!" Ha Sun menarik tangan sang dayang tanpa rasa kasihan sama sekali.


"Dia sudah pergi, Tuan. Dia sudah pergi jauh dari sini. Beliau sudah pergi dan tidak tahu kemana." Putus asa sekali para pelayan itu bersuara. Dia menyeret tas berisi penuh pakaiannya.


"Mau kemana kalian?!" tanya Ha Sun. "Tuan kami tak lagi ada, kami sudah dipecat." Seluruh pelayan yang menangis tersedu-sedu satu persatu keluar dari kediaman Putri Shin. Ha Sun tak habis akal, dia segera bergegas untuk mencari sang istri. Tak terima Putri Shin meninggalkannya.


***


"Apa ini?" tanya salah seorang menteri saat tak sengaja melihat sebuah perintah tertulis di atas papan besar yang berada di sekitar istana.


"Perintah rapat di lapangan? Apa-apaan ini! Mengapa rapat dilakukan di lapangan terbuka? Raja negeri ini benar-benar bodoh apa bagaimana?! Baru saja dia kembali, tiba-tiba memerintahkan hal konyol seperti ini!"


Perdana Menteri Han mendekat pada papan pengumuman itu, menarik kertas yang tertempel itu dengan cepat. "Rapat di lapangan?" Perdana Menteri Han memandangi seluruh menteri yang penuh amarah. "Beliau pasti ingin membebaskan pelayan dan pengawal pribadinya. Tidak ada yang bisa kita lakukan, selain mengikuti seluruh perintah Yang Mulia."


***


Sedangkan di istana, Ibu Suri duduk memeluk lututnya di pojokan kamar. "Aku tidak mau mati, aku tidak mau mati!" Semakin lama kondisi mental Ibu Suri semakin buruk. Namun, hingga detik itu tak ada satupun anaknya yang mengunjungi beliau.


"Yang Mulia, jangan seperti ini ..." para pelayan Ibu Suri menangis tersedu-sedu. "Anda harus mencoba mengikhlasakan semua ini, agar Anda bisa segera sembuh."


Ibu Suri menatap pelayannya penuh emosi. Dia mencapit dagu sang pelayan sembari melotot dengan mata merahnya yang sudah menghitam. "Semua ini gara-gara kau! Sudah kukatakan padamu, jangan sampai kita ketahuan! Kecerobohanmu memilih utusan untuk meracuni orang-orang bodoh itu membuat hidupku menjadi sial! Aku tidak akan melepaskan tahta ini dengan mudah. Pangeran Yul harus memimpin istana ini. Ini satu-satunya cara agar kita semua selamat. Cepat cari dia!" Ibu Suri melepaskan genggamannya, dia mendorong pelayan yang ketakutan itu dengan amarah luar biasa.


Seluruh pelayan hendak keluar dari bilik Ibu Suri untuk menjalankan perintahnya. Namun saat pintu bilik itu dibuka, tampak raja berdiri di depan pintu itu sejak lama. "Ya-yang Mu ... Yang Mulia." Seluruh pelayan Ibu Suri lantas bersujud di kaki raja. "Ampuni kami, Yang Mulia!" Mereka menangis ketakutan karena sudah terpergok.


Ibu Suri sangat sesak saat melihat sang raja berdiri tepat di depan pintu biliknya. Segera dia membuang muka untuk tak menoleh pada putra tirinya itu.

__ADS_1


Raja berjalan sempoyongan menghadap ibunya. Dia duduk dengan hormat di hadapan sang ibu. Ibu Suri tak mengatakan apapun juga, selain air mata yang terus menetes dari wajah penuh amarah yang membuatnya bergetar.


Hening. Tak ada suara sampai detik itu, tapi tiba-tiba sebuah kalimat menghancurkan amarah hingga air mata Ibu Suri mengalir lebih deras meski dia tidak berekspresi.


"Ibu ... ini aku, anakmu."


DEG


Sejak lama, Putra Mahkota yang kini sudah menjadi raja itu tak pernah memanggil Ibu Suri dengan sebutan "Ibu" sekalipun. Namun, di hari menyedihkan itu ... anak yang tak pernah dianggap sama sekali olehnya itu datang saat tak ada seorangpun anaknya yang berkunjung.


Raja duduk dengan penuh hormat di hadapan sang ibu. Memandang wajah yang kini sudah semakin tua dengan perasaan. Terlihat mata sang Ibu Suri sudah menghitam. Wajahnya pucat dengan tangan yang bergetar. Ibu Suri terus saja menggoyangkan tubuhnya ke depan dan belakang dengan lutut menekuk yang dipeluknya.


"Bagaimana kabar Anda, Ibunda?" tanya raja hati-hati. Ibu Suri tak memandang wajah putra yang sangat dibencinya itu sama sekali. Dia terus saja memandang ke kiri dan enggan untuk menghadap lurus. Raja meraih tangan Ibu Suri, mencium tangan itu untuk yang pertama kalinya.


Walaupun sekuat tenaga dia menahan air matanya, tapi nyatanya air mata itu bahkan lebih deras dari tangis-tangisnya sebelum itu. "Ibu, meski Anda membenciku. Namun, aku sangat tahu ... Anda lah yang sudah membesarkan aku hingga aku tumbuh menjadi raja negeri ini." Raja menangis di hadapan ibu tirinya.


"Saat kecil, Anda menggendongku, dan membawaku masuk ke dalam bilik. Qnda menyuapkan aku makan, meski Anda sangat membenciku. Anda tertawa bersama Pangeran Yul dan menyisirkan rambutnya, sementara aku hanya berteman dengan para pelayan. Aku sangat cemburu." Seluruh perkataan raja berhasil mencoret luka dalam di hati Ibu Suri.


"Ibu, aku mohon ... akuilah kejahatan yang sudah Ibu lakukan. Akuilah bahwa Ibu yang sudah meletakkan racun di cangkirku. Ibu tidak perlu mengakui itu di hadapan orang lain, cukup padaku saja. Jangan biarkan hakim membawa saksi kejahatan Anda besok di pertemuan umum. Hanya itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan ibu dari hukuman terberat." Raja mengepal erat tangan ibu tirinya itu.


"Ibu, aku sudah memaafkanmu. Aku mohon maafkan lah dirimu sendiri."


Mendengar perkataan raja, Ibu Suri malah tertawa meski tampaknya dia menangis. "Hahahahahahaha! Memaafkanku katamu?" Ibu Suri menatap wajah anak tirinya. "Kau tidak akan bisa memaafkan aku. Kau tidak akan bisa. Meski harus mati, aku tidak akan pernah menyerahkan apapun kepadamu."


"Ibu, aku mohon ... aku akan melepaskanmu, tapi aku mohon buatlah sebuah pengakuan agar hakim tidak menjatuhkan hukuman berat kepadamu." Raja sekali lagi berusaha keras membujuk Ibu Suri agar beliau terhindar dari hukuman mati.


"Lebih baik mati, daripada harus berlutut di kakimu."


Sayang sekali, meski sudah berusaha sekeras mungkin, Ibu Suri tetap pada ego tingginya. Raja yang kecewa lantas menarik kembali genggamannya dari tangan sang ibu. Dia berdiri dari duduknya, membungkukkan tubuh sebelum memberikan hormat terakhir. "Ibu ... " Raja menarik dalam napasnya. "Ini pertama kali dan terakhir kalinya aku mengatakannya. Aku ... tidak pernah membencimu. Aku menyayangimu, sebagai ibu kandungku. Bukan sebagai musuh."

__ADS_1


Raja kemudian meninggalkan kediaman Ibu Suri. Sesaat setelah raja beranjak, Ibu Suri melepas seluruh tangis sekeras mungkin. Dia melepaskan sesaknya yang sejak tadi mencekat tenggorokan.


"Baek Hyeon! "


__ADS_2